
“Assalamualaikum, Pak.” ucap salah seorang OB-nya sambil melirik ke arah Aina. Bukan maksud hati menggoda, namun lebih pingin minta penjelasan. Agar teman-teman tak lagi kasak-kusuk tentang bos, yang selama ini dia kenal baik-baik saja.
“Dia istriku,” Jawabnya tegas. Tak ingin mereka memandang rendah wanita di sampingnya. Apalagi menjadi bahan ghibahan yang tak baik di antara karyawan-karyawannya.
Aina memakluminya. Dia tetap berusaha tenang dan tersenyum saat berpapasan dengan karyawan-karyawan di kantor itu. Meskipun diakui kalau dirinya masih sedikit canggung apalagi tangan Najib yang tak pernah melepaskan genggamannya.
“Maaf, Pak.” Membuat OB itu langsung tertunduk. Dia mundur teratur, menghilang dari pandangan Najib. Kini semua sudah jelas. Tak perlu ikutan berghibah ria seperti yang lainnyaMau dipecatkah dirinya kalau sampai berlaku kurang baik pada istrinya bosnya.
“Kerjakan tugasmu!” Najib terlihat kesal menghadapi pegawainya yang sok usil itu. Untung wanita di sampingnya mampu meluluhkannya segera.
“Maafkan mereka, Sayang. Mereka terlalu kepo tentang kita.”
Mungkin suatu hari nanti, Najib perlu mengadakan pesta kecil-kecilan dengan mengundang mereka semua, agar tak terjadi kesalahpahaman di antara mereka lagi.
🌟
Hari ini tak ada kegiatan yang berarti untuk dikerjakan. Sheza hanya bermalas-malasan saat selesai melaksanakan sholat subuh. Walaupun ada sedikit keinginan untuk menghubungi teman-teman sosialitanya, namun segera dibuangnya jauh-jauh. Kak Najib tak suka dengan mereka dan gaya mereka. Bisa-bisa niatnya awal dia kembali ke kota ini menjadi berantakan.
Satu keinginan yang sudah dia niatkan sejak akan menaiki pesawat akan kembali ke kota ini. Yaitu memperbaiki hubungannya dengan Iza dan Najib.
Sendiri ... Itu yang dialami Sheza saat ini. Bila hari-hari yang lalu kesendirian tak membuat dirinya terusik, kini baru terasa bahwa kesendirian ternyata menyakitkan. Tak ada yang mengomelinya, atau memercikkan air di wajahnya saat kedapatan tak bangun-bangun waktu subuh terlewatkan.
Kenapa dia baru menyadari sekarang, setelah sekian lama mengabaikan kehadiran putrinya dan juga Najib, Kakak angkatnya dan juga telah menjadi suaminya selama lima tahun ini.
Mungkinkah dirinya sudah terlambat. Mengingat kata-kata Najib semalam. Ada orang lain yang sudah menggantikan dirinya. Aina ... Wanita itu bernama Aina. Yang sudah mengisi hati Najib, suami sekaligus kakak angkatnya.
“Mbok kenal Aina?”
Mbok Minah sedikit banyak tahu tentang Aina. Wanita yang telah menemani non Iza saat sakit kemarin. Tapi untuk mengatakan yang sebenarnya, Dia tak tega. Segeram apa pun kemarahan pada Sheza, dia tak mampu berkata yang bisa membuat majikan perempuannya itu terluka.
“Aina ... Sepertinya mbok pernah dengar. Tapi siapa ya ... Mbok kok ingat-ingat lupa.” Dia diam berfikir sejenak.
__ADS_1
“Entahlah, Den Ayu. Mbok sudah tua. Sering lupanya, daripada ingatnya.”
Den Ayu, panggilan Mbok Minah untuk Sheza, majikan perempuannya.
“Nggak apa, Mbok.” Kasihan juga memaksa mbok Ima mengingat sesuatu yang mungkin sulit baginya. Sheza pun manggut-manggut.
“Kak Najib apa pernah pulang ke sini, Mbok?”
“Hmmm ... Pernah, meski tak sering.”
“Iza?”
Mbok Minah tertunduk sedih lalu menggelengkan kepalanya.
Sheza seketika melepaskan pisau plastik yang dipergunakan untuk mengoles selai pada lembaran rotinya. Dia menunduk, menopang dagu, dan pandangannya kosong. Sesaat kemudian ada buliran embun menetes dari sudut matanya.
“Aku banyak salah sama dia, Mbok,” ucapnya kemudian.
“Mbok, sepi ya ... rumah ini tanpa Iza.”
“Iya. Mbok juga rindu non Iza “
Sheza melihat jam sudut yang sudah menunjukkan hampir pukul delapan tepat. Semoga Iza belum masuk kelas. Dia segera menghabiskan susunya dan memakan satu lembar roti yang sudah diolesinya dengan selai.
Dengan setengah berlari, dia kembali ke kamarnya, menyambar kunci mobil dan juga tas kecilnya.
“Mbok, aku pergi dulu ya ....”
“Ke mana, Den Ayu?”
“Mau tengok Iza, Mbok.”
__ADS_1
“Hati-hati, Den Ayu.”
Dia segera menuju garasi, menghidupkan mesin mobilnya. Berjalan berlahan meninggalkan rumahnya. Begitu sampai di jalan raya, dia segera menambah kecepatan agar segera sampai ke sekolah Iza.
Bersamaan dia datang, terlihat mobil Najib berhenti di depan gerbang sekolah. Syukurlah, dia tidak ketinggalan. Dia bisa menjumpai Najib dan Iza sekaligus.
Hampir saja dia membuka pintu mobil, tapi seketika diurungkannya. Ketika melihat Aina bersama-sama keluar dari dalam mobil suaminya.
Ada keinginan untuk menghampiri mereka. Tapi kembali bayangan saat dirinya meninggalkan Iza begitu saja, menari-nari di pelupuk matanya. Dia tak lagi punya keberanian untuk menemuinya.
Dia segera menghidupkan mobilnya kembali, menjauh dari tempat itu, sebelum mereka mengetahuinya. Ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Lihat mereka bermesraan di depan mata, seakan ingin melabraknya saja. Tapi nanti dulu ...
Di sana ada Iza, putrinya. Kalau dia keluar sekarang, apa tanggapan putrinya kelak. Apalagi terlihat Iza bahagia bersama Aina. Satu sisi Dia amat menyesal, kenapa semua baru disadari ketika semua sudah meninggalkannya. Sisi yang lain, hatinya bergemuruh dibakar cemburu. Ini sangat menyakitkan.
Sampai di rumah, segera dia ambil air minum dari dalam kulkas. Meminumnya dengan cepat hingga satu botol habis tanpa sisa dalam satu cegukan.
“Den Ayu, tak apa-apa kan?”
“Aku baik-baik saja, Mbok.”
Sheza menuju ke meja makan dan menyendok nasi dengan ukuran besar ke dalam piringnya. Begitu juga dengan lauk pauk yang tersedia di meja makan. Hampir semuanya di ambilnya. Lalu memakannya dengan sedikit kesal sampai semuanya habis tanpa sisa.
“Den Ayu ....” Mbok Minah benar-benar dibuat terkejut dengan ulah Sheza baru saja. Tak biasanya dia bersikap seperti itu terhadap makanan. Untuk menyentuh pun kadang enggan. Tapi hari ini jauh dari kebiasaan. Hampir semuanya yang ada di atas meja, ludes.
Senang sih, senang. Masakannya menjadi berarti. Tapi kalau caranya seperti itu, apakah menyehatkan.
“Den Ayu tidak sedang marah, kan?”
“Aku akan marah kalau Mbok Minah masih memprotesku.”
Seketika mbok Minah diam. Dia berlalu menuju dapur meninggalkan majikannya yang masih tampak kesal. Pada siapa ... bukan urusannya..
__ADS_1
Setelah selesai dia kembali ke mobilnya. Satu tujuannya saat ini. Ke apartemen suaminya. menyelesaikan persolan yang sudah mengacak-acak suasana hatinya saat ini.