
Saat mereka akan membuka pintu mobil, seorang wanita yang berparas cantik keluar dari mobil Xenia datang menghampirinya. Sorot matanya tajam menghunus yang siap dilemparkan ke arahnya.
Aina mundur beberapa langkah. Diiringi Iza yang bersembunyi di belakangnya dengan sinar mata yang menyiratkan ketakutan.
Sesaat Aina berbalik menatap wanita itu dengan tenang seakan tak terjadi apa-apa.
Aina seolah sadar. Dia pernah melihat wanita itu. Tapi di mana ... Oh ya ... Dia adalah wanita yang ditemui waktu di toilet sebuah rumah makan. Siapa ya ... Aina pun menggelengkan kepala. Mereka lupa berkenalan. Apalagi bertukar kartu nama. Lha, waktu bertemu kemarin itu hanya sempat marahan doang. Benar-benar unfaedah ... Makanya yang diingatnya saat ini kalau wanita di depannya itu adalah adiknya Mas Najib. Itu doang ...
“Mama, ayo kita pergi. Aku takut Mama Sheza akan membawaku.” Tangan mungil Iza menggoyang-goyangkan dress yang dipakainya.
“Jangann takut, Sayang!” Dia rengkuh tangan kecil itu dalam genggamannya serta memberi senyum tipis yang meneduhkan agar Iza tenang.
Meskipun terbawa suasana yang menegangkan, akibat sikap Sheza yang tak bersahabat, tapi Aina mencoba untuk tetap tenang dan sabar. Aina mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan. Hitung-hitung menetralisir suasana.
“Maaf. Mbak mamanya Iza, Sheza kah?”
Maksud hati beramah-tamah, agar bisa mengobrol santai dan hangat. Siapa tahu, dengan begitu persoalan Iza dapat cepat terselesaikan. Tentu ini baik untuk keduanya.
Jangankan menyambut tangannya, bahkan dia menepis tangan Sheza dengan kasar. Mendorong tubuh Aina dan menarik Iza dengan dengan paksa. Membuat anak kecil itu menjerit dan menangis.
“Ya, aku Sheza. Istri Mas Najib. Mama kandung Iza. Gadis yang ada di belakangmu itu.”
Aina diam seketika. Ada hantaman kuat tepat mengenai jantungnya hingga membuat aliran darahnya terhenti. Dia hampir tak mempercayai pendengarannya.
Benarkah mas Najib suami? Mengapa dia tak pernah cerita ...
"Aku tak mengira, gadis berhijab seperti dirimu begitu tega menghancurkan rumah tangga orang,"
Apa?!
Dia menuduh dirinya sebagai penghancur keluarga orang. Sebegitu kejamkah, dirinya? Membuat hatinya tergores seketika. Sangat perih dan menyakitkan.
"Maaf Mbak. Aku nggak ngerti yang mbak katakan." Sesaat matanya memandang nanar.
"Jangan pura-pura, kamu itu telah merebut suamiku. Bahkan Kamu juga merebut putriku dari sisiku. Puas!"
Astaghfirullah al adzim ... Aku tak pernah melakukan itu. Mengapa dia begitu tega mengatakan itu.
“Jangan halangi aku, pelakor!” Dia mencoba meraih Iza yang mulai menangis, meraih dress-nya untuk pegangan.
Pelakor ... Nauzubillah min dzalik ..
__ADS_1
Jantung ini terasa terhenti, mendengar kata yang terucap dari mulut wanita yang raut wajahnya tak berbentuk. Merah padam, terbakar amarah, siap memuntahkan lontaran lava panas membara.
Matanya mulai terasa panas dan perih. Tenggorokannya seketika tersekat. Bibir pun terkatup rapat Tak ada kata yang bisa dia lontarkan untuk sekedar membela diri. Dia belum bisa percaya. Bahwa ada wanita lain yang ada dari kehidupan suaminya.
Aina membuang muka, menghindar dari tatapan wanita di depannya yang menatapnya tanpa ampunan.
“Dasar pelakor tetap saja pelakor. Kamu tak percaya kalau aku istri sahnya. Atau kamu sengaja menutup mata, hanya karena ingin menjadi orang kaya. Hidup enak terjamin tanpa bekerja. Lupakan itu pelakor. Sebelum kamu dibuang, lebih baik kamu mundur. Yang dia cintai hanya aku. Mungkin kamu akan dibuang, jika dia sudah puas mempermainkanmu.” Cecarnya
Dia pun terdiam.
Ya ... Kini terjawab sudah keragu-raguannya selama ini. Ingin sekali dia berteriak, “Mas Najib, aku benci kamu!” Tapi dilepaskannya teriakan itu pada kehampaan jiwanya yang merintih lara.
Pantang bagi Aina meneteskan air mata di hadapan wanita yang tak punya malu, melontarkan kata-kata itu di depan banyak orang.
“Maaf Mbak, aku tak percaya kalau sekarang Mbak Sheza masih istri Mas Najib.”
“Jadi kamu ingin bukti? Parman, Katakan yang sebenarnya!”
Suparman yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam membisu. Dia tak punya keberanian mengatakan yang sebenarnya. Itu pasti akan membuat majikan barunya terluka.
“Man, katakan! Biar dia puas.” Ucap Sheza dengan cukup keras.
“Paman, katakan saja!” Aina mencoba menata hati, menanti kebenaran yang selama ini disembunyikan suaminya. Lebih baik dia tahu, meskipun perih. Dari pada bahagia tapi terus dibohongi, itu sangat menyakitkan.
“Pakai kata-kata, Man. Itu nggak jelas,” ucap Sheza.
Dengan berat hati dan terlebih dulu mengambil nafas dalam-dalam, dia menguatkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Ya. Den ayu Sheza ini, istrinya Den Najib.”
Sesaat, dunia seakan berhenti berputar. Menghempaskan ya pada jurang yang dalam.
“Terima kasih Paman,” ucapnya tenang. Lalu menarik pintu mobil dan segera masuk ke dalamnya. Menutup pintunya rapat. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau saat ini, dirinya terusik dengan tangisan Iza yang mengiba dalam cengkeraman Sheza. Tapi apa hak dia untuk menolongnya.
Biarlah saat ini dia ikut Sheza. Dia mama kandungnya.
Sheza tampak kesulitan membawa Iza ke dalam mobilnya. Namun dengan sedikit paksaan, akhirnya dia berhasil mengajaknya masuk ke dalam mobil. Lalu melaju meninggalkan tempat itu.
Setelah mobil itu menghilang, baru Aina memerintahkan Suparman menghidupkan mesin.
“Paman, ayo!”
__ADS_1
“Baik, Nyonya.”
Berlahan-lahan, mobil yang disopiri Suparman meninggalkan tempat itu. Meninggalkan orang-orang yang berkerumun untuk menyaksikan pertengkaran mereka.
Jikalah hujan, biarlah hujan. Jika lah terang biarlah benderang. Jikalah malam biarlah bergulir menanti fajar di esok hari.
Bila kah petir di siang yang terik. Bila kah gemuruh di indahnya pelangi. Tak mungkin ... tapi nyata. Karena aku mencoba mendamba dan terluka.
Dunia oh duniaku. Menggenggamnya pun menjadi perih. Mengecap sejenak dalam tautan rasa yang mulai bisa diterimanya, sudah membuatnya lara. Adakah tempat yang masih tersisa untuk sekedar berpijak. Ternyata semua berlahan menghilang musnah, tanpa sisa. Dan mati.
Mungkinkah di balik tanah, tempat yang aman untukku bersembunyi.
“Bisakah Paman tunjukkan di mana Sheza tinggal.’
“Baiklah.”
Suparman memutar jalan menuju rumah Sheza di kawasan elit, di belakang hotel bintang lima.
“Makasih, Paman.”
“Bisa Paman ceritakan siap dia dan siap mas Najib sebenarnya.”
“Saya tak berani. Takut nyonya terluka.”
“Aku sudah cukup terluka dengan keadaan ini, Paman.”
“Baiklah.”
Sambil melajukan mobil di jalanan yang tak seberapa ramai, dia bercerita tentang Najib yang diasuh oleh tuan Arya sejak kedua orang tuanya meninggal. Lalu teng Sheza yang pintar dan cerdas sampai melanjutkan ke luar negeri. Dan menceritakan semua tentang mereka. Menyisakan kisah cinta mereka yang tak elok kalau dia ceritakan. Biarlah yang bersangkutan saja yang bercerita. Dia tak punya hak untuk itu. Bisa-bisa membuat keadaan makin runyam.
Sungguh Aina tak mengira bahwa dirinya menjadi orang ketiga dalam pernikahan antara Mahardika Najib yang kini menjadi suaminya dengan seorang wanita yang bernama Sheza Azzalea Naureen, seorang wanita dari keluarga terhormat, sangat kaya raya, cantik dan sukses dalam karir.
Dia tak ada apa-apa nya dibanding Sheza. Tak sepantasnya dirinya mendampingi Najib.
“Terima kasih, Paman. Aku turun di sini saja.”
“Nyonya tak ke kantor. Nanti di tunggu Den Najib.”
“Tidak. Tanpa Iza aku jadi ragu untuk datang.”
“Baiklah. Maafkan aku, Nyonya.”
__ADS_1
“Tak apa.”
Suparman menghentikan mobilnya di depan pintu apartemen majikannya.