Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Tak Boleh Cemburu


__ADS_3

Najib ingin mengapresiasi perubahan Sheza selama ini. Pada Iza sedang lebih baik. dan dia merasakan bahwa Shesa juga sudah lebih memperhatikan keberadaannya sebagai seorang suami. Beberapa kali dia mengajaknya bertemu dengan kliennya.


Tak ada salahnya bila saat ini dia ganti mengajaknya makan malam bersama kliennya juga.


Sebenarnya dia ingin mengajak Aina, tapi Aina sedang dalam kondisi kurang fit untuk menemaninya. Maklumlah, usianya kandungannya masih dalam trisemester pertama, sehingga gangguan mual-mual, muntah, sering terjadi.


🌟


Aina ....


Apa keputusanku kali ini, salah ya? Aku merasa Mas Najib seperti terbebani. Semakin ke sini semakin kurasakan Mas Najib semakin menjauh dariku. Ini perasaanku saja ... Atau memang demikian. Tak tahu lah.


Harus banyak-banyak menyimpan stok kesabaran, nih. Apalagi saat kita membutuhkan orang yang kita cintai, ternyata dia memutuskan untuk pergi bersama dia.


Seperti saat ini, ketika badan ini terasa kurang sehat, harus kecewa lagi. Selepas shalat magrib, dia berpamitan akan pergi.


"Sayang, maafkan ya ... Aku harus pergi. Ada makan malam sama klien di luar. Kamu nggak apa-apa, aku tinggal?"


Aina yang tengah rebahan di tempat tidur, memperbaiki posisinya, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, menatap Najib dengan sorot yang lemah.


"Aku nggak apa-apa Mas, tapi sepertinya yang di sini ini yang masih kangen sama Mas."Aina membelai perutnya yang kini sudah tidak rata lagi. Bukan bermaksud menghalangi kepergiannya, tapi bolehlah sekedar bermanja.


Najib cukup mengerti dengan keadaan Aina saat ini. Mungkin saja keinginann itu terlahir dari calon baby juga. Dia segera mendekatinya, lalu mencium perutnya itu berulang-ulang. Sontak saja membuat Aina merasa geli.


"Sudah, Sudah Mas. Mas boleh pergi kok."


Aina ingin beranjak dari tempat untuk membantu wajib mempersiapkan diri sebagaimana biasa dia lakukan.


"Sudah kamu istirahat saja, aku bisa sendiri kok." Tolaknya dengan halus.


Dia duduk di tepi ranjang menatap Najib yang tengah bersiap-siap.


"Mas pergi sendiri?"


Najib tampak ragu-ragu untuk menjawabnya. Jujur apa nggak ya?


"Sama Sheza. Iza juga ku baawa. Kamu tidak keberatan, kan?" Najib pun berkata apa adanya. Dia tidak mau mengambil resiko lagi. Kalau dia tidak jujur sekarang. Lalu Aina tahu dari orang lain itu akan lebih menyakitkan.


Aina tertawa hambar dan mendengus kasar sekedar meluapkan perasaannya saat ini. Batinnya berbisik lirih, "Keluarga kecil yang sempurna."


Meskipun dia sudah dengan sekuat tenaga untuk bisa sabar, tapi tak bisa memungkiri bagaimanapun rasa cemburu itu selalu hadir ketika suaminya menyebut nama wanita lain di hadapannya.


Mau marah, gimana ... dia tak suka keributan. Mau sedih, toh untuk apa. Dia hanya teringat akan niatan awal saat memutuskan untuk kembali ke sisi suaminya, yang jelas-jelas sudah memiliki istri. Meski dia mengakui kalau dadanya terasa sedikit nyeri saat mendengar siapa yang akan diajaknya keluar.


"Kapan Mas akan mengajakku?"


Mengapa Najib selalu mengajak Sheza apabila ada klien mengajaknya makan malam. Bukankah dia juga berhak?


"Ini makan malam bisnis, Sayang. Sheza harus ngerti soal ini. Karena ini tentang perusahaan Papa."

__ADS_1


Semoga ini bukan alasan yang mengada-ngada. Aku hanya khawatir dia tidak bisa berlaku adil padaku.


Aina merebahkan tubuhnya kembali.


"Yang, kamu kenapa?" Najib tak tega, segera menghampiri Aina duduk sebentar di sampingnya.


"Aku tak apa-apa, Mas. Aku mau istirahat."


"Kamu cemburu ya ..."


"Ya." Lebih baik terus terang daripada disimpan. Toh, Tidak ada yang salah dengan apa yang dia rasakan saat ini.


"Kapan-kapan Mas akan ajak kamu. Cepat sehat ya ..." Najib mengambil gelas yang berisikan susu untuk bumil. Lalu memberikannya pada Aina.


"Minumlah, Yang."


Aina nampak enggan, dia hanya menyeruput sedikit, lalu meletakkan kembali di atas nakas.


"Habiskan! Biar cepet sehat dan kuat. Agar bisa menemani aku nanti."


Aina harus tertawa hambar. Namun dia tidak menolak ketika Najib memberikan gelas itu kembali.


Menemani!


Yang benar saja.


"Kapan?Jangan hanya janji Mas, Aku berharap Mas menepatinya juga."


Cepat-cepat Najib menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Bagaimanapun dia tidak tega meninggalkannya dalam keadaan begini.


"Maafkan Mas bila selama ini tidak bisa adil sama kamu. Semoga kedepannya Sheza bisa lebih mengerti." Berharap Aina bisa berubah dan melepaskan kepergiannya dengan ikhlas.


"Sudah, pergilah. Aku lagi nggak mood ngomong sama Mas." Usir Aina.


"Yang, Aku nggak bisa pergi kalau kamu seperti ini."


Aina tertunduk sedih. Seakan berat untuk melepaskannya. Tapi bagaimana lagi, dia harus bisa memahami bahwa suaminya bukan miliknya seorang.


"Tapi Mas nanti pulang ke sini, kan?"


"Akan aku usahakan."


Aina tahu pasti bila Najib sudah bersama Shesa, Sheza pasti tidak akan pernah melepaskannya lagi. Tapi dia bisa apa ... Dia hanya bisa menanti yang akan berakhir di pagi hari, baru mereka bisa bersama.


"Pergilah, Aku nggak apa-apa."


"Terima kasih, Sayang." Najib mengecup pucuk kepalanya serta menggenggam tangan Aina. Tak lupa pula dia berpamitan pada calon baby di perut Aina.


"Maafkan papa Sayang, jangan nakal ya. Papa akan selalu merindukan kalian."

__ADS_1


"Sudah ah, Mas. Aku geli."


"Aku ingin memeluknya sebelum aku pergi."


Dia baru berhenti, saat Iza tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.


"Papa, aku sudah siap."


"Nggak ingin berpamitan sama adik, Kak."


"Iya dong."


Dia mendekat, jarinya yang mungil menyentuh perut Aina dengan lembut sebelum membelinya dengan manja.


"Dik Kakak pergi dulu ya. Baik-baik jaga mama. Dan jangan nakal. Kakak rindu kamu, ingin segera bertemu." Sontak membuat keduanya tersenyum.


"Sudah, Ma. Aku pergi dulu ya."


"Ya Sayang. Sini sebentar!"


Aina memberi hadiah kecupan manis di pucuk kepala Iza.


"Nanti pulang ya, Sayang. Mama merindukanmu."


"Iza juga berharap itu, Ma. Semoga mama Sheza mengizinkan."


"Aamiin. Tapi kalau nggak bisa juga nggak apa-apa kok sayang baik-baik aja sama mama Sheza, Sholihah!"


"Insya Allah, Ma."


Keduanya segera beranjak dan berpamitan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Baru juga pintu tertutup wajah Najib sudah nongol lagi.


"Oh iya nanti kalau ada apa-apa atau ingin sesuatu, hubungi aku ya!"


"Ya. Mas jangan khawatir."


Setelah keduanya benar-benar menghilang Aina kembali mengistirahatkan dirinya dan menikmati kesendiriannya.


Kini dia merasakan betul, Bagaimana rasanya menjadi istri kedua, saat istri pertama belum bisa menerimanya. Hari-hari yang menjadi haknya akan selalu direcoki. Yang menjadi kekuatannya saat ini hanya apa yang ada di rahimnya.


Aina mengelus perutnya yang kini sudah lebih menonjol.


"Sabarlah,my baby. Papamu sepertinya masih kesulitan menemukan langkahnya. Yang jelas, Mama akan selalu menyayangimu , ada atau tak ada papamu di samping kita."

__ADS_1


__ADS_2