
"Jasmin! "
deg
aku dan Gita saling berpandangan. karena panggilan darinya, ku tolehkan pandangan ku padanya kemudian ia berhenti tepat di depan ku.
"rupanya benar ini kamu, Jasmin! " ucap Haris sembari memindai ku dari atas kepala sampai ke bawah.
"a-ah iya Ris"
"mau balik ke kota ya, nunggu angkot? " tanya nya terdengar ramah, tidak seperti dulu terakhir kalinya.
"iya kan besok udah masuk sekolah lagi" jaeab ku seadanya.
bukan karena aku masih menyimpan nakanya di hati, namun karena perilakunya yang terakhir kali seperti mencemooh ku lah yang membuat ku menjaga jarak, bahkan akupun rasanya ilfil berbicara dengannya.
"sebulan nggak ketemu, kamu kok jadi berubah gini sih Jas, kenapa sekarang jadi tambah cantik"
aku hanya tersenyum kaku, Gita menyenggol ku dan memberitahu melalui bisikan jika angkot yang akan kami naiki sudah terlihat.
"kalau begitu aku berangkat dulu Ris, tuh kebetulan angkot nya udah datang" ucap ku
aku tak berniat memperkenalkan Gita padanya karena tak ingin Gita dekat dengan lelaki yang hanya memandang fisik seseorang, dan aku yakin jika Gita paham siapa pria di depan ku saat ini.
"oh ya sudah, hati hati ya, kapan kapan kalau kamu pulang aku akan main ke rumah mu"
angkot berhenti dan aku segera naik di susul oleh Gita, bahkan ucapan dari Haris sama sekali tak ku hiraukan, biarlah, aku pun tak ingin dekat dengan lelaki yang selalu memandang fisik di atas segalanya.
duduk bersebelahan dengan Gita, ku tolehkan pandangan ku ke belakang, rupanya Haris masih berdiri disana sebari menatap angkot yang perlahan berjalan menjauh.
"eh Je, jangan bilang kalau pria tadi si Haris itu? " tanya Gita
aku menggaruk pelipis ku sembari tersenyum hambar " tanpa ku beri tahu, rupanya kamu sudah tahu Git"
"astaga, ternyata dugaan ku benar, kenapa kamu bisa suka sama yang modelannya begitu sih. nggak ada yang lain apa? "
"memangnya kenapa? " tanya ku heran
"kamu nggak lihat, tatapannya itu loh ya ampun, bikin aku takut tahu nggak. pake segala memindai dari atas sampai bawah, muji muji kalau kamu cantik, dan apa itu tadi, dia masih ngeliatin ke arah kita padahal kita udah naik angkot, duh ngeri ih. fix, dia itu mata keranjang! " ucapnya sembari begidik.
__ADS_1
"baru sekali ketemu loh, kamu udah bisa menilai dia sebegitu jelasnya, apa aku yang begitu bo doh ya, sampai sampai nggak ngelihat kekurangannya sama sekali"
"bukan bo doh, tapi terlalu bu cin! "
sepanjang perjalanan kami terus saja bercerita hingga tak terasa bahwa kami sudah tiba pada tempat tujuan kami.
setelah membayar angkot, aku dan Gita langsung pulang karena hari sudah sore dan aku juga harus berkemas untuk sekolah besok.
"kamu nggak mampir dulu Je? " tawar Gita yang hendak berbelok ke rumahnya.
"aku langsung ke kosan saja Git, nanggung sudah sore habis ini ashar, aku mau nyiapin seragam dulu. salam buat tante ya, aku pulang dulu" pamit ku
"ya sudah nanti ku salamin, tiati Je"
***
ku rebahkan tu buh ku yang lelah di atas kasur. setelah sampai di kosan tadi, aku langsung mandi sekalian mencuci baju agar besok aku tak perlu berlama lama di dalam kamar mandi karena harus mencuci terlebih dahulu.
ku ambil ponsel ku yang masih berada di dalam tas untuk segera mengabari ibu, tadinya ingin langsung mengabari namun karena sudah kelelahan akhirnya aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
"assalamu'alaikum bu... " salam ku kala panggilan ku di terima oleh ibu
"alhamdulillah sudah dari setengah jam yang lalu bu, maaf baru ngabarin karena tadi Jasmin langsung mandi begitu sampai di kosan"
"alhamdulillah, tidak apa apa kak, yang penting kamu baik baik saja, nanti jika ada apa apa langsung kabari ibu ya, jika sudah waktunya bayar sekolah juga langsung telpon ibu"
"iya ibu ku sayang, siap! "
ku putuskan panggilan dari ibu setelah berpamitan.
ku letakkan ponsel ku di samping kasur dan ku tatap plafon di atas ku, aku kembali teringat ceritanya ibu tadi malam.
#flashback on
"kak... " panggil ibu kala kami baru saja selesai sholat maghrib, Gita sudah beranjak pergi ke ruang tv bersama dengan Jefri sedangkan aku masih melipat mukena ku.
"iya bu? " aku menghentikan gerakan ku dan menatap ibu.
"beberapa waktu yang lalu, tante mu datang ke rumah, dia bilang ada perlu dan ingin meminjam uang hasil dari menjual sapi, menurut mu bagaimana? "
__ADS_1
"memangnya mau di buat apa bu, bukankah tante kaya ya, kenapa tiba tiba minjem uang? " tanya ku sedikit keheranan.
"katanya mau di buat tambahan modal usaha, kamu tahu sendiri kan, tante mu buka kios di depan rumah"
"nggak usah bu, biarkan tante cari pinjaman ke yang lain, tante juga masih ada suami kan. Jasmin nggak tega kalau ibu harus banting tulang sendirian untuk membiayai sekolah Jasmin sedangkan uang peninggalan ayah ibu berikan kepada tante"
bukan aku tak ingin membantu, hanya saja kehidupan kami saat ini sudah berbeda, apalagi ibu yang sakit sakitan saat ini harus menjadi tulang punggung keluarga, jika boleh memilih, aku lebih baik di rumah dan bekerja, namun sayangnya ibu tak menginginkan hal itu, ibu ingin aku sekolah setidaknya hingga menengah atas.
"tapi nanti tante mu marah marah lagi Kak"
"biarkan saja bu, kalau mereka mengganggu ibu, ibu langsung lapor ke pak RT saja, biar mereka jera, mereka kan gila hormat dan pujian"
aku tahu sekali watak tante ku, karena terlalu di manja oleh nenek, beliau bahkan tega mengusik keluarga kakaknya sendiri, yaitu ibu. namun meski begitu, ia akan menyerang secara diam diam karena tak ingin di lihat oleh orang lain meskipun para tetangga ku pasti sudah mengenal watak tante ku itu.
ibu mengangguk pasrah, mungkin beliau khawatir jika tante akan murka dan nenek juga akan marah besar pada ibu karena tak berkenan membantu putri kesayangannya, namun biarlah, aku hanya mengantisipasi segala sesuatu yang tidak di inginkan.
#flashback off
tok
tok
tok
suara ketukan pada daun pintu, langsung membuyarkan lamunan ku, hari sudah sore, namun tumben sekali ada yang berkunjung.
karena penasaran aku langsung beranjak dan membuka pintu.
"eh ibu, ada apa bu? " tanya ku pada bu Ima
"itu di depan ada tamu, katanya teman kamu"
"siapa ya bu? "
"siapa tadi ya, Wiliam kalau nggak salah, coba kamu ke depan aja biar tahu jelasnya"
"ya sudah Jasmin kedepan dulu ya bu, terima kasih sudah di beritahu" ucapku sekalian pamit ke depan.
aku berjalan menuju ruang tamu sedangkan bu Ima berbelok menuju rumahnya.
__ADS_1
"Liam"