
Dia pun menyerah, membiarkan Sheza tidur di pangkuannya. Sekeras apa pun dirinya menolak, hati kecilnya berkata kalau wanita ini masih istrinya.
“Setelah kamu meninggalkanku dan putrimu,” ujarnya datar, tanpa ekspresi.
“Maafkan aku, Kak. Itu panggilan jiwaku.”
“Penting mana pekerjaan yang bisa kau wakilkan atau aku, suamimu?”
“Atau ada yang ingin kau temui di luar sana?”
Sheza segera bangkit dari pangkuannya, menatap Najib tajam.
“Kakak jangan membalikkan fakta. Bukankah kakak yang berselingkuh di belakangku. Siapa itu Aina, siapa yang selalu mengirim makan siang Kakak, siapa yang kencan di restoran n&n. Itu Kak Najib, kan? Mengapa justru aku yang Kakak tuduh berselingkuh?”
“Lalu?”
“Kakak menantang aku? Baiklah. Akan aku laporkan ini pada Papa. Biar semua aset yang Kakak punya bisa dicabut.”
“Silahkan! Aku justru senang jika kamu bisa melakukan itu. Biar semua segera terbongkar. Dan masalah aset, kamu sendiri sudah tahu tentang itu, kita sama. Jika kamu berani mengotak-atik, papa pasti sangat kecewa.”
“Apa karena sekarang Kakak sudah kaya, mau seenaknya sendiri padaku.”
“Mungkin. Tapi bukan itu sebabnya.” Najib mencoba menurunkan suaranya.
“Apa?” Sheza sama sekali tak ingin menurunkan suaranya. Dia tetap bersuara keras dan menggelegar. Hingga tak sadar telah membangunkan Mbok Minah yang tidur di kamar belakang.
Perang dunia lagi, nggak pernah ada akurnya.
“Kamu bilang sendiri kalau menyuruhku mencari orang yang bisa menemani Iza, menemaniku makan, membuatkan ku kopi, memasangkan dasi, memilihkan ku baju, atau sekedar menemaniku ngobrol. Gitukan?”
“Ya nggak sebegitu juga. Tapi itu kan, bisa dilakukan mbok Minah atau baby sister. Lagian aku sibuk, nggak mungkin aku mengurusi hal sepele macam itu.”
__ADS_1
“Baby sister? Mengurusi pribadiku, Tidak? Aku tak mengijinkan. Aku hanya menginginkanmu. Tapi aku harus kecewa, karena kamu memandang hal itu tak berarti. Bahkan untuk berduaan denganmu sebagaimana barusan kamu lakuka, dulu kamu lakukan dengan enggan.”
“Tapi, Kak? Tak harus menjadikan dia istri, Kan?”
“Wow, pemikiran macam apa ini? Jangan samakan semua wanita itu sepertimu. Yang menganggap semua itu biasa saja. Istimewa bila di luar ikatan. Hina dalam sebuah ikatan. Apa-apaan itu!”
“Lagian, mas bisa melakukannya sendiri. Masak itu tugas istri.”
“Memang! Itu bukan tugas istri. Dan aku tak pernah menyuruhmu melakukan itu. Tapi apakah tugas istri itu setiap hari kelayapan, jarang pulang. Pulang-pulang bawa rombongan. Ada laki-laki pula, siapa ya namanya, sampai aku lupa. Oh ya ... Aku ingat, Bastian. Ngobrol mesra di hadapan suami. Apa maksudnya?”
“Kak, itu kan untuk kemajuan perusahaanku. Lagian nggak jadi kan. Aku juga sudah minta maaf.”
“Lalu mengapa kamu pergi ke Kalimantan. Untuk menemui dia, Kan?”
“Kenapa Kak Najib selalu mencurigaiku?”
Untuk apa menemuinya. Toh dia sudah meninggalkanku, gumamnya lirih. Namun sempat terdengar Najib. Yang membuatnya semakin berang.
“Sheza, mengapa kamu tak pernah berubah. Apa kamu terlalu yakin kalau cinta Kakak padamu tak akan berubah, meski kamu beribu kali menyakiti Kakak. Tak Cukupkah apa yang terjadi sebelum pernikahan itu, kamu jadikan pelajaran.”
“Sebagai Kakak, aku sangat marah mengapa dia berani mempermainkan orang yang kusayangi selama ini. Ingin aku mencincangnya saat itu juga. Yang lebih menyakitkan, engkau sudah menginjak-injak harkatku sebagai suami. Jika tak ingat Papa ... Ah sudahlah.”
Pada titik itu selalu saja bibirnya tersekat. Tak mampu mengatakannya kalau dirinya amat marah dan ingin meninggalkannya.
“Atau kalau kamu menginginkan hubungan ini berakhir karena merasa tersiksa, Kakak tak keberatan kalau kamu menggugatnya terlebih dulu. Agar kita sama-sama tak tersakiti. Dan masalah Papa, biarlah Kakak yang akan bicara.”
“Tidak Kakak. Aku nggak mau kakak pergi. Maafkan Aku, selama ini pergi tanpa ijin Kakak. Tapi percayalah aku di sana tidak ngapa-ngapain. Dan tidak pernah bertemu dengan Bastian.” Shesa mengambil nafas sejenak, lalu berkata, “Aku kembali bukan karena dia. Tetapi karena Aku sadar, tak seharusnya aku lari dari Kakak. Tempatku yang benar ada di samping Kakak.”
“Aku ingin percaya, tapi sepertinya sulit.”
“Kakak masih saja nyalahi Aku. Seakan Aku tak ada baiknya di mata Kakak. Lihat diri Kakak sendiri! Siapa kini yang sudah bermain di belakang. Bukan aku, kan?”
__ADS_1
“Ya bukan kamu, tapi diri Kakak yang salah telah menduakanmu. Dan tolong jangan ganggu Aina, Dia istri Kakak. Biarlah dia jadi pengganti dirimu.”
Najib segera bangkit, ingin meninggalkan tempat itu secepatnya.
Namun Sheza menghalanginya dengan cepat dengan memeluknya dari belakang.
“Kakak, jangan pergi. Beri aku kesempatan sekali lagi, kalau aku layak untukmu.”
Najib berbalik, melepaskan tangan Sheza dari pinggangnya. Lalu dia menatap Sheza lembut.
“Untuk Iza juga. Dia putrimu. Lebih tepatnya, putri kita. Walau dia bukan darah daging Kakak, tapi dia lahir dalam pernikahan kita. Dan kini Kakak tak sendiri, ada Aina. Apa kamu sanggup?”
“Kakak, selama ini aku tak ingin mengabaikan Iza. Tapi setiap melihat dirinya, aku teringat pada orang yang sangat Aku benci dan ingin melupakannya sejak dulu. An ....”
Jari jempol Najib segera menempel ke bibir Sheza. Dia ingin menghentikan Sheza menyebut sebuah nama yang pernah singgah di hati Sheza. Ya ... Orang itu adalah Antony, orang yang pergi meninggalkan Sheza di hari pernikahan mereka.
“Jangan sebut nama itu lagi. Iza putri kita, bukan putrinya. 5 tahun berlalu, tak cukupkah waktu untuk dirimu melupakannya. Saat kamu memarahi Iza, aku sadar kalau kamu belum bisa melupakannya. Dan aku juga sadar kalau kamu berkeliaran itu juga karena tak bisa berlari darinya. Tapi itu sangat menyakitkan buat Kakak. Engkau tanpa sengaja telah mengabaikan Kakak, orang yang ingin selalu ada untukmu.”
“Ini berarti, masih ada kesempatan untukku, kan?”
Najib tak menjawab. Dia hanya berbalik, melanjutkan jalannya yang sempat tertunda. Sambil meruntuki dirinya sendiri, mengapa sampai saat ini dirinya tak mampu tegas pada Sheza. Apalagi untuk berpisah pada gadis yang sudah mengisi hari-harinya sejak mereka berumur 15 tahun, semenjak Papa Mama Najib meninggal dalam sebuah kecelakaan.
“Assalamualaikum.” ucap Najib.
“Wa alaikum salam.” jawabnya pelan. Dia pun bersorak gembira. Secara tak langsung Najib masih membuka ruang untuknya. Ada kesempatan baginya untuk merebut Najib kembali di sisinya.
"Hati-hatilah Aina. Akan aku buat Engkau menyesal telah berani mengambil Kak Najib dariku."
🌟
Najib menghidupkan mobilnya meninggalkan tempat yang telah mengukir banyak kenangan untuknya. Kembali menyusuri jalanan sepi seorang diri. hingga sampai di apartemennya kembali.
__ADS_1
"Sayang, kamu kah itu?" sapa Najib pada sesosok tubuh yang tiba-tiba berdiri dari sofa di ruang tamu.