
Sheza tak menyadari kalau ada seseorang yang tengah berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan sedih. Perlahan-lahan dia melepaskan jas, memasang di kedua bahunya.
"Terima kasih Kak," Dia berkata tanpa menoleh ke belakang. Dia merapikan jas itu, menelangkupkan ke muka, agar bisa melindungi tubuh dari dinginnya angin malam.
Namun dia merasa sedikit aneh. Mengapa jas itu hanya diletakkan di kedua pundaknya saja, tanpa membantu memakaikan ke tubuhnya. Ini ada apa?
Mungkinkah Kakak masih marah? Ah tidak. Buktinya dia mau menyusulku ke sini.
Meski merasa aneh, tapi Sheza mau menengok ke seseorang yang rela melepas jas untuk dirinya. Dia larut dalam kesedihannya. Setelah sekian lama, baru dia mengangkat kepala, mencoba mengungkapkan perasaan yang dipendamnya selama ini.
"Kenapa Kakak tidak bilang kalau Anthony juga ada. Jika aku tahu, aku tak mau pergi makan malam bersamamu, Kak "
"Aku benci dia, Kak. Sangat-sangat benci!"
"Dia sama sekali tak punya hati. Meninggalkanku di pelaminan seorang diri, tanpa ada penjelasan. Kemana dia? Teganya dia berbuat itu padaku. " Ucapnya dengan terisak.
"Tapi, aku juga merindukannya." Ucapnya lirih, matanya pun terpejam.
Bukannya dia tak peduli, Najib akan tersakiti dengan mengungkapkan semua itu. Hanya saja, pada siapa lagi dia hendak berbagi. Dia hanya punya kakak satu-satunya, yang selalu menemaninya sejak usia akan remaja. Tempat dia bermanja, dan tempat dia berkeluh-kesah. Dan dia selalu menjaganya setiap waktu, seberapapun nakal dirinya.
Dia menunduk, membiarkan air matanya mengalir jatuh. Sesekali telunjuknya mengusap ujung mata. tubuhnya ikut bergetar, menahan perasaan yang dia sembunyikan selama ini. Apakah itu benci dalam arti sebenarnya, atau benci karena benar-benar cinta. Serasa tak ada perbedaan antara keduanya.
"Kak, Aku tahu ini salah. Tapi kenapa, setelah sekian lama waktu berlalu, tak juga Aku bisa menghapus namanya."
Sheza pun luruh, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia tak bisa menahan lagi tentang perasaanya. Semoga setelah ini, dia bisa terlepas dari semua yang membebaninya.
"Sheza, maafkan aku!"
Suara itu ....
Sheza segera berbalik, dan shock saat melihat siapa yang ada di hadapannya dan telah mendengar keluh kesahnya.
"Kau?!"Dia menatap lelaki itu dengan tajam. Lalu segera melepas jas yang telah dipakainya, melemparkannya begitu saja.
"Kenapa kamu mengikuti ku?"
"Aku ... Aku."
Sheza tak memerlukan jawaban. Dia hanya ingin laki-laki itu sadar dengan tindakannya.
"Aku sudah menikah, Antony."
Sheza pun melangkah pergi, meninggalkannya seorang diri.
"Sheza, jangan pergi. Dengarkan penjelasan ku."
Dia terus berjalan, tak peduli dengan laki-laki yang berusaha mengejarnya. Ketika terdengar langkah kaki yang mulai mendekat, dia semakin mempercepat langkah kakinya menuju mobil.
Antony segera menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang berdiri di samping mobil dengan gelisah. Apalagi saat melihat Sheza segera berhambur memeluknya dan menangis di dadanya.
__ADS_1
Dia segera berbalik, tak ingin melihat adegan itu.
Sesaat kemudian dia memberanikan diri untuk menelepon Najib, suami Sheza.
🌟
Sheza masih menumpahkan air matanya di dada Najib. Di sinilah tempat yang membuatnya tenang.
"Kakak. Maafkan aku." ucapnya tiba-tiba, setelah sekian lama memeluknya.
Najib tetap tenang tak berkata apa-apa. Bibirnya seakan kelu untuk mengucapkan, "Aku memaafkanmu." Bukan karena tak bisa, tetapi maaf sepertinya bukan solusi.
Bagaimana hatinya tak sakit, sesaat lalu dia menyaksikan pandangan istrinya yang masih menyimpan kerinduan pada lelaki itu. Lelaki yang tak pantas untuk dicintai.
"Kakak, jangan tinggalkan aku." Ucapan Sheza menyadarkannya kembali.
Najib diam tak bergeming. Tak tahu harus menjawab apa. Dengan lembut dia membelai rambut Sheza yang terurai, meski dada yang serasa terhimpit.
"Kak, kenapa diam. Apakah kakak marah?"
"Tidak." Jawab Najib lembut.
"Maafkan aku ya, Kak."
"Apa yang mesti maafkan."
"Aku ... Aku." Sheza tak bisa melanjutkan kata-katanya. Kembali air matanya mengalir dari sudut matanya.
Sheza menggelengkan kepala,
"Tak ada," ucapnya lirih.
Dia menghembuskan nafas pelan, ingin mengurai perasannya yang menekan. Meskipun bibir Sheza mengatakan tidak ada, namun dia tahu siapakah orang yang saat ini dipikirkan sehingga membuatnya menangis.
Dia tak boleh marah. Hak Sheza untuk mengeluarkan air mata untuk siapa. Masalah hati, dirinya tak bisa memaksa.
Dia merenggangkan pelukan Sheza, agar berjarak dan bisa berbicara dengan tenang. Jari-jarinya mengusap air mata Sheza pelan.
"Dik, jawab dengan jujur. Apakah kamu masih mencintainya?"
Meski sakit, dia harus katakan itu. Sebab tak ada lagi gunanya memeluk orang yang tak memikirkan kita. Sudah sejak lama dia menyadari kalau Sheza belum move on dari dia.
"Kak. Aku tak mau kehilanganmu."
"Aku tak akan meninggalkanmu, Dik. Tapi aku juga tak ingin melihatmu menangis hanya karena memikirkan dia."
"Kakak jangan marah, ya?"
"Kakak akan marah, kalau kamu tak jujur pada dirimu sendiri."
__ADS_1
Setelah lama, dia pun berkata, dengan bibir bergetar
"Iya, Kak. Aku mencintainya. Maafkan aku, Kak."
Najib memejamkan mata. Mengambil nafas pelan dan menghembuskannya dengan berlahan. Jawaban yang sudah diperkirakan. Namun tetap saja membuat hati terluka.
Tapi dia bisa berbuat apa. Dia tak bisa memaksa agar Sheza membuang perasaannya pada Antony.
Sheza tetap Sheza. Wanita yang sempat mengisi hatinya, juga gadis kecil yang selalu manja kepadanya. Dia sadar betul, pada siapa lagi Sheza bersandar selain pada dirinya. Kita sama-sama tak punya orang tua. Papa Arya memang sangat menyayanginya, namun tak punya banyak waktu untuk menemaninya.
Dia tak bisa melepas Sheza, bukan karena ingin memiliki Sheza, tapi karena dia tak yakin kalau Sheza akan bahagia di luar sana. Cukup sekali saja adiknya itu terpuruk, jangan sampai terulang lagi.
Namun demikian, dia sadar kalau tak bisa memberikan kebahagiaan pada Sheza seutuhnya. Hanya sanggup menjaganya saja, tak bisa membuat hati Sheza tenang.
Handphone-nya tiba-tiba berdering. Setelah melihat siapa yang meneleponnya, dia langsung mereject.
"Mau apa dia. Tak penting juga." Gumamnya kesal.
"Dari siapa, Kak?"
"Orang salah alamat."
Namun kembali lagi handphone itu berdering. Semakin membuat Najib kesal.
"Mungkin penting, Kak." Sheza mencoba mengingatkan.
Hp itu dibukannya juga. Lalu mereject kembali. Namun dia membalasnya dengan berkirim pesan singkat. Bisa berabe nanti kalau Sheza tahu suara siapa yang ada seberang sana.
[Mau apa, Kau]
[Maaf Kak. Aku ingin bicara sama Kakak]
Kakak-kakak. Memang kamu adikku, batinnya ngedumel sediri.
[Nggak ada waktu]
[Kakak, kumohon]
[Baiklah, kalau ada waktu aku kasih kabar]
[Makasih, Kak]
Dia melihat Sheza lebih tenang, tak terdengar isakan atau air mata yang keluar.
"Kita pulang, yuk."
Sheza mengangguk dan masuk ke dalam mobil, menemani Iza yang tertidur pulas di bangku kedua. Sementara Najib membuka pintu depan, menemani Parman mengemudi.
Berlahan tapi pasti, mobil itu meninggalkan pelataran restoran menuju jalanan yang mulai mulai sepi.
__ADS_1
Sementara ada seseorang yang menatap kepergian mereka dengan sedih.
"Aku juga merindukanmu, Sheza." Ucap lelaki itu dengan wajah menunduk.