
Sejak terakhir kali aku bertemu dengan para sahabat ku, ini adalah kali pertama setelah sekian lama kami hanya saling terhubung dan bertukar kabar melalui ponsel.
Hanya Naila dan Vidya, entah dengan Rania, ia seakan hilang di telan bumi setelah pertemuan terakhir waktu itu.
setelah berunding dengan Vidya dan Naila di chat pribadi, akhirnya kami memutuskan untuk menemui Rania siang nanti di rumahnya. selain karena rindu, kami juga ingin memastikan sesuatu. sedangkan aku, berniat untuk jujur kepada ketiga aahabat ku.
aku menunggu kedatangan Naila dan Vidya di teras, karena mereka berdua akan ke rumah ku terlebih dahulu baru setelah itu pergi ke rumah Rania.
tak berselang lama kemudian, datanglah Naila dan Vidya dengan mengendarai motornya sendiri sendiri.
"assalamu'alaikum... "
"wa'alaikumsalam, " kami saling berpelukan melepas rindu. kesibukan dan jarak di antara kami membuat kami tak leluasa untuk sering bertemu.
"aaaa kangen banget aku tuh, "
"sama, aku juga... "
setelah itu aku mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke rumah terlebih dahulu.
"Jadi gimana nanti, apa kita interogasi aja si Rania. jujur aja aku khawatir sama dia, semenjak ia pergi dari taman waktu itu, sikapnya jadi berubah bahkan ia tak pernah lagi ikut nimbrung di grup, "
"aku sih gimana baiknya aja. oh ya, ada yang ingin aku katakan sama kalian. ku harap kalian berdua nggak marah sama aku, " cicit ku pelan
"kenapa harus marah, kalau mau cerita, ya tinggal cerita aja Jas. "
aku mengangguk, meski sedikit berat, aku pun menceritakan kisah tragis ku ketika mengutarakan perasaan ku pada Haris, aku juga menceritakan bagaimana sikap pongahnya kala itu.
aku juga menceritakan bagaimana aku bisa bangkit dan siapa orang yang telah mendorong ku menjadi Rania yang kuat dan tak mengemis cinta.
tak lupa aku juga menceritakan bagaimana sikap Haris akhir akhir ini pada ku yang kerap kali membuat ku risih.
__ADS_1
aku bernafas lega setelah menceritakan semuanya kepada Naila dan Vidya. ekspresi keduanya terlihat menahan geram, entah apa yang tengah mereka pikirkan.
"Jadi kamu pernah suka sama si Haris? "
"kamu di tolak bahkan sampai di hina dan juga di banding bandingkan sama Rania? "
"tadi siapa namanya, Yuda? bukankah Yuda itu temannya Haris ya, kenapa dia bisa berkhianat sama teman sendiri ? " tanya keduanya beruntun
"seperti yang kalian denger tadi, aku juga menyesal pernah suka sama laki-laki yang hanya memandang fisik saja, "
"Yuda memang temannya si Haris, tapi mereka berdua memiliki sifat yang bertolak belakang. awalnya aku berpikir kalau Yuda tengah iri dengan Haris yang selalu di gandrungi banyak wanita, oleh karena itu Yuda membuat cerita yang nggak masuk akal. tapi setelah aku mengalaminya sendiri, barulah aku sadar jika peringatan dari Yuda memang benar adanya.
Kalian tahu, karena Yuda lah aku bisa sekuat dan setegar saat ini. dia penyemangat ku meskipun sekarang aku tak tahu dia berada dimana"
"emangnya Yuda sekolah kemana? "
"dulu pas satu hari sebelum ia pergi, Yuda pernah bilang kalau dia bakalan ikut ayahnya, mungkin di Jakarta karena ibunya Yuda pernah bilang jika dulu mereka tinggal di Jakarta sebelum memutuskan untuk pulang dan merawat kakek Yuda disini"
"aku baru tahu loh kalau Yuda ternyata anak kota, aku pikir cuma pindahan dari kota sebelah, karena kan memang nggak pernah ada berita tentang dia" sahut Naila.
"mungkin aja memang di sembunyiin, jadi banyak yang nggak tahu, "
30 menit kemudian kami bertiga berangkat menuju rumah Rania
Sesampainya di kediaman Rania, aku melihat sekeliling, biasanya pintu rumah Rania selalu terbuka karena memang sang ibu selalu di rumah. namun hari ini tumben sekali rumahnya sepi dan pintu tertutup rapat.
"kok sepi, apa Rania sedang keluar ya? " tanya Vidya
"mungkin saja, coba aja dulu di panggil. kalau nggak nyahut berarti memang nggak ada di rumah."
tok
__ADS_1
tok
tok
"assalamu'alaikum, Rania, "
berulang kali kami mengetuk dan mengucapkan salam, namun tak terdengar jawaban dari dalam. memang sepertinya mereka tengah keluar sehingga tak ada yang menyahuti salam kami.
Aku, Naila, dan Vidya memutuskan untuk pulang. baru saja hendak berbalik, tiba tiba terdengar suara pintu terbuka hingga akhirnya kami urung untuk kembali.
Rania, keluar dengan penampilan yang tak seperti biasanya. rambut di kuncir asal, pakaian juga tampak kusut, sepertinya ia baru saja bangun tidur.
"eh kalian, tumben kesini nggak ngabarin? " tanya Rania
"iya, kebetulan kami semua pada pulang, pengen ngumpul berempat aja kayak dulu. kamu kemana aja sih Ran, dari tadi aku panggil panggil tapi nggak ada jawaban sama sekali! " gerutu Naila yang tampak kebosanan setelah menunggu pemilik rumah keluar.
"ma-maaf ya, a-aku tadi di dapur, iya di dapur. jadi nggak denger kalau ada tamu" jawabnya gugup.
kami bertiga melongo, Rania yang cantik dan selalu memikirkan penampilan, mana mungkin ke dapur dengan penampilan yang awut awutan seperti ini.
dulu saja setiap kali kami datang meskipun mendadak, ia sudah berpenampilan rapi karena selalu mandi setelah bangun tidur. dan hari ini, ia begitu berbeda dari Rania yang biasanya. ku rasa Naila dan Vidya pun merasakan hal yang sama.
kenapa aku jadi curiga dengan Rania, terlebih ketika aku tak sengaja melihat motor seseorang yang ku kenal tengah terparkir tak jauh dari rumah ini.
"ayah sama ibu kemana Ran, tumben rumah sepi?" tanya ku mengalihkan pembicaraan. bahkan sedari tadi kami masih berdiri di depan pintu, tak ada niatan dari Rania yang meminta kami untuk duduk meskipun lesehan di lantai.
"ayah sama ibu lagi pergi ke kota, katanya sih ada keperluan sampai sore. makanya rumah sepi dan pintu aku tutup, takut ada maling, "
"eh tapi maaf ya, kayaknya kita nggak bisa kumpul kumpul hari ini. Ibu nyuruh aku buat belajar karena sebentar lagi ujian, lain kali aja ya kita ngumpulnya, nanti aku traktir deh! "
kami bertiga mengangguk mencoba memahami keadaan karena memang sebentar lagi kami akan ujian. tetapi, aku merasa jika Rania tengah menyembunyikan sesuatu pada kami bertiga karena terlihat dari raut wajahnya yang sangat gugup.
__ADS_1