Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Sebuah Kejujuran


__ADS_3

Najib yang sudah kembali dari meeting, mendapati kantornya dalam keadaan kosong, sepi, tak ada canda tawa putri dan istrinya yang biasanya mewarnai ruangannya, menjadi bertanya-tanya. Apa mungkin  belum  sampai? Ini sudah jauh melewati jam  pulang Iza. Ada apa ... Kok perasaan ini jadi tak tenang.


Dia mencoba menghubungi nomor Aina. Tapi sayang tak diangkat-angkat.


“Assalamualaikum, Den.”


“Waalaikum salam.  Alhamdulillah... akhirnya kamu datang.”


“Lho Man, mana Ibu dan Iza?”


“Eee ... Ibu ... Anu ... Ibu ....”


“Mengapa kamu gugup gitu, ada apa dengan istriku? ... Katakan saja. Apa yang terjadi sama mereka?”


“Ibu ketemu Den Ayu.”


“Benarkah?”


Dia mengangguk lesu.


Najib seketika menurunkan handphone-nya. Apa yang dikhawatirkan selama ini terjadi juga. Oh my God ....


“Maafkan Maman, Den. Maman nggak bisa mencegahnya.”


“Mana kuncinya!”


“Ini Den,” Dia memberikan kunci itu sambil menunduk, tak berani menatap majikannya secara langsung.


“Lalu mereka sekarang di mana?”


“Nyonya ke apartemen, nona Iza dibawa Den Ayu ke rumahnya.”


Dia melirik jam tangannya. Masih banyak waktu istirahat. Bisa digunakan untuk menemui mereka. Semoga tak terjadi apa-apa dengan Iza maupun Aina.


Jika sekarang dirinya sangat mengkhawatirkan Aina, itu wajar-wajar saja. Karena siapa yang tak tahu, kalau Sheza suka berbuat kasar jika sedang marah.


“Makasih, Man.”


Najib segera menuju ke mobilnya yang belum sempat dimasukkan  ke tempat parkir oleh sopirnya.


Sepanjang jalan menuju ke apartemennya, Najib tak berhenti berdoa, “Semoga kalian baik-baik saja.”


Begitu tiba, Dia langsung menuju ke lantai di mana tempat tinggalnya berada.

__ADS_1


Setelah menempelkan sim card di tempatnya dan memencet beberapa angka di dekat gangan pintu rumahnya, Dia pun melihat Aina yang tengah berdiam diri, duduk termenung di ruang tamu dengan tas besar di sampingnya.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?”


Aina bangkit dan menatap Najib dengan wajah memerah penuh air mata. Begitu Najib mendekat, dia segera berlari menghindar menuju tangga.


“Aku benci kamu Mas!” Dia terus berlari dengan membawa tangisnya.


Najib dengan cepat menyusulnya, dan memeluknya dari belakang.


“Lepaskan!”


“Tidak!”


“Kamu jahat Mas. Nggak punya perasaan. Kamu sudah membohongiku. Membodohiku selama ini. Mengapa kamu begitu tega sama aku, Mas? Apa kamu tak tahu bagaimana sakitnya dituduh sebai pelakor, perusak rumah tangga orang, hanya ingin menguasai harta mas, hiks hiks. Sebegitu tak berharganya diriku, Mas. ... ” Aina terus saja mengomel di sela-sela tangisnya. Menumpahkan segala kekesalannya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya.


Setelah beberapa saat, Aina sudah tak memberontak lagi, terlihat lebih tenang, meskipun isakan tangisnya  masih terdengar jelas di telinga Najib. Dia pun melonggarkan dekapannya.


“Sudah, Sayang.” Dia pun membalikkan tubuh Aina. Dan menatap sendu istrinya yang masih menunduk di hadapannya.


Tanpa dia disadari, air matanya pun keluar.


“Tatap mata Mas, Sayang!”


“Bisa kita bicara, Sayang?”


Aina mengangguk pelan.


“Hapus air matamu ya. Aku tak sanggup menatapmu bila begini.”


“Ini semua gara-gara Mas. Mas yang bikin aku menangis.”


“Ya, Mas yang salah.”


Najib segera meraih tubuh Aina dalam gendongannya dan membawanya ke kamar mereka.


“Kita bicara di kamar ya?”


Aina tak menjawab, diam dalam Isak tangisnya yang mulai lirih terdengar. Tangannya bergelayut manja di leher suaminya. Yang dengan susah payah membawa tubuhnya menaiki tangga ke arah kamar mereka. Lalu mendudukkannya di tepi ranjang.


“Bisa Mas minta, kamu cuci muka dulu.”


Meskipun tak menjawab, namun Aina segera beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.

__ADS_1


Sementara Aina mencuci muka di dalam kamar mandi, Najib pergi ke ruang tamu, mengambil tas besar milik Aina yang ada di ruang tamu. Sambil menarik nafas panjang, dia mengangkat tas itu dan berucap lirih, “Jangan kamu harus pergi dengan cara ini, Sayang.”


Dia sudah lebih dahulu masuk ke kamar mereka, sebelum Aina keluar kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Terlihat air mata Aina masih meleleh. Hingga tak sanggup lagi Najib melihatnya.


“Maafkan Mas, ya.” ucap Najib sambil memeluknya.


Aina diam. Sesekali tangan nya mengusap air matanya.


“Aku lelah, Mas. Aku ingin tidur.”


Dia pun melepas pelukannya dan membiarkan Aina berjalan menuju tempat tidurnya. Dengan segera menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dengan membelakangi suaminya.


Saat ini, Dirinya terlalu lelah sehingga tak sanggup lagi untuk kembali ke kantor. Lebih baik menyelesaikan masalah ini dulu.


Dia segera mengganti bajunya dengan baju rumahan, mencuci muka sebentar dan ikut berbaring di samping Aina.


“Mas minta maaf ya ... “  sambil  menatap langit-langit kamarnya. Sementara satu tangannya tak berhenti mengusap pundak Aina. Yang akhirnya membuat Aina berbalik dan menatap Najib sendu.


“Mengapa mas tak ngomong sejak awal, sebelum kita menikah. Aku tak mau disebut pelakor atau perusak keluarga orang. Mengapa tidak mas selesaikan dulu persoalan Mas, agar tak jadi beban untukku. Bagaimana pun, aku juga merasa bersalah sama mbak Sheza kalau gini.”


Ada senyum kecil di ujung bibir Najib. Seakan tak yakin dengan pendengarannya. Bagaimana mungkin dia menyalahkan dirinya, sedangkan yang jelas dialah yang salah. Ini naif sekali ... Tapi itulah dia.


Mungkin inilah keunikan yang dimiliki istrinya sejak mereka bertemu, dan akhirnya jatuh cinta.


“Tak ada yang salah denganmu, Sayang. Justru yang sangat patut disalahkan itu suamimu ini. Tapi mas  akui kalau, kalau saat itu hubungan mas dengan Sheza sedang rumit-rumitnya.”


“Apakah saat itu, mas ingin berpisah.”


“Aku tak tahu. Bahkan saat ini pun belum menemukan jawaban.”


“Mas, Aku bukan bunda Saudah yang mampu bermadu dengan bunda Aisyah.  Aku juga bukan Bunda Umi Salamah yang dengan kelapangan hati merias Bunda Shofiyah untuk bersanding dengan Baginda. Dan aku bukan Bunda Ummu Habibah yang bisa menawarkan saudarinya untuk bersama mendampingi Baginda. Tidak Mas, aku bukan seperti itu.


Rasanya aku akan bersikap sama seperti putri Baginda Fatimah Az, akan mengadu pada Ayahnya  bila hati tersakiti. Tapi tidak! Itu peristiwa sebelum kejadian. Sedangkan sekarang aku sudah berada di tengah kalian. Sadar tak sadar sudah seperti itu. Rasanya aku ingin mundur saja.”


Sebutir kristal lolos dari ujung mata Najib.


"Mengapa?"


"Aku tak melihat mas akan sanggup bersabar, melihat aku cemburu. Bunda Aisyah saja bisa menjatuhkan piring saat mendapati kiriman makanan dari madunya. Bunda Hafsah pun tak sanggup melihat Baginda ada di rumahnya bersama Maria. Apakah aku lebih dari mereka. Tidak! aku jauh dari mereka, yang sangat sakit bila Mas bersama wanita lain."


Najib mengambil nafas panjang ...

__ADS_1


__ADS_2