BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
23


__ADS_3

Kami berempat berjalan sedikit cepat menuju pinggir lapangan. rupanya siswa siswi dari kelas lain pun sudah berdatangan dan mengambil tempat hingga menyisakan sedikir tempat untuk kami berempat.


"tuh kan bener, udah pada kumpul, jadi sempit sempitan kan sekarang" gerutu Rania. entahlah, akhir akhir ini ia sedikit sensi ketika sesuatu yang ia inginkan tak langsung terpenuhi.


"ya namanya juga pertandingan Ran, pasti pada dukung idolanya masing masing, udahlah, lagipula sudah dapat tempat duduk juga" timpal Vidya sedikit gemas kepada Rania yang tengah menggerutu


kami duduk bersisihkan dalam satu berisan. suara sorak ramai menggema di sekeliling lapangan kala Haris dan teman teman tim lain nya mulai memasuki lapangan.


"Haris semangat... " teriak Rania begitu juga dengan beberapa siswi lainnya.


aku, aku juga ingin meneriakkan nama itu, namun aku segan, mengingat Haris tengah dekat dengan sahabat ku


sejenak suasana menjadi hening sebab kedua tim tengah berdoa sebelum tanding.


"Ran, kamu udah jadian ya sama Haris? " tanya ku pelan. aku sudah sedari tadi ingin menanyakan kejelasan mengenai hubungan mereka berdua.


"belum Jas, lagian siapa yang suka sama Haris, kita itu cuma temen yang saling support gitu aja" jawabnya, namun pandangannya tetap tertuju pada Haris di depan sana.


"kalau jadian, kabari aku ya Ran" lirih ku, namun sepertinta Rania mendengarnya hingga ia langsung menoleh ke arah ku


"apa Jas? " tanyanya heran


"e-eh em enggak kok, nggak apa apa, tuh udah di mulai" ucap ku mengalihkan pembicaraan


Akhirnya kami pun mulai fokus menjadi supporter kedua tim yang sedang bertanding di lapangan.


mungkin hari ini adalah hari terakhir kami menikmati acara bersama seperti ini karena sebentar lagi kami akan kembali fokus pada ujian nasional dan setelah itu kami akan di sibukkan dengan pencarian sekolah menengah atas.


tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.15 wib. itu berarti hampir satu jam lebih aku berada di pinggir lapangan menjadi supporter mereka.


meskipun pertandingan masih berlanjut, akan tetapi aku tak bisa berlama lama disini apalagi aku belum ada ijin kepada ibu jika aku akan pulang terlambat.


"aku pulang dulu ya temen temen, sudah siangan ini, nanti ibu nyariin aku"


"mau aku anterin Jas? " tawar Naila


"nggak usah Nai, lagipula aku masih harus mampir ke toko buat beli sembako dulu, ya udah aku pulang dulu ya"


"oke, hati hati Jas... " sahut ketiganya.


ku anggukkan kepala ku, setelah berpamitan kepada ketiga sahabat ku, akhirnya aku mundur meninggalkan mereka dan memilih untuk pulang.


ku susuri lorong sekolah yang telah sepi karena beberapa siswa lainnya berada di lapangan sedangkan sisanya sudah pulang lebih dulu.

__ADS_1


di ujung lorong, aku melihat seseorang tengah duduk disana sembari memainkan ponselnya, semakin dekat, wajahnya pun semakin terlihat, dia Yuda. tetapi untuk apa dia disana sedangkan temannya tengah bertanding di lapangan.


pantas saja sedari tadi aku tak melihat adanya Yuda di lapangan, rupanya ia memang tak ikut bertanding.


"hei Yud... " sapa ku, Yuda langsung mengalihkan atensinya kearah ku.


"Ya... " jawabnya cuek. sepertinya Yuda tersinggung atas jawaban ku kemarin.


karena terbiasa dengan sikap hangat dari Yuda, aku merasa mengigil mendapatkan perlakuan dingin darinya.


aku duduk di sebelahnya namun Yuda sama sekali tak merespon apapun.


"kamu marah sama aku ya Yud? "


Yuda yang tadinya kembali fokus pada ponselnya pun segera menoleh "marah kenapa? " tanyanya datar


"marah soal kemarin, barangkali ada perkataan ku yang menyinggung kamu, aku minta maaf ya Yud, jujur aku merasa nggak nyaman sama sikap dingin kamu"


"aku nggak marah Jas, lagipula untuk apa aku marah, menyukai seseorang itu urusan pribadi masing masing" terdengar helaan nafas pelan dari Yuda


"ada suatu hal yang aku nggak bisa jelasin sama kamu, tapi suatu saat kamu pasti akan mengetahui alasan ku melarang mu mendekati Haris"


aku menunduk diam mendengarkan penjelasan dari Yuda, bukannya lega, aku justru semakin kepikiran apalagi ada teka teki yang harus ku pecahkan mengenai alasan Yuda yang sebenarnya.


"baiklah, sebelumnya makasih ya Yud, kamu udah mau peduli sama aku, padahal aku sudah menutup rapat agar tidak ketahuan yang lainnya, akan tetapi kamu dengan mudah menebaknya.


"baiklah, ku pegang kata kata mu" ucapnya dengan nada yang mulai bersahabat. bahkan ia juga menyinggung kan senyumnya setelah sekian lama menampilkan wajah datarnya.


"kamu mau pulang sekarang, ayo aku antar! " serunya kemudian beranjak dari duduknya.


"iya, takut ibu nyariin, kan tadi pagi belum izin kalau mau pulang terlambat. emang kamu nggak nonton Haris tanding? " tanya ku membuat Yuda yang urung melangkah.


"buat apa, cuma main gitu doang, lagi males aku" sahutnya cuek kemudian berjalan ke arah parkiran motor.


padahal aku belum menjawab tawarannya, tetapi sepertinya ia tidak menerima penolakan makanya ia langsung melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran motor nya.


"Yud tungguin! " pekik ku mengejar Yuda yang sudah mulai menjauh


"hei... " ku tepuk pundaknya dari belakang yang membuat ia menoleh seketika


"apa lagi Jasmine.... "


"aku belum setuju kau antar pulang, aku mau pulang jalan kaki aja Yud, soalnya nanti aku harus mampir ke toko dulu beli sembako" jawab ku, berharap Yuda mengurungkan niatnya mengantarkan aku pulang karena harus mampir mampir terlebih dahulu.

__ADS_1


"baguslah, jadi kamu nggak akan kesulitan membawa barang belanjaan mu, ya sudah ayo kita pulang bersama"


hah, sungguh bukan itu jawaban yang aku inginkan. ya sudahlah, mau menolak pun pasti Yuda tak akan menerimanya.


setelah menjawab ucapan ku, Yuda kembali berjalan menghampiri motornya, sedangkan aku masih berdiri melongo di tempat.


"ayo! " serunya yang tiba tiba sudah berhenti di depan ku


"eh, iya... " aku segera naik ke atas jok motornya kemudian Yuda melajukan motornya pelan.


Yuda menghentikan motornya tepat di depan toko sembako yang lumayan lengkap di desa ku, selain itu disana harga nya juga lebih terjangkau daripada di toko toko kecil di sekitaran rumah.


"aku belanja dulu ya, kalau kamu mau pulang, pulang dulu aja nggak apa apa" ucap ku sebelum meninggal kan Yuda di depan toko.


aku bergegas masuk ke dalam toko dan memilih beberapa bumbu serta kebutuhan dapur lainnya, setelah semua terkumpul, aku segera membawanya ke meja kasir.


"sudah mbak" ucap ku kepada mbak Kasir


"totalnya 57.000 mbak" ucap mbak Kasir yang baru saja menghitung barang belanjaan ku.


aku sedikit kaget sebab aku hanya membawa uang lima puluh ribu, sedangkan belanjaan ku lebih dari itu.


"apa bisa beberapa di cancel mbak, soalnya uangnya kurang" aku meringis pilu, bahkan uang lebihan pun aku tak ada.


"maaf mbak nggak bisa karena pembeliannya sudah di input"


astaga, bagaimana ini, uang ku tak cukup untuk membayar barang belanjaan ku sedangkan untuk di kurangi pun tidak bisa karena sudah di input.


"kurang berapa mbak uangnya? " tiba tiba Yuda datang menhampiri ku dengan membawa satu botol air mineral yang baru saja ia ambil dari lemari es.


"kurang tujuh ribu mas" sahut mbak kasir


"ya udah ini kurangannya, sekalian air minumnya" ucap Yuda sembari menyodorkan uang dua puluh ribu ke arah mbak Kasir.


"baik mas, tunggu sebentar kembaliannya" ucapnya kemudian mengambil kembalian di dalam laci.


"ini mas, air mineralnya tiga ribu, jadi kembali sepuluh ribu" jelasnya.


setelah selesai membayar, Yuda meraih tas keresek belanjaan ku kemudian di bawanya keluar toko.


"udah aku aja yang bawa Yud" ucap ku sembari merebut keresek belanjaan ku. aku sangat sungkan karena tadi Yuda sudah membayarkan kekurangan ku dan sekarang justru membawakan belanjaan ku.


"biar aku saja Jas" ucapnya melenggang pergi

__ADS_1


belanjaan ku di letakkan di depan, di antara pijakan kaki kemudian ia segera naik ke atas jok motor.


"maaf ya Yud, lagi lagi aku nyusahin kamu, besok uang mu aku kembali kan, makasih juga tadi sudah membantu ku, ku pikir tadi kamu langsung pulang setelah ku suruh pulang" ucap ku ketika sepeda motor milik Yuda mulai kembali melaju.


__ADS_2