Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Selamat Tinggal


__ADS_3

Saat bangun di tengah malam, Najib tak menyangka kalau Sheza telah berada di sampingnya. Ia tidur dengan tenang sambil memeluk dirinya.


Dia menyingkirkan tangan Sheza yang ada di atas perutnya dengan perlahan-lahan. Namun ternyata pergerakan kecil itu membuat tidur Sheza terusik dan membuka mata.


"Kakak, ini jam berapa?" ia mengusap wajah dengan kedua tangannya, agar kesadaran segera kembali.


"Jam 02.30. Kita tahajud yuk!"


"Aseeaaess ... ngantuk." jawabnya manja sambil menggerakkan kedua tangannya. Namun demikian dia tetap bangkit mengikuti Najib.


Sementara Najib menuju ke kamar mandi untuk bersuci dia duduk di tepi ranjang dengan kepala yang masih terantuk-antuk. Sangat susah untuk mengusir rasa kantuknya. Kembali matanya pun terpejam. sampai tidak menyadari kalau Najib telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, bersih diri dan berwudhu.


Najib tersenyum saat melihat seza. Dia mengusap wajahnya yang masih dipenuhi oleh air wudhu lalu di percikannya ke wajah Sheza, seketika membuatnya tersadar


"Kakak, dingin tahu!" protes Sheza.


"Sudah sana! basah mukamu dengan air wudhu. Kakak tunggu." jawab Najib dengan tertawa kecil.


Sheza pun segera beranjak dari duduknya menuju ke kamar kecil untuk bersih diri dan juga berwudhu.


Sambil menunggu Sheza menyelesaikan hajatnya, Najib membentangkan sajadah di samping tempat tidur mereka. Dia melakukan shalat ringan sebanyak 2 rakaat.


Tak berapa lama Sheza pun datang dengan muka yang basah oleh air wudhu. Dia mengambil mukenah yang ada di almari kecil meja rias serta mengenakannya. Dia menuju ke tempat Najib berada. Lalu membentangkan sajadah di belakangnya.


"Ayo!"Najib mengajaknya berdiri.


Tanpa banyak kata, Sheza pun berdiri mengikuti sang iman yang baru saja mengucapkan takbir.


Tak berapa lama keduanya pun larut dalam alunan doa mengharap keridhoan yang Kuasa, berusaha menyerahkan seluruh jiwa pada sang pemilik semesta serta jiwa raganya.


Hingga tak terasa, sang fajar pun mulai menyingsing, menyibak alam yang larut dalam peraduan, mengusik nyanyian malam untuk segera berlalu dari masanya.


Seiring salam terakhir Najib ucapkan dalam shalat witir, terdengar alunan suara tilawah Alquran dari kejauhan, menandakan waktu subuh akan segera datang.


Meskipun demikian, Najib tak lupa untuk menutup shalatnya dengan mengangkat kedua tangan dengan beribu permintaan, dalam alunan doa yang dia ucapkan dengan lirih.


Aamiiin ... aamiiin, lapat-lapat suara Sheza mengiringinya.


Setelah merasa cukup dengan semua permintaan dan ungkapan yang mengalun dalam doa, dia pun mengusap wajah dengan kedua tangan.


Najib beristirahat sejenak dan mengambil nafas dalam, lalu membalikan tubuhnya, menghadap ke arah istrinya.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik bila tertutup seperti itu."ungkapnya dengan bibir tersenyum dan mata berbinar. Bukan merayu tetapi mengungkapkan dengan tulus apa yang sebenarnya.


"Apalagi habis terkena air wudhu."


Tak salahkan, bila dia menyempurnakan pujiannya pada makhluk ciptaan tuhan yang bernama istri.


"Ah, Kakak."


Sheza tak bisa memungkiri kalau saat ini hati menghangat, mendengar pujian yang terlontar dari bibir suaminya. Segaris senyum tipis terukir di wajahnya. Mungkin saat ini pipinya pun merona. Dia tak mampu menutupi rasa bangganya, dengan pujian yang diberikan oleh orang yang sangat dicintainya.


Sheza tak membuang kesempatan itu untuk bermanja. Dia segera meletakkan kepala di pangkuan Najib. Boleh, kan?


Tentu dia tak bisa bisa melarang Sheza melakukan itu. Toh, dia istrinya. Najib pun tertawa.Untuk sesaat, dia memainkan mukena di wajah


Namun ada rasa sesal dan berdosa memenuhi dadanya, sehingga dia tak mampu berlama-lama memandang wajah wanita yang kini berbaring di pangkuannya. Dia pun mengalihkan pandangannya.


Ada hal penting yang harus segera dia sampaikan pada Sheza tentang pembicaraan dengan Arya tadi malam. Namun dia sulit untuk memulainya.


Beberapa kali nafasnya pun berhembus pelan. Tak terasa, hembusan nafas itu menyapu wajah istrinya.


"Ada apa, Mas?"


"Tidak ada apa-apa. Aku merasa nyaman saat Kamu memanggilku dengan sebutan Mas. Aku berharap bisa mendengar seumur hidupku."


"Maksud Mas ... bukankah Mas adalah suamiku ... tentu aku bisa memanggilmu seperti itu selamanya."


"Seandainya iya."


Sheza terkejut, lalu bangkit dari pangkuan Najib.


"Maksud, Mas?" tanyanya dengan bingung.


Najib menunduk, lalu memeluk Sheza dengan erat.


Sheza merasakan tubuh Najib bergetar hebat. Dia diam saja.


Setelah beberapa saat, Najib pun melepas pelukan itu.


"Maafkan aku Sheza, selama ini telah menyakitimu. Seandainya aku boleh memilih, aku tak mau kehilanganmu. Tapi kesalahanku sudah sangat fatal. Aku yakin kamu terluka karena ketidakmampuan atas kelemahanku sendiri, sehingga menduakanmu."


Sheza yang pada mulanya diam, kini menatap Najib dengan sendu.

__ADS_1


"Ya Mas aku terluka. Namun aku cukup sadar, tak semuanya itu kesalahan Mas. aku mencoba merenung dan sadar ingin memperbaiki semua tapi kelihatannya sudah terlambat. Sakit sekali Mas saat tahu kamu menduakanku. semakin aku melihat dia, rasa sakit ini pun semakin memuncak. Aku ingin lari Mas, tapi aku tak bisa. Kini baru aku tahu kalau aku nyaman di sisimu, tenang dan bahagia. Dan aku mencintaimu."


"Sheza ..."


Najib tak bisa lagi berkata-kata. Ada setetes buliran embun yang keluar dari ujung matanya. Dia menggenggam tangan Sheza dengan erat.


"Maafkan Mas. Subuh ini juga Mas harus pergi. Mas harus bisa mempertanggungjawabkan semua yang telah Mas lakukan. Mas nggak bisa lari."


"Ya." ucapnya lirih, bersamaan dengan buliran-buliran tetes air mata yang kian deras membasahi pipinya.


Najib langsung mendekapnya erat. Dia pun tak kuasa menahan kesedihannya.


"Aku titip Iza dan Papa ya, Dek!" sambil melepaskan pelukan.


"Ya." ucap Sheza sambil mengusap air mata.


"Mas pergi sekarang?"


"Iya Dek. Semakin cepat semakin baik."


"Tidak menunggu Papa?"


"Tidak. Sampaikan salamku pada Papa, dan peluk cium ku juga pada Iza."


Sheza mengangguk.


Sekali lagi Najib memeluk Sheza dengan erat, dan memberikan beberapa kecupan di pucuk kepalanya. Dengan rasa berat, dia pun melepas Sheza.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Dia segera melangkah pergi meninggalkan Sheza, yang mematung dengan air mata.


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh." ucapnya saat bayangan Najib sudah tidak tampak lagi.


Najib menuruni tangga dengan berat hati. sesekali dia namanya pintu kamar Sheza. Mencoba untuk mengurai kenangan yang tersisa yang saat ini dirasakan semakin berat menekan, namun dia tak kuasa.


Langkahnya terhenti di depan pintu kamar putrinya. Berlahan dia buka pintu itu, lalu menghampiri Iza yang tertidur pulas. Mengusap pipinya lalu mengecupnya dengan lembut, sebelum mengucapkan selamat tinggal.


"Jaga Mama ya, Sholihah." bisik lembut di telinga putrinya.


Dia pun beranjak pergi di saat kumandang subuh mulai terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2