Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Dia Istriku


__ADS_3

Sementara itu, Najib ....


Sepanjangan perjalanan, pikiran Najib terus dipenuhi bayangan Aina. Mungkin sekarang ini saatnya, untuk membuka tabir pernikahannya pada Papa Arya. Agar dia bisa memberi status yang jelas pada Aina. Entah apa nanti yang akan terjadi. Baik itu pada Sheza atau Papa Arya. Dia harus siap


"Man, kita ke Surabaya sebentar."


"Baik, Den."


Najib ingin menemui papa Arya yang saat ini sedang ada urusan di Surabaya.


Tak berapa lama mereka pun tiba di hotel tempat Arya menginap.


"Kakek ...." Iza segera berlari menghampiri Arya.


"Wah cucu Kakek, tambah besar saja. Sudah tidak nakal lagi kan?"


"Ih siapa yang nakal. Mama yang nakal, suka marahi Iza."


"Maafin mamanya. Mungkin Mama sedang capek."


"Boleh, asal ada hadiahnya."


Arya langsung tertawa. Kali ini dia belum mempersiapkannya. Habis, Najib mendadak mau bertemu dengan dirinya.


"Ya nanti kakek kirim."


"Ke rumah Papa aja ya Kek, jangan ke rumah mama."


"Lho kok." Wajah Arya tampak berkerut, dengan perkataan Iza barusan.


"Ada masalah apa Najib. Apa Shesa bikin ulah lagi?"


"Tidak Papa. Dia sekarang baik-baik saja di rumah, tak pernah pergi-pergi lagi."


"Syukurlah kalau gitu. Tak ada masalah dengan pernikahan kalian kan? Kalau Sheza Tak mau ke apartemenmu, ya ... kamunya yang mengalah. Nggak baik suami istri tinggal terpisah."


"Najib ingin yang terbaik buat Iza, Pa."


"Tidak Najib. Yang terbaik bagi Iza adalah kalian bersama."


"Najib berusaha untuk itu, Pa. Tapi Najib nggak bisa melihat Sheza selalu mengabaikan Iza apalagi menyakitinya. Dia perlu kasih sayang dan ada saat Iza butuhkan."


"Itu tugasmu. Didik dia untuk mengerti."


"Iya, Pa."


"Lalu yang ngurus Iza kalau di apartemenmu siapa?Kalau di rumah kan ada mbok Minah."

__ADS_1


"Ada, Papa."


"Iya Kek. Di apartemen Papa, ada Mama Aina, yang pinter masak dan juga sayang sama Aku," ucap Iza dengan polosnya.


Kepala Arya langsung tertarik ke atas dan dahinya berkerut. Menatap Iza dengan seksama, ingin memastikan dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Mama Aina?"


"Iya, Kek. Mama baru buat Iza. Dia sayang banget sama Iza. Mengantarkan Iza ke sekolah, menjemput juga, suka nemenin Iza tidur, suka cerita, ngajarin bikin bunga, suka buat kue-kue. Kuenya enak kali Kek. Kapan-kapan Kakek ke apartemen Papa ya biar nanti dibuatkan kue sama mama Aina." Ucap Iza dengan mata berbinar-binar.


Seketika wajah Arya semakin menegang. Dia berbalik menatap Najib dengan tajam.


"Bisa kamu jelaskan, Siapa dia?"


Sejenak Najib berpikir dan diam. Lalu dia mengambil nafas panjang seraya berkata, "Dia istriku, Papa."


"Istri?"


"Iya, Papa." Najib berkata sambil menganggukkan kepala dan menunduk.


"Kami sudah menikah 8 bulan yang lalu."


Arya menatap Najib dengan tajam. Giginya terdengar bergelemetak, tangannya menggenggam kuat, mencoba menahan gejolak amarah yang mulai dirasakannya saat ini. Bahkan dia tidak ingat kalau saat itu Izza tengah ada dalam pangkuannya, merasa ketakutan.


"Kakek kenapa?"


"Kakek jangan marah dong ... Iza jadi takut," cicitnya.


"Kakek tidak marah sama kamu, Sayang."


Jawaban itu tak membuat Izza menjadi tenang justru dia semakin gelisah karena tatapan Arya yang semakin tajam kepada Papanya.


Dia pun turun dari pangkuannya, menuju ke pangkuan Najib yang kini masih diam tertunduk.


"Sayang, kamu main sama Pak Parman dulu ya! Papa masih ada urusan sama Kakek," ucapnya dengan lembut. Perlahan-lahan dia menurunkan Iza dari pangkuannya.


Untung saja Iza menurut. Dia pun pergi menghampiri Parman yang duduk tak jauh dari mereka. Yang kemudian membawanya ke luar, ke taman dekat kolam renang.


Sepeninggal Iza, Najib pun mencoba memberanikan diri menatap Arya dengan mengiba.


"Maafkan aku, Papa," ucapnya.


Plak .... Satu tamparan keras mendarat dengan sempurna di wajahnya.


"Itu belum seberapa dibanding dengan sakit yang diderita oleh putriku. Dia yang aku sayangi sejak kecil, begitu teganya engkau membuatnya terluka. Apa kamu tidak berpikir kalau dia tersakiti dengan keputusanmu itu. Perasaanmu di mana?"


Najib semakin menunduk tak berani menatap sorot mata Arya yang kini sudah dipenuhi amarah.

__ADS_1


Perasaan! ... Dia tak bisa memungkiri bahwa tengah jatuh cinta pada Aina. Perasaan itu yang tak bisa dia jelaskan pada Arya maupun Sheza. Apakah ini benar atau salah, dia tak peduli. Apalagi Iza bisa menerimanya dengan baik itu sudah jadi pertimbangan tersendiri untuk melanjutkan hubungannya dengan Aina dalam sebuah rumah tangga.


Jadi apapun yang Arya katakan atau perbuat terhadap dirinya saat ini, tidak menjadikan dirinya mengalah dan mempertaruhkan hubungannya dengan Aina.


Saat ini yang bisa dilakukan hanyalah diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arya.


"Lalu maksudmu apa dengan memberitahu masalah ini padaku. Apa kamu ingin melepaskan Sheza."


"Tak ada keinginan Najib untuk melepaskan Dik Sheza."


"Kamu menduakannya."


"Maafkan Najib Papa, yang belum bisa mendidik Dik Sheza sehingga mengambil Aina sebagai istri. Najib merasa tak sanggup untuk mendidik Iza sendirian, Iza memerlukan sosok seorang ibu, Papa."


"Alasan! itu hanya nafsumu saja yang nggak bisa mencintai putriku seutuhnya. Apa ini balasanmu setelah sekian lama aku mendidikmu, membesarkanmu."


"Najib selalu mengingatnya dan tidak akan pernah melupakan jasa Papa terhadap Najib."


"Aku hanya minta satu dari kamu, jangan sakiti putriku. Bisa?"


Najib diam tak bersuara. Dia hanya menatap Arya dengan mengiba. Karena tak mungkin bagi dirinya untuk melepaskan Aina.


"Kenapa diam?"


Meskipun Arya tahu bagaimana sikap Shesa selama ini terhadap cucunya maupun terhadap Najib dan apa yang terjadi sebelum pernikahan putrinya, Tapi dia benar-benar tidak rela kalau sampai putrinya tersakiti apalagi diduakan.


"Papa?"


"Jangan ngomong lagi. Aku tak suka mendengar alasanmu. Pergilah!"


Najib masih tetap diam di tempat duduknya. Dia tidak ada keberanian sama sekali untuk mengatakan tentang perasaannya pada Aina. Yang tak mungkin bagi dirinya untuk melepaskan Aina, walaupun Papa Arya memintanya.


"Untuk apa masih tetap di sini. Apa Kamu tak mendengar perintahku! Kamu menemui Papa hanya untuk mengatakan hal yang menyakitkan saja. Sekarang pergilah!"


"Maafkan aku, Papa."


Najib segera bangkit dari tempat duduknya menghampiri Arya yang masih tetap diam membeku dengan sorot mata dingin menghunus pada lelaki yang telah diasuhnya sejak remaja.


"Assalamualaikum ...." Najib mencoba meraih tangan Arya untuk berpamitan. Jangankan disambut uluran tangan itu, Bahkan dia menepisnya dengan kasar.


Dua kali dia mengibaskan tangannya menyuruh Najib untuk segera menghilang dari pandangannya, tanpa mau menjawab salam yang diucapkan olehnya.


Dengan langkah berat Najib pun meninggalkan Arya, menghampiri putrinya dan juga Suparman, mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan.


🌟


Dari kejauhan Arya menatap dengan sedih kepergian Najib dan juga cucunya. Satu sisi dia tidak bisa terima putrinya tersakiti tapi di sisi lain dia menyadari kalau cucunya sangat mengharapkan sosok seorang ibu dalam perkembangannya dan itu belum bisa dipenuhi oleh Sheza.

__ADS_1


__ADS_2