Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Nasi Ampok


__ADS_3

Memang berat pilihan yang dia ambil saat ini. Tapi untuk menyatukan Aina dan Sheza dalam satu biduk rumah tangga, itu tak mungkin. Itu akan membuat Sheza akan semakin terluka. Sedangkan melepas Aina juga tak mungkin. Kurasa ini adalah keputusan yang terbaik, meski benar-benar berat.


Dia tak mau berharap mereka akan bersama lagi. Cukup hubungan mereka dalam mahligai cinta sampai di sini. Cerita sendu yang selalu menghiasi rumah tangga mereka memang seharusnya berakhir sejak dulu. Biar lah itu sebagai kenangan dan ambil pelajaran saja.


Dia tak mungkin lagi bisa mengembalikan hati yang sudah terluka menjadi utuh seperti sediakala.


Memang ini egois, tapi dia tak punya pilihan. Jika dipaksakan untuk bersama, dirinya khawatir kalau Sheza akan semakin terluka dengan keberadaan Aina di sisinya.


Saat ini yang bisa dilakukan hanya lah berdoa agar Sheza dan Iza baik-baik saja, dimana pun mereka berada dan dengan siapa mereka bersama kelak.


Ini berat untuk semua, namun dia berharap semua bisa bersabar melewati ujian ini.


“Kayaknya sebentar lagi mau subuh. Sayang nggak pingin ke kamar mandi.’


Aina mengangguk.


“Bismillah.” Ucapnya lirih. Tangannya berpegang erat di kedua telapak tangan Najib. Berlahan-lahan mengangkat tubuhnya agar bisa tegak berdiri. Dia melakukannya dengan hati-hati sekali. Ada buliran keringat dingin di dahinya.


“Dek, kamu nggak apa-apa, kan?”


Aina mengambil nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan. Sakiiiittt .. kuatkan ya Allah.


Najib hanya bisa meruntuki dirinya, kenapa tadi tidak mempersiapkan kursi rodanya dulu. Mana sekarang masih terlipat di pojokkan. Mau mengangkat tubuhnya, khawatir salah posisi.


“Bagaimana, Dek?” Dengan wajah cemas, dia menatap Aina yang mulai tampak tenang.


“Alhamdulillah,” Berlahan-lahan Aina mencoba berdiri tegak tanpa berpegangan pada tangan Najib lagi.


Najib pun bisa bernafas lega.


“Aku ambil kursi roda dulu.”


Aina mengangguk.


Setengah berlari, Najib mengambil benda itu serta mempersiapkannya agar siap diduduki, lalu membawanya ke hadapan Aina.


Dengan sangat hati-hati, dia membantu Aina untuk duduk dan mengantarnya ke kamar mandi. Dia benar-benar tidak tega untuk meninggalkan Aina seorang diri di tempat itu.


Meskipun sudah selesai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk ritual mandi, dia tak segera beranjak.


“Mas, keluarlah! Aku mau mandi nih.”


“Hari ini aku mandikan ya...”


“Tidak-tidak ... Malu ah.”

__ADS_1


“Kenapa mesti malu. Kita kan suami istri.”


Aina pun mengalah. Meskipun risih, malu, dia membiarkan Najib membantunya dalam menyelesaikan ritual mandinya serta mengganti baju basah yang dia pakai untuk mandi.


Setelah selesai, dia menuntutnya ke tempat tidur untuk bersiap siap melakukan sholat.


“Makasih, Mas.”Siapa yang tak bahagia bila mendapat perhatian penuh seperti itu dari suami tercinta.


Cukup dengan anggukan dan senyuman, sudah membuat Aina mengerti dan tenang untuk melakukan aktifitas selanjutnya.


Aina segera memakai mukena, menselonjirkan kaki, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang untuk melaksanakan sholat.


Kini Najib pun tenang. Ia segera mengambil sajadahnya, menyelimpangkan ke atas bahu, serta memakai lagi kopyahnya yang sesaat lalu ia letakkan di atas nakas.


“Aku tinggal ke masjid sebentar. Nggak apa-apa, kan?”


“Mas nggak usah khawatir, Aina baik-baik saja kok, Insyaallah . Hehehe” jawabnya tanpa dosa.


“ Aamiin ...” sahutnya sambil tersenyum.


Setelah semua dirasa sudah aman terkendali, ia pun meninggalkan ruangan, mengikuti suara azan subuh yang mulai mengalun dari masjid yang ada di lingkungan rumah sakit.


🌟


Saat kembali, ia mendengar samar-samar suara yang memang tak asing lagi baginya tengah mengalunkan lafadz ayat-ayat suci Al-Qur’an. Siapa lagi kalau bukan Aina.


“Assalamualaikummm...” Dia membuka pintu ruang perawatan yang kini di tempati Aina.


“Waalaikum salam. Tumben mas, lama.” Aina pun segera menutup Al-Qur’an dan meletakkannya di atas nakas, melepaskan mukena daei tubuhnya dan merapikan segera..


“Ya, jalan-jalan sebentar. Cari ini.” Dia Menunjukkan sebuah keresek putih. Sepertinya berisi 2 bungkus nasi.


“Sorry baru bisa penuhi keinginanmu sekarang. Meskipun telat, tapi setidaknya dedek bayi kita nantinya tidak ileran.”


Apa ya ... Mata Aina berputar-putar, mengingat-ingat kembali gerangan apa yang pernah dia minta pada Najib sebelumnya. Dia seakan tak sabar lagi ingin mengetahui isi bungkusan itu.


Najib mengambil piring dan juga sendok di dalam almari kecil di samping tempat tidur Aina. Satu piring dia berikan kepada Aina, sedangkan satu piring yang lainnya tetap dia letakkan di atas nakas


Mata Aina langsung berbinar saat tahu isinya.


“Masyaallah, Mas tahu aja kalau aku lagi pingin banget dengan nasi ampok. Makasih Mas.” matanya tak beralih dari isi bungkusan itu , seakan tak sabar lagi untuk melahapnya.


Aina tersenyum, teringat lagi tentang keinginannya yang dia ungkapkan dua hari yang lalu.


“Ada-ada saja, Mas ini. Itu bukan karena ngidam kok, tapi karena aku lagi kangen sama ibu bapak saja, masakannya juga sih, hehehe ...”

__ADS_1


“Insya Allah, Mungkin siang nanti mereka sudah tiba.”


“Benarkah?”


Najib mengangguk.


Ini surprise banget, seketika Aina menarik tubuh suaminya.


“Makasih, Mas.”


Kejutan kecil tiba-tiba mendarat di pipinya, lembut dan hangat.


Eeeee ... hampir saja Najib tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya mengikuti gerakan Aina. Untung saja tangannya langsung bisa meraih kepala ranjang. Tidak sampai menyebabkannya jatuh. Bisa berabe kalau mengenai perut Aina.


“Dek, Dek, Dek ... Jangan cari gara-gara deh. Ingat dedek di perut kamu loh.”


Aina tertawa lepas. Dia benar-benar tak berperasaan. Padahal dia tahu kalau dirinya diharuskan puasa saat ini. Nggak tahu apa kalau itu bikin jantung deg degan, bisa-bisa hilang kendali.


“Sudah. Aku mau buka jendela.” Ia mencoba melepas diri menjauh dari seseorang yang bisa membangkitkan keinginan untuk menyentuhnya lebih.


Udara pagi yang masih sangat segar, menyeruak dan berhembus lembut masuk ke dalam tempat peraduan mereka begitu jendela terbuka.


“Mas, makan bareng yuk. Takut nggak habis.” Wajahnya pakai ditekuk-tekuk, membuatnya makin gemas.


Benar-benar sang penggoda, ada-ada saja kelakuannya yang membuat diriku semakin gemas. Mungkin ini pengaruh hormon kehamilannya kali.


Tak apa ikuti dan nikmati. Daripada dia balik kepikiran dengan proses persalinannya yang tinggal menunggu hari. Yang ada malah membuatnya sedih.


Terus terang dirinya pun was-was. berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa. Dedek bayi bisa lahir dengan selamat, demikian juga ibunya.


Hilangkan semua pikiran yang bikin sumpek, sekarang nikmati apa yang ada di depan mata. Melihat dia makan dengan lahap, membayangkan makan bersama, sebungkus berdua. Wuaah ....


“Oke,” Najib segera mengambil sendok dan menemani Aina menikmati nasi ampoknya.


Tak terasa kalau satu bungkus telah habis, namun sepertinya rasa kenyang di perut belum terpenuhi. Sepertinya bungkusan yang kedua harus dibukanya juga. Hehehe ....


“Mas!”


Aina segera menghentikan Najib ingin memasukkan suapan itu ke dalam mulutnya, ketika terdengar pintu kamarnya diketuk.


“Assalamualaikum, Papa.” Terdengar suara anak kecil yang selama ini dia rindukan.


“Benarkah itu Iza?” kata Aina tak percaya.


Najib segera meneguk air mineral, baru kemudian membuka pintu.

__ADS_1


“Waalaikum salam,” Jawabnya sambil membuka pintu.


Sejenak dia terpaku menatap orang ada di depannya.


__ADS_2