Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Kamar


__ADS_3

Haruskah diriku cemburu padanya.Tapi ... Pantaskah itu. Dia gadis kecil. Gadis kecil yang telah mencuri segenap cintanya. Dia berhak untuk dicintai bukan untuk dicemburui apalagi dibenci.


“Ada apa?”


“Tidak. Kamar ini benar-benar indah. Tak sangka, Mas sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk kamar untuknya.”


Najib hanya bisa tersenyum hambar, mendengar kata-kata istrinya. Lembut di bibir, namun bohong bila hati tak tercubit. Kata-katanya pasti terlahir dari rasa cemburu.


“Iya. Sudah lama Mas menginginkan suatu hari nanti Iza akan datang ke rumah ini. Hidup bersama Mas. Tak sangka keinginan itu bersamaan dengan mas membawa kamu ke sini. Apa kamu keberatan.”


Haruskah aku berdamai dengan rasaku yang mulai terusik dengan kehadirannya. Bukan cemburu padanya, tapi ... Entahlah. Aku tak bisa mendefinisikannya.


“Apa hakku untuk merasa keberatan dengan keputusan Mas. Dan juga apa alasanku tak menerimanya. Dia teramat manis untuk dicemburui. Tapi ... Aku hanya takut, kalau yang mas pikirkan tak hanya dia.”


Najib diam merenung sejenak, mencerna apa yang baru saja dia dengar. Dia tatap istrinya dengan senyum yang teramat lembut dan juga dengan segenap rasa dengan terselipkan pertanyaan yang membuat hatinya terusik. Apa Mecca sudah mengetahui kalau ada orang lain selain dirinya yang berhak pada Iza dan diriku juga? Meskipun saat ini kami sulit bersama. Masih suka jalan sendiri-sendiri. Sampai terlupa apa arti kebersamaan dalam rumah tangga.


Atau yang dimaksud itu hal lain lagi?


“Mas nggak tahu maksudmu apa? Apa dirimu menginginkan ada anak lain juga?”


Hmmm ... biar makin mbulet. Salah sendiri menyindir-nyindir hal yang saat ini tak ingin aku bahas.


Nach kan, dia jadi bengong. Jangan salahkan diriku, salahkan dirimu yang selalu ingin tahu. Apa kamu tahu, Kalau itu akan membuat dirimu terluka.


Bicara dengan Mecca memang harus berpikir ekstra. Kata-katanya seperti ingin menjebakku. Tapi okelah ....


“Apa mas ingin membuat rumah kita menjadi sebuah panti asuhan?”


Nach kan ... benar-benar membingungkan.


“Oh bukan. Mas hanya membayangkan itu anak-anak kita, Mecca Sayang.”


Ih ... Kenapa jadi dirinya yang masuk dalam perangkap gombalannya.


Dengan cemberut, Aina segera keluar. Meninggalkan Najib yang tersenyum senang.


Aina segera menuju ke lantai atas. Di sana ada beberapa ruang yang masih tertutup rapat. Kamar yang mana yang dimaksud suaminya? Dia tak tahu.

__ADS_1


Terpaksa Aina membuka satu persatu ruangan itu. Satu yang kini ada di hadapannya. Ternyata ini ruang perpustakaan. Dia pun menutupnya kembali.


Baru pada pintu ke dua dia menemukan kamar yang dimaksud. Sebuah Kamar yang cukup luas dan tertata. Aina duduk di tepi ranjang. memperhatikan setiap sudut kamar. Terlihat nyaman. Nuansa yang indah. Seluruh tembok dicat dengan warna putih, namun dengan hiasan keabu-abuan di setiap sudut dan tiangnya. Pilihan umum seorang lelaki. Menunjukkan kepribadian mas Najib sesungguhnya. Tenang, penuh misteri dan pekerja keras.


Perabotan untuk wanita juga sudah ada. Almari dengan beberapa busana wanita yang masih terbungkus plastik dan juga meja rias. Apakah itu untuknya?


Sejenak dirinya duduk di tepi ranjang. Ingin melanjutkan mimpinya. Toh malam masih terlalu panjang. Namun mata ini sudah tak mau lagi terpejam.


Ranjang besar, empuk dan mewah tak bisa merayu matanya untuk kembali terpejam.


Sementara itu Najib masih menepuk-nepuk punggung Iza dengan lembut hingga dirinya yakin kalau Iza telah kembali pulas dalam mimpinya. menyelimutinya dengan selimut sebatas dada. Tak lupa, Najib meniup ubun-ubunnya sejenak dengan diiringi doa sebelum meninggalkannya.


Dia menyusul Aina ke lantai atas.


“Assalamualaikum ...” ucapnya saat membuka pintu kamarnya.


Tak ada jawaban. Ah, mungkin Aina sudah tidur. Dia pun langsung masuk. Tak ditemukan wanita itu di sana. Hanya terdengar gemercik air dari kamar mandi miliknya. Sesaat kemudian, keluarlah seorang wanita yang tak habis kata untuk menggodanya. Apalagi saat ini, wajahnya terlihat teramat segar, menampakkan kecantikan alaminya. Membuat mata ini yang sesaat lalu begitu terkantuk-kantuk, terjaga lagi.


Dia menopang dagu memperhatikan dengan saksama pemilik wajah ayu yang kini tengah mengambil mukena. Dia begitu tenang. Sampai saat berbalik, pandangannya beradu denganku. Yang langsung membuatnya menunduk dan tersipu malu.


“Barusan. Apa yang dilakukan istriku di dalam sana sampai-sampai tak menyadari suaminya sudah datang.”


“Maaf Mas. Rasanya lepek banget ini badan. Mandi sekalian, biar nyaman tidurnya.”


“Tak apa. Apa dirimu mau sholat?”


“Ya, kalau Mas ijinkan.”


“Boleh. Aku juga ingin mandi. Biar seger.”


“Aku siapkan baju gantinya, boleh?”


Siapa yang akan menolak bila Mendapatkan perhatian ekstra. Apalagi dari istri tercinta.


“Masya Allah, itu sesuatu banget buat Mas. Sangat boleh, istriku tersayang.”


Punya suami yang suka ngegombal itu lucu, menyenangkan dan menggemaskan. Tapi kadang juga menjengkelkan kalau ngegombalnya tak lihat tempat. Malulah diriku, itu pasti. Untung saja sedang dalam kamar. Tak ada siapa-siapa, selain kita berdua.

__ADS_1


Sementara Najib ke kamar mandi, Aina menyiapkan baju yang cocok untuk tidur. Dicarinya piyama, namun tak ditemukan. Terpaksa dia mengambil kaos dan sarung. Semoga saja benar. Sepertinya ada yang kurang ... Dia pun mengambil baju Koko, siapa tahu suaminya ingin melakukan sholat juga.


Baru saja dirinya mengenakan mukena, Najib sudah keluar dari kamar mandi.


“Tunggu. Kita Jamaah, Sayang.” Najib segera memakai baju yang telah disiapkannya.


Astaghfirullah al adzim. Ini orang tak tahu malu banget. Ganti baju di hadapanku. Untung saja sudah aku siapkan sarung yang segera dipakainya sebelum memakai pakaian yang lain. Sudah lebih tertutuplah, daripada terlihat apa yang tak ingin kulihat. Bisa-bisa dirinya lari ketakutan.


Walaupun aku sudah jadi istrinya, tapi rasanya malu juga bila menyaksikan sesuatu terbuka di depan mata. Mataku yang suci ini jadi ternoda. Hehehe ....


“Ada apa?”


Selalu saja begitu, dia berbuat seolah tanpa dosa. Aina segera mengalihkan pandangan.


“Oh, maaf. Kalau itu mengganggumu.”


Ya ... Sudah selesai baru ngomong.


“Ngaak apa-apa kok.”


“Besok lagi aku aku ganti di kamar mandi.”


“Tidak-tidak. Lagian kita sudah halal.” Aina tersenyum dikulum, mau menyalahkan siapa ... Toh pada saat itu, dirinya terkejut dan terpaku. Tapi setelah rapi, dia tak dapat memungkiri, kalau lelaki yang sudah halal baginya begitu tampan dan menawan.


“ Syukurlah, kalau kamu sudah mengerti.” Najib menyimpan senyumnya dibalik tatapan matanya yang membulat sempurna. Dia sangat tahu kalau istrinya tengah memperhatikannya sejak keluar dari kamar mandi.


Istriku lucu sekali ... limited edition sepertinya.


Keduanya segera berdiri untuk melakukan sholat sunah ringan sebelum tidur.


Badan lelah, waktu juga masih panjang untuk perjalanan bulan menampakkan dirinya yang bersinar indah menerangi alam. Sudah selayaknya dirinya menenggelamkan diri dalam mimpi. Tapi kembali hal itu tak bisa dilakukan.


Dia melirik sekilas pada sosok yang kini terlihat terpejam di sampingnya. Rasanya iri sekali. Mengapa dia bisa nyenyak namun dirinya tidak. Membalik badan membelakanginya, tak nyaman. Terlentang menghadap langit-langit, tak juga nyaman. Menghadapnya, semakin tak nyaman. Membuat jantungnya berdegup kencang.


“Mecca, kamu tak bisa tidur, Sayang?”


Dia tersenyum, memandang wajah tampan yang kini menatapnya mesra. Dia pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2