Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Keputusanku


__ADS_3

Ya, ini sangat berat ....


Karena aku belum sepenuhnya bisa menerima dengan kebohongan-kebohongan yang selama ini engkau sembunyikan dariku. Seandainya engkau berterus terang sejak awal, mungkin tidak sesakit ini. Dan mungkin juga, aku masih punya pilihan. Menolak atau menerimamu.


Kalau aku menolak, itu wajar bukan? Kamu sudah berkeluarga, dan mungkin kita memang tidak berjodoh. Ada laki-laki lain yang sudah disiapkan oleh Tuhan untukku, meskipun saat ini aku tidak tahu di mana keberadaannya.


Dan Jika aku menerimamu, setidaknya aku sudah tahu konsekuensinya, sebagai istri kedua.


Sayang sekali Mas, Engkau memilih untuk menyembunyikan semua itu dariku, tidak menceritakan sejak awal. Hingga aku tak bisa lagi berbaik sangka padamu, bahwa semua ini engkau lakukan karena Engkau cinta padaku.


Engkau memilih menceritakan itu semua pada saat aku sudah terjebak dalam cintamu. Semua menjadi rumit dan sulit. Apa ini yang Engkau inginkan? Agar aku menyerah dan menerima dengan apa yang ada, tanpa ada kesempatan sedikitpun untuk membuat suatu pertimbangan.


Tanpa Engkau sadari, Engkau telah menunjukkan padaku bahwa engkau berkeinginan untuk menyempurnakan cintamu kepada Sheza. Dan kamu menjadikan aku sebagai tempat pelarianmu saja. Kejam ....


"Mas, masihkah ada cerita yang engkau sembunyikan dariku. Lebih baik engkau berterus terang sekarang, sebelum Aku kembali ikut denganmu. Karena begitu menyakitkan Mas, saat tahu dirimu menyimpan rahasia yang sangat besar di belakangku. Kalau engkau bermain-main sekali lagi dengan perasaanku. Aku mungkin tak sanggup lagi."


Maafkan diriku, bila harus aku berkata seperti itu. Karena aku benar-benar tak yakin dengan diriku sendiri saat ini. Apakah aku akan mampu melangkah di sampingmu, sementara ada Sheza di sampingmu juga. Keinginan untuk kembali padamu hanya semata-mata melindungi hak anakku untuk menyebutmu sebagai ayah.


"Tak ada, Dik."


Dari sorot matamu yang redup dengan rasa penyesalan, aku yakinkan pada diriku bahwa engkau tidak berbohong lagi.


"Aku lega, Mas."


Terus terang diriku juga rapuh. Bila tidak ada keyakinan bahwa semua ini terjadi karena adanya turut campur Tangan Yang Kuasa, mungkin aku akan tumbang.


"Bolehkah aku memelukmu sekarang, Dik?"


Aku mengangguk. Aku mencoba ikhlas untuk memaafkanmu. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, namun dengan sedikit memberikan kepercayaan padamu, setidaknya aku telah membuka jalan keluar bagi diriku sendiri.


Yach ... aku menyerah pada kenyataan bahwa diriku adalah istri kedua. Ada Sheza sebagai yang pertama. Miris ....


Sheza ... Mengapa bayangannya melintas di benakku saat ini. Bolehkah aku tidak memikirkannya. Aku tak mesti tahu tentangnya. Dan tak berhak menduga tentang apa yang akan dilakukannya padaku nanti.

__ADS_1


Terakhir aku bertemu, dia masih menganggapku sebagai seorang pelakor. Sebutan yang membuat telingaku panas, dan dada ini sesak.


Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti, Dia akan paham dengan keberadaanku di samping suaminya, sebagai istri kedua. Bukan sebagai pelakor dalam rumah tangganya.


Tapi ... Iya sudahlah. Anggapan masyarakat seperti itu. Meski itu dalam jalinan ikatan yang sah menurut agama maupun negara. Bukan karena kecelakaan, atau sekedar ingin merusak rumah tangga orang, tetap saja dianggap sebagai pelakor.


"Kita pulang ya, Dik!"


"Ya ..." Aku mengangguk. Dia memelukku semakin erat.


"Makasih, Sayang."


"Iya, Sayang." Sengaja Aku menggoda. Karena tidak dapat aku mungkiri, semakin lama diriku dalam pelukannya aku semakin merasa nyaman dan tak ingin lepas. Apakah ini hormon dari si baby? Sepertinya ... Tapi kelihatannya tidak seluruhnya benar, sih. Hehehe ....


Sejak datang. dia terus memanggilku dengan sebutan 'Dik'. Panggilan yang biasa dia gunakan pada saat tidak sedang berdua. Sepertinya dia sedang menjaga jarak. Tapi setelah kita berbincang-bincang sampai hati kita tenang, Dia kembali lagi memanggilku dengan sebutan 'Sayang'. Panggilan yang selalu bikin aku baper.


Dia langsung merenggangkan pelukannya dan membalikkan badanku. Sesaat ku beranikan diri untuk menatapnya. Aku melihat wajahnya berbinar, memandangku seolah tak percaya.


"Ulangi sekali lagi," pintanya dengan sedikit memaksa.


"Mas ini, apaan sih!" aku palingkan muka agar terhindar dari tatapannya. Bisa-bisa jantungku berdebar-debar. Aku mencoba melepaskan diri dengan mengibaskan kedua tangannya yang berada di pundakku.


Aku tak berhasil melepaskan tangannya dari pundak ini. Membuat diriku semakin malu.


"Sayang, Mas senang banget deh. Itu bukan sesuatu yang memalukan bahkan wajar. Kan, Kamu istriku."


Benar apa katanya, kalau aku adalah istrinya. Jadi tak salah kalau Aku mencoba bermanja. Mengabaikan rasa maluku yang aku rasakan saat ini.


"Iya, Sayang." Aku sedikit mendongak, ingin melihat reaksinya bagaimana.


Cup ... Satu kecupan kecil tiba-tiba aku rasakan di bibir ini. Ia selalu saja bisa memanfaatkan kesempatan Dalam kesempitan. Membuat dadaku menghangat.


Tapi tidak, aku tak boleh hanyut dalam rasa ini. Bendera perangku belum ingin aku turunkan. Meskipun aku sudah mulai menaruh kepercayaan, tapi aku masih takut untuk terluka lagi, mungkin luka itu akan lebih dalam.

__ADS_1


"Mas, lepaskan tanganmu. Aku ingin siap-siap." Kembali aku bersikap dingin padanya. Namun demikian dia tetap tenang, tak terlihat pun rasa kecewa atau marah.


"Jangan harap aku akan melepaskanmu sebelum ..." Dia tak melanjutkan kata-katanya hanya saja jari telunjuknya menyentuh pipinya.


Orang ini benar-benar menyebalkan. Sudah tahu aku mengabaikannya, masih juga merayuku. Bisa-bisa luluh juga sikap angkuhku dengan gombalnya itu.


"Lepas, Atau aku nggak mau pulang."


"Oh, iya. Kalau Sayang nggak mau, ya ... apa boleh buat." Satu sapuan hangat tiba-tiba menyentuh pipi ini. Ah, sudahlah. Aku menyerah kalah dan pasrah.


Setelah puas, baru dia melepaskanku. Namun melarangku bersiap-siap.


"Sayang, duduklah. Biar Aku siapkan semuanya."


"Makasih, Mas." Dijawabnya dengan anggukan dan juga senyuman. Aku biarkan dia sendiri untuk menyiapkan semua.


Aku merasa tubuhku lelah. Aku berjalan menuju tempat tidur lalu merebah tubuh ini yang masih terasa lemah. Maklumlah, selama di sini tak berhasil menelan makanan. Paling-paling hanya mampu mampir sebentar di perut, lalu keluar lagi.


Aku baru terbangun saat ada sentuhan lembut di pipiku. Saat ku buka mata, Mas Najib sepertinya sudah siap.


"Sayang, makan dulu ya, sebelum kita pergi."


Ada semangkok bubur di atas nakas yang hangat dan mengundang selera. Ingin diriku segera melahapnya. Tapi kok .... mungkin saja ada sisa iler yang menempel di sudut bibirku. Ini perlu dibersihkan dulu nih!


Aku segera beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi. membersihkan diri, dan mempersiapkan diri dengan baju yang sudah ku bawa.


Keluar dari kamar mandi, ku dapati dia berdiri di depan pintu.


"Ada apa, Mas?"


"Kamu mandinya lama sekali. Aku khawatir kamunya ada apa-apa." Sebuah jawaban yang membuatku tersenyum.


"Aku suapi ya, biar cepat."

__ADS_1


Hatiku menghangat, merasa di perhatikan. Semoga keputusanku untuk kembali padanya adalah tepat.


🌟


__ADS_2