BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
45


__ADS_3

Selesai dengan acara kebut kebutan mengerjakan PR, aku dan Gita langsung beranjak menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera hari senin.


beberapa siswa telah berbaris rapi di lapangan, ada juga yang masih duduk duduk di kursi depan kelas, menunggu teman teman yang lainnya.


"kita di belakang aja Je, biar kalau kita ngerumpi enggak kepergok guru di depan" ucap Gita sembari menarik tangan ku di bawanya menuju barusan belakang.


aku hanya pasrah, entah di bawa kemana pun, asal Gita bahagia saja itu sudah cukup, karena aku tak ingin berdebat dengannya di pagi hari.


upacara pun di mulai, di awal kami mengikutinya secara khusyuk, namun kala selesai mengibarkan bendera, Gita mulai mengajak ku berbincang bincang.


"eh Je, mas Iqbal cucunya bu Parni itu udah punya pacar belum sih? " tanya Gita tiba tiba.


aku menghendikkan bahu karena aku memang tak mengetahuinya "nggak tahu juga sih, emangnya kenapa, naksir ya? " tanya ku pelan sembari memicingkan mata ku ke arahnya.


meski kami di barisan belakang, tak menutup kemungkinan ada guru yang berkeliaran untuk mengecek siswa siswinya dan aku tak mau jika terpergok tengah ngerumpi.


"ih apaan sih, enggak Je. aku tuh cuma kagum aja, dia itu tipe aku banget, udah ganteng, baik, pengertian, sholeh, anak mama papa, duh pokoknya paket komplit deh mas Iqbal tuh"


"tahu dari mana kalau dia pengertian sama sholeh, kamu kan baru sekali ketemu sama dia? "


"ya insting aja sih Je, di lihat dari wajahnya udah kelihatan kok, duh jadi pengen ketemu mas ganteng lagi nih" gumam Gita tersenyum senyum, benar dugaan ku jika Gita tengah kasmaran dengan mas Iqbal.


ku akui, mas Iqbal memang pria tampan, selain itu ia juga baik dan murah senyum, berbeda dengan sepupunya si Amanda yang cenderung pendiam.


"ehem... " sebuah deheman terdengar dari arah belakang, aku dan Gita saling bertatapan sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh kebelakang.


"e-eh pak Adi... " lirih Gita kala melihat pak Adi, guru olahraga kami berada di belakang dan menatap kami dengan tajam.


aku tersenyum kikuk kala pak Adi menatap ke arah ku, karena jujur ini adalah kali pertama ku mendapat teguran langsung dari guru.


"ngerumpinya nanti aja di kantin, sekarang masih upacara. nanti setelah selesai upacara, kalian berdua tinggal di tempat untuk di data dan akan di beri hukuman" ucapnya tegas membuat nyali ku langsung menciut


"ta-tapi pak-"

__ADS_1


"tidak ada tapi tapian, ikuti perintah saya" ucapnya kemudian beranjak pergi


aku menghembuskan nafas ku pelan, aku juga malu kala di tegur pak Adi, ada beberapa teman sekelas ku melirik ke arah ku dan Gita yang terkena teguran, alamat di hari pertama sekolah mendapat jackpot besar inimah.


"kamu sih, udah tahu belum selesai upacara, malah ngajakin ngobrol" ucap ku menyalahkan Gita.


"ya maaf Je, hari si*l mana ada di kalender ku, udah nikmati aja, paling paling di suruh bersih bersih atau jadi petugas upacara buat minggu depan, udah santai aja" ucapnya enteng


aku mendelik judes ke arah Gita, namun ia hanya tertawa geli kala melihat ke arah ku.


Setelah selesai upacara, aku dan Gita melipir untuk berteduh sembari menunggu pak Adi yang katanya akan mendatangi kami selesai upacara.


rupanya bukan hanya aku dan Gita saja yang terkena teguran pak Adi, ada beberapa siswa siswi yang juga turut berkumpul dengan ku.


"sudah kumpul semua? " suara bariton terdengar keras di telinga, pak Adi datang dengan raut muka yang tidak bersahabat.


"sudah pak" jawab kami serempak.


"bagus, jika ada yang melipir ke kelas, akan saya cari sampai dapat" ucapnya sembari menghitung jumlah kami, setelah selesai ia manggut manggut.


selesai di data, kami di persilahkan untuk masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.


Di dalam kelas, teman teman ku langsung berhambur ke meja ku untuk menanyakan hukuman apa yang kami dapat dari pak Adi, guru olahraga muda dan tampan itu.


"kalian tadi ngapain sih, sampai di tegur pak ganteng gitu, bagi bagi tips dong, kapan lagi ya bisa ngobrol sama pak guru ganteng? " tanya Ema


"lah, di hukum kok malah kegirangan, aneh banget kamu tuh Em" Gita menimpali


"ya kalau yang ngehukum guru tampan mah sah sah aja kali Git, walaupun di suruh muterin lapangan kalau sambil ngelihatin wajahnya yang tampan, aku mau mau aja" ucap Ema, terlihat semburat merah di pipinya


"kamu tuh Em, bukannya takut di hukum, ini malah ngajuin diri buat di hukum" ucap ku menggeleng mendengar jawaban Ema.


"namanya juga lagi ngefans berat sama pak ganteng, eh jadi kalian tadi kenapa?" timpal Sasa

__ADS_1


"tadi tuh lagi ngerumpi tapi kepergok pak Adi, akhirnya di suruh buat kumpul di lapangan sesudah upacara" jawab ku


"terus terus? " Ema semakin penasaean, bahkan ia mencondongkan wajahnya di hadapan ku


"biasa aja keponya Ema... " akhirnya Ema memundurkan wajahnya namun wajah penasarannya masih terlihat dengan jelas.


"senin depan di suruh jadi petugas upacara gaes, belum lagi tadi dapet ultimatum panjang bener, aduh, sampai pusing kepala ku" jawab Gita


"yahh, tahu gitu tadi ikutan ngerumpi... " kecewa Ema, karena setahu ku, pak Adi juga turut membantu latihan upacara. aku yakin Ema pasti kecewa karena tak bisa berlama lama bertatap muka dengan idolanya.


"sudah sudah, ntar deh kalau ketemu orangnya, kita bikin ulah lagi" ucap Gita.


aku menepuk kening ku mendengar ucapannya, setahu ku, Gita adalah teman yang humble dan mudah bergaul, namun baru kali ini aku tahu jika Gita juga badung dan suka tantangan.


tak lama pelajaran pertama di mulai, aku dan Gita bisa bernafas lega sebab PR kami sudah siap dan mendapat nilai yang memuaskan meskipun tidak seratus persen benar semua.


***


sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Gita karena bu Siti meminta ku untuk mampir.


"assalamu'alaikum bu"


"wa'alaikumsalam, ayo Jasmin masuk masuk" ajaknya sangat ramah.


"ayo makan siang dulu sebelum pulang" beliau menggiring ku menuju dapur, membuat ku mau tak mau mengikuti langkah kakinya, sedangkan Gita berbelok menuju kamarnya untuk menyimpan tasnya.


"makan siang disini aja, kebetulan ibu tadi masak banyak, ayo di ambil jangan sungkan..." ucapnya sembari menyendokkan nasi ke piring di depan ku.


"lauknya ambil yang banyak, nanti ibu bungkusin buat nanti sore"


Gita datang dan langsung duduk di sebelah ku sedangan bu Siti duduk di kursi yang berhadapan dengan ku.


"tumben ibu masak banyak hari ini? " tanya Gita

__ADS_1


"iya, tadi ibu lagi mau ngosongin kulkas, jadi bahan masakan yang ada, ibu masak semua biar nggak busuk"


"oohh... "


__ADS_2