BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
59


__ADS_3

"Kak, ada Naila sama Vidya di depan, " teriak ibu dari luar kamar.


"iya, bu," segera ku hapus air mata ku agar tak ada yang mengetahui jika aku baru saja selesai menangis.


aku bergegas keluar kamar untuk menemui kedua sahabat ku yang tiba tiba saja datang berkunjung.


"Naila, Vidya? tumben kesini nggak ngabarin dulu, ada apa? " ku amati ekspresi kedua sahabat ku yang sedikit mencurigakan.


"Jasmin, syukurlah kamu cepat keluar. ayo ikut kami ke rumah Rania, cepat! " pekik Naila dan langsung menarik tangan ku untuk mengikuti langkah kakinya.


Aku kebingungan dengan apa yang sudah terjadi, kenapa mereka meminta ku untuk ikut ke rumah Rania tanpa kejelasan. "Aku belum pamit sama ibu Nai, "


"sudah, aku sudah pamit tadi, ayo cepat, " sahut Vidya mengikuti langkah kami.


tak butuh waktu lama akhirnya kami sampai di rumah Rania. Dari kejauhan aku mendengar suara tangisan dan bentakan yang berasal dari dalam rumah, aku menatap Naila untuk meminta kejelasan.


"ini kasus waktu itu Jas, yang Rania pergi berdua sama Haris sampai malam. kita bertiga di minta ke rumah Rania sekarang sama ibunya, " Jelasnya


"tapi ada apa? bukannya itu sudah terjadi sangat lama? " tanyaku


"sudah ayo kita masuk dulu, aku juga nggak tahu pasti apa masalah nya karena ibunya Rania hanya meminta kami untuk datang! "


kami bertiga segera masuk ke dalam pekarangan rumah Rania, sesampainya disana, kami segera mengucapkan salam.

__ADS_1


"kalian sudah datang? ayo masuk dulu, " ibu Rania keluar menyambut kami dan meminta kami untuk segera masuk, tak lupa beliau kembali menutup pintu rumahnya.


"Vid, itu kenapa mata tante Wati sembab, apa mungkin lagi berantem sama om Eko ya? " tanya ku lirih kepada Vidya.


"mungkin Jas, " lirihnya.


kami bertiga di persilahkan untuk duduk sementara tante Wati memanggil Rania dan juga om Eko.


suasana mendadak horor kala melihat wajah om Eko yang merah padam, aku khawatir beliau akan menyalahkan kami karena meninggalkan Rania hanya dengan Haris waktu itu.


Aku sedikit bernafas lega sebab ekspresi om Eko tak seperti tadi, kini wajahnya sudah terlihat sedikit ramah meskipun sisa sisa amarahnya masih ada yang tertinggal.


"maaf sudah meminta kalian datang mendadak, sebenarnya ada yang ingin om tanyakan kepada kalian, dan om harap kalian bisa menjawabnya dengan jujur, "


kami bertiga mengangguk lemah, mengikuti apa yang di minta oleh om Eko. sementara Rania yang duduk di samping ibunya terlihat sangat menyedihkan. ia menunduk namun masih terlihat wajahnya lebam, rambut berantakan dan sisa sisa air matanya masih terlihat disana.


"om tahu kalian berempat itu sahabatan tapi om harap kalian tak menutupi kesalahan teman kalian dengan dalih melindungi.


satu tahun yang lalu, kalian sempat pergi ke kota kan, kalian pulang jam berapa? " tanyanya pelan namun terdengar sangat mengerikan


"ka-kami pulang jam 1 siang om, " jawab Naila sembari melirik ke arah ku.


"jam 1 siang? bukan jam 10 malam? " tanya tante Wati.

__ADS_1


kami bertiga menggeleng, "sebenarnya ada apa, om, tante? apa kami ada salah? " tanya ku


om Eko melirik tajam ke arah Rania yang menangis sesenggukan, kemudian beliau menggeleng pelan.


Rania kemudian bangkit dan bersimpuh di kaki ayahnya sembari menangis kencang.


"Ayah, maafkan Rania yah, tolong jangan benci Rania, jangan paksa Rania untuk mengugurkan kandungan Rania, bagaimanapun juga, dia tetap cucu ayah, Rania mohon yah, maafkan Rania"


kami bertiga saling berpandangan, Rania hamil? astaga, bagaimana bisa, bagaimana bisa ia berbuat di luar batas seperti itu.


"perbuatan kamu itu sangat memalukan Rania, bagaimana bisa kamu hamil di luar nikah, hah! " bentak om Eko


"Haris bilang dia akan bertanggung jawab kalau Rania hamil yah, jadi Rania mohon, jangan paksa Rania untuk menggugurkan kandungan Rania, tolong maafkan Rania yah, " lirih Rania.


Om Eko tak menjawab dan memilih beranjak dan pergi meninggalkan Rania yang masih bersimpuh di lantai dengan sesenggukan.


tante Wati hanya diam saja, pun tak turut membantu menenangkan Rania. aku tahu beliau pasti sangat terpukul dan terluka mendapati putri semata wayangnya hamil sebelum menikah.


"lebih baik kalian pulang saja, terima kasih sudah bersedia datang kemari. untuk masalah Rania, biarkan saja dia merenungi kesalahannya, kami sebagai orang tuanya merasa gagal mendidiknya sehingga dia salah jalan seperti ini. tante berharap kalian jangan meniru perbuatan buruk Rania, "


kami bertiga pamit untuk pulang, ketika hendak menghampiri Rania, kami di cegah oleh tante Wati dan di minta untuk langsung pulang.


kami keluar dari rumah Rania dengan perasaan gamang dan bersalah. Rania sahabat kami sekarang tengah mengandung padahal ia baru saja lulus sekolah.

__ADS_1


ada hal yang mengganjal di hati ku. kenapa om Eko menanyakan kejadian satu tahun yang lalu padahal Rania mengandung baru sekarang, ataukah waktu itu adalah kali pertama Rania berhubungan terlarang dengan Haris? lalu bagaimana bisa om Eko mengetahui semua ini.


ah rasanya kepala ku mau pecah saja memikirkan nasib sahabat ku itu.


__ADS_2