
Arya meninggalkan Sheza menuju beranda rumah. Duduk di kursi rotan itu seorang dia. hanya ditemani secangkir kopi hangat buatan si mbok.
Sekarang Arya sadar, keputusan yang Najib ambil akibat dari tekanan yang dia berikan kemarin malam. Dia menghembuskan nafasnya berlahan.
Timbul penyesalan dalam hatinya. Mengapa dirinya tak bisa bersabar barang sejenak, untuk memberikan Najib berfikir. Minimal setelah Aina melahirkan untuk membahas hal itu.
Seandainya saat itu dirinya tak egois tentu perpisahan mereka tak akan terjadi. Toh, semua masalah berawal dari putrinya yang tak bisa menerima dan memahami keadaan dirinya dan Najib sebagai suaminya.
Mungkin kesalahan Najib hanya satu, menikah lagi di belakang mereka saat rumah tangganya tak baik-baik saja. Selain itu sepertinya bisa dimaklumi. Meskipun Najib mempunyai Aina, dia berusaha untuk bersikap adil, bahkan boleh dibilang kebersamaannya dengan Sheza lebih banyak dari pada ke Aina.
Dia menyesal tak mencari solusi atas masalah ini, malah menambah masalah baru yang sangat berat untuk keduanya. Ia bersikeras meminta segera memutuskan ikatan mereka dengan segera. Bodoh sekali tindakannya.
Ia teringat akan pengorbanan Najib selama ini. Dia sepertinya tulus untuk melindungi dan menjaga Sheza dan Iza. Ada maupun tak ada dirinya. ‘Senakal’ apapun putrinya, Najib masih bisa memaafkan dan memberikan kesempatan.
Perpisahan tentu sangat menyakitkan, terutama bagi putrinya. Kini tak ada lagi keceriaan di wajah putrinya dan Iza.
Acara perayaan ulang tahun Iza pun menjadi tak semeriah yang direncanakan. Meskipun dia datang, tapi dengan membawa kesenduan, tak ada keceriaan dan kebahagiaan di wajahnya.
Najib bisa menutupi lukanya dengan ketenangan dan selalu tertawa selama acara berlangsung. Namun tetap saja tak bisa menghilangkan kesan kalau hubungan dia dan Sheza sedang tidak baik-baik saja.
Dia tersenyum saat berhadapan dengan Iza atau menyapa tamu. Selain itu lebih banyak diam sampai acara berakhir.
Kadang dia terlihat sedikit canggung saat harus berdiri bersama Sheza. Tapi mau tak mau, dia dituntut demikian agar Iza tak mendapatkan efeknya dari keputusan mereka. Dia segera berpamitan setelah sejenak mengantarkan Iza tidur.
Terlintas pemikiran bisa berfikiran jernih memandang permasalahan ini, dengan sedikit memberi pengertian pada Sheza untuk sedikit membuka hatinya, menerima madunya mungkin keadaan akan lebih baik. Mereka tidak akan sesedih ini. Karena itu lebih baik. Aina bisa menerima Iza dan juga Sheza dengan baik. Tapi sudahlah, apa yang terjadi mungkin sudah seharusnya terjadi sebagai jalan tengah untuk merenungi diri untuk pelajaran ke depannya.
Dia akan coba perbaiki itu semua dengan mengantarkan mereka bertemu Najib. Meskipun nantinya mereka tak bisa lagi bersama, setidaknya Iza bisa melepaskan rasa kangennya dan tak tidak kehilangan sosok ayah yang selama ini selalu menemaninya.
Setelah habis satu cangkir kopi, dia pun beranjak ke dalam rumah untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dalam pelukan mimpi.
🌟
__ADS_1
Najib dan Aina
Di setiap sepertiga malam, sering kali Aina melihat Najib meneteskan air mata. Entah apa yang dia ucapkan dalam doanya, seperti beban yang sangat berat. Apakah dia rindu pada Sheza dan Iza?
Meskipun secara lahir mereka berpisah, tapi Aina tahu kalau Najib tak bisa melepas mereka berdua.
Malam ini, untuk kesekian kalinya Aina menyaksikan hal itu. Dia berkeinginan untuk segera menyudahi masalah ini, agar di kemudian hari, tidak menjadi beban bila dia harus pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Ini karena kehamilannya yang bermasalah, sehingga sampai saat ini pun dirinya tak begitu yakin kalau akan bisa melewati masa melahirkan dengan selamat.
Dia turun dari ranjang dengan hati-hati, mendekati Najib yang masih dalam posisi bersimpuh di atas sajadah.
“Mas.” Aina berucap dengan suara yang manja, menyentuh pundaknya dengan lembut juga.
Najib segera mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, mengakhiri kesenduan dalam mengungkap pinta dalam doa.
“Ya, ada apa Dik.” Najib berbalik dan menggenggam tangan itu lembut.
Guratan-guratan kesedihan yang tampak di wajahnya, membuat Aina serba salah. Bila diam, dia merasa terbebani dengan masalah yang terjadi antara Sheza dan suaminya. Bila ngomong, takut tidak berkenan dan semakin memperkeruh keadaan. Tapi, dia benar-benar ingin bicara.
“Kamu nggak bisa tidur, ya? ... Sini!” ajak Najib.
Dia meraih kepala Aina dan meletakkan di dadanya.
“Mas masih memikirkan mereka?”
Sesaat tak ada kata atau suara, hanya ada keheningan diantara keduanya. Sesekali terdengar ia mengeluarkan hembusan nafas yang lembut, menyapu wajah ayu istri yang masih setia bersandar di dadanya, menanti jawaban apa yang akan dia berikan.
“Bohong kalau aku tak memikirkan mereka. Tapi untuk apa, itu sudah menjadi bagian masa lalu.” Dia mendekap istrinya dengan erat. Dia tak ingin Aina tahu kalau saat ini dirinya mati-matian menutupi hatinya yang rapuh.
Aina menatapnya dengan sedih.
“Mengapa kamu tanya soal itu?” Dia mencoba menyelami jalan pikiran Aina, mencari tahu apa yang diinginkan istrinya. Namun lama ditunggu tak ada jawaban yang keluar dari bibir istrinya. Mungkin lebih baik dia berterus-terang dengan apa yang dirasakannya.
__ADS_1
“Saat ini, aku hanya ingin menemanimu, itu saja. Dan menunggu baby kita bisa melihat dunia. Oke ... Tolong jangan buat hatimu sedih atau khawatir, semua akan baik-baik saja.”
Tak ada amarah atau kecemasan. Yang tampak hanya ketenangan yang sudah mengubah seluruh air mukanya sesaat lalu, membuat Aina makin sedih.
“Aku tahu mas masih berat melepas mereka,” ucap Aina sedih.
“Lalu maumu apa, ingin aku balik sama Sheza?” Ingin sekali dia tertawa menghadapi sikap istrinya yang benar-benar aneh ini. Dulu saat poligami, sering ngambek. Sekarang sudah monogami, malah sedih.
“Ya.” Sambil mengangguk. Najib terkejut, seketika tangan berhenti mengusap perut Aina.
Najib mengambil nafas, menghembuskannya berlahan-lahan. Sesak sekali mendengar ungkapan hati istrinya.
Dia menatap manik hitam di bola mata milik istrinya yang senantiasa memancarkan ketenangan dan kedamaian bagi dirinya.
“Karena aku, kalian berpisah.”
Najib tak tahu harus berkata apa lagi agar Aina menjadi tenang.
“Buang perasaan itu jauh-jauh. Kalian tak ada yang salah. Justru mas yang salah, Mas terlalu egois untuk mendapatkan kalian berdua. Tidak pernah memikirkan perasaan wanita-wanita yang mas cintai. Kalian semua terluka .” Dia menjeda sebentar untuk membuang nafasnya yang terasa berat.
“Ini keputusan akhirku. Jangan kau tanyakan lagi soal ini.” Imbuhnya.
Air mata Aina meleleh, dia makin merasa bersalah.
“Kalau itu memang sudah keputusan Mas. Boleh aku ketemu sama mbak Sheza.”
“Baiklah, akan mas usahakan.”
“Makasih, Mas.”
Najib mengangguk. Ini lebih baik. Dari pada terus berdebat yang tak akan pernah ada ujungnya. Cukuplah dia sendiri yang mengerti soal ini. Jangan sampai Aina atau yang lainnya tahu apa yang dirasakan.
__ADS_1