
🌟
Di kantor ...
Kebetulan Najib tidak membawa handphonenya pada saat pertemuan dengan kliennya. Begitu pertemuan selesai dia pun membuka handphonenya. Siapa tahu ada sesuatu dari wanita yang sebentar -sebentar menyapa angannya dengan rasa khawatir. Apa sekarang masih dalam keadaan yang sama?
Sesuai dengan perkiraan, saat dia membuka chat, nada kecemasan sudah terasa dalam tulisannya. Ditambah pula dengan panggilan-panggilan yang berulang kali dia lakukan. Sudah dipastikan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
Sayang, Kamu itu benar-benar mamanya Iza dech ....
Dia segera mengambil kunci mobilnya, tak baik mengabaikan permintaan untuk sekedar menjemput Iza.
"Man, kamu sudah di sekolah?"
"Iya, Den. Sama ibu."
Nah lho ... Alamat. Belum melihat orangnya, serasa sudah mendengar irama suara yang mengalun indah seperti tadi pagi. Hehehe ....
"Ya sudah. Jangan pergi dulu sebelum aku datang."
Dia segera menghidupkan mesin mobil, melesat menuju ke sekolah Iza, siap menghadapi cobaan datang dari kekasih hati.
Tak memerlukan waktu lama, dia telah sampai di depan sekolah Iza.
Dia sangat terkejut saat melihat keributan yang terjadi di sana . Parman juga seperti berlari mendekati keruman itu. Dan sepintas dia melihat Sheza, ada di antara mereka.
Jangan-jangan mereka bertengkar ... Oh tidak!
Najib segera menyusul Parman, menuju ke kerumunan orang-orang.
"Aina?" Ucap Sheza
"Sayang." Ucap Najib hampir bersamaan.
"Mbak Sheza, Mas Najib. Iza ... Mas." Ucapnya keras, sedangkan tangannya menunjuk ke arah mobil yang sepertinya akan pergi.
Aku dan Sheza pun segera berlari menuju mobil itu. Begitu juga dengan Parman.
🌟
__ADS_1
Beberapa saat sebelumnya ....
Aina tak tahu, mengapa pikirannya kali ini benar-benar tak tenang. Beberapa kali dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat ini sudah waktunya Iza keluar kelas.
"Pak, bisa lebih cepat?"
"Ya, Non."
Dia sedikit lega saat telah melihat bangunan sekolah dan sepertinya anak-anak juga belum keluar.
"Pak, berhenti di sini saja!" Pintanya pada sopir.
Parman menurut. Dia segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan tak jauh dari gerbang.
Aina segera turun dari mobil dan melangkah meninggalkan Parman. Namun dia baru berjalan beberapa langkah, sepasang netranya menangkap sesosok lelaki yang juga berjalan cepat melewati gerbang. Dia pun berhenti.
Sesaat Aina terpaku.
Sepertinya aku tak asing dengan wajah itu. Tapi di mana aku pernah bertemu? Dia sangat mirip dengan Iza. Hanya beda usia dan dia seorang laki-laki. Selain itu sama persis. Dia pasti papa biologisnya Iza.
Ingin dirinya menyusul tetapi ada sesuatu yang dirasakan dalam rahimnya, sehingga harus berjalan pelan.
Sejenak Iza tertegun dan tampak binggung dengan lelaki yang tiba-tiba menyapanya. Meski demikian dia tetap ramah menyambut sapaannya, lalu dia pun tertawa. Dengan mudah dia menjadi akrab. Seperti dia sudah mengenalnya lama.
Aina menjadi ragu untuk meneruskan langkahnya. Bagaimana pun Iza berhak mengenalnya, seharusnya lelaki itu bukan menjadi orang asing untuknya. Dia adalah papanya.
Namun saat lelaki itu berjalan keluar gerbang sambil menggandeng Iza menuju ke mobilnya, dia pun tersadar.
"Izaaa..." Panggil Aina. Meskipun suaranya lembut tapi cukup terdengar oleh Iza. Dia pun menengok ke arahnya.
Lelaki itu semakin erat memegang tangan Iza. Bahkan kini meraih tubuh Iza ke dalam dekapan.
"Mamaaa ..." Tangannya menggapai-gapai mencoba melepaskan diri.
"Om Antony, itu Mama. Turunkan aku. Aku mau Mama."
Aina ingin berlari tapi baby yang ada di perutnya seperti tak mau diajak kompromi. Namun demikian dia berusaha berjalan lebih cepat untuk menyusul keduanya, meski perutnya semakin nyeri.
"Lepaskan putriku!" Ucap Aina dengan nafas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Mamaaa ..." teriak Iza. Tangannya yang mungil memukul dada Antony, mencoba untuk melepaskan diri.
"Siapa anda. Berani-beraninya Anda membawa putriku!"
"Dan siapa juga Anda, berani meminta putriku."
"Lepaskan atau aku panggil polisi!" Aina mencoba menggertak.
"Panggil lah, kalau Anda berani." Belum sempat dirinya berbuat sesuatu, lelaki itu sudah melangkah pergi dengan cepat.
Tak lagi memperhatikan keadaan dirinya, Aina segera mengejarnya, sambil berteriak keras, " Penculikkkk ...!"
Antony segera berhenti dan berbalik kembali ke arah Aina dan mendorongnya dengan keras, hingga terjatuh.
"Aaaahhh ... Innalilahi wa innailaihi rojiun,"ucapnya lirih sambil memegang perutnya.
"Hati-hati kalau ngomong, Nona! Anda tak tahu siapa diriku." Lalu dia melanjutkan langkahnya, sambil membawa Iza yang menangis dengan keras.
Beberapa orang. yang ada di sekitar tempat itu pun mendatangi Antony. Namun dengan tenang Antony menghadapi mereka.
"Maaf bapak-bapak. Saya hanya mengajak putri saya. Dia lah yang menculik putriku selama ini." Jari telunjuknya mengarah kepada Aina.
Mereka berhenti, tidak berani bertindak lebih jauh, khawatir akan salah mengambil langkah.
Keadaan yang demikian saat menguntungkan baginya. Dia segera membawa Iza menuju mobilnya.
"Iza nggak perlu menangis. Ini Papa, Sayang."
"Tidak! ... Papaku Papa Najib. Bukan Om," jawabnya sambil menangis.
"Percalah sama Om. Iza benar-benar putri Papa. Papamu yang benar. ini Papa Antony." Ungkap Antoni sambil mendudukkan Iza di kursi yang ada di sebelahnya.
Antony segera menghidupkan mesin mobil, setelah berhasil mengikatkan seatbelt pada tubuh Iza.
Namun belum sempat dia menjalankan mobil, kaca mobilnya di pukul dengan ujung haq sepatu yang runcing hingga pecah berkeping-keping. Untung tidak mengenai Iza.
"Sheza."
Sedang dari kaca yang di sampingnya, tampak Najib mengetuk pintu kacanya dengan keras.
__ADS_1
"Buka!"