Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Mencoba Pergi


__ADS_3

"Jangan begitu, kamu tetap mamanya."


"Aku ingin kita yang mengadakan pesta untuk dia, bukan Aina."


Tak ada yang salah dengan permintaannya, aku pun langsung mengiyakan.


"Terima kasih, Kak." Ada seulas senyum menghias bibirnya, tampak indah dan menenangkan. Apakah ini sekedar untuk membiaskan kesedihan yang sekarang membalut jiwanya. Ataukah penyesalan karena selama ini kurang bisa memberikan perhatian pada Iza. Kalau memang iya, Aku sangat bersyukur? Namun kalau dengan melihat Iza mengingatkannya pada kisah masa lalunya dengan si brengsek itu, maaf saja, ini sangat menyakitkan dan aku tak bisa terima.


"Tapi ada syaratnya,"


"Syarat?" Dahinya berkerut, menatapku dengan ragu.


"Ada-ada saja kakak ini. Mau bikin pesta buat putriku, harus pakai syarat segala." Dia sudah kembali manja, seperti adikku yang dulu.


"Memang, Kakak mau kasih syarat apa?" ucapnya sambil tertawa.


"Jangan pikirkan dia lagi!" Apa yang ingin kukatakan, sudah aku katakan. Aku lega, meski hanya lewat canda.


Apakah aku egois dengan meminta membuang nama itu dari hatinya untuk sebuah hubungan yang akan kami mulai? Peduli amat, selama dia masih istriku, itu hal sangat wajar.


Matanya seketika membulat, lalu tertawa kecil. Namun jawabnya tak keluar-keluar juga.


"Kok tertawa. Bagaimana ... Berat, kah?" Aku juga tertawa, mentertawakan diriku yang terlalu naif, berharap kalau dia bisa memalingkan hatinya dari si brengsek itu.


"Mungkin aku bisa tak memikirkan dia, kalau kakak juga tak memikirkan Aina," ucapnya ringan.


Aku agak tersentak, tak mengira kalau dia membalikkan persyaratan itu padaku. Persyaratan yang tak mungkin aku turuti.


"Kamu memberi pilihan yang sulit buat Kakak. Baiklah ... Tapi, Kakak tak bisa berjanji."


Sheza, wanita pertama yang membuatku pertam kali mengenal cinta, namun juga mengenal luka karena cinta. Aina mengenalkan diriku arti ketenangan dengan cinta. Tentu sulit melepas salah satu diantara keduanya Sungguh aku tak bisa memilih antara Sheza dan Aina.


"Sheza, istriku. Kamu cemburu dengan Aina?" Kucoba untuk mengalah. Toh, aku juga salah.


"Bukan hanya cemburu tapi juga sakit hati melihat Kakak berjalan bersamanya. Mungkin sakitnya melebihi yang kakak rasakan saat kakak mendengar aku menyebut namanya." suaranya yang melemah membuatku sadar artiku baginya. Kakak dan sahabat. Tempat curhat. Namun curhatan yang menyakitkan.


Dia menjeda kata-katanya sejenak dan memejamkan mata. Dadanya naik turun menghembuskan nafas dengan kasar.


Dalam hati, Sheza ingin berteriak "Dia pikir hanya laki-laki saja yang boleh memikirkan wanita, sedangkan wanita tidak boleh. Dia bisa memiliki wanita lain seutuhnya. Sedangkan diriku hanya memikirkannya, apa itu adil?"


"Kalau memang kakak tidak bisa melepas Aina, Jangan larang aku untuk memikirkan Antony. Dia Papanya Iza." Ucap Sheza dengan penuh penekanan. Tawanya yang sesaat lalu masih bisa ku nikmati sebagai sebuah kehangatan untuk memulai sesuatu yang baru, lenyap sudah. Lagi-lagi dia dia mengabaikan diriku sebagai suaminya yang telah menjadi Papa untuk Iza selama ini.


Tuhan berilah diriku kesabaran yang berlipat-lipat, mendengar kata-kata yang menyakitkan ini, bisik batin Najib.


Meskipun dia tahu perasaannya kepada Sheza adalah perasaan Kakak kepada adik, tetap saja kata-kata itu seolah-olah sebuah gada besar yang menghantam batinnya menjadi berkeping-keping. Antony ... kamu memang benar-benar brengsek. Sampai-sampai Sheza sangat sulit, menghapus namamu dari hatinya. Padahal sudah hampir 5 tahun kami bersama.


"Ya, Antony adalah Papanya Iza." dadaku serasa sesak mengucapkan ini. "Mungkin sudah saatnya aku harus menyerah, meski ini sakit."


Aku pun segera bangkit, serta mengambil Iza dari sampingnya.

__ADS_1


"Kakak marah?


"Sepertinya kita perlu waktu untuk merenung."


Tak ada lagi alasan untuk menemaninya malam ini. Aku melangkah meninggalkannya, meski berat Tapi harus bagaimana lagi ... Lagi dan lagi, dia menyebut si brengsek itu di depanku tanpa rasa berdosa.


"Apa ini berarti Kakak akan melepaskanku demi Aina."


Tiba-tiba dia sudah ada di belakangku. Mencegah tangan ini membuka pintu.


"Ada atau tidak adanya Aina , tak ada hubungannya dengan pernikahan kita. Jika kita harus bersama atau berpisah, itu karena kita punya komitmen untuk pernikahan ini. Jika tak ada komitmen dan niat yang benar, pasti mudah sekali retak. Dan mungkin juga aku takkan mampu bertahan untuk menemanimu selama ini."


"Maafkan aku Kak Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu. Aku juga nggak terima kalau kakak bersama Aina. Tapi aku juga nggak bisa melupakan Papanya Iza. ."


Aku hanya bisa bernafas dengan separuh daya mendengar nama itu keluar dari bibirnya lagi.


"Seandainya kamu sadar dan berniat memperbaiki hubungan kita sebelum aku menikahi Aina, aku mungkin bisa bersama lagi."


"Kak!"


"Aku tak mungkin melepasmu, kalau tak yakin kamu akan bahagia di luar sana."


"Maksud Kakak?"


Sudah jelas siapa yang dipikirkannya. Dan sudah jelas siapa aku baginya. Meskipun berat, aku harus berani dengan apa yang ingin ku putuskan.


Aku segera mengusap rambutnya dan memberikan kecupan kecil di pucuk kepalanya. Bagaimana pun dia, hati masih tak tega, jika dia bersedih.


Sekarang tak ada lagi gunanya aku di sini. Aku pun pergi, meninggalkan dirinya yang masih termangu di tengah pintu, tanpa mau lagi langkahku terhalang oleh wajahnya yang sendu.


🌟


flash on


Aina memandang wajah Najib yang sendu, seperti ada sesuatu yang membuatnya tampak sangat lelah.


"Mas sedang marahan sama mbak Sheza?"


Ada seulas senyum tipis menghias bibirnya.


"Ya. Tapi jangan sayang pikirkan, nanti juga reda."


"Apa gara-gara aku?"


"Jika iya, bagaimana?"


"Maafkan aku, Mas. menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian."


Orang mungkin mengira diriku akan senang bila mereka berpisah, tapi tidak dengan diriku. Aku merasa sangat berdosa dengan mereka.

__ADS_1


Wajah mas Najib berkerut lalu tertawa. Apa yang salah dengan ucapanku?


"Selalu saja berpikir ke arah sana. Mau kedua, ketiga, kalau kamu sedang di sampingku, pasti menjadi yang pertama."


"Mulai ngegombal."


Hehehe ... Dia malah semakin memperlebar senyumannya. Bikin gemes.


"Ih, Mas. Menyebalkan." Jangan Salahkan kalau jurus andalanku keluar. cupit udang kecil sedang beraksi.


"Selalu KDRT. ini suamimu lho."


"Biarin."


"Sudah-sudah, aku mau ngomong serius, nih." Dia segera menggenggam tanganku yang hampir menyempurnakan jurus cupit udangku.


"Sorry, Mas." Baru sadar kalau yang jadi sasaran adalah sang suami. Untung dia tidak marah. Hehehe ...


"Okey, mau ngomong apa."


thuinng ... tiba-tiba aku merasakan satu jentikan jarinya menyentuh dahiku. Membuyarkan konsentrasi ku yang sedang bersiap-siap mendengar sang dosen sedang menerangkan sebuah materi. Anggap saja begitu.


"Kamu sengaja ya ...."


"Lho, memang harus begitu kan. Bila suami sedang bicara, harus didengarkan dengan baik."


"Bisa aja. Aku jadi lupa mau ngomong apa."


Hahaha ... terjebak dia.


Memang aku sengaja agar dia bisa melupakan Mbak Sheza saat bersamaku.Karena tak bisa kumungkiri, kadang;kadang ada rasa cemburu yang sangat, saat tahu dia memikirkannya, meski dia berhak. Aku sadar itu.


"Sheza meminta untuk mengadakan pesta untuk Iza."


"Dia mamanya, Mas."


Ada nafas yang berhembus kencang melewati rongga mulutnya, bukan hidungnya. Bertanda apa ini.


"Lalu yang membuat Mas berat apa?"


"Iza."


"Memang Iza kenapa? Apa tadi mbak Sheza menyakitinya lagi."


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku belum siap kehilangan Iza."

__ADS_1


__ADS_2