Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Cinta atau Nafsu


__ADS_3

Aina sontak menghentikan pekerjaannya. Dia segera menghampiri Najib. Melihat sekilas jari telunjuk Najib yang kini mengeluarkan darah. Lalu Aina meninggalkannya lagi.


“Yang, sebegitu marah kah dirimu padaku,” gumamnya memelas. Dia segera menekan lukanya, agar bisa menghentikan tetesan darahnya. Najib meringis, menahan perih akibat tergores pisau yang dia gunakan. Dia pun bangkit dari tempat duduknya.


"Sayang, begitu sulitkah untuk mendapatkan maaf darimu," gumamnya.


Belum sempat dirinya melangkah, Aina sudah masuk lagi menghampirinya dengan membawa betadin dan juga plester. Tanpa banyak kata, Dia meraih jari Najib yang terluka.


Najib pun duduk kembali, memperhatikan Aina yang membalut lukanya.


“Mas sih sok-sokan bantuin.  Akhirnya begini, kan.” Mulut boleh mengomel, tapi tangannya tak lekas diam sampai luka itu tertutup dengan rapi.


Najib hanya tersenyum saat Aina memarahinya. Ini tandanya istrinya masih peduli. Meski agak sedikit berisik, anggap saja semilir angin sang sedang menyanyikan lagu rindu.


Memang enak, sekian lama dicuekin istri.


“Makasih, Sayang.”


“Iya. Sudah sana! Mas di sini hanya bikin kacau saja.”


Aina segera membereskan bawang- bawang yang sebagian sudah terkena darah. Najib bangkit, akan membantu. Tapi Aina mengibaskan tangannya, mengusir Najib.


Namun dasar Najib bandel. Dia masih tetap tegak berdiri, tak bergeming sedikit pun. Benar-benar menguji kesabarannya. Dia menyembunyikan diri di dapur ini, mengapa masih juga diikuti. Bikin sebel saja.


Aina mendorong tubuhnya kembali, agar segera keluar. Najib baru mau keluar manakala Aina sudah kelihatan capek karena ulahnya.. Itu pun dengan malas.  


Tapi akhirnya, Dia pun pergi ketika Ibu datang meminta tolong padanya untuk mengambilkan buah rambutan untuk Iza yang ada di depan rumah.


"Sana!" usir Aina.


Najib pun pergi dari hadapannya.


“Bukannya bantuin. Ini malah bikin tambah kerjaan.” Aina pun ngudumel sendiri.


*


Meskipun nampak manis di depan orang tuanya, tak menyurutkan niatnya sejak awal dia datang ke rumah orang tuanya saat ini. Yaitu menjauhi Najib untuk sementara. Esok paginya, saat mereka beres-beres, Aina hanya memasukkan baju-baju Iza dan Najib ke dalam tas. Sedangkan tak selembar baju miliknya yang dia masukkan ke dalam tas.


“Yang, kamu?”


“Aku masih kangen Bapak Ibu, Mas.”


“Tak kasihankah kamu sama aku dan Iza?”

__ADS_1


“Aku yakin mas mampu untuk mempersatukan Iza dan mamanya.  Bila aku tak ada, Iza pasti akan cepat belajar untuk menerima mamanya. Kalau aku masih di samping Mas, akan semakin mempersulit mbak Sheza untuk mendekati putrinya.”


“Aku melihat di mata Mas begitu banyak cinta untuk Mbak Sheza yang tak mungkin tergantikan meski aku ada di sampingmu. Seribu kali Mas mengatakan bahwa cinta Mas saat ini sudah hilang untuk mbak Sheza, hanya tersisa rasa sayang sebagai kakak terhadap adik, tetap saja tak bisa menghapus keraguanku akan perasaan mas yang sebenarnya pada mbak Sheza. Antara cinta dan benci itu bedanya tipis, Mas. Apalagi ini rasa yang sudah sekian tahun terpupuk, tak mungkin bisa hilang begitu saja.”


Najib seketika terdiam. Dia menatap Aina dengan wajah sendu.


“Ya, aku akui itu. Tapi tak bolehkah diriku memiliki cinta darimu, meski cinta ini tak mungkin sempurna.”


Bukannya Aina tak bisa menerima itu semua, tapi ....


“Berilah aku waktu, untuk bisa mengartikan apa yang kurasakan saat ini. Apakah kerinduan ini, lahir dari cinta atau dari nafsu belaka.”


“Sebegitu rumitkah menemukan cinta meski dalam ikatan di hadapan Tuhan.”


“Mengapa Mas berkata seperti itu. Apakah Mas memerlukan cinta untuk mengikatku dalam ikatan ini?”


“Ya, aku mengikatmu karena aku jatuh cinta padamu.”


Ada senyum tipis menghias bibir Aina. Tapi tatapan matanya yang sayu cukup memberikan gambaran kalau saat ini, hatinya sedang terluka.


“Tapi aku menerima ikatan ini karena aku percaya padamu, Mas. Tanpa aku tahu kalau Mas menyimpan rahasia yang membuatku terluka.”


“Aku salah dan selamanya salah. Tak adakah jalan keluar untuk kita bersama. Agar tak percuma kita bermimpi selama ini.”


“Mimpi apa Mas?”


“Atas dasar dusta?”


“Maafkan aku. Tapi aku yakin rasa yang kumiliki saat ini, tidak lah salah.”


“Aku menghindari dirimu, bukan karena aku benci padamu, Mas. Hanya aku masih ragu, apakah diriku akan sanggup untuk menjadi yang kedua dari cintamu, Mas.”


“Berarti kamu ingin berpisah?”                                                                                                             


Aina diam dan seketika air matanya keluar, tak bisa dibendung lagi.


“Aku tak ingin berpisah Mas, tapi ... ah sudahlah. Aku perlu waktu untuk menghapus dustamu ini.”


“Baiklah. Tapi jangan kau abaikan teleponku saat kita sedang berjauhan.”


Mengapa lelaki di hadapanku ini sangat egois. Bagaimana mungkin diriku akan menghindarinya, kalau dia memintanya untuk mengangkat setiap teleponnya.


“Jangan memintaku yang aku masih ragu untuk memenuhinya, Mas.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku mengerti.”


Najib menangkupkan tangannya di wajah istrinya, menatapnya dengan sendu. Berlahan dia mengusap tetesan air mata yang masih mengalir di kedua pipi Aina. Dan membawa wajah itu ke dalam pelukannya.  Membiarkan Aina menangis, melepas lara yang tengah dirasakan saat ini di bahunya.


Entah kenapa, dalam anganku terlintas bayangan kalau kita akan berpisah, bahkan bisikan itu kian nyata. Jika demikian, boleh kah aku memelukmu dengan cinta saat ini. Agar engkau bisa rasakan debaran jantungku yang tak menginginkan adanya perpisahan dalam cinta kita.


Salahkah  bila saat ini diriku menginginkannya. Meski itu sejenak, agar dapat aku yakinkan pada dirinya, bahwa wanita yang ada dalam pelukanku saat ini telah memenuhi jiwaku. Agar dapat kubawa bayangnya dalam mimpiku yang bisa mengantarkan diriku pada ketenangan. Sebelum aku serahkan semua itu pada ketentuan Tuhanku. Berharap cinta ini akan menemukan jalannya sendiri.


“Aku pergi dulu, Sayang.”


“Ya, Mas. Salam untuk mbak Sheza.”


“Ya, insya Allah akan aku sampaikan,” jawab Najib yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Dia pun pergi meninggalkan Aina yang masih belum goyah dengan pendiriannya. Meskipun demikian, dia masih menampakkan senyum kebahagiaan di hadapan Bapak Ibu saat berpamitan dan menitipkan untuk beberapa waktu.


🌟


Hoek ... hoek ... hoek ...


Baru juga satu suapan yang berhasil masuk ke dalam mulutnya, perutnya sudah seperti diaduk-aduk. Dia pun segera berlari ke kamar mandi, mengeluarkan semua apa yang sudah ditelannya. Dan itu selalu dialaminya sejak kepergian Najib 3 hari yang lalu.


“Aina, Kamu kenapa, Nak?”


"Tak tahu, Bu." Aina segera merebahkan diri di atas ranjang. Wajahnya terlihat sangat pucat, karena banyaknya cairan yang keluar, membuat tubuhnya lemas.


Dengan telaten Bu Rahmah mengusapkan minyak kayu putih ke tubuh Aina. Serta memberikan pijatan kecil di pundak dan kepalanya.


"Coba kamu periksa ke Bidan Indah. Siapa tahu apa yang kamu inginkan terkabul."


"Maksud Ibu?"


Bu Rahmah menatap putrinya dengan senyuman yang lembut.


Aina segera bangkit dan menatap kalender yang ada di depannya. Baru dia sadar kalau tamunya bulanannya belum juga datang. Padahal ini sudah lewat 3 minggu dari biasanya.


"Baiklah, nanti aku periksakan."Aina kembali lagi merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan sedih.


"Ada apa? kamu takut kalau hamil? ... itu wajar saja terjadi. Toh kamu sudah punya suami."


"Tentu Aina senang, Ibu. Kalau itu benar-benar terjadi."


Apakah ini jawaban atas keraguanku selama ini. Antara meneruskan jalan cinta kita atau menghentikan semuanya saat ini juga.

__ADS_1


 


 


__ADS_2