
Najib di rumah Sheza tidaklah lama. Selain karena Papa Arya tidak mau menemuinya, pikirannya tersandera dengan keadaan Aina yang saat ini tengah berbaring sendiri di rumah sakit. Untuk sementara dia hanya mampu menitipkan berkas-berkas perusahaan yang diamanahkan kepadanya kepada Sheza untuk diberikan kepada Papa Arya.
Sebelum kembali ke rumah sakit, Dia menyempatkan diri untuk bermain sebentar dengan Iza serta mengantarkannya ke tempat tidur. Kemudian dia pun berpamitan.
"Aku langsung balik. Nggak apa-apa kan?"
Sheza diam dan menunduk.
"Kak, maafkan Aku."
"Kamu nggak salah. Kakak yang salah karena telah menduakanmu tanpa sepengetahuanmu. Tapi kumohon jangan tambah beban kakak dengan melepaskan Aina."
"Mungkin ini salah satu cara Tuhan menegurku, karena selama ini telah mengabaikan kakak dan Iza. " Jawab Sheza dengan wajah sedih.
"Sheza ..." Suara papa Arya terdengar lantang dari dalam rumah. Dirinya sadar bahwa Arya tidak menghendaki dia berlama-lama meski hanya sekedar menyapa Sheza.
"Ya. Bentar, Pa." sahut Sheza dengan setengah berteriak.
"Kakak mau balik ke rumah sakit, kasihan Aina sendiri di sana." Pamitnya segera.
Sheza mengangguk. Lalu dia pun berbalik, memenuhi panggilan Arya. Demikian juga dengannya, dia segera melanjutkan langkah meninggalkan tempat yang selama ini menjadi tempat berteduh, saat kedua orang tuanya meninggal dunia, memenuhi panggilan yang Kuasa.
Saat dia memilih untuk hidup bersama Aina, mungkin itu adalah sebuah keputusan yang salah. Dia menyangka kepergian Sheza saat itu adalah untuk melupakan dirinya dan juga melepaskan ikatan di antara mereka. Tapi dugaannya itu tidak sepenuhnya benar. Ternyata dia kembali lagi. Bahkan Dia menunjukkan cintanya dan juga perhatiannya padanya dan Iza, serta lebih menghargainya sebagai suami. Jalan untuk cinta terbuka, Namun sayang dia telah menerima Aina sebagai cintanya.
Apa yang sudah terjadi tidak mungkin disesali. Saat ini, Dirinya hanya bisa menunggu keputusan Sheza tentang hubungan mereka, sambil berharap semuanya akan baik-baik saja. Memutuskan untuk bersama ataupun berpisah itu tidak mudah. Pasti meninggalkan bekas rasa sakit dan kecewa di hati masing-masing.
Meski dirinya berharap kalau Sheza tidak akan pernah lari dari dirinya, tapi dia tidak boleh memaksa kalau Sheza memutuskan untuk pergi dari kehidupannya. Karena memang sulit, sebagaimana dirinya kesulitan saat mendengar Sheza menyebut nama lelaki lain di hadapannya.
Di tengah perjalanan, dia menyempatkan diri mampir di sebuah masjid untuk berdiam diri sejenak sambil menunggu waktu shalat isya'. Agar dapat melakukan salat berjamaah di tempat itu juga, sebelum kembali lagi ke rumah sakit. Pada siapa lagi hendak mengadukan tentang masalah perkawinannya yang rumit ini, selain pada yang Maha Kuasa dan yang Maha Berkehendak atas segalanya.
Selesai melaksanakan shalat isya', Dia segera turun dari tempatnya bersujud menuju ke tempat parkir dengan hati yang lebih tenang. Ya ... dia pasrah dengan apapun yang akan terjadi.
Sampai di rumah sakit, Dia segera menuju ke tempat Aina dirawat. Art yang dia tugaskan untuk menemani Aina masih terjaga di samping ranjang, dengan mukena yang belum lepas dari tubuhnya. Jari-jari tangannya membelai lembut perut Aina yang terlihat dalam keadaan tertidur.
"Dek Aina kenapa Mbok?"
"Mbok tidak tahu, Den. Hanya tadi Non Aina bilang, kalau perutnya sakit."
__ADS_1
"Sudah panggil perawat?"
"Sudah. Mereka bilang tidak apa-apa."
"Alhamdulillah. Sekarang mbok boleh pulang. istirahat di rumah. Besok pagi jangan lupa ke sini, menemani istriku lagi. Agar tidak kesepian karena aku juga harus ke kantor setelah USG besok."
"Ya, Den." Dia segera melepas mukenanya dan merapikannya, lalu menyimpannya di sebuah tas kecil yang dibawa sebelumnya..
"Assalamualaikum," pamitnya.
"Waalaikumsalam. Jangan naik kendaraan umum, Mbok! Ini sudah malam. Tunggu Parman, sebentar lagi dia akan datang."
"Iya Den." jawabnya sambil berlalu dari kamar.
Sepeninggal art-nya, dia meneruskan apa yang telah dilakukan si mbok pada Aina. sekali diselingi dengan meniup kepala istrinya dengan lembut. Lama-lama membuat Aina terusik hingga dia pun membuka mata.
"Mas kapan pulang?"
"Barusan." Sambil menyibak jilbab yang menutupi wajah istrinya.
"Sudah shalat isya, Yang?"
"Ayo, ku antar berwudhu."
Aina mengangguk. lalu dia pun memposisikan dirinya untuk duduk dan meraih leher suaminya agar memudahkan bagi Najib untuk membawanya ke kamar mandi.
"Mas, keluar dulu ya!" pinta Aina setelah Najib berhasil mendudukkan dirinya di kursi yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Baiklah. kalau sudah selesai panggil Mas!"
"Ya."
Dia segera keluar dan menunggu di balik pintu dengan sabar. Begitu dia tidak mendengar suara gemericik air, dia langsung mengetuk pintu. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Aina.
"Dek, kamu nggak apa-apa?"
Tak ada sahutan dari dalam. Membuat dirinya semakin khawatir. Dia pun membuka pintu kamar mandi dan langsung masuk. ia mendapati Aina sedang menggigit bibir, seakan menahan sakit.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Dek?"
Setelah mengambil nafas panjang beberapa kali, Aina meraih tangan Najib.
"Nggak apa-apa Mas. Maaf, sudah merepotkan Mas."
"Benar nggak apa-apa?" tanya Najib khawatir.
Aina pun bangkit, minta agar segera di bawah keluar. Meskipun dia belum pernah merawat orang hamil yang seperti ini, setidaknya dia punya pengalaman merawat orang yang pernah melahirkan, sepertinya tidak jauh beda dengan Sheza waktu melahirkan Izza. Sehingga dia tidak canggung lagi untuk merawat Aina kali ini.
Dia segera membopong Aina ke ranjang, dan menunggu Aina dengan sabar yang sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat isya.
"Mas tunggu di sofa saja. Mas juga perlu istirahat." pinta Aina.
"Oke. kalau shalat duduk terasa sakit, nggak apa-apa kamu shalat sambil tidur, Yang."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku shalat begini saja." sambil menyandarkan kepalanya di dinding ranjang.
"Ya sudah aku tinggal." Dia menuju ke arah sofa yang terletak sisi lain ruangan ini. Dan mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, sambil melirik sesekali ke arah Aina yang sedang melaksanakan shalat.
"Mbok mana?" tanya Aina begitu selesai merapikan alat-alat shalatnya dan berbaring di tempat itu juga.
"Sudah Mas suruh pulang. Biar dia beristirahat di rumah saja. Kalau di sini, kasihan mau tidur di mana?" Merasa Aina tidak baik-baik saja, Dia pun segera mendekat dan mengusap dengan lembut perut Aina yang sudah kelihatan membuncit.
"Masih sakit?"
"Makasih, Mas. Sudah enakan." sahut Aina.
Dia tetap mengusap perut Aina sampai tertidur. Tak lama dia pun ikut tertidur pula.
🌟
Esok paginya, Najib membawa Aina ke ruangan obgyn menemui dokter Ana, untuk melanjutkan pemeriksaan terhadap kandungannya.
Berapa kali dokter Ana menghela nafas berat saat melihat apa yang terpampang dalam monitor.
"Ada masalah, Dok?"
__ADS_1
"Sepertinya ibu mengalami kehamilan Ektopik."
"Maksudnya?" ....