Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Sudah Waktunya


__ADS_3

Untuk sesaat, suasana dalam ruangan itu hening dan sunyi, tak ada yang berani memulai percakapan. Sorot mata Sheza sendu, sedih dan tertekan. Wajahnya menegang, memerah,  menahan amarah.  Jemari Tangannya menggenggam kuat. Sesekali matanya terpejam. Ada buliran bening dari sela-sela ujung matanya.


Aina tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Sheza. Dia memandang Sheza dengan sedih. Dia juga tertekan.  Karena tanpa sengaja menyakiti Sheza. Meskipun semuanya diputuskan oleh suaminya, keberadaannya di sisi Najib adalah pemicu utama terjadi perpisahan antara Sheza dan Najib, suaminya.


Seandainya Dia punya tekad yang kuat untuk pergi dari kehidupan Najib saat itu, tentu tidak akan membuat wanita yang ada di hadapannya ini menangis.


“Silakan duduk, Mbak!”


Sheza tidak bergeming. Dia enggan menuruti permintaan Aina. Bagaimana akan menurutinya jika amarah di dalam dadanya masih meledak-ledak.


“Kamu telah menang, Aina. Apa Kau puas?” tatapan tajam menghunus tembus sampai ke jantung Aina.


Sedih, sakit, mendengar semua yang dikatakan Sheza. Semua itu benar.


“Mbak,” ucap Aina dengan mata berkaca-kaca.


Sheza yang sudah tak mampu lagi menahan amarah, segera mendekat. Dia berdiri tepat di samping Aina.


“Aku benci dan marah sama kamu, Aina. Sangat-sangat benci dan marah ...  Mengapa mesti ada kamu, saat aku menyadari kalau aku mencintai kakak. Kakak Itu milikku, Aina! Nggak ada yang boleh memilikinya kecuali aku,” ucapnya dengan derai air mata.


Ingin sekali dia melupakan amarahnya seketika, Namun ketika melihat ada kehidupan lain dari wanita di hadapannya ini. Dia pun mengurungkan niatnya. Dia pernah berada kondisi yang sama. Tak mungkin dia tega.


“Mbak, maa ...”


Sheza mengangkat tangan dan menggelengkan kepala.


“Tidak. cukup dengarkan apa yang ingin aku katakan."


Hati siapa yang tak akan resah, bila dihadapkan pada situasi seperti ini. Tapi apa yang dapat dia perbuat, selain menerima kemarahan itu dengan sabar.


Namun sayang, baby yang kini dalam dalam perutnya seperti ingin urun rembuk juga. Tendangannya kuat menekan, hingga membuat Aina meringis kesakitan.


Tapi tidak, dia ingin mendengar ungkapan Sheza yang paling dalam, sebelum dia mengakhiri ini semua. Dia sembunyikan rasa sakit itu seorang diri dalam diam.


“Kamu tahu Aina, bagaimana sakitnya ditinggal oleh orang yang kita cintai. Sangat sakit, Aina.”


Sheza berhenti sejenak, mengusap buliran air mata yang mulai mengular dari sudut matanya. Rasa sesak yang dia rasakan, membuatnya lemah tak berdaya. Dia pun menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di samping Aina.


“Maafkan aku Aina, aku tak tahu harus bagaimana menghilangkan amarah dalam hatiku.” Sheza menangis tersedu-sedu di sampingnya.


Aina memberanikan diri untuk meraih tangan Sheza.

__ADS_1


“Mbak, bolehkah aku memelukmu?”


Sheza mengangguk.


"Apa masih ada yang ingin Mbak katakan?"


Sheza menggeleng.


Aina segera memeluk Sheza erat.


"Maafkan aku, Mbak."


Sheza merasakan air mata Aina menetes di pundaknya. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, hanya isak tangis terdengar semakin kuat di telinganya, bertanda kalau Aina juga tertekan dengan keadaan ini.


"Ya." ucapnya lirih. Luruh sudah amarahnya, mendengar tangis lirih Aina.


“Mbak, maafkan aku.Tak keinginan sedikit pun merebut suamimu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, tak ingin aku dalam situasi seperti ini. Kita berhadapan bukan sebagai saudara melainkan sebagai orang yang membenci. Tahu kah, Mbak. Bahwa waktu sesaat bersama suamimu, membuatku tersiksa. Aku ingin mundur, tapi aku tak bisa, Aku terjebak dalam cintanya. Membiarkan hati ini berlayar bersamanya, padahal aku tahu ada dirimu di sampingnya. Ya ... Aku salah.


Aku tak berharap akan selamanya di samping suamimu. Biarkan aku pergi.


Satu yang ingin aku katakan padamu, Apapun yang terjadi, yakinlah bahwa dirimu masih ada di hati suamimu. Tak pernah tergantikan oleh siapapun, termasuk diriku.


Maafkan aku, telah menyakitimu.”


Bayangan demi bayangan peristiwa masa lalu berputar di kepalanya. Tentang Najib, tentang Iza, tentang Antony, tentang Papa Arya. Lalu siapa yang patut disalahkan atas kejadian ini. Tidak ada, selain dirinya sendiri. Dia terlalu egois, hingga tak mampu melihat kebaikan orang-orang di sekitarnya.


Tapi, untuk mengucapkan kata maaf, lidahnya terasa kelu. Dia membiarkan Aina menangis di atas pundaknya. Ingin merasakan tangisan yang sama.


Sedangkan Aina yang merasa tertekan, sudah tak mampu lagi berkata-kata. Karena merasa tubuhnya yang tiba-tiba melemah dan semua menjadi gelap seiring dengan rasa sakit yang kian terasa dari perutnya.


Sheza yang merasa pelukan Aina mengendur, segera membuka mata.  Dia tersentak saat melihat tubuh Aina akan jatuh. Dengan sigap dia meraihnya. Menjadikan satu tangan sebagai bantalan.


“Aina ... Aina ... Buka matamu Aina.” Sheza menjadi panik.Panggilannya sama sekali tak mendapat respon.


 “ Aina. Tolong kamu jangan bercanda, dong. Buka matamu.” Dia menepuk-nepuk pipinya, namun hasilnya tetap sama. Ada darah yang mengalir dari kaki Aina.


“PAPAAAA ...” Dia berteriak sekencang-kencangnya, mencari pertolongan.


"Ada apa, Sheza?" kata Arya begitu tiba. Dia tak kalah panik melihat Aina yang tak berdaya dalam dekapan putrinya.


Tak ingin membuang waktu, dia segera menekan tombol darurat yang ada di samping tempat tidur Aina.

__ADS_1


“Kamu nggak ngapa-ngapain dia, kan?”


“Nggak, Papa.” Jawabnya cemas.


“Tunggu sebentar, Papa cari dokter.” Arya segera berlari keluar.


“Aina, bangun dong.” Dia masih berusaha agar Aina  kembali sadar.


Tak lama kemudian, Arya kembali bersama seorang dokter dan dua perawat.


"Bisakah ibu pindah?" kata dokter tersebut.


Berlahan Sheza merebahkan tubuh Aina di posisi semula. Lalu mundur beberapa langkah. Membiarkan mereka melaksanakan tugasnya.


“Papa, aku takut. Nanti kakak salah sangka. Aku sungguh nggak ngapa-ngapain Aina.”


“Aku yakin kakakmu tidak seperti itu. Sudah, kita tunggu saja kakakmu kembali.”


Siapa yang tidak khawatir kalau nanti Najib akan marah besar bila melihat Aina tidak baik-baik saja saat bersama mereka, mengingat perlakuan mereka  pada Aina selama ini.


“Semoga Aina, baik-baik saja, Pa.”


“Kita berharap demikian. Aamiin."


Setelah beberapa saat,


“Sudah waktunya.” Bisik dokter itu.


“Bawa ke ruang operasi?”


“Baik, Dok.” Kedua perawat itu segera membereskan semua peralatan yang menancap di tubuh Aina.  Lalu membawa tubuh yang belum sadarkan diri itu ke luar. Setengah berlari, Sheza mengiringi ke mana Aina dibawa, meninggalkan dokter dan juga papanya.


“Mana suaminya?” tanya dokter itu pada Arya.


“Sedang keluar.”


“kalau kembali, tolong suruh temui saya di ruang operasi.”


“Baik, Dok.”


Dokter itu pun meninggalkannya begitu saja seorang diri. Meskipun dia mampu menyakinkan putrinya bahwa Najib tidak akan menyalahkan mereka, tetapi dia tak mampu menutupi rasa was-was dalam dirinya sendiri dengan dulu yang pernah lakukan pada Aina. Menukar kehidupannya dengan saham yang tak seberapa demi rasa sayang pada putrinya. Sekarang ditambah dengan kejadian ini. Dia tahu bagaimana kerasnya Najib soal ini.

__ADS_1


Dia makin cemas ketika suara celoteh Iza dan candaan Najib terdengar mendekati ruangan.


__ADS_2