
"Iza kangen?"
"Kangen, Pa ..." ucapnya dengan wajahnya memelas.
"Tuh, siapa yang ada di sebelah sana." kemudian Najib mengarahkan kameranya ke Aina. Ia sedang duduk tenang, berselanjar di atas ranjang.
"Mama Aina ..." teriak Iza dengan sangat keras, sangat memekakkan telinga, sampai-sampai Najib harus menjauhkan handphone dari telinganya. Dan yang membuat Najib makin bahagia saat melihat mata Iza berbinar cerah penuh kerinduan. Mengingatkan pada saat mereka masih berkumpul.
"Aku boleh ngobrol sama Mama, Papa?"
"Boleh, mama juga ini lagi nunggu. Ingin ngobrol sama kamu."
Najib memberikan handphone itu pada Aina yang segera diterimanya dengan senyum mengembang sempurna.
"Assalamualaikum putri Mama ...." sapa Aina dengan gembira.
"Wa'alaikum salam, Mama ...." cium jauh pun tampak dalam layar handphone, membuat Aina tertawa seketika.
Keduanya mengobrol ria, sangat asyik, sesekali tertawa, merengut, senyum, membelalakkan mata, lengkap sekali ekspresi yang Aina tampakkan, membuat Najib senyum-senyum sendiri menatap seseorang yang kini menjadi istri satu-satunya.
Mungkin karena sudah terlalu lama tidak bertemu, dia begitu antusias, tak lagi memperhatikan sekitar. Sampai-sampai Aina pun tak tahu kalau Najib sudah kembali ke sofa, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Bila rindu sudah menggunung, dua jam ngobrol untuk menguraikannya pun tak terasa. Najib hanya bisa mengulas senyum, tak ingin mengusik keasyikan mereka berdua.
Lapat-lapat dia mendengar.
"Mama, kapan adik lahir?"
"Sebentar lagi, mungkin seminggu atau dua Minggu lagi."
"Benarkah?
"Aku sudah sabar ingin lihat dia. Nanti aku mau jenguk sama Mama Sheza sama Kakek, boleh?"
"Boleh."
"Yeeeeiii ... asyik boleh. Sebentar lagi aku mau jadi kakak."
"Sekarang udahan dulu ya ... adik sudah capek. Mau tiduran, biar sehat dan kuat."
"Tapi Aku masih kangen, Ma."
"Kakak harus istirahat juga, kan! Biar sehat."
"Baik, Ma." jawabnya dengan wajah sendu. Namun tak lama kemudian, ia pun tersenyum cerah dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Nggak boleh telat makan lho dan belajar yang rajin, ya Kak!"
"Ya, Ma."
Tut ... ternyata Iza menyudahi lebih dahulu. Wajahnya kini sudah menghilang dari layar.
Aina segera mengembalikan handphone itu pada Najib dengan wajah yang bahagia. Keinginan untuk bertemu Iza sudah terpenuhi, meski tak bisa memeluknya langsung, setidaknya bisa melihat wajahnya yang ceria, membuat kerinduannya bisa terobati.
"Makasih, Mas sudah memenuhi keinginan adiknya Iza."
__ADS_1
"Adiknya Iza atau mamanya Iza."
"Dua-duanya. hehehe ..." Aina tertawa senang.
"Yaudah. sekarang istirahatlah. Biar kamu sehat, dan Baby kita juga sehat."
"Ya, ya, ya," sahut Aina agak ketus, "Tapi dielus, ya." mohonnya sambil merebahkan tubuh.
Najib tersenyum dan langsung duduk di samping Aina di atas ranjang. Aina tengah berbaring miring membelakangi dirinya. Bukan karena sedang marahan, mungkin itu posisi yang ternyaman saat ini untuk Aina beristirahat.
"Manja kali mamamu, Sayang." goda Najib membuat Aina mengerucutkan bibirnya dan bergumam lirih.
Najib hanya tersenyum. Berlahan-lahan, Ia mengusap perut Aina yang sekarang sudah semakin membuncit dengan lembut. Sesekali meniupnya dengan disertai doa.
Dia tak terganggu dengan kemanjaan Aina. Bahkan senang karena merasa dibutuhkan.
"Masih sakit?"
"Sangat sakit."
"Sabar ya ... moga-moga 2 Minggu lagi sudah bisa dikeluarkan sesuai dengan rencana."
"Aamiiin."
"Mas, kapan bapak/ibu datang?"
"Insyaallah 2 sehari sebelum operasi. Ibu Bapak nggak bisa lama-lama pergi, kasihan ayam sama kambingnya kalau ditinggal pergi lama-lama."
"Kan ada Rosyid."
ho ... oh.
Aina diam dan memejamkan mata, merasakan tendangan yang tiba tiba-tiba menghentak di perutnya.
"Subhanallah." Bibirnya berbisik lirih. Senyumnya mengembang meski dengan gigi tertutup rapat, menahan sakit yang luar biasa.
"Sakit, Sayang?" Dia menghentikan usapannya dan menatap Aina dengan khawatir. Satu sisi ia senang, menunjukkan baby-nya sehat. Tapi dia pun merasa iba, melihat Aina sampai meringis.
"Tidak apa-apa." Baby yang di rahimnya kembali tenang..
"Alhamdulillah."
Aina meraih tangan Najib dan memeluknya dengan erat.
"Kalau begini dia akan semakin tenang." ucap Aina manja.
Najib mengulas senyum tipis. Ia membiarkan tangannya ditarik dan dijadikan bantalan Aina.
Lha ... lha ... ini bagaimana? mau tak mau ia pun harus mengikuti pergerakan Aina. Terpaksa ia harus rebahan juga. Untung ranjangnya besar, sehingga muat untuk mereka berdua.
Satu tangan untuk bantalan Aina, tangan yang lain ia gunakan untuk kembali mengusap baby yang kini sudah mulai bergerak lagi.
"Mas."
"Hmmm ..."
Menghadapi jadwal operasi caesar yang kurang beberapa hari ini, Aina menjadi ragu dan was-was. Sering kali terlintas dalam pikiran bagaimana kalau ia tak mampu melalui proses itu.
__ADS_1
"Seandainya Mas harus memilih antara aku atau baby kita, siapa yang mas pilih."
Ada nafas yang berhembus lembut menyapu tubuh Aina. Terasa kalau Najib berat memberi jawaban.
"Jangan paksa Mas untuk memilih. Kalian berdua sangat berarti. Kamu pasti kuat, Sayang."
"Tidak, Mas. Aku sudah cukup bahagia bisa melahirkannya, biarlah a ...." Najib langsung menutup bibir Aina dengan jari. Ia tak mau mendengar lagi kelanjutan kata-kata Aina. Yang pasti bukan suatu yang baik. Ia sangat takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti.
"Tidurlah! jangan berfikir macam-macam. Kita pasrahkan semua yang memberi kita hidup. Insyaallah yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita."
"Makasih, Mas. Sudah kasih semangat."
"Tidurlah, Sayang."
Berlahan-lahan , mata Aina terpejam. Meninggalkan Najib yang mulai kelelahan. Tak lama kemudian, Najib pun menyusul memasuki ruang mimpi.
🌟
Di rumah Sheza ...
“Sheza,” panggil Arya, seketika membuyarkan lamunannya.
“Papa.” Dia segera memeluknya. Pada siapa lagi dia menyadarkan kepalanya kalau tidak pada orang yang rambutnya kini sudah mulai kelihatan ada yang memutih.
“Sudah, lupakan dia!”
Arya mengusap lembut rambutnya. Sesekali terdengar hembusan lembut dari rongga hidungnya. Dia ikut terluka, menyaksikan Sheza yang semakin terluka, Najib memilih wanita itu daripada mempertahankan putrinya.
“Aku yakin putri papa akan kuat.”
Berlahan-lahan Sheza menghapus air matanya dan merenggangkan pelukannya.
“Ya, Papa. Maafkan Sheza, membuat papa bersedih. Tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku.”
Ada nafas berat yang terhembus dari dalam dadanya. Membuat air matanya menggenang lagi di danau beningnya. Mengingat itu, membuat hatinya seperti diremas-remas, dadanya menjadi nyeri.
“Hapus air matamu. Jangan sampai putrimu tahu. Cukup kita saja yang merasakan kesedihan ini. Dia masih kecil.”
Dia pun segera beranjak, ingin membasuh mukanya di toilet agar segera luruh semua duka yang ia rasakan.
Belum juga melangkah, Arya sudah menghentikannya.
“Selasa besok, Papa harus kembali ke Australia. Apa kamu mau ikut?”
Dia diam, berfikir sambil memejamkan mata. Setelah beberapa saat, dia pun berbalik.
“Ya, Pa. Aku ikut. Tapi sebelum pergi, aku mau menjenguk kakak, boleh?”
Arya diam sejenak dan menghembuskan nafas pelan. Dia tak habis pikir, mengapa Sheza masih menginginkan untuk bertemu dengan seorang yang harus segera lupakan. Tapi sudahlah ... mereka berpisah karena dia, tak ada salahnya jika mereka bertemu.
Mereka bersama sejak kecil sebagai kakak dan adik. Berpamitan adalah hal yang wajar.
Semoga hal ini tidak menjadi rumit di kemudian hari. Meskipun sangat sakit, Arya bisa memahami keinginan putrinya.
“Papa antar.”
“Terima kasih Papa. Hanya papa dan Iza yang kini Sheza punya.”
__ADS_1