
Ada sesal yang mengganjal dalam dirinya,. Bila kah dia harus memilih. Sedangkan dia tak pernah ada keinginan untuk itu. Saat Sheza mengabaikannya, ada keinginan untuk melepaskannya. Tapi saat Sheza kembali dan menunjukkan perhatiannya, mengapa dirinya menjadi luluh.
Kini dia hanya bisa meruntuki dirinya sendiri, mengapa terjebak dalam permainan di antara dua hati. Ingin membawanya pada kebahagiaan, namun membuat keduanya menangis. Bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan di hadapan Pemilik Jiwanya kelak.
Di jalanan yang lenggang, kini Najib membawa mobilnya melaju kencang membelah kegelapan malam yang semakin pekat. Sesekali dia menengok pada wanita yang tertidur pulas dengan memangku putri kecilnya. Wanita yang beberapa hari ini, selalu dirindukan kehadirannya.
"Aina, maafkan Mas. Telah membawamu pada keadaan yang tak pernah kamu inginkan."Batinnya berbisik lirih. Kata yang tak mungkin bisa dia diucapkan lagi. Karena sudah terlalu sering bibirnya berucap demikian. Mungkin, sudah sangat memuakkan untuk didengar lagi bagi wanita yang begitu sabar pada dirinya dan putrinya.
Sesaat setelah memarkirkan mobil di depan apartemen, dia memandang wajah yang begitu tenang menikmati mimpinya. Jarinya menyentuh lembut pipi pemilik sebagian hatinya yang telah 6terbagi.
"Sayang, kita sampai."
Berlahan-lahan mata itu pun membuka. Tatapannya yang sayu, membuat dirinya terenyuh.
"Mas Najib."
Hati siapa yang tak menghangat, bila mendengar namanya dipanggil oleh sang pemilik hati.
"Alhamdulillah, sudah sampai," ucapnya lirih. Matanya terpejap-pejap sebentar menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada.
Najib mengangkat Iza dari pangkuannya, membiarkan Aina keluar mobil dengan leluasa. Dia baru mengembalikan lagi setelah Aina sudah berada di luar dengan kesadaran penuh. Baru kemudian dia menyusulnya serta mengunci mobilnya.
"Akhirnya, aku kembali. Mas nggak keberatan, kan?"
"Sayang, ngomong apa. Memangnya aku pernah mengusirmu. Justru aku sangat berharap kamu tak pernah keluar dari rumahku."
"Dikurung macam penjara, dong."
"Bisa saja, Sayang. Sudah, kita ke atas, yuk!"
Perjalanan yang melelahkan, membuat keduanya enggan untuk berbincang-bincang.
Tanpa banyak kata, mereka melangkah beriringan melewati security serta menyusuri lorong hingga sampai di pintu lift yang mengantarkan ke tempat tinggal mereka. Meski dirinya lelah, Najib merasa tak tega pada Aina yang menggendong Iza yang tengah tertidur dengan menyandarkan kepala di bahunya.
"Biar Aku bawa Iza." Dia segera meraih tubuh mungil yang bergelayut manja dalam gendongan Aina. Matanya masih tetap terpejam meski tubuhnya kini telah berpindah tempat ke dalam gendongannya.
Tiba di depan pintu apartemen, Najib merasa kesulitan meraih kartu yang untuk membuka pintu apartemennya.
__ADS_1
"Tolong, ambilkan kartu di saku Mas."
Bibir Aina langsung mencebik, melirik Najib sekilas, antara marah dan suka, plus kesal.
"Modus," ucapnya ketus yang membuat Najib seketika terkekeh. Meskipun dengan malas, tetap saja tangan Aina merogoh saku celana suaminya.
Senyum Aina mengembang sempurna, matanya berbinar sempurna saat sudah memasuki rumah yang sudah tiga hari ini dia tinggalkan. Hanya tiga hari, tapi serasa berbulan-bulan lamanya.
"Mulai besok, ada art untukmu," ucap Najib sambil membaringkan putrinya.
"Mengapa begitu. Urusan rumah tangga Aku bisa mengerjakannya sendiri, Mas."
"Aku nggak mau ada apa-apa dengan yang ada di sini ini. Calon buah hati kita."
Najib memeluknya dari belakang. Tangannya meraba-raba perut Aina yang masih tampak rata, serta sesekali mengecup kepala Aina dengan lembut.
"Makasih, Mas."
"Nah gitu dong. Mas sadar, tugasmu itu sangat berat, membawa buah hatiku kemana-mana. Aku membayangkan saja tak sanggup."
"Satu lagi yang perlu Sayang ingat.Jangan pernah berpikir untuk jauh lagi dariku lagi. Aku ingin selalu ada untuk dia."
"Hanya untuk dia, kah?"
"Tentu juga dengan wanita yang membuatnya dia ada. Wanita tercantik, termanis yang selalu ada untuk Mas." bisik Najib di telinga wanita yang kini dalam pelukannya.
Bolehkah saat ini dirinya bahagia, mendengar bisikan lirih di telinganya dari seorang yang membuatnya mengenal arti rindu. Dan juga membuat calon buah hatinya tak tenang.
Makan tak enak, tidur pun tak bisa tenang. Tentu dia tak ingin berlama-lama tersiksa. Ada yang ingin dia lindungi. Bila bukan untuk dirinya, setidaknya dia tak ingin mengambil hak buah hatinya untuk berdekatan dengan calon papanya.
"Mbak Sheza, Mas kemanakan?"
Najib seketika terdiam. Apa yang mesti dia katakan. Ingin sekali dia melupakannya, namun batinnya selalu berbisik, itu sulit dan tak mungkin. Sheza sudah berniat berubah, dan dia tak mungkin menyakiti Arya, seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Beberapa kali, dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya berlahan, agar sesak yang menghimpit dadanya saat ini dapat terurai, bersama hembusan nafasnya dan kata-kata yang yang keluar dari bibirnya.
"Dia punya hak atas diri, Mas."
__ADS_1
Meski sudah menduga jawaban itu nanti yang akan keluar dari bibir suaminya, tapi tetap saja terasa sakit di hati, seperti tergores sembilu. Batinnya benar-benar terluka.
Dia semakin merapatkan tautan tangan mereka, dan semakin masuk dalam dekapannya. Dia membiarkan satu butiran bening lolos dari matanya.
Dia sadar betul, bahwa dia kembali demi calon buah hatinya, tak ingin mengharapkan apapun dari Najib, meski dia berhak untuk itu.
"Jangan lupakan kami, Pa." balasnya dengan nada tak kalah lembut merayu.
"Tak akan," bisiknya lirih langsung ke telinga wanita yang kini dalam dekapannya.
Rasanya enggan untuk melepaskan pelukannya saat ini. Namun semua itu harus berakhir saat melihat Iza menggeliat gelisah. Kelopak matanya tiba-tiba terbuka, menatap mereka dengan sorotan mata yang sayu.
"Mama ...." Merasa terpanggil, Aina pun menghampirinya.
"Mama di sini, Sayang."
"Mama jangan pergi, ya."
" Tidak.Tidurlah, Sayang."Aina mengusap punggungnya dengan lembut.
Begitu Aina telah memeluknya, Dia pun kembali mengatupkan matanya dengan sempurna. Dia meringkuk dalam dekapan Aina, tempat ternyaman yang selama tiga hari ini tidak ditemuinya.
Najib tersenyum. Dia melihat mereka sesaat sebelum melangkah pergi, meninggalkan keduanya yang tidur sambil berpelukan.
Setelah yakin tak akan terjaga lagi, Aina turun dari ranjang, menyusul Najib yang lebih dulu menuju kamar mereka.
Dia tertegun saat masuk ke dalam kamar mereka. Dia mendapati suaminya tengah berdiri di atas sajadah, tengah melakukan sholat dengan khusyuk.
Aina segera melepas jilbab, dan menuju ke kamar mandi. Saat keluar, dia melihat Najib masih dalam keadaan yang sama.
Sesaat dia menunggu dengan duduk di depan meja riasnya, dengan mukenah di tangan.
Setelah sempurna rekaat dengan ditandai dengan ucapan salam, dia menengok Aina.
"Kenapa bengong. Nggak mau ikut."
"Ya, Mas. Tunggu Aina sebentar!"
__ADS_1