Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Dari Mana?


__ADS_3

Setengah berlari, Najib melangkah mendekati bayangan itu, dan memeluknya dengan tangan gemetar.


“Ada apa, Mas?” Aina benar-benar bingung sendiri dengan sikap Najib. Apalagi terasa lelehan air mata di pundaknya.


“Maafkan Mas, Sayang.”


Meskipun hatinya bertanya-tanya, tapi Aina membiarkan sesaat Najib bersikap demikian. Sampai dia yakin bila suaminya sudah lebih tenang.


“Ada apa ini? Mas seperti habis putus cinta saja.”


Najib mengangkat kepalanya sambil tertawa hambar. Mengingat Aina tak tahu apa-apa, tapi bisa berkata seperti itu. Najib mendudukkan Aina di sofa. Lalu dengan seenaknya merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya. Entahlah, saat ini dirinya ingin dimanja.


“Sekali lagi mas minta maaf, Sayang.”


Dia tatap lekat bola mata istrinya. Yang sudah berhasil mengusir kegundahan yang dirasakan sesaat yang lalu, berganti menjadi ketenangan yang saat ini dia harapkan.


“Apa aku boleh tahu, apa yang mesti aku maafkan, Mas?”


Sejak awal Aina sudah merasa ada sesuatu dalam hubungan mereka. Namun setiap kali dirinya bertanya, selalu saja suaminya berhasil meyakinkan dirinya bahwa prasangka itu tak harus diturutinya.


“Ya. Kamu boleh tahu. Bahkan berhak tahu. Karena ini masalah kita.”


“Jika hanya masalah Mas keluar malam mungkin aku bisa mengerti. Mungkin Mas punya alasan yang kuat sehingga harus menunggu sampai diriku tertidur. Dan tak seharusnya aku marah. Atau mungkin ada hal lain yang selama ini membuatku ragu tentang diri Mas. Karena sejak awal Mas tak pernah cerita tentang keluarga Mas, tentang kehidupan Mas. Mas hanya memberikan sepotong-sepotong. Sampai-sampai Aku penasaran banget siapa dirimu, Mas.”


Tak ingin Najib berlama-lama menyimpan dusta pada Aina, kalau ada wanita lain di hatinya selain dia. Tapi, lagi-lagi  dirinya tak sanggup membayangkan sesuatu yang akan terjadi dengan hubungan mereka seandainya Aina tahu.


“Tapi kamu harus berjanji, nggak akan meninggalkan diriku, apa pun keadaan yang ingin ku sampaikan nanti.”


Aina menghentikan gerakan telapak tangannya yang membelai lembut kepala suaminya.


Bagaimana mungkin suaminya berkata seperti itu. Seakan menyangsikan kepasrahan dan ketulusannya dalam membangun mahligai cinta.


Semakin ke sini, semakin Aina dibuat bingung dengan kata-kata Najib. Mengapa tidak to the point saja. Agar semua jelas.


“Ada yang bilang kejujuran akan mendekatkan kita ke surga. Kebohongan akan membawa kita ke neraka. Setidaknya kalau Mas jujur itu lebih baik, meski itu menyakitkan. Dari pada kita seolah-olah baik-baik saja padahal kita sedang berjalan di atas kebohongan. Semua akan sangat menyakitkan saat terbongkar.”


“Ya, aku juga sepemahaman denganmu. Tapi kadang untuk berkata jujur perlu keberanian. Apalagi akan melukai orang yang kita cintai.”


“Maksudmu?”


“Aku terlalu mencintaimu.”

__ADS_1


Seketika Aina tak bisa berkata-kata. Bahagia tentu saja. Dan siapa pun pasti akan merasakan hal sama bila kata-kata itu terucap dari kekasih halal yang memang sudah berhak didengar rayuannya, direspon perhatiannya, dipedulikan keberadaannya.


“Atas alasan itulah, Mas bertindak bodoh dengan terus membohongiku. Termasuk pergi tanpa memberitahuku. Takut ketahuan ya ...”


Entah kenapa membahas sesuatu dengan Aina, sepertinya menjadi ringan ya ... Bahkan sampai lupa mau ngomong apa. Bukan karena takut ketahuan, tapi lebih karena lucunya. Tapi, yang begini ini yang membuat diriku semakin takut tak bisa menyelami hatinya. Dia sangat bisa menyembunyikan perasaannya.


“Maafkan Mas, Sayang! Mas takut kamu terluka.”


Najib masih menatap intens wajah kekasih dalam pencahayaan  yang remang-remang. Dia tak berhenti mengusap rambutnya, mengurai beban yang membuat dada ini sesak.


“Siapa yang Mas temui barusan? Apa Sheza, mamanya Iza?”


“Benar, maafkan aku. Aku menemuinya tanpa mengajakmu.”


Deru nafasnya berhembus keras, terdengar menyakitkan. Dan seketika menghentikan usapan tangannya di sela-sela rambutnya.


Najib yang merasa bersalah segera menggenggam jari-jemarinya. Merasakan getarannya, serta suhu dingin telapak tangan Aina yang menempel di kulitnya.


“Sayang, jangan marah!”


“Tentu dia spesial. Hingga Mas harus menemuinya malam-malam.”


“Dia mamanya Iza. Dia ingin tahu keadaan putrinya.”


Aina memejamkan mata dan diam untuk berapa lama sambil menghembuskan nafas pelan. Dia benar-benar ingin menata hatinya yang tiba-tiba terasa sesak


“Dia boleh ke sini, menemuinya. Tanpa harus menyuruh Mas ke sana, kan?”


Meskipun bicaranya lembut namun aku bisa merasakan kalau dia sedang marah.


“Kamu sudah melihat sendiri, bagaimana reaksi Iza bila bertemu dengan mamanya. Dia sangat ketakutan. Bukan?”


Itu kenyataan yang tak bisa Aina pungkiri.


“Bolehkah aku memejamkan mata sejenak. Aku benar-benar lelah.”


Aina mencoba bangkit, ingin kembali ke kamar, namun tertahan, manakala kepala Najib tak mau berpindah dari pangkuannya. Bahkan makin menekannya seakan melarangnya  beranjak dari sofa.


“Sayang, boleh cemburu. Tapi jangan sakiti dirimu dengan cemburumu itu.”


“Baiklah.” Terpaksa Aina mengalah. Dia kembali duduk. Dan membiarkan Najib meletakkan kepalanya di pangkuannya.

__ADS_1


“Aku yang salah, menemui mamanya Iza tanpa memberi tahumu.”


“Kali ini aku bisa maafkan. Tapi lain kali aku nggak tahu.”


Subhanallah, ancamannya keras banget. Belum aku mengatakan yang sebenarnya, dia sudah menutup pintu hatinya. Bagaimana ... Lah iya ... Bagaimana. Aku harus mulai dari mana. Aku khawatir bila dia tahu yang sebenarnya, dia akan meninggalkan diriku. Tapi, siap tak siap aku harus mengatakannya. Sepertinya aku harus menggunakan doanya nabi Musa ketika menghadapi Fir’aun.


ربي اشرخ لي صدري و يسرلي امري وأخلل عقدة من لساني يفقهوا قولي


Tapi sebelumnya, diriku harus istighfar banyak-banyak. Karena diriku lah yang bersalah.


“Malam ini biarkan aku begini ya ... Bertemu dengan Sheza membuat diriku kacau.” Najib masih saja bermanja di pangkuan Aina. Meski Aina kini tak begitu mempedulikan dirinya lagi.


“Salah sendiri.”


Aku merasa amarahnya sudah mulai reda. Meski tak lagi kurasakan belaian tangannya, tapi dia membiarkan tangannya kutarik  dan kuletakkan di atas dadaku.


“Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Kamu jangan marah ya ....”


“Au ah ... Paling ngomong soal Sheza. Ogah ah!”


Kalau begini, lha kapan Aku bisa jujur dong. Baiklah, mungkin belum diijinkan Mak author.


(Whoiie ... Mak author dibawa-bawa😠)


Untung ketegangan ini segera berakhir. Ketika pintu putrinya terbuka.


Hiks ... Hiks ...hiks ....


Sontak mereka berdiri dan mendekat padanya. Aina segera meraih dan meletakkan dalam gendongannya.


“Mimpi buruk ya ....”


“Iya, Ma. Mama Sheza datang, marahi Iza,” ucapnya lirih dengan mata yang masih terpejam.


Aina segera menepuk pundaknya pelan, agar dia bisa nyaman dan tidur kembali.


“Sudah, tak apa. Tidur saja.”


“Iza nggak mau tidur sendiri. Takuuut ...”


“Sama Mama, Sayang.”

__ADS_1


“Sama Papa juga,” ucapnya dengan jelas. Membuat Najib kecewa. Apalagi tatapan Aina yang memohon juga. Yang membuat dirinya mau tak mau harus mengangguk.


Dia pun mengambil tubuh Iza, ganti menggendong putrinya. Untuk dibawa ke kamar atas. Kamar pribadinya. Bersama -sama dengan Aina yang mengikutinya dari belakang.


__ADS_2