BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
29


__ADS_3

Yuda duduk tepat di sebelah kanan ku sedangkan di sebelah kiri ku ada ketiga sahabat ku yang menatap ku dengan pandangan yang seolah menuntut jawaban dari ku.


"hei, kenapa melotot gitu matanya! " seru ku pada Rania yang tampak keheranan, sebenarnya bukan hanya Rania, Naila dan Vidya pun sama.


"kamu pacaran sama Yuda? " tanyanya tak percaya


"enggak lah, mana ada. orang kita berdua cuma temenan aja kok, lagipula dia terlalu sempurna kalau harus bersanding sama aku yang hanya remahan rengginang" jawab ku lirih, aku tak ingin Yuda mendengar pembicaraan kami walaupun sebenarnya ia juga turut menyimaknya.


"udah deh ngaku aja, bener kan! " go da Vidya, entah mengapa rasanya pipi ku terasa hangat kala Vidya menggo da ku seperti itu.


"enggak lah... sudah sudah, itu guru gurunya udah pada dateng"


2 jam lebih kami berada di aula, mendengarkan promosi dari beberapa sekolah yang mungkin akan menarik dan di jadikan minat untuk kami yang ingin melanjutkan sekolah.


sejujurnya aku sedikit tertarik pada sekolah kejuruan yang terdapat jurusan tata busa na, akan tetapi itu bukan dari sekolah milik orang tua bu Hanum sehingga aku sedikit pesi mis jika menginginkan sekolah di sana karena yang pasti biaya spp dan lainnya akan memberatkan ku dan juga ibu.


setelah selesai kami pun keluar ruangan, aku berjalan bersisihan dengan Yuda sedangkan ketiga sahabat ku berjalan di depan ku.


"kamu mau lanjut kemana Jas? " tanya Yuda


"entah lah Yud, aku sebenarnya ingin di kejuruan mengambil tata busa na, tapi balik lagi, biayanya pasti sangat mahal, sedangkan kamu tahu sendiri bagaimana kehidupan ku selama ini. mungkin aku akan memilih satu di antara dua pilihan yang di tawarkan untuk ku"


"maksudnya? "


"yang pertama, bu Parni menawarkan untuk menjamin sekolah ku hingga lulus, atau pilihan kedua dari sekolah yang baru tadi, kan disana semua gratis karena mereka memang baru buka tahun ini. tapi aku masih bimbang, aku tak ingin terlibat hutang jasa dan akan membuat ku dan ibu menjadi terbebani"


entahlah, bercerita pada Yuda terasa sangat nyaman padahal kami jarang sekali berkomunikasi, hanya sesekali mengantar jemput atau berpapasan di jalan.


"semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan ya Jas"


"aamiin, kamu sendiri, mau lanjut kemana? "

__ADS_1


karena aku memilih tempat duduk di ruangan paling ujung, membuat ku harus menunggu sedikit lebih lama untuk keluar aula ini.


Yuda sejenak terdiam, sepertinya ia enggan mengatakan pada ku "kalau nggak mau jawab nggak apa apa kok" lanjut ku


"bukan begitu, hanya saja aku masih bingung, nanti lah kalau sudah pasti mau kemana, aku akan kasih tahu ke kamu"


aku hanya mengangguk, syukurlah ruangan aula ini sudah lenggang sehingga aku bisa segera keluar dan berkumpul kembali bersama ketiga sahabat ku.


jam telah menunjukkan pukul 11 siang, kami di perbolehkan untuk pulang sebab acara memang telah selesai, beberapa siswa telah berbondong bondong untuk pulang sedangkan beberapa siswa lainnya masih ada di sekolah.


ku lihat Haris berada di lapangan, ia telah berganti seragam dengan baju olahraganya.


"sepertinya mereka akan kembali berlatih" gumam ku mencoba lebih dekat dari lapangan. benar saja, mereka mulai pemanasan di lanjut memainkan bola voli nya.


tak terasa aku telah menghabiskan waktu ku hanya untuk menonton Haris yang tengah bermain voli hingga selesai.


Teman temannya telah pulang, kini tinggalah Haris yang masih duduk di kursi pinggiran lapangan tengah menghapus pe luh yang mene tes di wajahnya.


"eh Jas, belum pulang? " ia mrnyimpan han duk nya ke dalam tas kemudian beranjak dan saat ini tengah berdiri di depan ku


"belum, ada yang ingin aku omongin sama kamu, kamu ada waktu? " tanya ku sedikit ragu,


meski begitu tekad ku telah bulat untuk menyatakan perasaan ku padanya, biarpun di tolak sekalipun aku akan tetap mengatakan padanya.


"mau ngomongin apa memangnya, sepertinya penting sampai kamu nungguin aku, ada apa? " ia masih ramah seperti biasanya,


"em, sebenarnya aku penasaran sama kamu, memangnya kamu pacaran ya sama Rania? "


"lah, jadi kamu nyamperin aku cuma buat tanya hal itu. sebenarnya sih aku sama dia nggak lagi pacaran, tapi dasarnya yang lainnya sering kali menggo da ku dan mengatakan jika aku berpacaran dengan Rania, sehingga banyak berita bohong tentang ku berterbangan di sekolahan, memangnya kenapa sih, tumben tumbenan kamu nanyain hal begini? "


aku bersyukur dalam hati, setidaknya aku tak menyukai kekasih sahabat ku.

__ADS_1


ku hembuskan nafas ku pelan dan mencoba menata kata kata yang ingin aku utarakan.


"AKU MENYUKAI MU, HARIS" ucap ku lantang.


sementara Haris, pria yang selama ini ku kagumi dalam diam, yang ku kira adalah pria baik dan selalu ramah kepada siapapun, kini ia mengubah ekspresi nya menjadi tersenyum miring kala mendengar ucapan ku.


"jangan, jangan menyukai ku. karena aku tak pernah dan tak akan pernah menyukai mu. yang aku suka adalah Rania, sahabat mu! "


"Lagipula meskipun aku belum resmi berpacaran dengan Rania, aku tetap menjadi teman pria terdekatnya, jadi jangan sekali kali kamu mencoba untuk mengganggu hubungan kami! " tegasnya


deg


bak di han tam batu besar, sakit sekali rasanya ketika aku mendengar sendiri dari mu lut Haris tentang pengakuan rasanya terhadap sahabat ku sendiri.


meski aku mengetahui sejak lama jika dirinya menyukai Rania sahabat ku, akan tetapi mendengar ucapannya secara langsung membuat da da ku terasa sesak.


'baiklah, aku akan mencoba untuk melupakan mu, aku bersumpah tak akan menyukai pria seperti dirimu lagi, Haris' lirih ku dalam diam.


dalam kegetiran, aku mencoba untuk tersenyum dan menatap manik mata hitam milih Haris, wajah tampan dari pria yang ku sukai kini menampakan kega rangan dengan senyum sinisnya.


entah aku yang salah menilai atau memang inilah sosok asli dari Haris.


"terima kasih untuk waktunya, semoga kamu bisa selalu bahagia dengan Rania, maaf karena aku begitu percaya diri mengungkapkan perasaan ku pada mu, tapi aku bersyukur setidaknya rasa yang pernah ada untuk mu kini bisa ku hapus dengan mudah setelah mendengar jawaban langsung dari kamu"


ucap ku lirih dengan masih menatap manik matanya.


aku tak ingin berlama lama disana, setelah mendengar ucapan nya yang sedikit menyinggung perasaan ku, aku bergegas untuk pergi dari hadapannya.


aku tak ingin menyela atau menuntut lebih karena perkataannya di awal sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan


setelah mengutarakan perasaan ku dan berujung penolakan dan hinaan, aku langsung berbalik arah dan berjalan cepat menjauh dari tempat Haris saat ini.

__ADS_1


di tengah langkah kaki yang tak tahu harus ku bawa kemana, sebuah tangan menarik ku dan membawa ku menuju ke suatu tempat yang tak jauh dari lapangan.


__ADS_2