Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Pulang


__ADS_3

Saat ini memang dirinya sedang terluka, namun melihat senyum Iza, rasa sakit itu seakan ikut menguap.


Ya ... anak-anak. Begitu tahu kalau kita akan berlibur, meski hanya sekedar pulang kampung, dia sudah sangat bahagia.


Dia tampak antusias, ceria dan bersemangat. Bahkan saat bangun, sudah tidak pakai drama lagi. Sekali sentuh, sudah bangkit dari tempat tidurnya.


“Ma, kita berangkat sekarang?”


"Iya, Sayang. Ayo siap-siap!"


Dia segera turun, menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan air hangat yang sudah disiapkan Aina.


Aina segera menyiapkan pakaian yang akan dipakai Iza dan juga beberapa baju ganti selama mereka di kampung.


Sambil menunggu Iza keluar dari kamar mandi, dia duduk sejenak di ranjang putrinya, merenung dengan apa yang akan dikatakan pada Bapak ibunya yang ada di kampung dengan kepulangannya. Tak mungkin dia menceritakan tentang masalahnya saat ini. Tapi dengan adanya Iza, apa yang mesti dikatakan pada orang tuanya?


Aina benar-benar bingung, duduk merenung seorang diri, hingga tak menyadari kedatangan Najib ke kamar itu.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?"


Dia segera menoleh pada pemilik suara yang kini sudah berdiri di tengah pintu. Lalu sesegera mungkin menghias bibirnya dengan senyuman tipis, membiaskan apa yang dirasakan saat ini.


"Aku bingung, Mas. Apa yang mesti aku katakan pada Bapak dan Ibu tentang Iza."


Najib mengambil nafas pelan, dan menghembuskannya secara berlahan pula.


"Katakan apa yang kamu ketahui. Lambat lain mereka akan tahu juga."


"Mas enak aja bilang begitu. Nggak memikirkan perasaan mereka."


"Setidaknya dulu Mas tidak bohong-bohong amat pada mereka."


"Maksud, Mas?"


"Sayang, apakah kamu tak melihat buku nikah kita?"


Aina diam dan menggelengkan kepalanya.


Dia memang tak begitu memperhatikan buku ini dengan teliti. Apalagi detail-detailnya. Dia benar-benar pasrah pada orang tuanya tentang lelaki yang akan menikahinya. Apa yang menurut orang tuanya baik, baiklah untuk nya. Husnudhon saja, tak mungkin orang tuanya akan menjerumuskan pada kesengsaraan.


"Dalam buku itu, statusku sudah menikah. Meski aku tak pernah cerita padamu, setidaknya dalam dokumen aku tak ingin menutupi kebenaran tentang diriku."


Aina agak terkejut, sesaat dia menatap Najib tak percaya.

__ADS_1


"Ternyata aku orang yang terakhir tahu," gumamnya lirih.


"Bukan. Aku juga tak tahu apa Bapak Ibu tahu atau tidak, karena Aku juga tak pernah cerita pada tentang rumah tanggaku saat itu. Jangan-jangan sama sepertimu."


"Mas pasti senang?"


"Andai seperti itu." Tampak sesal tergambar jelas di wajahnya.


"Apakah aku bisa mempercayai kata-kata Mas." Aina memilih untuk menutup hatinya pada Najib untuk saat ini. Dia tak mau lagi terjebak pada rasa yang nanti akan membuatnya semakin terluka.


"Maafkan aku, sudah membuat dirimu kecewa. Tapi berilah kesempatan untuk diriku untuk memperbaikinya."


Lalu Najib berjongkok di hadapan Aina, menatap wanita yang kini tertunduk sedih di hadapannya dengan tatapan memohon. Dia meraih tangan istrinya, mengusapnya dengan lembut.


"Maafkan, Mas ya ...."


Aina membuang muka. Dirinya tak bisa untuk menyembunyikan kekecewaannya. Bahkan air matanya sudah mulai menggantung di ujung matanya yang tertutup rapat.


"Aku ingin ketenangan saat ini, Mas."


"Baiklah. Aku percaya padamu, Sayang."


"Aku akan ungkapan apa pun itu pada Bapak Ibu."


Tak mungkin dirinya menghalangi keinginan Aina. Semua memang salahnya. Meskipun dia berharap Aina untuk bisa mengurungkan niatnya itu, bertahan sejenak untuk memberi kesempatan pada dirinya untuk memperbaiki keadaan ini. Dirinya tak mau berpisah dengan Aina. Dengan adanya atau tidak adanya Sheza di antara mereka.


Najib segera bangkit dan mengecup pucuk kepala istrinya sejenak sebelum meninggalkannya sendiri lagi. Dia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap juga.


"Maafkan Mas ya ...." Ungkapnya sekali lagi sebelum melangkah pergi.


Aina membiarkannya pergi dengan tatapan tak berdaya. Ingin sekali marah pada dirinya yang tak mungkin bisa untuk melakukan apa yang sudah dia ungkapkan pada Najib. Memberi tahu orang tuanya? Meskipun sudah diungkapkannya, tapi tak mungkin dia lakukan, karena dia tak akan pernah sanggup, membuat wajah-wajah orang yang disayanginya ikut terluka juga.


Aina mencoba membuang segala bayangan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Yang penting saat ini pulang lebih dulu. Masalah itu nanti sajalah. Yang jelas dia takkan mungkin berdusta kalau ditanya.


"Mama, aku dah selesai," teriak gadis kecil yang kini tubuhnya sedang dibalut handuk yang cukup lebar, menutupi tubuhnya dari dada hingga kakinyanya, menyisakan ujung kaki dan bahunya saja.


Senyum Aina mengembang sempurna. Lalu memberikan baju yang sudah disiapkannya yang disambut dengan antusias. Dia membantu memakainya sampai sempurna melekat di tubuh mungil itu.


"Mama kok nggak siap-siap?"


"Habis ini Sayang. Sini!"


Aina segera merapikan rambut dan merias sedikit wajah putrinya sehingga tampak lebih segar, sebelum kemudian mengajaknya keluar.

__ADS_1


"Mama mau ganti dulu, ok!"


"Beres," jawabnya dengan wajah berseri-seri sambil 2 jarinya diacungkan.


Aina segera menuju ke kamarnya. Sesaat kemudian dia sudah siap dengan baju santai dan juga rok lebarnya turun tangga bersama Najib dengan pakaian yang hampir senada yang dipadu dengan celana jins yang tidak panjang-panjang amat, sedikit di bawah lutut.


"Masyaallah ... Cantiknya putri papa," ungkapnya sesaat setelah melihat Iza yang tengah menanti mereka dengan asyik membuka buku cerita bergambar yang dia miliki.


Iza seketika tersenyum sempurna, hingga menampakkan gigi susunya yang putih, berjejer rapi di balik bibirnya yang merah alami.


"Alhamdulillah. Mama yang bikin Iza cantik," jawabnya dengan gembira.


"Kita minum susunya dulu. Biar hangat perut ini. Sarapannya nanti aja di jalan."


"Ok, Ma. Ayo."


Ketiganya segera menghabiskan minuman yang sudah Aina siapkan. Dan segera menuju ke tempat parkir dimana Suparman sudah menunggu.


Sepanjangan jalan Najib terus memperhatikan Aina. Dia tampak menghindari berinteraksi dengan dirinya. Dia lebih asyik bercanda dengan putrinya. Mungkin untuk mengalihkan masalahnya saat ini.


Bahkan Najib merasa, kepulangannya saat ini untuk menghindari dirinya.


"Sayang ..." Panggilnya lirih.


Tak ada jawaban. Bahkan meliriknya pun tidak. Najib benar-benar merasa diabaikan. Dia benar-benar cemburu. Aina hanya memperhatikan putrinya tanpa lagi melihat ke arahnya.


Dia menarik nafas panjang, lalu mencoba berkonsentrasi kembali dengan koran yang ada di tangannya.


Sulit untuk bisa merayu hati Aina yang sudah tersakiti. Niat untuk pergi dari kehidupannya tampak jelas. Bibir boleh tersenyum, namun itu semua tak bisa menutupi lukanya.


🌟


Tiba di rumah kedua orang tuanya, Aina tersenyum sumringah. Menunjukkan bahwa saat ini dia sedang bahagia.


"Ibu, maafkan Aina. Lama nggak pulang."


"Tak apa, Ndduk. Itu tanda kamu kerasan di rumah suamimu. Ibu bisa tenang kalau begini."


"Ya, Ibu."


Aina memeluk keduanya dengan hangat. Melepas kerinduan yang selama ini terpendam.


"Lha, ini siapa?"

__ADS_1


__ADS_2