
Senin pagi
setelah selesai menyiapkan sarapan untuk nek Ida, aku bergegas untuk segera mandi dan berangkat sekolah karena hari ini aku akan menjadi petugas upacara.
aku bersyukur nek Ida tak mempermasalahkan mengenai aku yang masih sekolah karena yang terpenting semua pekerjaan selesai dan malamnya aku tetap di rumah untuk menemani beliau.
selesai bersiap siap aku segera menghampiri nek Ida yang ternyata berada di dapur.
"nek, saya berangkat sekolah dulu ya" pamit ku
"loh, kok pagi sekali, kamu sudah sarapan? " nek Ida yang tengah mengamati menu sarapannya langsung menoleh ke arah ku
"belum nek, nanti beli di kantin" aku hendak menyalimi nek Ida namun beliau menolak.
"ayo sarapan dulu baru berangkat sekolah" ajaknya menarik tangan ku untuk duduk bersama beliau di ruang makan.
"t-tapi nek-"
"sudah jangan banyak protes, kamu sudah capek capek masak, masak iya nggak nyicipin masakan kamu? "
Jujur saja aku sangat sungkan karena beliau teramat baik seperti mantan majikan ku, bu Parni. padahal niat ku untuk berangkat pagi salah satunya untuk menghidari di ajaknya makan bersama, namun apalah daya, ternyata nek Ida justru memperhatikan ku sedemikian rupa hingga aku merasa sangat segan padanya.
"makan yang banyak, anak sekolahan harus selalu kenyang biar tetap fokus" ucapnya sembari menaruh beberapa lauk ke dalam piring ku
"iya nek"
selesai sarapan dan membersihkan piring kotor barulah aku berangkat ke sekolah.
hari ini begitu terasa sangat berbeda karena tidak ada Gita yang menemani langkah kaki ku menuju ke sekolah.
sesampainya di sekolah aku bergegas menaruh tas ku dan menghampiri Gita yang katanya sudah berada di lapangan lebih dulu.
"hai Git, udah lama? " Gita yang sibuk berbincang dengan yang lain pun menoleh
"Je... aku baru aja sampai kok, ayo kita ambil bendera nya dulu, sepuluh menit lagi upacara di mulai"
aku mengangguk mengikuti Gita menghampiri pak Adi yang tengah menyiapkan barisan siswa siswinya.
__ADS_1
***
Upacara hari ini berjalan dengan lancar, baru aku tahu jika menjadi petugas upacara tidaklah mudah, mereka harus kuat mental di hadapan peserta upacara, pantas saja pak Adi langsung menghukum kami dengan menjadi petugas upacara, ternyata beliau ingin kita mengetahui jika menjadi petugas tidaklah mudah, banyak hal yang harus mereka persiapkan sebelum upacara di mulai.
"alhamdulillah ya Je, upacaranya berjalan dengan lancar, padahal tadi sebelum pengibaran aku udah gemeteran banget, takut gagal" ungkap Gita kala kami berjalan menuju kelas
"iya alhamdulillah ya Git, bukan hanya kamu aja yang nervous, aku pun sama... "
***
Aku berjalan sendiri menuju rumah nek Ida, sangat terasa memang, jika biasanya bersama Gita, kini aku berjalan sendirian karena kami tak searah.
sesampainya di rumah, aku bergegas membersihkan diri sebelum memulai pekerjaan ku.
kala tengah membersihan dapur, ponsel ku tiba tiba berdering, segera ku bersihkan tangan ku dari kotoran dan melihat siapa yang menelepon
'ibu'
"halo assalamu'alaikum bu"
"wa'alaikum salam, kak, gimana kabarnya, sudah makan belum? " tanya ibu di seberang sana
"ibu baik baik saja di rumah, malah kalau tidak melakukan pekerjaan rumah, badan ibu rasanya capek semua, ya sudah kamu istirahat sana, pasti capek baru pulang sekolah"
tut
panggilan langsung di putus oleh ibu, tanpa menunggu jawaban dari ku.
aku memang tak memberitahu ibu jika disini aku bekerja karena tak ingin membuat ibu kepikiran, ibu selalu mengatakan jika beliau kuat padahal ia hanya berpura pura kuat sedangkan fisik dan kesehatannya sedang tak baik baik saja.
"kenapa nak? " tiba tiba Nek Ida datang menghampiri ku dan mengelus puncak kepala ku, ia seolah tahu apa yang tengah aku rasakan.
"kamu tidak izin ibu mu kalau kamu bekerja disini? " tanyanya
aku menggeleng, jujur saja aku tak berani mengatakan hal itu, biarkan aku menanggungnya sendiri yang terpenting biaya yang ibu keluarkan untuk sekolah ku tidak membengkak, toh aku juga masih bisa fokus sekolah meskipun ku harus dengan bekerja.
nek Ida menarik tangan ku dan membawaku untuk duduk di kursi makan.
__ADS_1
"kenapa kamu nggak jujur sama ibu kamu nak, gimana nanti kalau ibu mu tahu bahwa kamu bekerja disini, nenek khawatir ibu kamu kecewa dan marah besar pada mu"
"Jasmin hanya tidak ingin membebani ibu nek, dengan kesehatan ibu yang kurang stabil akan membuatnya kesulitan untuk bekerja, sejak ayah meninggal, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga untuk kami, Jasmin nggak mau membebani ibu selagi Jasmin bisa nek"
"ya sudah, tapi nenek harap suatu saat kamu akan berkata yang sesungguhnya kepada ibu mu, mau bagaimana pun dialah yang bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan hari ini"
seperti nya nek Ida tak ingin terlalu ikut mencampuri urusan ku, beliau hanya meluruskan dan mengarahkan ku agar tidak salah jalan dan akhirnya mengecewakan orang terdekat ku.
aku mengangguk pelan, setelah dirasa tenang aku memutuskan untuk meneruskan pekerjaan ku kembali.
***
2 tahun kemudian...
Siang ini aku kembali berkutat di dapur bersama nek Ida untuk menyiapkan makan malam.
Hari ini anak kedua nek Ida akan berkunjung sehingga kami harus menyiapkan menu masakan kesukaannya dan keluarga kecilnya.
ini adalah kali pertama ku akan bertemu dengan anak dari nenek Ida meskipun hanya dengan putri bungsunya.
Nenek Ida terlihat senang, ia bahkan sejak pagi tadi ia telah sibuk dengan bumbu bumbu di dapur juga ke pasar.
Nenek Ida pernah bercerita jika ia memiliki dua orang anak, yang pertama anak laki laki bernama Bagas sedangkan yang kedua anak perempuan bernama Tari.
keduanya sama sama merantau di ibu kota sehingga jarang sekali pulang. sebenarnya dulu Nenek Ida ikut bersama anak sulungnya namun karena anak sulungnya harus mengurusi bisnisnya, akhirnya nenek Ida memilih untuk kembali ke kota asalnya.
Hari ini sebenarnya hari dimana aku harus pulang ke kampung karena kebetulan sudah libur semester, namun karena kasihan melihat nenek Ida menyiapkan semua sendiri akhirnya aku mengurungkan niat ku untuk pulang.
untuk ibu, beliau telah mengetahui jika aku bekerja disini, awalnya beliau marah dan terlihat sangat kecewa. Namun karena aku kembali meyakinkan bahwa aku baik baik saja, akhirnya ibu merestui jika aku bekerja.
"bu Tari kira kira sampai jam berapa ya Nek? " tanya ku di sela sela mengaduk rendang
"mungkin nanti jam dua baru sampai, masih ada waktu beberapa jam untuk menyelesaikan masakannya, kamu sudah lelah nak, istirahat sana, biar nenek yang teruskan"
"eh enggak lah nek, aku hanya penasaran aja sama bu Tari, kata nenek beliau kan punya butik di ibu kota, siapa tahu nanti Jasmin bisa belajar sama beliau"
"oh begitu, iya nanti kamu tanya tanya aja sama Tari, dia orangnya asik di ajakin ngobrol"
__ADS_1
"iya nek... "