
Sudah beberapa kali handphone itu berdering, namun tak juga diangkatnya. Sepertinya Najib sengaja membiarkan, sampai orang yang menelepon di seberang sana lelah sendiri. Tak biasanya Najib bersikap begitu.
Suasana hati Aina yang sesaat lalu sedikit lebih tenang, kembali terusik dengan sikap Najib yang cuek-cuek saja dengan benda pipih itu.
“Mas!”
“Biarkan saja.”
orang ini benar-benar tak tahu bagaimana dirinya sangat terganggu.
“Jangan gitu, Mas. Siapa tahu penting.”
“Ada Sheza,”jawabnya singkat, padat dan jelas. Oh ... pantas saja. Tapi tidak sebegitu kali ....
“Memang siapa yang telepon.”
“Mbok Minah,” jawabnya acuh.
Lho kok ....
Aina menjadi cemas sendiri. Tak mungkin mbok Minah akan telepon majikannya kalau tak ada sesuatu yang sangat penting. Jangan-jangan ini soal Iza. Tapi sepertinya Najib tak peduli.
Aina jadi gemes. dan juga kesal. Mengapa manusia di sampingnya tak tergugah juga. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Iza. Aina sangat khawatir. Apalagi saat ingat kejadian siang tadi, saat Sheza membawa Iza secara paksa. Jangan-jangan Sheza melakukan kekerasan pada Iza. Tidak-tidak ... Dia ibu kandungnya.
Aina mencoba tenang dan berusaha mengabaikan panggilan seperti yang dilakukan suaminya. Tapi dia hanya bisa bertahan beberapa saat. Kembali dia menatap Najib dengan penuh tanya. Apakah dia sengaja? Atau apa ... dia tak mengerti dengan sikap suaminya kali ini.
Kesabarannya kini sudah hilang. Dia langsung mengambil handphone yang tergeletak di samping Najib.
“Maaf Mas.” Dia mengambil handphone itu dengan wajah datar tanpa senyum. Justru menampilkan wajah yang dilipat. Tampak sekali kalau dia sedang kesal.
Najib tak bisa melarangnya. Seolah-olah dia sengaja agar Aina berbuat seperti itu. Dia tersenyum. Begitu sangat tipis hingga sama sekali tak terlihat oleh Aina.
“Sama putrinya kok gitu, sih.”
Aina tampak manis kalau sedang mengomel. Membuat Najib tersenyum sedikit lebih lebar. Mentertawakan sikap istrinya yang sangat peduli pada Iza.
Padahal, Najib mengabaikan panggilan Mbok Minah saat ini bermaksud ingin memberikan waktunya yang cukup untuk Aina seorang. Namun sayang yang diberi perhatian justru memikirkan orang lain, dengan mengabaikan perasaannya sendiri. Dia seakan terlupa dengan tangis yang sesaat lalu masih terdengar, bahkan bekas air matanya pun masih tampak jelas.
Tapi mengapa justru malah Aina terusik dengan telepon dari si mbok. Mau geleng kepala kok tak sopan. Untuk Aina, senyum yang teramat indah dia berikan, sebagai ungkapan bahwa dirinya teramat bahagia dengan respons Aina pada Iza.
Ternyata kamu ibu yang baik untuk putriku. Jangan salahkan aku bila ada rasa kehilangan jika kamu pergi dariku. Kamu terlalu istimewa untuk bisa lari dari ingatanku. Perhatianmu pada putriku melebihi perhatianku padanya. Makanya tak salah bila Iza menyebutmu Mommy dengan rasa bangga.
Najib memperhatikan Aina yang mengangkat teleponnya, dengan senyum indah tersungging di bibirnya.
“Assalamu’alaikum, Mbok. Ada apa?”
Sayup-sayup Aina mendengar tangisan Iza di seberang sana. Sejenak dia menengok pada Najib.
“Waalaikum salam. Den Najib ada, Neng.”
__ADS_1
“Ada, Mbok. Sebentar!”
Aina segera memberikan handphone itu. Namun segera ditepis oleh Najib.
“Terima saja. Toh, sama saja antara aku dan dirimu, Yang.”
Dengan mata mendelik, dia pun melanjutkan percakapannya dengan mbok Minah. Tapi terlebih dahulu me-loadspeaker handphone-nya. Agar manusia sok tak peduli itu mendengarnya juga.
“Nggak apa-apa ngomong sama aku, Mbok.”
“Baiklah, Neng. Itu ... Non Iza dari tadi nangis, mau minta pulang ingin ketemu sama papanya. Dari tadi siang nggak mau makan.”
“Mbak Sheza ke mana?”
“Sedang cari makanan di luar.”
Aina menengok Najib, Najib hanya diam. Dia terlihat gelisah.
Ingin sekali Najib segera menyuruh Suparman untuk berbalik arah menuju ke rumahnya kembali, begitu mendengar tangisan Iza di seberang sana. Telinga ini sudah terlalu panas. Tapi dirinya sudah terlanjur berjanji, kalau waktunya sekarang untuk Aina seorang. (Janji dalam batin, yang pasti tak mungkin diungkapkan pada orangnya. Entar jadi GR).
“Bisa aku ngomong sama Iza, Mbok?”
“Ya ... ya, Neng.”
Terdengar langkah kaki orang yang berjalan dengan cepat di handphone.
“Bisa-bisa Neng.”
Tergambar dengan jelas kalau Iza saat ini tengah sesegukan bersandar di kepala tempat tidur dengan memeluk guling.
“Assalamu’alaikum, Sayang. Kenapa putri mama kok nangis?”
“Waalaikum salam. Aku laper Ma. Aku nggak bisa tidur,” jawabnya lemah.
“Mama Sheza nggak masak?” tanya Aina hati-hati.
“Masak. Tapi Mama Sheza bikin telur ceploknya gosong, nggak kayak mama. Iza nggak suka ... Mama marah-marah.”
“Lalu sekarang mau apa?”
“Aku mau pulang ke Papa. Boleh ya, Ma? Bilang ke Papa, suruh jemput aku ya.”
“Ya, Sayang. Insyaallah Papa akan segera jemput Iza. Sabar ya ....”
“Janji!”
“Iya, Janji. Jangan nangis lagi ya ....”
“Ya, Ma ....”
__ADS_1
“Dah, Sayang. Assalamualaikum ... Muaaachhh.”
“Waalaikum salam. Muaaachhh...”
Aina segera menutup handphone itu. Dia menyerahkannya ke Najib dengan wajah lesu.
“Kita balik lagi, Mas. Kasihan Iza.”
“Kamu nggak apa-apa, kan?”
Dia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak apa-apa, Mas.”
Meskipun bibirnya setuju kalau mereka kembali, tapi Najib bisa merasakan Aina sedang menekan egonya demi Iza. Terlihat dari raut mukanya yang masih dingin dan tegang.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Najib, disertai dengan kecupan kecil di pucuk kepalanya.
Aina ingin menepis, tapi tak dapat dipungkiri kalau sentuhan kecil dari Najib, memberi rasa tersendiri baginya. Merasa nyaman dan dicintai.
“Man, kita balik lagi!” pinta Najib pada Suparman.
“Baik, Den.”
Tanpa banyak kata, Suparman keluar pintu tol dan balik lagi ke tol menuju arah jalan yang sudah ditinggalkan.
“Yang, ke apartemen dulu atau langsung jemput Iza?” Tanya Najib ketika mereka sudah memasuki kota.
Bagaimana pun Najib harus mempertimbangkan perasaan Aina. Khawatir kalau dia belum siap bertemu Sheza.
“Nggak apa-apa, Mas. Kita jemput Iza dulu, kasihan Iza. Dia mungkin akan marah, kita tak segera menjemputnya.”
“Baiklah.”
Tak berapa lama, mereka sudah sampai di rumah yang tadi siang Aina datangi, meski tidak sampai masuk ke rumah itu. Hanya melihatnya dari balik kaca mobilnya.
Setelah mobil itu berhenti, tangannya segera meraih ganggan pintu mobil. Dia sudah tak sabar, ingin segera membawa Iza kembali.
“Yang, Kamu tunggu di sini saja,”
"Kenapa, Mas? Aku takut ada apa-apa dengan Iza.”
Bagaimana mungkin Najib akan mengizinkan mereka bertemu, sedangkan baru tadi siang mereka sudah terlibat percekcokan hebat di depan putrinya. Sesuatu yang selama ini Najib hindari.
“Percayalah pada Mas.”
Aina mencoba tenang, kembali duduk bersandar dan membiarkan Najib keluar dari mobil.
🌟
di dalam rumah Najib mendapatkan Iza duduk di meja makan dengan piring yang isinya sudah acak-acakan. Dia menyendok makanannya dengan menangis di bawah tekanan Sheza.
__ADS_1