Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Menyusul


__ADS_3

Di kantor ....


Akhirnya kelar juga pekerjaan hari ini. Najib segera membereskan barang-barang yang ada di mejanya serta memasukkan berkas-berkas ke dalam almari.


Kini yang terbayang hanya wajah Aina. Bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir saat dia meninggalkannya, Aina tidak baik-baik saja. Namun dia masih ingat kalau Aina sempat juga memberikan kejutan kecil untuknya. Sentuhan manis yang telah  diberikan oleh Aina saat terakhir kali mereka bertemu, sampai saat ini masih terasa. Meskipun begitu, dia masih ragu Apakah Aina memaafkannya ataukah ada maksud lain yang ingin diungkapkannya.


Dia segera turun ke tempat parkir. Berjalan cepat menuju ke tempat mobilnya yang sudah siap sedia akan mengantarkan ke tempat tinggalnya.


Najib cepat-cepat membuka pintu mobilnya. Duduk dengan tenang di samping Suparman yang telah siap di belakang kemudi.


“Ayo Man. Kita pulang!”


Tanpa banyak bicara, Suparman segera menghidupkan mesin mobil dan melaju perlahan-lahan meninggalkan tempat parkir.


Tak memerlukan waktu lama, mereka sampai di apartemen Najib. Najib segera menuju ke lantai tempat tinggalnya. Dia pun masuk dengan cara perlahan.


“Assalamualaikum,”


Tak ada sahutan. Terlihat kosong sunyi, sepi, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


Dia segera menuju ke kamar.


“Sayang,” ucapnya pelan.


Namun sayang, kamar itu pun juga kosong. Dia segera menuju ke kamar mandi mungkin saja Aina ada di dalamnya. Namun tidak ditemukannya juga. Kini, mulai ada kecemasan yang mulai tergambar di wajahnya.


“Di mana kamu, Sayang?”


Lalu Najib segera turun mungkin saja manusia yang sedang dicarinya saat ini tengah ada di dapur. Namun di sana pun Tidak ditemukannya juga.


Akhirnya dia menuju ke ruang kerjanya. Dimana beberapa  layar CCTV berada di sana.


Alangkah terkejutnya saat mengetahui bahwa Aina telah meninggalkan apartemen. Dengan membawa tas yang sama dengan yang telah dia ambil dari ruang tamu sebelumnya.


Najib terdiam sejenak. Meskipun tidak ada suara tangis dari bibirnya, namun terlihat ada kristal bening terlihat di sudut matanya.


“Mungkinkah sentuhan terakhir yang Engkau berikan itu adalah tanda perpisahan darimu, Sayang?”


Dia pun segera berlari ke security yang ada di apartemen itu. Dan meminta untuk memutar kembali peristiwa sesaat yang lalu setelah dirinya pergi. Maka terlihat sesosok wanita yang dia cari sedang memasuki sebuah taksi.


Benar dugaannya bahwa Aina telah pergi tanpa pesan.


Najib mengusap wajahnya dengan kasar. Dia nampak frustasi dengan kepergian Aina.


Setengah berlari dia pun menuju ke tempat parkir. Agar segera dapat menyusul Aina. Untung saja Superman masih ada di sana. Dia belum terlalu jauh meninggalkan mobilnya.

__ADS_1


“Man, ayo kita pergi! kita susul ibu moga-moga belum jauh.”


“Kita ke mana Den?” dia tampak terkejut dengan kedatangan Najib dengan wajah penuh kekhawatiran.


“Tak tahulah, Man.” Tangannya segera meraih pintu mobil. Dia membukanya dengan cepat lalu duduk di sebelah kursi pengemudi yang kini sudah diduduki oleh sopirnya.


“Apakah ke kampung halaman ibu?”


“Semoga saja dia ada di sana.” Najib segera memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Demikian juga dengan Suparman.


Tak berapa lama kemudian, Suparman membawa kendaraan itu keluar dari tempat parkir menuju jalanan yang kini sudah semakin padat merayap karena bertepatan pada saat jam pulang kerja.


“Ke arah mana ini, Den?” Parman saat mereka berada di persimpangan jalan.


Mungkinkah Aina akan menuju kampung halamannya. Ataukah menuju tempat yang lain?


“Entahlah Man, Aku juga tidak tahu. Sepertinya saranmu itu baik. Kita ambil jalan kanan saja, masuk tol. Agar lebih cepat  sampai ke kampung ibu.”


“Baiklah Den.”


Superman menambah kecepatan mobil yang dibawanya. Apalagi saat melihat wajah Najib yang sudah sedemikian cemas.


Saat itu senja mulai turun. Cahaya mega telah memenuhi angkasa di ufuk barat. Perlahan tapi pasti kegelapan malam kini tengah menyapa lembayung senja dengan senyuman. Bertanda bagi semesta untuk berganti giliran dalam menyapa dunia fana.


Sayup-sayup terdengar dari kejauhan lantunan azan Yang disuarakan dari masjid yang mungkin tak jauh dari mereka berada saat ini.


“Baiklah, Den.”


Suparman segera membelokkan mobil ke rest area yang ditemuinya setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama 10 menit.


Sudah saatnya bagi mereka untuk menghadap pada sang Pencipta, untuk sejenak meluruhkan segala daya dan ingatan kepada-Nya jua. Setelah seharian meniti kehidupan demi kesempurnaan apa yang kita inginkan. Meski tahu bahwa semuanya akan berakhir fana. Termasuk berbisik tentang hatinya yang kini sangat terpaut erat pada sosok yang sangat dicintainya, Aina. Dan menanyakan tentang keberadaannya.


Turun dari tempat sembahyang, Najib melihat sesosok wanita yang dia yakin itu adalah istrinya, tengah berjalan menuju ke sebuah taksi persis dengan yang terlihat dalam CCTV di ruang security apartemennya. Dia segera berlari memotong jalan wanita itu.


Hatinya benar-benar bersorak saat melihat wanita  yang ada di depannya. Dia langsung berhambur dan memeluk Aina erat


“Sayang ...’ panggilnya lembut.


Untuk sesaat keduanya terdiam. Memberi kesempatan pada diri masing-masing untuk menyelami Apa yang dirasakannya saat ini.


“Mengapa kamu bersikeras untuk pergi dariku.”


Aina tak segera menjawab.


“Mas kita di bicara di sana yuk!” ajak Aina sambil melepaskan diri dari pelukan Najib.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan ke sebuah rumah makan yang ada di area tersebut. Sebuah warung lesehan yang menyediakan menu makanan sederhana namun kelihatannya mengundang selera. Setelah sampai di warung itu, Mereka mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. bangku tengah sebelah kanan yang ada sedikit ornamen di dindingnya.


“Aku pesankan makanan ya. Pasti seharian ini kamu belum makan.”


Ingin sekali Aina berkata,” memikirkan masalah ini sudah membuat selera makanku hilang.” namun semuanya itu dia simpan dalam batinnya saja.


“Tidak Mas, mungkin aku hanya butuh teh hangat saja.”


“Jangan begitu sayang, jangan siksa dirimu karena aku.”


Melihat kesungguhan suaminya dalam merayu dirinya, akhirnya Aina pun luluh.


“Baiklah, Mas.”


Najib pergi memesan makanan, yaitu Ikan bakar dan juga teh untuk mereka berdua.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka mencoba saling membuka hati.


“Mas bukannya aku ingin pergi darimu. Tapi saat ini aku perlu waktu untuk bisa menenangkan pikiranku.”


Najib pun menunduk. Ada bias penyesalan yang tampak jelas menghiasi raut wajahnya. Berapa kali dia mengambil nafas panjang, menghembuskannya perlahan..


“Aku sudah mengaku salah padamu. Dan aku menyadari kalau aku terlalu memaksa untuk kamu bisa memaafkanku. Kalau yang engkau cari adalah ketenangan Mas akan mengantarmu pulang. Meski Mas akui, tanpamu Mas kesulitan untuk tenang.”


“Terima kasih Mas, sebenarnya aku juga mengharapkan itu darimu. Karena tak mungkin aku pulang dalam keadaan begini. Yang akan membuat orang tuaku bersedih. Tapi ini akan membuatku semakin sulit untuk jauh darimu. Biarlah kali ini aku mencoba belajar untuk melepasmu.”


Najib meraih tangan Aina, Menggenggamnya dengan erat. Lalu mencium cincin yang berada di jari manis Aina.


“Sungguh aku menghargai sebuah ikatan suci di antara kita. Sebagaimana engkau lihat sendiri bagaimana aku mencoba bertahan dalam ikatanku dengan Sheza. Meskipun itu sangat sulit.”


“Berarti Mas egois dalam soal ini. Ingin memiliki kita berdua tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan kita.”


“Bukan soal melepaskanmu untuk Sheza atau melepaskan Sheza untukmu, Bukan ... Bukan soal itu.”


“Lalu soal apa?”


“Sebenarnya ... Banyak yang ingin Mas ceritakan padamu sebagai seorang sahabat.”


“Bukankah aku istrimu. Istri adalah sahabat juga bagi suaminya.”


“Apakah sebagai istri, kamu tak cemburu saat suamimu menyebut wanita lain di depanmu.”


“Ya aku cemburu ... Apa itu yang menjadi ketakutan Mas selama ini. Dan memilih menyimpan rahasia Mas sampai aku mengetahuinya sendiri?”


“Mungkin itu salah satunya. Tapi mungkin juga karena aku khawatir kamu tidak akan mempercayainya.”

__ADS_1


“Berarti Mas meragukanku.”


“Tidak.”


__ADS_2