BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
53


__ADS_3

Keesokan paginya


Pagi pagi sekali adik ku sudah bangun, mandi dan sekarang tengah duduk dengan tenang di ruang tamu menunggu ku dan ibu yang akan mengajaknya ke pasar, sedangkan aku masih membantu ibu mencatat apa apa saja yang akan kami beli di pasar nanti.


"kak, kapan kita berangkat? " tanya Jefri tiba tiba menghampiri ku di dapur


"bentar lagi dek, kakak masih nulis ini loh, kamu nonton tv aja kalau bosan" jawab ku menimpali.


Jefri kembali ke depan sedangkan aku masih mencatat beberapa kebutuhan rumah yang memang harus di beli.


Lima menit kemudian kami telah selesai, aku meminta ibu untuk keluar rumah terlebih dahulu sedangkan aku mengecek pintu serta kompor sebelum di tinggalkan.


"ayo bu, semua sudah beres" ucap ku setelah mengunci pintu depan.


kami berjalan menuju pemberhentian angkot menuju pasar, namun belum ada separuh jalan, Naila memanggil ku dan langsung berlari ke arah ku.


"Jasmin! "


"kamu mau kemana? " tanya Naila


"mau ke pasar karena semalem udah janji sama Jefri kalau mau aku ajak ke pasar. ada apa nih, kayaknya ada yang mau kamu bicarain? "


"ah iya itu dia masalahnya! itu si Rania semakin menjadi jadi. masak pamit ke orang tua kalau mau main sama kita, tapi nyatanya malah mojok sama si Haris, dan kamu tahu semalam Rania pulang jam berapa? Jam sepuluh malam! aku masih nyimpen pesan dia semalam yang ngabarin jam sebelas malem " serunya penuh penekanan.


"hah, yang bener kamu Nai, jangan nyebar gosip kamu tuh pagi pagi! " seru ku jengkel, mau bagaimana pun aku tak langsung percaya akan berita itu.


"lah, nih orang di kasih tahu malah minta tempe. nih kalau nggak percaya! " ucapnya sembari menyodorkan ponselnya pada ku


ku baca satu persatu pesan yang di kirim Rania untuk Naila, dan memang benar jika Rania memberi kabar jika dirinya pulang ke rumah pada pukul sepuluh malam. Disana ia juga meminta maaf karena mempergunakan kami sebagai alasan dirinya pulang larut malam.

__ADS_1


"astaga, bagaimana dia bisa sejahat ini. ini nanti gimana kalau ayahnya nyamperin kita dan mempertanyakan kebenaran nya. Mau alasan apalagi kita, orang kita nggak tahu apapun sama sekali tentang dia kemarin"


"sudah biarkan saja. kalau kamu mau jujur juga nggak apa apa kali Jas, kita juga, meskipun kita bersahabat tapi tetap saja kita nggak boleh membela kesalahannya walaupun dia sahabat kita"


"hm... ya sudah lihat nanti saja lah. Dia juga nggak ada kasih kabar ke aku"


Naila mengangguk pelan. setelah selesai berbincang aku kembali melanjutkan perjalanan untuk menunggu angkot.


untung saja setelah beberapa menit menunggu, angkot yang akan membawa kami ke pasar telah tiba, dengan segera aku meminta adik serta ibu naik terlebih dahulu dan barulah aku menyusul di belakang.


sesampainya di pasar, aku langsung mengajak ibu membeli bahan makanan dan juga keperluan lainnya, itu karena aku baru saja menerima gaji dan kemarin sebelum pulang ke rumah, bu Tari memberikan ongkos pulang yang lumayan banyak sehingga hari ini aku bisa membelanjakan ibu serta adik ku.


sayuran serta beberapa ikan sudah berada di tangan, mumpung berada di pasar, ibu membeli beberapa keperluan dapur lainnya yang sekiranya bisa di buat stok di rumah.


"habis ini belanja apa lagi bu? " tanya ku setelah keluar dari toko sembako.


"ini aja sudah cukup kak. itu adik kamu dari tadi ngerengek minta es krim, sana belikan dulu, ibu tunggu disini! " ibu memilih menunggu kami dengan duduk di sebuah kursi dekat parkiran sedangkan aku mengantar Jefri membeli es krim.


***


Kami sampai di rumah dengan banyak barang belanjaan karena memang aku berniat menyetok beberapa keperluan yang di butuhkan.


aku membereskan barang belanjaan ku dengan menatanya di sebuah lemari kecil tempat penyimpanan stok makanan serta lainnya.


Terlihat ibu berjalan menghampiri ku "tinggal dulu kak, di luar ada Naila sama Vidya datang nyari kamu" ucap ibu


Aku mengangguk meninggalkan pekerjaan ku untuk menemui kedua sahabat ku.


"hai, ada apa nih, tumben kesini, mana Rania? " tanya ku langsung duduk di dekat mereka.

__ADS_1


"itu dia Jas, kita kesini mau rundingan sama kamu" kata Vidya. "maksudnya? " tanya ku tak paham


"gini loh Jas, kita kita kan tahu tuh kemaren si Rania boncengan sama Haris, nah nanti semisal ketemu ayah atau ibunya Rania, kita bilang jujur aja, soalnya khawatir aja kalau kita ngomong sesuai dengan apa yang di bilang Rania, takutnya nanti jadi bomerang sendiri buat kita" jelas Naila


"bener tuh Jas, apalagi kan mereka sampai malem tuh, amit-amit aja nih ya, takutnya kalau tiba tiba ada apa apa sama Rania, malah kita yang di salahin"


"terus jadinya gimana, sebagai sahabat aku juga kasihan kalau Rania sampai kenapa kenapa, tapi aku juga nggak mau terlalu ikut campur urusan mereka, aku udah nggak mau lagi berurusan sama si Haris" jelas ku membuat kedua sahabat ku tampak curiga


"memangnya kamu pernah berurusan sama Haris Jas? " tanya Vidya penuh selidik


"a-anu, em, nggak-nggak ada kok, iya bener, nggak ada" sumpah demi neptunus, aku hampir saja keceplosan.


"kayaknya ada yang kamu sembunyikan dari kita, kalau nggak, mana mungkin kamu segugup ini" kata Naila mencibir


aku mencoba menetralkan degup jantung ku agar lebih tenang, berusaha menguasai diri rupanya sangat sulit karena aku tak bisa bermain rahasia dengan Sahabat-sahabat ku


"hu um.."


"bentar aku ambilkan minum dulu" ucap ku segera beranjak meninggalkan mereka berdua.


***


Aku bersyukur selama di rumah tak bertemu dengan kedua orang tua Rania. jujur saja aku tak bisa merangkai kata kata dengan apik sehingga khawatir jika apa yang akan aku katakan justru membuat Rania dalam bahaya karena yang ku tahu ayahnya sangat menyayangi dan menjaga Rania dengan ketat.


sepuluh hari sudah aku berada di rumah, besok aku akan kembali ke kota karena nek Ida sudah menelepon katanya bu Tari sudah kembali ke Jakarta sehingga saat ini beliau sendirian di rumah.


aku menghampiri ibu yang tengah melamun di ruang tamu. aku tahu ini sangat berat untuk ibu, hidup tanpa sosok kepala keluarga membuatnya harus bekerja lebih keras dalam mengatur rumah tangganya.


"bu... " aku duduk di samping ibu, nampak sekali beliau terkejut akan kehadiran ku.

__ADS_1


"anterin Jasmin ke makan ayah yuk bu, besok kan Jasmin sudah harus kembali ke kota" mungkin dengan ini, ibu bisa sedikit mengobati rasa rindunya terhadap ayah.


beliau tersenyum dan mengangguk, aku segera beranjak untuk memanggil Jefri ke rumah Tio sebab aku ingin ia juga turut ikut mengunjungi rumah ayah.


__ADS_2