
Aku duduk termenung di sebuah kursi taman yang tak jauh dari butik. setelah selesai bekerja, aku langsung melipir ke taman untuk sekedar mencari udara segar yang sedari tadi tak ku dapati ketika berada di dalam butik
ku hembuskan nafas ku pelan untuk mengurai emosi ku yang hendak meledak, sungguh hati ku terasa sakit kala melihat Yuda tengah bergandengan tangan dengan wanita lain.
Aku kira semua yang ia ucapkan, dan semua tulisan yang ia berikan untuk ku waktu itu adalah bukti keseriusannya pada ku, namun, rupanya itu hanyalah sebuah kata penenang agar aku tak terlalu larut dalam kesedihan.
cukup, sudah cukup selama ini aku menanti, dan kini aku menutuskan untuk berhenti dan menutup hati.
"sudahlah, Jasmin. tutup hati kamu dengan yang namanya cinta. sudah cukup kamu kecewa dan jangan kamu ulangi lagi! " gumam ku kemudian beranjak untuk pulang.
Aku berjalan sedikit cepat karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, apalagi ketika mendengar suara tapak kaki dari arah belakang yang seolah mengikuti ku.
dengan langkah yang sedikit gemetaran, aku mempercepat langkah ku agar segera sampai di kosan.
sesekali aku menoleh ke belakang, namun nihil, tidak ada orang di belakang ku. namun, suara tapak kaki itu kembali terdengar ketika aku kembali melangkah.
di tengah ketakutan ku, tiba tiba saja ada yang meraih tangan kanan ku, dengan cepat aku berbalik dan terkejut dengan orang yang berada di depan ku.
"Yu-Yuda... " lirih ku tak percaya. padahal ia tadi pergi setelah selesai berbelanja, namun kini pria itu sudah berada di depan ku.
"Ini benar kamu kan, Jasmin? sungguh, aku tak sedang bermimpi? " ucapnya dengan manik matanya yang menatap lurus ke arah ku.
"a-ah, maaf anda sepertinya salah orang, Tuan. saya permisi dulu." ucap ku kemudian melepas genggamannya dan berjalan menjauh.
"mana mungkin aku bisa salah orang, kamu Jasmin-ku, Jasmin si gadis dekil dan hitam manis! " serunya sedikit keras.
aku menghentikan langkah ku, menghembuskan mafas pelan kemudian melanjutkan langkah ku menuju kosan.
"hei, kenapa kamu menghindar? " tanya nya yang berhasil menyamakan langkah kaki ku.
"maaf tuan, sepertinya anda salah orang, saya permisi, "
"bagaimana bisa aku salah orang, ketika aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kalau kamu menangis tersedu-sedu di taman dengan menyebut namaku, apa kamu tak bahagia bisa bertemu dengan, Ku lagi? " tanyanya dengan sendu
Sejenak aku terpaku, namun aku enggan meladeni ucapan Yuda yang menurut ku hanya omong kosong.
__ADS_1
Aku tak ingin menjawab, aku segera berlari menuju kosan ku, ku buka kunci kamar dengan tergesa-gesa dan menutupnya kembali dengan cepat.
***
Keesokan paginya, aku menjalani aktivitas ku seperti biasa. bangun tidur, mandi, makan dan kembali bekerja. kegiatan ku 4 tahun di Jakarta terasa monoton, apalagi sudah 2 tahun ini aku tak pulang ke rumah untuk menghindari Haris yang kembali mengganggu ku.
Ah ibu, aku sangat merindukan, Ibu.
sesampainya di butik, Kinan langsung menghampiri ku dan mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu dengan ku dan sedang menunggu di ruang tunggu.
setelah menyimpan tas ku di dalam loker, aku bergegas menghampiri tamu ku pagi ini.
sudah hal biasa, jika ada beberapa pelanggan yang meminta di layani oleh karyawan langganannya, mungkin karena sudah cocok dan sependapat sehingga memudahkan pelanggan menentukan pilihannya.
Aku masuk ke ruang tunggu untuk menghampiri pelanggan butik kami, aku mengernyit, ku kira, ia perempuan, namun rupanya laki laki, ia tengah duduk membelakangi ku sembari memainkan ponselnya.
"selamat pagi, Tuan. maaf membuat anda menunggu, "
"ada yang bisa saya bantu? " tanya ku dari arah belakang.
"ada, " jawabnya.
Aku mencoba mengatur degup jantung ku yang bertalu-talu. Yuda, pria itu sudah berada di butik sepagi ini hanya untuk menemui aku?
heh, mana mungkin. mungkin saja ia ingin mengkonfirmasi masalah gaun yang di rombak kemarin
"kamu, aku butuh kamu, Jasmin! "
"maaf tuan, saya tidak mengerti. apakah anda ingin mengambil pesanan anda yang kemarin? " meski kesal, aku harus tetap bersikap profesional, karena ini menyangkut nama baik butik.
"ayo ikut Aku. " Yuda langsung menarik tangan ku dan membawa ku keluar dari butik.
"maaf tuan Yuda, saya tidak bisa. jangan seperti ini, ada nona Tisha yang harus anda jaga perasaannya. " ucap ku kala Yuda meminta ku untuk masuk ke dalam mobil.
Aku hanya tak ingin teman teman ku berpikiran buruk tentang ku, apalagi Kinan mengetahui siapa pria yang tengah bersama ku saat ini. bisa-bisa mereka menganggap ku pelakor.
__ADS_1
"Jasmin, please... jangan bicara formal seperti ini. aku Yuda, aku Yuda kamu, Jasmin! "
ku hembuskan nafas ku pelan, kemudian menoleh ke arah butik yangs sedikit lenggang karena memang masih pagi.
"maaf, aku harus bekerja! " seru ku hendak pergi meninggalkan Yuda, namun pria itu seperti nya membaca gerak gerik ku, sehingga, belum sempat aku melangkah, Yuda sudah lebih dulu menarik lengan ku.
"masuklah." ia membuka pintu mobilnya dan meminta ku untuk masuk
"aku sudah bilang sama tante Tari buat ngijinin kamu libur hari ini. jadi nggak ada alasan buat kamu untuk ninggalin aku lagi! "
seakan tahu apa yang menjadi beban pikiran ku, Yuda pun menjelaskan semuanya tanpa ku minta.
akhirnya aku pasrah ketika Yuda meminta ku untuk masuk ke dalam mobilnya. mungkin dengan cara ini, aku bisa lebih ikhlas melepas Yuda bersama dengan nona Tisha.
entah sudah berapa lama kami di perjalanan, namun yang pasti, rasanya sangat lama, mungkin ada sekitar 1 jam an kami di perjalanan.
mobil mulai memasuki sebuah perumahan elit, disana banyak sekali bangunan mewah yang berbaris rapi. aku memandangnya dengan tatapan takjub, tak bisa membayangkan berapa jumlah uang yang harus ku keluarkan untuk memiliki rumah mewah di perumahan ini.
Yuda membelokkan mobilnya di salah satu rumah mewah yang terlihat begitu menyejukkan mata.
"tunggu sebentar, " ucapnya kemudian keluar dari mobil dan langsung berlari membukakan pintu mobil untuk ku.
"kita di rumah siapa,Yud?"
"rumah ku dan calon istri, ku. bagaimana menurutmu? " tanya nya kala ia selesai membukakan pintu, aku tercengang kala melihat beberapa furnitur yang terlihat sangat mewah dan mahal.
"harus banget ya, kamu tanya beginian ke aku? "
"ya, harus!"
aku mendesah pelan, Yuda sudah berubah, ia bahkan tak lagi memperdulikan perasaan ku yang terasa tersayat kala ia mengajak ku ke rumah nya dan calon istrinya.
"emangnya ada keuntungannya ngajakin aku kesini, harusnya kamu tuh ajakin nona Tisha, dia yang lebih pantas kamu ajak kesini, bukan aku, "
"aku pengennya ngajakin kamu, bukan dia! "
__ADS_1