
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami semua memutuskan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
Aku, Vidya, dan Naila menggelar karpet bulu di dalam kamar agar bisa di gunakan untuk tidur bertiga, karena kasur tempat tidur ku hanya cukup untuk 2 orang saja.
Kami tidur bersisihan, malam ini kami memutuskan untuk begadang untuk melepas rindu.
"Jas, kok bisa ya, si Haris sampai terobsesi sama kamu, padahal kan kalian jarang banget ketemu, apalagi selama beberapa tahun ini kamu nggak pulang kampung sama sekali? " tanya Naila.
"aku udah pernah cerita belum sih ke kalian, kalau aku pernah nembak si Haris? " tanya ku pelan, pandangan ku masih lurus ke depan, menatap plafon rumah yang warnanya sudah berubah kecoklatan.
"what? " pekik keduanya yang langsung beranjak dari tidurnya.
"kapan? kok nggak pernah cerita? "
"sudah lama sekali. Mungkin, sekitar 8 tahun yang lalu kali ya, udah lama pokoknya, dari jaman SMP. Waktu itu, pas grup nya si Haris lagi latihan voli.
selesai mereka latihan, aku langsung nyamperin si Haris. Dan dengan percaya diri, nembak dia. kalian tahu apa jawaban si Haris? dia bilang gini 'aku nggak akan suka dan nggak akan pernah suka sama kamu' gitu dia bilang. "
Aku menceritakan semua yang ku alami semasa SMP kepada kedua sahabat ku, begitu juga tentang Yuda, yang datang sebagai obat dari segala luka hati yang diberikan oleh HarisHaris hingga pernyataan cintanya pada ku sebelum dia pamit untuk pergi mengikuti kedua orang tuanya
"oh, jadi itu alasan si Yuda, yang tiap ke kelas selalu ngelirik kamu. yah, pada akhirnya kalian di satukan kembali setelah sekian lama saling menunggu, "
"jadi, kapan kalian jadian? " tanya Vidya
"Kemarin Yuda ngelamar aku~"
"wah, parah kamu Jas. masak berita besar kayak gini nggak cerita cerita sih ke kita," gerutu Naila.
__ADS_1
Aku terkekeh, bagaimana mau cerita, sedangkan pagi tadi aku mengalami musibah yang mereka sendiri tahu kejadian.
"sekarang sudah tahu kan, " jawab ku
Akhirnya malam ini kami banyak bertukar cerita.
Mulai dari Vidya yang menjadi guru paud di desa ini, Naila yang bekerja sebagai staf admin di pabrik mi instan. hingga hubungan asmara mereka.
***
Pagi sekali, kami bertiga sudah bangun. setelah melaksanakan kewajiban 2 rakaat, kami langsung menuju dapur untuk membuat sarapan.
Ditengah sibuknya kami memasak, terdenger suara ketukan dari depan. aku meminta Naila untuk menggantikan ku menggoreng ikan, sementara aku membuka pintu.
Pintu sudah ku buka, di hadapan ku, berdiri Rania dengan mata yang sembap, sepertinya ia sudah sangat lama menangis sehingga matanya terlihat sayu dan bengkak.
"Jas, tolong aku, Jas. cabut tuntutan kamu buat mas Haris. aku tahu dia salah, tapi aku mohon, untuk kali ini, bebaskan mas Haris, Jas... " tangis Rania seketika pecah, ia meluruhkan dirinya dan bersimpuh di kaki ku.
"Ran, jangan seperti ini, ayo duduk dulu, " pintu ku merasa sangat kasihan dengan keadaan Rania yang sekarang
"cabut tuntutan kamu buat mas Haris, Jas. aku mohon... " lirihnya mengiba.
Naila dan Vidya tampak muncul dari dalam dan ikut bergabung bersama ku di ruang tamu.
"maaf Ran, untuk kali ini aku tak bisa membantu mu, karena apa yang sudah di lakukan Haris sudah sangat membuatku tertekan, dan juga, Yuda yang meminta Haris untuk di proses dan di penjara, jadi aku tak bisa membantu mu kali ini, maaf.. "
"kamu jahat, Jas. kamu pasti senang kan, kalau hidup ku hancur, kalian semua memang brengs*k, aku benci dengan kalian semua! " pekik Rania kemudian beranjak dan pergi meninggalkan kami bertiga.
__ADS_1
kami bertiga terpaku mendengar umpatan yang terlontar dari mulut Rania, sungguh kami tak menyangka jika Rania akan sekasar ini.
aku menghela nafas ku pelan, apa mungkin aku salah, jika meminta Haris di hukum karena sudah hampir merusak ku.
Naila mengelus pundak ku pelan, "sudah, nggak usah di pikirin, kamu nggak salah, Jas. Haris memang pantas untuk di hukum."
aku mengangguk pelan, nanti aku akan berbicara mengenai hal ini dengan Yuda.
tak ingin terlalu larut, kami bertiga melanjutkan acara masak pagi yang sempat tertunda. tadi segelah kepergian Rania, ibu mendatangi ku dan menanyakan apa yang sudah terjadi. aku menceritakan semuanya dan meminta ibu untuk tidak terlalu ambil pusing.
Pagi ini aku meminta Jefri untuk mengajak ibu jalan kaki sementara aku menyiapkan sarapan.
masakan kami telah siap, ikan goreng, sayur bayam, bakwan jagung dan juga sambal terasi sudah siap di atas meja. Sembari menunggu ibu pulang, kami bergantian untuk mandi pagi.
***
Siang ini begitu sangat terik, kedua sahabat ku sudah tertidur pulas setelah menghabiskan sepiring ubi kukus yang di masak oleh Ibu.
sementara aku masih terjaga. sejak pagi tadi, Yuda sama sekali tak membalas pesan yang ku kirim. ingin mengunjungi nya di rumah, namun aku tak memiliki banyak keberanian, terlebih di rumah masih ada Naila dan Vidya.
Duduk sendirian di ruang tamu, terlihat begitu sangat menyedihkan apalagi menunggu kabar yang tak kunjung datang.
Siluet cahaya dari pantulan mobil mengganggu penglihatan ku. beberapa mobil tanpak beriringan dan berhenti tepat di depan rumah ku.
aku yang sedang duduk termenung di ruang tamu segera keluar untuk melihat siapa yang datang.
namun baru saja aku sampai di teras, mata ku seketika terbelalak melihat siapa yang datang.
__ADS_1