Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Kehamilan Ektopik


__ADS_3

"Iya, Ibu mengalami kehamilan di luar kandungan. Coba bapak ibu perhatikan daerah ini, ada gumpalan daging di sini." Dokter Ana menggeser-geser alat yang berada di perut Aina, yang tersambung pada monitor.


Dalam keadaan berbaring, Aina bersama Najib melihat dengan seksama monitor yang ada di depannya, monitor yang lebih canggih lagi dari monitor Yang dulu dia lihat. Gambarnya lebih nyata, dan detak calon bayi pun terlihat dan terdengar jelas.


"Ini indung telur, Ini tuba falopi. Ini rahim. Ini rongga perut dan Ini serviks. Bayi akan tumbuh dengan baik bila berada di rahim. Tempat yang sangat kuat, diciptakan Allah untuk tumbuh kembang. Namun sayang bayi Bapak Ibu tidak tumbuh di tempat yang semestinya. " Dokter Ana mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan keterangannya.


"Dalam kehamilan ektopik, bayi tumbuh di luar rahim. Tempat yang sangat rapuh untuk tumbuh. Biasanya ada di daerah tuba falopi. Namun bisa saja terjadi di daerah indung telur, rongga perut ataupun serviks. Namun itu sangat jarang terjadi. Biasanya kalau di daerah tuba falopi, bayi tidak berumur panjang. Antara 2-10 Minggu kantung bayi akan terlepas dengan sendirinya atau keguguran. Semakin bertambahnya umur, maka semakin besar resiko yang harus ditanggung ibu dan calon bayi." Mungkin keterangan ini sulit dimengerti oleh keduanya, namun tak ada salahnya kalau Ana menerangkannya, agar pasien mengambil keputusan yang tepat.


"Calon bayi Bapak Ibu tumbuh di rongga perut, kehamilan ektopik yang jarang terjadi. Dan saya perkirakan bayi anda berumur sudah 20 Minggu, sudah memasuki trimester kedua. Melampaui usia kehamilan ektopik pada umumnya."


"Benarkah itu calon bayi kami?" Dia memandang seolah tak percaya, Namun karena melihat detak jantung yang ada dalam monitor itu, dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Pada waktu kontrol pertama kali dokter mengatakan bahwa itu hanyalah tumor jinak. Tak berbahaya, akan diambil tindakan setelah bayi kami lahir." Terang Najib. Dia memang selalu menemani Aina saat kontrol. Tak aneh bila dia tahu betul keadaan istrinya.


"Memang benar. Sering kali kehamilan ektopik tidak terdeteksi, baru Setelah mengalami gejala yang seperti Ibu rasakan serta dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam baru dapat diketahui akan kehamilan ektopik tersebut."


"Apa itu berbahaya, Dok?" tanya Aina. Dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya sampai-sampai tangannya bergetar hebat saat merapikan bajunya kembali.


Dokter Ana diam sejenak. Dia memandang Aina dan Najib secara bergantian. Meski berat tapi harus ia sampaikan.


"Kehamilan ektopik itu sangat beresiko baik untuk ibu maupun bayi. Dapat menyebabkan komplikasi baik pada ibu maupun bayi. Tempat tumbuh bayi tersebut sangat rawan untuk lepas, pergerakan sedikit saja bisa berakibat fatal. Menyebabkan ibu keguguran dan pendarahan hebat dan nyawa taruhannya. Adapun untuk calon bayi, kemungkinan untuk mengalami komplikasi sangat besar pula. Yang disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak normal pada jantung atau paru-paru atau organ-organ tubuh yang lain."


"Biasanya kehamilan ektopik akan hilang dengan sendirinya. Namun apabila itu terjadi pertumbuhan lebih lanjut biasanya kami akan sarankan untuk dilakukan tindakan pengangkatan terhadap janin tersebut. Mengingat risiko yang amat tinggi terhadap ibu dan bayi."


"Maksud dokter, aborsi?" Tanya Aina ketakutan.


Dokter Ana menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa.


Aina meraih lengan Najib seketika, memegangnya dengan erat. Menatapnya dengan wajah menegang, cemas dan bingung. Kedua matanya memanas, menahan air mata.

__ADS_1


"Mas??" Ucapnya kemudian dengan mata yang berkaca-kaca.


Demikian juga dengan Najib, sebenarnya dirinya juga sangat terpukul dengan apa yang disampaikan oleh dokter Ana. Namun dia lebih bisa menguasai diri dan bisa bersikap tenang.


"Apakah ada peristiwa, seseorang yang mengalami kehamilan semacam ini dapat melahirkan dengan baik dan sehat." Ucapnya berlahan.


"Pernah hal itu terjadi di Siberia, bayi terlahir dalam keadaan sehat demikian juga ibu dari si bayi tersebut berhasil selamat, di Bali, dan dari belahan bumi yang lain juga begitu . Contohnya apa yang terjadi dengan Paula Cawte. Dia memilih untuk mempertahankan kehamilannya meski dengan resiko tinggi. Alhamdulillah, Allah berhendak memberikan kebahagiaan pada pasangan itu. Paula Cawte bisa melahirkan dengan selamat dan bayinya juga. Namun hampir-hampir jiwanya terengut di meja operasi."


"Namun itu belum bisa dijadikan acuan bahwa kehamilan ektopik itu aman. Perkiraan satu banding enam ratus ribu, kemungkinan Ibu dan bayi bisa melewati pada kelahiran dengan selamat."


"Andai dilakukan pengangkatan, apa resikonya. Dan apakah kami masih bisa hamil lagi?"


"Bagaimana pun pengangkatan janin dalam usia yang sudah memasuki trimester kedua, memiliki resiko yang tinggi. Namun sebagai dokter, kami akan mencoba metode yang dapat meminimalisir resiko tersebut. Kami hanya berusaha, Tuhan yang menentukan."


"Untuk hamil lagi, kemungkinan itu masih ada. Namun alangkah baiknya kalau melakukan program penyuburan kandungan terlebih dahulu, agar kehamilan ektopik tidak terjadi lagi."


"Jadi itu bisa berulang?"


Ada secercah harapan untuk mereka, membuat mereka bisa bernafas lega. Namun demikian mereka harus hati-hati mengambil keputusan.


"Apa saran dokter?"


Dokter Ana diam dan menarik nafas panjang sebelum memberikan jawaban.


"Seperti yang saya terangkan. Semakin cepat tindakan itu dilakukan, semakin baik bagi kesehatan ibu. Namun semua terserah pada kalian. Kami hanya membantu."


"Haruskah jalan ini yang kita pilih, Mas?"


"Menurutmu, Dek?"

__ADS_1


"Ini tak mungkin Mas. Bayi kita sudah memiliki nyawa. Dia sudah bertahan hidup selama hampir 5 bulan dalam kandunganku. Apakah Mas tega melakukan itu padanya. Memutuskan kehidupannya begitu saja?"


"Aku juga begitu, Dek. Kamu kuat kan, kalau kita mempertahankan dia?"


"Kita coba, Mas. Semoga Allah memberinya kesehatan sampai waktunya dia dapat melihat dunia dengan sebenarnya tanpa ada komplikasi yang berarti."


"Baiklah."


"Terima kasih, Mas."


"Tidak. Aku yang harus berterima kasih padamu. Karena sebenarnya aku tak tega melihat kamu kesakitan begitu terus."


"Tak apa, Mas."


Dokter Ana membiarkan keduanya untuk diskusi. Ini keputusan yang sulit terutama calon ibu. Apapun yang diputuskannya, dia bisa memakluminya. Dia juga seorang wanita, tentu berat bila harus memilih pengangkatan pada janinnya.


"Bolehkah seandainya Kami memutuskan untuk mempertahankannya, Dokter?"


"Semua kembali pada yang menjalaninya, kami tak bisa mengintervensi kalian."


"Ya. kami senang dengan kehadirannya. Dan kami akan mempertahankannya."


"Saya sarankan untuk ibu tetap bed rest total dan dalam pengawasan dokter sampai bayi tersebut bisa dilahirkan. Dan juga menghindari hal-hal yang membahayakan bagi ibu dan calon bayi ibu."


"Baiklah, Dokter. terima kasih untuk semuanya."


Dia segera mengangkat tubuh Aina dari pembaringan dan mendudukkannya di kursi roda, lalu membawanya ke luar ruangan.


"Mas, apa ini karena aku sudah berani merebut Mas dari Mbak Sheza sehingga Allah memberi cobaan seperti ini."

__ADS_1


"Jangan berfikir seperti itu. Kalau kita yakin, apapun yang terjadi, pasti Allah menyembunyikan sesuatu yang indah jika kita bersabar," jawabnya tenang, Meski dalam hatinya dia berbisik, Mungkin ini salahku juga atas kalian semua. Sehingga untuk memiliki keturunan menjadi amat sulit.


__ADS_2