Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Cemburu dan Kemesraan


__ADS_3

Setiap kali diriku ingin mengatakan kebenaran itu pada Aina, mengapa selalu saja terasa berat. Dia yang terlihat tulus menyerahkan cintanya padaku serta menyayangi putriku, membuat diriku tak tega melukainya.  Kalau boleh jujur, aku tak pernah sanggup mengatakannya. Biarlah semua berjalan apa adanya, sebelum aku sanggup memutuskan, apa yang terbaik bagi kita bertiga.


Najib memandang sejenak kedua wanita yang kini telah nyenyak tidur di sampingnya, sebelum dia ikut memejamkan mata.


🌟


Pagi ini terasa damai. Aina terlihat tak lagi teringat dengan perbincangan mereka semalam. Seperti biasa, dia memberikan senyum terbaiknya saat dirinya membuka mata, juga saat membantunya memasangkan dasi di lehernya.


“Mas mungkin pulang agak malam. Ada sesuatu yang ingin Mas kerjakan. Kamu tak apa-apa, kan?”


“Memangnya ada apa?”


“Ada seseorang yang harus Mas temui?”


“Sheza?”


Ternyata dia masih menyimpan curiga. Aku rasa berapa pun alasan yang kuberikan, tak mungkin bisa menghilangkan kecurigaannya.


“Ya, ada yang belum Mas selesaikan semalam.”


Aku tak ingin menyapu sinar cerah yang baru saja terbit di wajahnya yang ayu. Aku ingin jujur. Namun bila kabut kelabu mulai datang menghampiri, hingga memudarkan senyum tipis yang ingin selalu ku nikmati, aku seakan ingin merutuki, mengapa diriku tidak berbohong saja. Ya sudahlah ... Terlanjur.


“Sayang nggak apa-apa, kan?” Aku tak ingin dia cemburu meskipun dia berhak untuk itu.


“Atau Sayang mau ikut. Biar kalian bisa ngobrol?”


 “Tidak-tidak.”


“Mengapa?” Najib memandang wajah yang masih tampak mendung.


“Aku kok merasa ada hati yang cemburu ya ....” Ucapnya menggoda. Namun Aina tetap diam.


“Sayang, aku suka kamu cemburu. Itu berarti, ada alasan bagiku untuk menjaga perasaan kita saat  sedang berjauhan.” Najib menatap lekat manik mata wanita  yang kini tepat di hadapannya. Seketika membuat wajah itu merona dan menunduk karena malu.


“Maafkan Aku, Mas!”

__ADS_1


Satu sisi, Dia mengakui kalau saat ini sedang cemburu. Sisi yang lain, ia tak bisa menghindar dari pesona suaminya saat ini.


Cepat-cepat Aina memasangkan dasi untuk Najib. Agar dirinya bisa menghindar dari debaran jantungnya yang kadang berpacu tak beraturan, saat bertatapan langsung dengan Mas suami.


Setelah selesai, Aina segera berlari, akan keluar kamar.


“Hai! Kenapa lari menjauh, Sayang. Aku belum mengucapkan terima kasih padamu,” ucapnya sambil meraih tangan wanita halalnya.


“Maaasss ...”


Pada awalnya, dia hanya ingin memberikan kecupan kecil di pipinya, sebagai tanda terima kasih karena telah membantunya memasangkan dasi. Tapi karena Mecca berteriak, mau tak mau dia alihkan kecupan itu pada bibirnya yang menggoda.


Entah mengapa, bibir itu kini menjadi candu baginya saat ingin mengungkapkan rasa sayang pada kekasih halalnya. Apalagi kalau Aina menyambutnya dan meresponsnya dengan segenap hati dan perasaannya, membuat hasrat jiwa ini seketika ingin  membawanya dalam lautan cinta.


Mereka baru berhenti ketika terdengar pintu kamar  di ketuk.


“Sudah ah, Mas!” Aina berteriak lirih, sambil tangannya mendorong tubuhku menjauh darinya.


“Nanti malam ya ....”


Tak ada jawaban dari bibirnya. Hanya saja matanya membulat, menatapku setengah marah dan bersungut-sungut. Sesaat kemudian menunduk, tersipu disertai wajah yang merona. Siapa yang tak tahu kalau itu tanda setuju.


Najib segera membuka pintu, sebelum si empu yang punya jari kehilangan kesabaran. Cukup satu dua ketukan saja, untuk menghentikan aktivitas mereka yang hampir saja berlanjut.


Dia sudah menduga siapa yang berdiri di balik pintu. Gadis kecil dengan rambut diikat dua berhiaskan pita kecil di ujungnya. Berseragam putih dengan blezzer kotak-kotak yang semotif dengan roknya. Ada jilbab kecil yang kini masih dalam genggaman tangannya. Siapa lagi kalau bukan Iza, putri kecilku.


“Asyiiikkk ... Papa kesiangan antar aku ke sekolah. Sekalian libur aja , Pa.” Bukannya merasa sedih, Dia malah berteriak kegirangan saat melihat jarum jam dinding sudah bergeser beberapa menit dari biasanya mereka berangkat.


“Lah, kok senang ... nanti nggak pinter-pinter dong Kalau nggak sekolah.” Aina menatap lembut gadis kecilnya yang kini tampak tersenyum sempurna, sampai matanya terpejam, hingga lesung Pipit tampak nyata. Disertai dengan tawa yang renyah di telinga.


Setelah puas, dia pun mengungkapkan alasannya dengan wajah sendu.


“Iza sebel. Di sekolah selalu diolok-olok sama teman-teman. Kata mereka, Anak yatim-anak yatim. Iza jadi jengkel kan ... Padahal Iza punya orang tua lengkap.”


“Kenapa harus peduli apa kata mereka kalau itu tak benar. Kan, memang Iza punya mama Sheza dan Papa ....”

__ADS_1


Iza tak sabar lagi dengan kata-kata Aina. Dia berteriak dengan lantang, “Aku hanya punya papa.  Papa Najib! Mama Sheza bukan Mama Iza. Mama Sheza jahat!”


“Jangan gitu Sayang. Bagaimanapun Mama Sheza, dia tetap mama Iza, ya Kan?” Maksud hati ingin sedikit membuka hati putrinya. Tapi mana mungkin kata-katanya dimengerti Iza. Bahkan membuat Iza makin cemberut.


Iza sepertinya kurang nyaman dengan ucapan Aina baru saja. Dia pun meraih tangan Papanya. Menatapnya memohon dengan senyum yang teramat manis. Siapa yang tak tahu maksudnya apa. Selain ingin dimanja, juga menghindar dari nasehat Mama Aina. Bisa aja, Hehehe ...


Aina menyadari hal itu. Dan membiarkan putrinya bermanja pada suaminya.


Najib segera meraih tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Setelah Aina merapikan jilbab kecilnya yang menutupi hampir seluruh kepalanya, meninggalkan wajahnya yang imut, manis dan menggemaskan.


Di atas gendongan Najib, dia meneruskan aksinya. Menatap Najib dengan merajuk


“Ada apa?”


“ Kapan aku diantar Mama Papa ke sekolah.” Permintaan yang sangat mengiba. Membuat Najib terenyuh, lalu dia melirik sekilas ke arah wanita yang kini berjalan di sampingnya dengan tersenyum.


“Mama Sheza atau mama Aina?”


“Mama Sheza pasti nggak mau.”


“Lalu?”


Iza menempelkan bibirnya di telinga Najib sambil menunjuk Aina dengan jari mungilnya. Yang membuat Najib tersenyum.


“Oke. Papa bilang dulu pada Mama.”


“Mama Aina ikut antar Iza ke sekolah!” Perintah mas suami dengan nada yang tak menerima penolakan.


Lha ... Lha ... Lha ... Akhirnya dirinya yang diharuskan menjadi mama untuk Iza. Aina hanya bisa garuk-garuk kepala yang tak gatal. Namun demikian dia menganggukkan kepala dan tersenyum manis pada kedua makhluk menggemaskan di sampingnya.


Demi Iza, bolehlah berkorban sedikit pura-pura jadi Mama di sekolahnya. Agar Iza dapat bersekolah dengan tenang.


“Wah, Mama harus siap-siap dulu nich ... Nggak apa-apa kan, sarapan sama Papa saja?”


“Makasih, sudah mau jadi Mama Iza,” ucapnya kemudian.

__ADS_1


Tak memerlukan waktu lama, Aina untuk berganti pakaian dan juga sedikit menyapu wajahnya dengan taburan bedak tipis, agar tampak lebih segar. Setelah itu menemui mereka kembali di meja makan, menikmati selapis roti bakar dan juga susu yang sudah dia siapkan, sebelum berdiri mengikuti keduanya yang sudah terlebih dahulu menghabiskan sarapannya. Bahkan Najib kini sudah mencuci bekas peralatan yang sudah dipergunakan untuk sarapan sesaat yang lalu.


“Ayo Ma,” ajak Iza sambil meraih lengan Mama Aina.


__ADS_2