Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Bertemu Sheza


__ADS_3

Wajahnya yang cantik terlihat tegang dan terdiam, menyaksikan kemesraan Najib dan Iza bersama seorang wanita yang belum sekalipun pernah ditemuinya. Wanita berjilbab yang sangat anggun dan lembut.


Bola matanya membulat tak berkedip, ketika  melihat mereka bergantian menyuapi Iza. Hal yang tak pernah dilakukan pada putrinya. Iza pun sepertinya sangat menikmati perlakuan mereka. Dia tak pernah berhenti tertawa ataupun tersenyum. Dia terlihat sangat bahagia.


Bahkan terlihat  olehnya, Najib memandang wanita itu dengan tatapan mesra baik secara nyata atau sembunyi-sembunyi. Jika tak punya hubungan khusus, apakah suaminya akan melakukan itu?


Sheza benar-benar gusar dan marah. Selera makannya seketika menghilang. Semua makanan yang tersaji di depannya, dia abaikan begitu saja. Dia hanya menikmati juz lemon yang kini tak lagi berasa di lidahnya.


Sesekali dia melirik ke meja Najib. Ingin mendekat, melabraknya. Karena telah berani selingkuh di belakangnya. Apalagi terhadap wanita yang duduk di samping putrinya. Memang dia siapa, berani-beraninya dia telah mendekati suaminya?


Kesempatan itu pun datang. Saat Aina berjalan meninggalkan meja menuju toilet. Sheza segera menyusulnya. Setelah menunggu sejenak, dia pun menemukan wanita yang di carinya keluar dari kamar kecil, dan kini tengah memperbaiki jilbabnya di depan kaca. Dia pun segera mendekatinya.


“Hai kamu! Apa hubunganmu dengan Kak Najib?” Sheza benar-benar sudah dikuasai amarah. Matanya yang tajam, siap-siap menusuk lawan.


Aina terkejut. Dia pun balik badan. Namun karena dirinya tak mengenal wanita yang ada di belakangnya, dia pun berbalik kembali menghadap kaca, memperbaiki jilbab yang dia kenakan.


Merasa diabaikan, membuat Sheza semakin naik pitam. Dengan langkah lebar mendekati Aina.


“Kamu!”


Aina menengoknya.


“Maksud Mbak, Saya?”


“Memang ada orang lain, Nona sok cantik ...!”


“Maaf, sepertinya mbak salah orang. Kita tak saling kenal dan tak pernah bertemu. Dan kurasa aku nggak punya urusan dengan mbak.” Meski agak sedikit kesal,  sebisa mungkin Aina bersikap tenang.


“Baik, aku ulang pertanyaanku. Kamu siapanya Kak Najib?”


Aina tertegun sejenak, tak sangka kalau wanita di depannya menyebut nama suaminya.


“Apa mbak, adiknya Mas Najib?” Tak salahkan kalau dirinya menyebutnya begitu. Karena wanita di depannya memanggil suaminya dengan sebutan ‘Kak’.


“Eee ... Ditanya malah balik tanya!” ucap Sheza dengan suara yang sama, “Bikin hati makin panas saja nih, orang.”


“Silakan tanya ke kakak Anda sendiri nona. Toh belum tentu yang Nona sebut itu nama suamiku.” Jawab Aina. Tak ingin dia diremehkan dengan wanita yang sudah berani berkata kasar padanya. Dia merasa tak punya masalah dengannya. Dia segera keluar meninggalkan Sheza begitu saja.

__ADS_1


Suami? ....


Seketika Shesa terpaku. Tak lagi memperhatikan kalau wanita itu telah meninggalkannya. Dia baru menyadari ketika pintu toilet akan tertutup.


Sheza segera mengejar. Baru saja tangannya akan meraih pundaknya, pintu toilet itu menghantam tangannya. Untung saja dia bisa menahannya.


“Kau!!!Aaiiihgk, **** ....” Sheza mengumpat, tak berhasil meraih Aina.


Dia pun menghentikan langkahnya, terdiam sebentar.


“Mas Najib, kamu benar-benar cari penyakit. Mencoba selingkuh di belakangku.”


Sheza pun keluar dengan wajah yang dipenuhi cemburu. Ingin menemui suaminya. Namun sayang, mereka sudah meninggalkan tempat itu beberapa saat sebelum dirinya datang.


Dengan kesal, Sheza menghubungi Najib. Namun beberapa kali dia mencoba, belum juga diangkat. Sheza semakin kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa. Dia pun hanya mengirim pesan lewat WhatsApp agar Najib bisa datang ke rumah.


Sheza segera menuju tempat parkir bermaksud ingin  pulang. Biarlah dia menunggu Najib di rumah saja.


Selama ini dirinya tak pernah sedikit pun terusik dengan keberadaan Najib apalagi dengan Iza. Bahkan kadang  berpikir bahwa keduanya adalah penghalang dari semua impiannya selama ini. Tapi menyaksikan pemandangan di depannya sesaat lalu, mengapa dirinya menjadi terusik, seakan ada bagian jiwanya yang hilang.


Malam semakin larut, namun orang yang ditunggunya tak juga menampakkan diri. Sampai dirinya tertidur di sofa.


🌟


Dia baru membukanya saat menjelang tidur.


Dahinya berkerut, saat membaca chat yang begitu banyak dari Sheza.


“Ada ada, Mas?”


“Tak ada apa-apa.”


Dia segera menghapus pesan-pesan itu.


“Sudah yuk, kita tidur.”


Dia pun segera masuk dalam selimut, merebahkan diri di samping Aina. Memeluk Aina serta membelai rambutnya lembut sampai Aina terpejam.

__ADS_1


Setelah yakin kalau Aina sudah terlelap, dia pun beranjak dari tidurnya. Memindahkan kepala Aina pelan-pelan dari lengannya.


Tampak Aina menggeliat sebentar lalu kembali tenang saat Najib memberikan sebuah guling sebagai ganti dirinya. Berlahan-lahan dia bangkit dan duduk di tepi ranjang.


Meskipun hatinya nyaman ada di samping Aina, tapi dia tak bisa mengabaikan Sheza begitu saja.


“Maafkan Mas, Mecca.” Dia mengecup lembut dahi Aina sebelum turun dari ranjangnya.


Dia segera mengambil kunci mobilnya, dengan sangat pelan membuka pintu, pergi menuju garasi. Dengan memakai mobil, Dia meninggalkan apartemen.


Sesaat setelah Najib pergi, Aina yang memang tengah berpura-pura tertidur, segera membuka mata.


“Mengapa Engkau harus pergi mengendap-endap seperti itu. Apa yang kamu sembunyikan dariku, Mas?”


Dia segera merapikan rambutnya, turun menuju ke ruang tamu. Duduk seorang diri di sofa. Menunggu dengan setia kedatangan Najib dengan rasa was-was.


Bagaimanapun pertemuan dengan wanita yang memanggil suaminya dengan sebutan ‘Kak’ telah mengundang tanda tanya besar pada dirinya. Sebenarnya siapa wanita itu? ....


🌟


Setelah memarkirkan mobilnya, Najib segera menuju pintu utama. Dia mengeluarkan kunci duplikat yang selalu dibawanya dari kantongnya. Kunci yang dulu selalu dibawanya. Untuk sekedar berjaga-jaga kalau saat dia pulang, Sheza tak bisa membukakan pintu. Mungkin sudah tidur atau sedang tidak ada di rumah, sibuk dengan teman sosialitanya.


Najib yang melihat Sheza tertidur di sofa terenyuh. Tak sangka kalau istrinya menanti dirinya dengan sabar.  Dia pun menghempaskan tubuhnya di kursi empuk di hadapan Sheza. Dia memandang wanita cantik yang sedang tertidur di hadapannya. Ingin membangunkannya, namun tak tega.


"Ya sudahlah. Mungkin lain kali saja kita bicara." gumamnya lirih. Lalu dia segera beranjak dari tempat duduknya.


Baru ingin melangkah, tiba-tiba Sheza terbangun.


"Kak, Akhirnya kamu datang."


Najib menoleh dan kembali duduk di tempatnya semula.


"Kamu mau ngomong apa?" ucapnya dingin. Sedingin hatinya yang kini mulai membeku karena angin malam yang menusuk.


Sheza yang masih mengumpulkan kesadarannya, tak begitu menanggapi pertanyaan Najib. Dia bangkit dan berpindah tidur di samping Najib, dengan menjadikan pangkuan Najib sebagai bantalannya.


Najib seketika hendak bangkit, menghindar dari sentuhan Sheza.

__ADS_1


"Kak, tak bolehkah saat ini aku bermanja padamu?"


__ADS_2