Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Sheza Azzalea Naureen


__ADS_3

“Ada apa?” Najib bertanya sambil  menyentuh bibirnya dengan jari.


Ingin bibir ini menjawab, tapi sentuhannya telah menutup akal sehat ini untuk menemukan kata-kata.


Ada getar yang kini dia rasakan, membuat tubuhnya kian menghangat. Sehingga tanpa sadar membawa dirinya pada gelombang yang tak dapat dimengerti.


Dia benar-benar terpana, dengan tatapannya yang  sendu merayu, berbalut hasrat asmara.


“Sama, aku juga.” Wajahnya semakin mendekat. Namun dia hanya tersenyum saja, lalu terpejam. Tanpa ingin mengurai  apa yang sekilas lalu kulihat.


“Tidurlah!” pintanya seakan abai dengan apa yang sedang menguasainya. Atau memang ini yang dia inginkan agar diriku semakin terbuai dengan semua ini.


Ah ... mengapa diriku seperti menginginkan sentuhan lebih. Anganku seakan terjawab. Tangannya yang kekar menarik tubuh ini dalam dekapannya. Ada irama senada  terdengar sangat jelas dan nyata dari balik kulit tebal kekasih halalnya. Apa dia merasakan sesuatu yang sama?


Aina mendongak melihat wajah Najib. Matanya masih terpejam, namun berucap lirih ditelinga ini.


“Nikmati saja.”


Ya, nikmati saja kegelisahan ini sampai tubuh ini mengerti sendiri. Dia diam tak bergerak, mencoba memejamkan mata seperti yang dipinta kekasih halalnya, meskipun sangat sulit.


Dengan malu-malu, dirinya menatap kembali wajah kekasih halalnya. Tanpa sengaja mata ini pun beradu.


“Mas, nggak tidur?”


Dia tak menjawab. Hanya tangannya yang tak henti membelai rambut ini dengan lembut.  Sesekali memainkan  alis dan juga rambut yang menutupi keningnya.


“Sayang, sudah hafal doanya?”


“Sudah?”


Pasti ini doa yang tertulis dalam buku nikah kami.


“Aku bimbing ya?”


Aina mengangguk.


 


بِسْمِ اللهِ العِلِيِّ العَظِيْمِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنْ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ صُلْبِيْ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي


الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِيْ


 


Artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kau anugerahkan padaku.”


Pada akhirnya dia menggenggam tangan ini erat. Seakan ingin berkata,”Sayang, engkau milikku.”

__ADS_1


Ya ya ya .... 💖💖💖💖💖


Tak ada yang salah bila aku percaya padanya, untuk memilikiku seutuhnya.


🌟


Di kantor


Sejak kejadian malam yang hangat itu, bawaan Najib selalu saja ingin pulang. Ingin segera berjumpa dengan sang pujaan. Kalau bukan karena pekerjaan yang menumpuk, pasti akan segera kabur untuk menemuinya. Sabar ... Cinta tak kan kemana. Orang masih tetap di rumah, kok. Cek ... Cek ...


“Assalamualaikum.”


“Wa alaikum salam.”


Nach kan, dia masih berada di tempatnya.


Sambil meneliti laporan-laporan yang menumpuk di mejanya, masih juga disempatkan untuk menelepon rumah. Sekedar iseng saja, agar bisa mengurai rindu yang saat ini sedang menggebu-gebu. Sampai tak sadar kalau ada seorang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Seorang wanita yang kini duduk di sofa, memperhatikannya dengan saksama.


“Kak Najib!” Wanita itu akhirnya bersuara dengan nada tinggi. Hilang sudah kesabaran, sudah 10 menit ada di hadapannya, tak ada responsnya. Bertanya kabar atau apalah, asalkan jangan diabaikan begini.


Najib mendongak, melihat orang yang sudah membuyarkan semua kerinduannya pada kekasih halalnya yang kini telah kabur entah ke mana. Mungkin bersembunyi dalam angannya yang lebih dalam. Menghindar dari wajah cantik, tubuh semampai, rambut sedikit ikal dan hitam sebahu, senyum menawan dengan lesung pipitnya. Tak habis kata untuk melukiskan keindahan ciptaan Tuhan. Tapi saat ini yang terlihat hanyalah aura yang membuatnya kesal dan marah. Karena kedatangannya sangat mengganggunya.


“Tumben ingat pulang?” sahutnya dingin.


Seketika wanita itu terdiam.


“Aku ke sini bukan ingin membahas hal yang sensi macam itu. Ini masalah pekerjaan.”


“Kak Najib ....” Belum sempurna berbicara, sudah di potongnya. Menjengkelkan sekali. Membuat wajahnya memerah menahan marah.


“Maaf Bu Sheza, di sini tak ada Kak Najib ya,” ucap Najib dingin.


“ Oke, Bapak Mahardika Najib yang terhormat. Saya ke sini ingin bertanya, bagaimana mungkin perusahaan akan maju bila pimpinannya suka datang terlambat.”


“Terima kasih Bu Sheza atas perhatiannya. Masalah itu sudah saya koordinasikan dengan staff saya. Sehingga tak mempengaruhi jalannya perusahaan. Bahkan akhir-akhir ini cukup meningkat. Ibu bisa lihat di bagian keuangannya.”


“Apakah Ibu ingin tahu mengapa saya suka terlambat?”


Dia sama sekali tak memberi jeda agar Sheza bisa menjawab.


“Itu karena Ibu yang lalai dengan tugas Ibu.”


Najib menatap Sheza dengan bola mata membulat sempurna, jari telunjuknya mengarah lurus pada Sheza.


“Aku tak suka mendengar alasan.”


Ya, karena alasannya adalah aku membersamai putrimu dulu sebelum ke kantor. Belum lagi kalau tak mau sekolah, karena takut di-bully teman-temannya. Dengan mengatakan dia anak Yatim. Selalu diantar Papa saja, tanpa Mama di sampingnya. Apalagi pada acara yang diharuskan orang tua hadir berdua.

__ADS_1


“Kalau Ibu tak suka dengan kepemimpinan saya, silahkan nanti dibawa dalam rapat umum pemegang saham. Biar saya dipecat.”


Bagaimana akan memecatnya. Dia pemegang saham tertinggi dalam perusahaan.


“Kok diam! Ibu Sheza Azzalea Naureen binti Arya Wiguna.”


Kalau sudah menyebut namanya seperti ini, berarti sudah merupakan tanda bahwa dia benar-benar sedang marah besar.


Padahal dahulu Najib sangat ingin menyebut nama lengkap itu dengan penuh cinta, pada saat-saat sakral yang penuh makna, yaitu saat ijab qobul yang sudah lama terpendam dalam kalbunya yang terdalam. Sayang itu hanya angan belaka. Nama itu memang mampu terucap di bibirnya tapi dengan disertai luka yang mendalam, menggores batinnya hingga berdarah-darah. Marah! Itu pasti. Tapi maaf, itu yang diinginkan, agar semua bisa baik-baik saja.


Untuk saat ini, dia menyebutnya agar Sheza ingat bahwa dia punya keluarga yang masih menyayanginya. Dan ingat pula ikatan yang masih terjalin antara mereka berdua.


Tapi bukan Sheza namanya kalau tak bisa abai dengan panggilan yang begitu mendalam dari seorang Najib, suaminya. Bahkan dia pasti akan melawan. Kalah menang ... harus menang.


“Baiklah, sesuai dengan saranmu. Toh saham kita tak jauh beda.”


“Aku tunggu.”


Kembali Najib meneliti berkas yang ada di depannya.


“Apa hanya itu yang ingin ibu sampaikan pada saya,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


“Iza bagaimana?” suaranya agak lebih lembut daripada saat pertama kali dia bicara.


Najib mendongak dan menghentikan pekerjaannya menatap Sheza dengan wajah sedih. Syukurlah, dia masih ingat pada putrinya.


“Dia baik-baik saja,” jawabnya lirih.


Najib memperhatikan Sheza  seperti terlihat kelelahan. Bagaimana pun marah dirinya, dia tak kuasa menumpahkan begitu saja. Apalagi pada wanita dari pria yang sangat dia hormati dan sayangi.


“Apa kamu tadi langsung ke sini.”


“Iya.”


“Pulanglah. Badanmu perlu istirahat.”


“Maafkan aku, Kak.”


Dia diam tak ingin menjawabnya. Karena percuma, esok juga diulanginya lagi. Dia pun menyibukkan dirinya lagi.


Tanpa mereka sadari, salah satu sekretarisnya telah berdiri lama di samping pintu. Menunggu dengan sabar, untuk menemui bosnya.


Setelah dianggap agak reda, diapun memberanikan diri untuk masuk.


“Maaf, Pak. Saya ingin mengantarkan ini. Titipan dari Ibu Aina.”


Satu rantang kecil di tangan kanannya segera dia letakkan di atas meja.

__ADS_1


“Mana ibu?”Tak seperti biasanya yang selalu dia mengantarkannya sendiri. Kita bisa menikmati makan bersama dalam sebuah keluarga seperti sedang di rumah. Tapi hari ini, mengapa dititipkan?


“Saya tak tahu. Beliau langsung pergi tadi bersama nona Iza.”


__ADS_2