
Wajahnya yang sembab belum terhapus dengan sempurna, meskipun dia sudah mandi dan juga telah menyapunya dengan bedak. Tak ada yang bisa membuatnya lega bila terus di dalam rumah. Tak ada salahnya bila dia keluar bertemu Raisa, sahabatnya. Sekedar untuk menenangkan diri.
"Menurut kamu gimana, Raisa. Apa yang harus aku lakukan?"
"Apa ya ...." Jelas saja Raisa bingung apa yang mau dikatakannya. Membayangkan saja tidak mau, apalagi mencoba-coba menjalani, meskipun dia tahu bahwa syariat seperti itu ada dalam agama.
"Gimana ya ... Aku juga nggak tahu, Dulu kamu buang-buang. Padahal dia baik sama kamu. Dia itu laki-laki, butuh teman. Kalau kamu tinggal terus, jelas kesepian lah. Jangan salahkan kalau dia menduakannmu"
"Kamu ini teman apa teman, sih. Kok malah membelanya."
"Aku sebenarnya juga nggak suka kalau diduakan. Tapi kalau itu suatu solusi buat kamu yang punya kegiatan seabrek di luar, businesswoman lagi, apa salahnya untuk menerima."
"Kok kamu nyalahin aku sih. Memintaku menerimanya si pelakor itu masuk ke dalam kehidupan kami. No ... No .... Nggak boleh gitu. Suamiku tetap suamiku. Tak kuijinkan ada wanita lain mendekatinya."
"Bagus itu. Sekarang bersainglah, rebut hati suamimu kembali."
"Caranya?"
"Hehehe ... Aku nggak tahu. Yang paling tahu itu kamu."
"Berarti aku harus bersikap manis sama dia?"
"Kurasa."
"Kamu enak ngomongnya, soalnya kamu nggak mengalami. Ini sangat berat. Terus terang Ingin sekali aku melabraknya, mengacak-acak hidupnya. Biar berantakan. Kalau perlu menghabisinya sekalian."
"Sadis sekali kamu. Jangan sampai deh."
"Hati ini sakit sekali, Raisa."
"Aku turut prihatin. Aku harap kamu bisa melewati cobaan ini. Sepertinya pilihannya hanya ada dua. Menerima diduakan atau tidak menerima, kamu yang pergi atau dia pergi."
"Dia yang harus pergi."
Belum selesai berbincang-bincang, Mereka melihat mobilnya Jeep masuk ke dalam halaman rumah.
"Itu, suamimu menyusul. Aku ke dalam dulu ya." Raisa segera beranjak dari tempatnya menghilang ke dalam rumah. Dia membiarkan suami istri itu bersama, agar bisa berbincang-bincang dengan terbuka.
"Syukurlah kamu di sini."
"Untuk apa mencariku, Mas. bukannya sudah ada Aina."
"Kita pulang, yuk! kita bicarakan di rumah saja. Nggak enak dengan Raisa dan suaminya."
Sheza mengabaikan ajakan Najib, tetap duduk di tempatnya, tidak mau beranjak sama sekali.
__ADS_1
Najib pun mengalah. Dia pun menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Apa yang perlu dibicarakan. Aku kan hanya minta satu sama kamu, Mas. Tinggalkan Aina!" Pintanya dengan penuh penekanan.
"Bagaimana aku akan meninggalkannya. Dia sekarang mengandung anakku."
Sheza seketika terdiam, wajahnya pucat, mulutnya menganga, nafasnya tercekat, air mukanya membeku, dingin tanpa ekspresi. Dia benar-benar tidak percaya dengan kabar yang baru saja didengarnya. Dan yang lebih membuat dirinya semakin sakit adalah Bagaimana mungkin suaminya bisa menyampaikan hal itu dengan sangat tenang.
"Pergilah, Mas. Jangan pedulikan aku lagi!"
"Bagaimana mungkin, aku bisa tidak memperdulikanmu. Kamu istriku dan juga adikku. Dimana pun kamu berada kamu masih menjadi tanggungjawabku. Aku akan menjagamu. Ini sudah janjiku sama Papa.
"Dengan menyakitiku?"
"Aku tak bermaksud begitu. Kamu tahu saat kamu pergi-pulang, bolak-balik ke Kalimantan, saat itu aku berpikir kamu benar-benar meninggalkanku dan tidak akan kembali dan melupakan kami, aku dan Iza."
"Tapi Mas, aku pergi kan bener-bener untuk kerja. Aku sama sekali tidak menghianatimu."
"Aku mencoba paham. Dan sebenarnya aku berat untuk mengungkitnya. Tak bisakah kamu memaafkanku dalam masalah ini."
"Aku bisa memaafkan Mas, kalau Mas meninggalkan dia."
"Tak mungkin. Aku tak mungkin untuk meninggalkan tanggung jawabku terhadap mereka berdua."
"Maafkan Mas ya ... Ini sudah terlanjur."
"Adakah pilihan yang lain."
"Jangan tanya itu, Sheza. Aku mohon kita jalani dulu."
"Aku tak bisa."
"Setidaknya kali ini kamu pulang, Sheza."
"Aku masih sakit hati, Mas. Kamu izinkan atau tidak kayaknya hari ini aku nggak ingin pulang."
"Bagaimana kalau Iza mencarimu."
"Tak mungkin. Apalagi sekarang dia sudah kenal dengan wanita barumu itu," Sengaja Sheza tak menyebut namanya, karena itu sangat menyakitkan.
Entahlah, emosi Sheza meletup-metup bila membahas tentang Aina. Dan itu sangat wajar. Karena masih tersimpan rasa cinta yang begitu besar pada Najib meskipun berulang kali dia ingin menepisnya bahkan ingin meninggalkannya.
Keduanya diam. Sepertinya kehabisan kata untuk mengungkapkan isi hati mereka. Bukannya solusi yang mereka dapatkan. Tetapi hanya pertengkaran-pertekaran yang semakin memperlebar masalah.
Najib beberapa kali mengambil nafas panjang. Dia masih menunggu dan berharap Sheza merubah keputusannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat dia pun bangkit.
"Bagaimana, kita pulang yuk!"
"Tidak."
"Ya sudah kalau maumu begitu. Tapi jangan salahkan aku lagi, bila kamu nggak mendapatkan diriku di rumahmu, saat kamu pulang."
"Aku tak peduli."
Bagi Najib kemarahan Sheza saat ini mungkin jadi keberuntungan baginya, karena tidak ada orang lagi yang menghalangi, agar bisa menjemput Aina.
Meski demikian, dia tidak lupa untuk memberikan kecupan kecil di kepala istri pada saat berpamitan.
"Aku harap kamu tidak lama-lama marahnya, Sayang. Iza pasti kangen melihat kita bersama."
Sheza hanya melirik Najib sekilas dan diam. Sebenarnya dia ingin berteriak dan memakinya, "Gombal. Dusta. Kamu hanya menyakitiku."
Tapi semua urung dilakukan, karena dia tiba-tiba merasakan desiran hangat yang menyentuh jiwanya, saat Najib mendekap dan mencium kepalanya.
"Aku nggak bisa berpamitan pada Raisa. Tolong sampaikan maaf ku, ya!Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawabnya dengan lembut.
Ada rasa sesal yang menggelitik dalam jiwanya, saat Najib melangkah meninggalkan dirinya.
Saat Najib membuka pintu mobilnya, dia ingin sekali dia berteriak, " Mas, aku ikut pulang."
Tapi, Ogah ah ....
Sheza terpaku di tempatnya, menatap mobil itu berjalan meninggalkan rumah Raisa hingga hilang dari pandangan. Dia pun berdiri mematung menyesali keputusannya.
"Mana suamimu?" Suara Raisa yang datang secara tiba-tiba, seketika membuyarkan lamunannya.
"Sudah balik." singkat, padat, jelas. namun diungkapkan dengan terlebih dahulu mengambil nafas dalam-dalam.
"Kenapa kamu tidak ikut balik."
"Aku ingin tenang."
"Tidak harus berpisahkan kan, untuk mencari ketenangan."
"Jangan menggodaku. bilang aja kalau kamu nggak mau menampung aku." Sheza nampak sedikit bersungut.
Senyum Raisa mengembang. Dia menyadari kalau sahabatnya sedang ada masalah. Dan dia tidak mau ikut campur dalam permasalahan rumah tangganya. Bisa-bisa tambah runyam.
__ADS_1