Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
This is my Mom


__ADS_3

Hari ini, hari yang istimewa bagi Iza, ada Papa dan Mama yang menemaninya ke sekolah. Di sepanjang jalan menuju sekolah berangkat saja, bibirnya tak pernah lepas melantunkan lagu-lagu ceria. Dia sangat menikmatinya.  Begitu pun saat turun dari mobil, dia tak mau melepaskan genggamannya pada Aina. Bahkan dia tak malu-malu untuk memperkenalkan pada Bu guru yang menyambutnya.


“This is my Mom, Mis Ana.” Dia mengangkat alisnya menatap Aina dengan senyum bersahabat. Dia pun mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan.


“Senang bertemu dengan Mis ....” Kata-katanya menggantung. Dia terlihat  bingung untuk memanggil apa padanya.Kita lupa belum berkenalan.


“Aina,” ucap Aina sambil berjabat tangan erat dan berpelukan.


“Mis Aina,” sebutnya kemudian dengan senyum mengembang.


“Saya merasa senang sekali, Anda akhirnya bisa datang ke sekolah. Sudah lama saya menantikan Anda.”


“Maaf,” Aina sedikit bingung. Dia merasa ada yang ingin disampaikan oleh guru yang telah mendampingi Iza belajar. Dia melirik pada Najib, Apakah perlu ditanggapi atau tidak. Karena dia bukan orang tua kandung Iza. Najib mengangguk. Ya, sudahlah ....


Niat awalnya, hanya menemani Najib sekedar mengantar Iza, mengapa sekarang  jadi dirinya yang dihadapkan pada persoalan Iza.  Ini sama saja dia menginginkan dirinya benar-benar menjadi mama Iza di hadapan mereka. Benar-benar menyebalkan, batinnya berbisik lirih dibalik senyum manisnya. Mau tak mau Aina segera mengiyakan ajakan Mis Ana untuk berbicara tentang Iza.


“Apa yang diperbuat putri saya, Mis?”


“Jangan khawatir Mis, dia baik-baik saja di sekolah. Hanya saja kadang dia terlihat bersedih kalau ada acara yang mengharuskan kehadiran kedua orang tua. Mungkin dia juga menginginkan kehadiran kalian berdua seperti teman-teman yang lain.”


“Maafkan sebelum -sebelumnya. Semoga di lain waktu kami bisa mendampinginya.” Aina jadi senyum-senyum sendiri. Mau jawab bagaimana lagi. Sepertinya tak ada jawaban yang lebih baik dari itu. Bukan maksud mengada-ada sih, tapi ini lebih pada rasa sedih juga kalau membayangkan hal itu sampai kejadian lagi pada putri kecilnya yang kini sudah terlihat sangat ceria daripada waktu pertama kali berjumpa.


Iza yang sedari tadi menyimak pembicaraan itu, terlihat bahagia. Dia pun segera berucap,” Terima kasih, Ma ....” Dengan memeluk Aina erat.


“Sudah ya ... Mama boleh kembali sekarang? Masak masih minta ditunggu.” Dia mengusap lembut kepala Iza. Yang disambut tawa riang dari Iza. Hehehe ... 


“Besok antar lagi ya, Ma.” Dia menatap Aina dengan wajahnya yang memohon.


“Insya Allah, ”sahutnya kemudian.

__ADS_1


Iza meraih tangan Aina untuk bersalaman dan juga berpamitan sebelum pada Najib juga. Satu kecupan kecil di pucuk kepalanya, dia dapatkan dari papa tercinta, sebelum melepaskannya berlari, menghampiri teman-temannya.


“Assalamualaikum Papa Mama.” Dia menengok sejenak dan melambaikan tangan.


“Waalakum salam,” sahut mereka serempak.


Setelah Iza berbaur dengan teman-temannya, Aina dan juga Najib segera berpamitan.


“Kami pergi dulu, Mis Ana. Assalamualaikum...”


“Wa’alaikum salam.”


Mereka belum juga beranjak dari pintu gerbang. Melihat sebentar keriangan putri mereka yang  sudah bergabung dengan teman-temannya. Yang bermain dan tertawa ceria.


“Makasih, Sayang. Kamu benar-benar seorang ibu yang baik buat Iza.” Dia memperhatikan sesaat wanita yang kini masih tersenyum memandang halaman sekolah Iza, sebelum menggandengnya, mengajaknya pergi.


“Saya, Mas?” Aina menunjuk dirinya sendiri. Dia sungguh tak mengerti dengan kemauan Najib saat ini.


“Siapa lagi. Masak Sheza!” seketika berhasil membuat Aina cemberut. Yang langsung disambut dengan gelak tawa Najib.


“Jangan cemburuan gitu lah, aku nanti makin cinta loh.”


“Tapi Mas.”


“Mas ada meeting pagi ini. Khawatir nanti telat. Habis meeting baru Mas antar pulang. Atau sekalian nanti jemput Iza.”


“Eeee ... Aku bisa naik taksi kok dari sini.”


Nah kan. Jalan bersama saja seakan masih malu-malu. Entah apa yang ada dalam pikiran istrinya saat ini.

__ADS_1


“No ... No ... Aku nggak ijinin.”


Kalau sudah begini, tak ada sela lagi untuk dirinya menolak ajakan Najib. Sebenarnya apa sih yang dimaui suaminya saat ini. Seakan tak memberi kesempatan baginya untuk jauh darinya. Ya, sudahlah ....


“Baiklah,” ucapnya sambil membuang nafas dan tersenyum lebar. Rasanya nyaman sekali meskipun seperti terbelenggu. Ya, dia maklum kalau Mas suami posesif sekali terhadap dirinya.


Dia segera memasuki mobil, di samping Najib yang sudah menunggunya di kursi pengemudi. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman,  Najib menghidupkan mesin. Bersiap-siap meninggalkan lokasi sekolah Iza.


Sekilas Najib melihat mobil Sheza ada di seberang jalan. Kemudian meninggalkan tempat itu, saat dirinya keluar dari gerbang sekolah.


Dalam hati kecilnya, dia bersyukur. Sheza tidak turun menemui mereka. Dia tak bisa membayangkan apa yang sekiranya akan terjadi jika mereka berdua bertemu. Apalagi sampai saat ini dia tak bisa memutuskan begitu saja hubungannya dengan Sheza dan belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Aina.


Najib melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi, berpacu dengan waktu menyibak jalanan yang kini kian padat.


Tak perlu waktu lama, mereka sampai di depan kompleks perkantorannya. Setelah memarkirkan mobilnya, dia mengajak turun Aina yang masih ragu untuk keluar.


“Ayo!"


“Jangan canggung. Toh itu perusahaan suamimu.” ucap Najib sambil menarik tubuh Aina agar mendekat. Aina tersenyum, dia tak lagi berat melangkah, mengiringi Najib.


Mereka berjalan beriringan. Bahkan tangan Najib selalu menggandeng Aina dengan mesra. Tentu saja mengundang tanda tanya bagi sebagian besar karyawan yang berpapasan dengan mereka.


Ada beberapa orang yang sudah mengenalnya, namun tak ada yang tahu hubungan mereka sebenarnya. Bahkan Indah, sekretaris Najib pun menyangka kalau Aina sekedar Baby sister putri ibu Sheza, Iza. Tak lebih, kalau lah Aina membawa makan siang untuk bosnya, mungkin itu atas permintaan Bu Sheza. Pak Najib juga tak pernah berbicara tentang Aina.


Tapi hari ini mereka melihat bos  memegang erat wanita itu. Tak salah bila dirinya bertanya-tanya, ada hubungan apa antara si bos dengan wanita yang selalu mengirim bekal pada bosnya. Ditambah pula dengan kejadian kemarin.  Seolah-olah Bu Sheza tak tahu apa-apa, membuat dirinya  dilanda prasangka yang tidak-tidak.


Salah seorang dari mereka mencoba memberanikan diri untuk menyapa. Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja daripada penasaran dan menduga yang tidak-tidak.


“Assalamualaikum, Pak.” ucap salah seorang OB-nya sambil melirik ke arah Aina. Bukan maksud hati menggoda,

__ADS_1


__ADS_2