Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

Aina menunduk sedih. Dia baru tahu kalau suaminya menyimpan banyak rahasia dalam rumah tangganya. Meski demikian dia tidak ingin melepaskan Sheza. Karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Meski sebagai suami, keadaan ini sangat menyakitkan.


Tak dapat dipungkiri kalau suaminya terikat budi dengan papa Arya, orang tua Sheza.


“Maafkan mas ya.”


Aina diam. Meskipun dia bisa memaklumi kenapa Najib merahasiakan itu, tapi sebutan sebagai pelakor, orang ketiga dalam rumah tangga, sangat-sangat menyakitkan.


“Tapi Mas, bagaimanapun kehadiranku akan memperkeruh keadaan rumah tangga kalian. Apalagi kalau Papa Arya sampai tahu.”


“Ya ... Mas akan terus terang. Tak ada yang perlu ditutupi. Toh kehadiranmu juga diinginkan oleh Iza, cucunya. Jadi apa yang perlu ditakutkan.”


“Mbak Sheza ... Aku nggak mungkin sembunyi dari Mbak Sheza Mas.”


Najib terlihat sedih dan lesu tak tahu harus berbicara apa pada istrinya. Masalah Sheza terlalu pelik untuk diselesaikan sekarang.


“Mas mohon kamu bersabar dulu ya ... Sampai Mas menemukan solusinya. Tapi kumohon jangan pergi.”


“Apakah Mas bisa berlaku adil pada kami nantinya.”


Najib menggelengkan kepalanya.  Wajahnya tampak sendu menatap Aina.


“Aku sangat menginginkan untuk berbuat adil tapi mungkin tidak bisa.”


“Mengapa begitu Mas. Bukankah Mas sudah berani berpoligami? Mengapa untuk berbuat adil tak bisa. Padahal itu syarat utamanya.”


“Dalam hal nafkah ataupun menginap mungkin bisa. Tapi urusan kecenderungan hati, tak mungkin bisa sama. Karena kalian punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ya, Seperti saat ini, Aku lebih senang bersamamu, melupakan Sheza.”


Tak dapat dimungkiri kata-kata Najib telah memberi harapan pada Aina. Bahwa dirinya menjadi prioritas dalam kehidupan suaminya saat ini. Namun rasa itu segera menghilang, ketika sadar bahwa saat ini suaminya sedang bermasalah dengan istri pertamanya. Bisa jadi dirinya yang akan ditinggalkan pada saat mereka sudah berbaikan.

__ADS_1


“Mas Sepertinya aku juga belum siap dengan keadaan ini.”


“Lalu Mas harus bagaimana?”


Aina menunduk, wajahnya kembali terlihat sendu. Dan semakin sendu saat ada buliran kristal keluar di sudut matanya.    


Aina terbayang wajah Bapak ibunya yang sudah berumur. Tak mungkin dirinya berbagi kesedihan terhadap keduanya.  Apalagi sampai mereka tahu jika rumah tangganya benar-benar retak. Tentu ini akan menjadi beban sendiri bagi mereka.


Berpisah bukan pilihan yang terbaik, tetapi untuk bertahan pun, rasanya sulit.


Najib menatapnya dengan sendu pula. Dia mengambil tisu yang ada di depannya, lalu mengusap buliran itu dengan lembut.


Aku sungguh baru menemukan wanita sepertimu. Sabar terhadapku dan sabar terhadap putriku, meskipun kami baru saja engkau kenal.  Yang kuinginkan adalah memberikanmu kebahagiaan tapi ternyata hanya membuatmu kecewa. Dengan cara apa aku harus menebus semua itu.


“Menangislah jika ingin menangis.”


“Maafkan aku Mas.”


Najib tak menjawab karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan.  Sesekali dia mencium pucuk kepala istrinya. Lalu melepaskannya berlahan, saat makanan yang mereka pesan telah datang.  2 gelas teh hangat dan ikan bakar beserta nasinya.


“Kita makan dulu, Yang.”


Aina mengiyakan dengan mengangguk pelan.  Meski kini suasana hatinya sudah lebih tenang tetapi tidak serta merta membangkitkan selera makannya yang sudah hilang. Dia masih  galau. Hingga tak ada keinginan untuk menyentuh makanan yang ada di hadapannya. Dia hanya mengambil teh hangat seperti yang dipesannya.


“Yang ... Aku suapi ya.” Najib menyodorkan satu suapan kecil untuk Aina. Jari-jarinya terulur hingga sampai mendekati bibir Aina, memaksanya untuk membuka mulut.


“Mas!”


Belum sempat Aina menyelesaikan kata-katanya, tangan Najib sudah berada di mulutnya. Memaksa Aina untuk segera menelan pemberiannya.

__ADS_1


Dengan wajah yang merona karena malu dan dibumbui dengan sedikit rasa kesal, Aina mengunyah suapan nasi dari Najib.


“Nah gitu, itu lebih baik. Kalau Sayang nggak mau makan, aku suapi lagi lo.”


“Nggak ah. Malu! Aina makan sendiri saja Mas.”


Aina segera mencuci kedua tangannya di wastafel yang ada di dekat mereka. Kemudian dia mengikuti suaminya yang kini terlihat sangat menikmati makanan yang tersaji. Bahkan nasi yang ada di piringnya pun kini tinggal separuh.


Sementara Aina yang seleranya sedang menurun menikmati hidangan itu dengan malas. Meskipun lambat akhirnya dia bisa menyusul Najib menghabiskan nasi yang ada di piringnya.


“Alhamdulillahil ladzi at amana wasaqona waja’allana minal muslimin,” ucap mereka setelah dapat menghabiskan seluruh hidangan untuk mereka.


“Nah gitu dong ... biar Mas ini tidak khawatir. Mas kan juga jadi nggak enak sama bapak dan ibu kalau membawamu dalam keadaan lemes begitu.”


Setelah Najib membayar tagihannya, Mereka pun beranjak meninggalkan warung lesehan itu. Najib menggandeng tangan istrinya berjalan menuju ke tempat parkir mobilnya.


“Mas, lalu taksiku bagaimana?”


“Jangan khawatir. Mas sudah selesaikan.”


“Maafkan Aina, Mas. Tadi perginya nggak pamit.”


“Tak apa, sudah Mas Maafkan. Jangan diulangi ya... Mas hanya khawatir kalau terjadi apa-apa di jalan sama kamu.”


“Kalau ingin pulang, bilang aja. Mas kan juga ingin menjenguk mertua Mas. lama kita tidak ke sana.”


“Makasih, Mas.”


Baru saja mereka masuk ke dalam mobil, telepon Najib berdering.

__ADS_1


__ADS_2