Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Fajar itu Kamu


__ADS_3

Jelas saja aku tahu, karena itu nama itu pemberian mama untuk seorang bayi mungil yang dilahirkan Bu Rahmah, asiaten rumah tangga mama Papa. yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri.


Tak ada nama, untuk persiapan kehadiran bayi mungil itu. Mama yang sudah punya simpanan nama memberikan untuknya. Aina Aulia Mecca, nama untuk calon adikku dulu yang tak sempat lahir ke dunia.


Karena suaminya ikut Papa pergi ke luar pulau, Mama lah yang mendampingi persalinan Bu Rahmah. Tanpa sengaja, Aku pun turun andil dalam menyambut kehadirannya. Atas suruhan Mama, aku diminta mengazani adik yang baru lahir. Suara yang pertama dia dengar adalah suaraku. Hehehe ... Yang sudah kutunggu-tunggu kehadirannya, meski lahir bukan dari rahim mamaku.


Makanya waktu melihat wajahnya, Aku seolah-olah sudah mengenalnya. Ternyata Dia adalah bayi mungil yang lahir di tengah keluargaku.


Sayang kami harus berpisah karena papa pindah ke lain kota. Sedangkan Bu Rahma mengikuti suaminya kembali ke kampungnya.


Setelah 18 tahun berpisah, tak sangka akan berjumpa. Dan kini dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang teramat manis dan polos.


“Panggil aja Mas, seperti waktu kecil dulu.”


“Memangnya kita pernah bertemu Om Mas?”


“Kok Om Mas. Cukup Mas saja.”


“Oh ya maaf, Oo... Mas.” Hampir saja keceplosan lagi, memanggilnya dengan sebutan “Om” lagi.


“Bahkan Mas yang nunggui waktu kamu lahir, Mecca. Apa kamu nggak ingat. Kan sejak lahir sampai 3 tahun, Kamu tinggalnya di rumah mama papaku.”


“Oooo begitu ya. Pasti nggak ingatlah Mas, umur segitu.”


"Atau mendengar cerita gitu."


"Hehehe ... enggak," jawabnya dengan senyum sempurna sampai-sampai terlihat giginya. Benar-benar jujur, tanpa beban. Membuat hati Najib kian gemes ....


“Sekarang antarkan Mas ke rumahmu. Aku kangen banget sama Bu Rahmah.”


Flass on


🌟


Itulah awal perjumpaanku kembali dengan adik kecilku dahulu. Hampir tiap hari aku datang ke rumahnya untuk sekedar melihat perkembangan lukanya. Dan juga Apakah sekarang dia sudah bisa berjalan normal atau belum.


Pak Rahman yang melihat keakraban kami, menjadi gelisah. Karena dia adalah putri satu-satunya dan sangat dijaganya dalam keluarga. Selama ini dia sangat membatasi orang yang bertamu menemui putrinya. Tak peduli apakah itu aku, majikan kecilnya dulu. Dia segera meminta ketegasan padaku.


Aku tak menyangkal kalau ada getar yang mulai tumbuh dalam jiwaku. Salahkah ini?

__ADS_1


Dia datang bersama fajar yang senantiasa kuharapkan terbitnya. Untuk mengakhiri malamku yang sudah di puncak kepekatan. Sehingga tak ada lagi tersisa warna untuk hariku esok, jika nafas ini masih berembus.


Cahaya yang lembut, memancar malu-malu seakan ingin menyibak alamku yang penuh kerimbunan daun penutup lara, yang telah membuat diriku rebah dalam hamparan mimpi yang semakin lama semakin jauh dari kata sakinah.


Sinar yang senantiasa kunanti agar dapat membangunkanku dari buaian yang menghanyutkan angan yang sia-sia ini. Yang tak bisa kupungkiri, kian mendera diriku dalam kesedihan.


Bila aku tak bisa mengakhiri malamku, maka ijinkan diriku Tuhan, menikmati fajar kidzim ini dengan rasa syukur.


“Nak Najib, kalau kamu datang ke sini hanya sekedar menjenguk, Bapak mohon untuk tidak sering-sering. Bagaimanapun Dia seorang wanita yang mungkin akan berharap lebih, kalau nak Najib memberikan perhatian lebih.”


“Ya Bapak. Saya mengerti maksud Bapak. Kalau boleh, saya ingin menikahi Dik Aina.”


“Akan Bapak sampaikan niat Nak Najib pada Aina. Tapi, tolong jangan sakiti dia. Bahagiakan dia sebagaimana kami membuatnya bahagia.”


“Insya Allah, Bapak.”


🌟


Kini engkau sudah berada ada di sisiku, menjadi istriku. Meski dirimu belum yakin denganku, tapi berilah waktu untukku untuk memberikan alasan padamu bahwa aku berhak engkau cintai.


Aku benar-benar berharap padamu untuk meluruhkan keyakinan ini akan arti dari keyakinan yang rapuh ini akan bahtera cinta yang sesungguhnya dan bermakna, yang selama ini sulit ku temukan.


Diriku berharap rasa ini tumbuh kian kuat untukmu. Sehingga tak ada lagi keraguanmu tentangku.


Biarlah, apa yang menjadi masalahku, itu masalahku. Aku hanya berharap engkau bisa menaruh kepercayaan padaku bahwa diriku mampu untuk menyelesaikan masalahku dengan Sheza, tanpa membuat kalian terluka.


Tak dapat aku pungkiri kalau badai itu, kini terasa kian dekat.


Bolehkah aku mengecupmu sejenak. Agar bisa ku ungkapkan bahwa dalam jiwaku, ada rindu untukmu. Ada doa yang ingin kuungkapkan pada sebuah nama yang kini bertamu dalam hatiku.


Najib memberi sentuhan kecil di pipi Aina yang kini tengah tertidur pulas di sampingnya. Sambil berbisik lirih.


"Sayang, Maafkan aku belum bisa jujur padamu."


Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di depan apartemen.


“Sayang, sudah sampai.”


Aina pun terjaga saat merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya. Aina mengejap-ejap matanya sesaat, untuk menyesuaikan matanya dengan sinar lampu yang ada dalam mobil yang tiba-tiba menyala.

__ADS_1


“Mas. Kita dimana?”


“Di apartemen Mas.”


Uuaaagh ... Dia menguap, menutup mulutnya cepat-cepat. Rasanya belum cukup istirahat yang dia rasakan, meskipun selama perjalanan dia pun tertidur.


“Maaf.”


Najib hanya tersenyum menatapnya.


“Alhamdulillah, sudah sampai.”


Keduanya turun dari mobil, menggerak-gerakkan tubuh sejenak sebelum melangkah. Najib membuka pintu depan, meraih tubuh Iza yang masih tertidur pulas. Dengan penuh kasih sayang meletakkan kepalanya di bahu. Sambil membelai punggungnya lembut. Agar tak mengganggu tidurnya. Karena terlihat sangat pulas menikmati mimpinya.


“Ayo kita ke dalam.”


"He ... eh," sahut Aina dengan menutup mulutnya, mencegah keinginan untuk menguap lagi.p Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Masih ada sisa kantuk yang sampai saat ini belum hilang dari dirinya.


Dengan menggunakan lift mereka menuju lantai tujuh.


Ting ...


Kini mereka sudah di lantai yang mereka tuju. Aina mengikuti langkah Najib, menyusuri lorong yang sunyi menuju tempat tinggalnya. Dengan sebuah kartu saja, pintu itu sudah terbuka.


"السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين,"


ucap Aina lirih saat memasuki ruangan, membuat Najib menyungging senyum. Dia yang sudah lebih masuk, terlupa mengucapnya.


Sejenak Aina memperhatikan sekitarnya. Sebuah ruangan yang cukup luas, tertata apik dengan barang-barang mewah dan elegan. Tampak sangat nyaman untuk ditinggali.


Najib menuju sebuah ruang yang ada di bawah tangga. Maksud hati ingin mengantarkan Iza ke kamarnya. Tapi mengapa Aina tetap mengekornya.


“Sayang, kamar kita di atas.”


“Oh. Tapi aku ingin melihat kamar ini juga.”


Sebuah kamar yang memang sudah didesain khusus untuk anak-anak. Dengan wallpaper taman yang indah dan juga pelangi. Serta awan yang berwarna pink. Sudah lengkap dengan tempat tidur yang menyatu dengan tempat bermainnya, slorotan dan tangga.


Mas Najib sudah menyiapkan semuanya untuk Iza di sini. Sebegitu sayangkah dia padanya?

__ADS_1


__ADS_2