Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Ijin Kakek


__ADS_3

Tanpa berkata apapun, Sheza segera meraih kunci mobil dan keluar ruangan, meninggalkan Najib yang terpaku seorang diri.


Najib baru sadar saat bunyi pintu ruangan itu bergeser. Dengan langkah lebar, dia segera menyusulnya.


"Tolong kak, jangan mengatakan itu lagi." Suaranya lirih, sangat terasa kalau sedang menyimpan lara.


" Maafkan aku, Dek. Aku benar-benar nggak ada niat menyakitimu." Satu kecupan kecil dia berikan di pucuk kepalanya berharap Sheza akan baik-baik saja. Namun Sheza diam, tak ingin merespon semua perlakuannya.


Ya ... Bagaimana akan meresponnya, yang ada, dadanya kini sesak, mengingat keberadaan Aina yang ada di antara mereka.


Andai dia bukan wanita kuat, mungkin embun di ujung matanya akan menetes. Dia sangat terluka.


Mereka berjalan dalam diam, sampai tiba di tempat parkir.


"Pakai mobilku saja, Kak. Biar Papa nggak curiga."


"Makasih, Dek."


Terlebih dahulu dia membukakan pintu untuk Sheza, sebelum dirinya ke tempat duduk yang ada di belakang kemudi.


"Kak, aku ingin ngomong." Pinta Sheza, sesaat Najib menghidupkan mesin mobil.


"Tentang apa?"


"Kak, aku berencana ikut Papa ke Australia."


Najib mengernyitkan dahi.


"Mengapa pergi, Dek."


"Mungkin dengan jauh darimu, aku bisa berfikir jernih dengan apa yang menjadi keputusan kakak yang tak bisa meninggalkan Aina."


Najib mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia tak mampu berkata apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah menepikan mobilnya lalu mematikan mesin.


"Dek, Apakah ini berarti kita akan berpisah untuk selamanya?" tanya Najib dengan raut wajah bingung dan sedih.


"Aku tak tahu. Yang pasti, rasanya aku belum sanggup bila harus berbagi dengan wanita itu, Kak."


Apa yang dia takuti, akhirnya terjadi juga. Jika dia memilih Aina, Sheza akan pergi. Tapi bila memilih Sheza, dia sungguh takut menjadi laki-laki yang tak bertanggungjawab. Bagaimana dia akan menghadapi ke dua orang tua Aina.


"Jika keinginanmu ke Australia untuk menenangkan diri, aku tidak apa-apa. Asal jangan karena si brengsek itu kamu meninggalkanku."


"Tidak, Kak. Aku sekarang telah mengerti soal dia. Tak kan ada lagi tempat untuknya. Maafkan kesalahanku yang dulu dibutakan oleh cinta." Kata-kata yang menyejukkan, membuat Najib terkesima. Dia sejenak menatap Sheza mencari kebenaran dari ucapannya.


Dia pun tertawa kecil, mengusap kepala Sheza, mencoba untuk percaya.


"Ya, Kakak percaya. Kakak mengijinkanmu pergi sama papa. Dengan begitu kita sama-sama bisa berfikir jernih tentang masalah ini."


"Terima kasih, Kak. Aku bawa Iza sekalian, ya?"


Baru saja dirinya akan menghidupkan mesin mobil, dia harus dikejutkan dengan permintaannya lagi.


"Lho, kok?"


"Beri Aku kesempatan untuk menebus kesalahanku pada Iza, Kak."

__ADS_1


Bukan masalah kesalahan atau bukan. Tetapi Dengan kepergian Iza, pasti dirinya akan merasa kehilangan.


Berpisah beberapa hari saja, sudah membuatnya tersiksa, apalagi kalau dalam waktu yang lama, ia tak tahu apa yang akan dirasakannya nanti.


Dengan sedikit kesal, Najib kembali menghidupkan mesin mobil.


"Dek, apa kamu tega memisahkan aku dengan putriku. Ini sama dengan kamu menyiksa diriku, Dek." Najib menjeda perkataannya dengan mengambil nafas panjang.


"Ya, Aku sadar. Iza bukan putri ku. Tapi kumohon jangan pisahkan aku dengan dia." gumamnya lirih yang membuat Sheza merasa iba.


Ini menunjukkan kalau Najib benar-benar menyayangi putrinya, meski tahu dia bukan darah dagingnya. Dia punya cinta yang tulus.. Bagaimana dengan cinta yang diberikan padanya, apakah juga tulus?"Sheza takut untuk tahu. Karena dia sadar semua terjadi juga karena kesalahannya.


Dia tak mau memanfaatkan putrinya untuk keegoisannya semata. Bisa jadi ini akan membuat putrinya kembali terluka, dan dia tidak mendapatkan apa-apa, bahkan hanya rasa sakit semata.


"Kamu kok tegaan amat sama aku sih, Dek. Apa Kamu nggak yakin kalau Iza akan baik-baik saja sama aku." pintanya kemudian.


Shesa tersenyum simpul melihat Najib yang tak lagi bisa menutupi apa yang dirasakannya saat ini. Tampak wajahnya menegang dan sorot matanya sayu menahan sedih


"Papa pasti tidak mengizinkannya. Dan lagi Kakak harus merawat Aina, kan." Jawabnya dengan pasti, yang seketika membuat Najib mendengus kesal.


"Okelah kalau gitu. Cuman jangan halangi kita berkomunikasi, Dek."


"Iya akan aku usahakan, Kak. cuma kalau Papa nggak membolehkan, ya terpaksa ..." godanya.


"Kamu ini, bener-bener ngeselin lho, Dek."


Hahahaha ... Rasanya baru kali ini Sheza bisa tertawa lepas, melupakan kesedihan yang sedang dirasakan, dengan melihat suaminya merajuk seperti anak kecil. Benar-benar menggemaskan.


Ingin memberi kecupan kecil di pipi, namun urung saat melihat bayangan Aina yang hadir di antara mereka.


Mengapa harus ada dia, sih. Astaghfirullah al adzim ....


"Oh iya Kak selama aku pergi, titip perusahaanku." Dia mencoba mengalihkan bayangan yang mengusik angannya.


"Siiiiip, lah. Bentar lagi aku kuasai perusahaanmu."


"Jahatnyaaaa." Sambil memukul pundak Najib keras dan berkali-kali, membuat Najib meringis.


"Dek, Dek, aku lagi menyetir ini."


"Biarin ... ngeselin banget Kakak nih. Tapi nggak apa, habis itu siap-siap saja Kakak masuk penjara. Dan lupakan soal Iza."


"Kamu mengancam, Dek?"


"YA." Ucap seza dengan penuh penekanan.


"Ingat lho Kak, Iza!" imbuhnya.


Najib geleng-geleng kepala. Tak bisa mengancam dirinya, dia bawa-bawa putrinya juga. Mati kutu, dirinya kalau begini.


"Sendiko dawuh, tuan putri kesayangan papa Aryaaa ..." ucap Najib sambil mematikan mesin mobilnya di tempat tersembunyi, meski masih di halaman rumah utama.


"Sekarang silahkan keluar, Tuan putri. Jangan lupa kembali dengan putrimu yang cantik itu, ok."


"Lebay ..." sahutnya sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


Meskipun agak cemburu, tapi kok ya lucu. Tak pantas lah dia cemburu pada Iza. Anak sendiri gitu lho. Tapi kalau Aina ....


Idiiiiih, Aina lagi ... Aina lagi. Kapan dia bisa menghilangkan bayangan Aina dalam pikirannya.


Kali ini, dia harus bisa memanfaatkan moment-moment kebersamaan dengan suami dengan sebaik-baiknya tanpa bayang-bayang itu. Mumpung mereka masih bisa bersama. Untuk ke depannya, dia tak tahu akan bagaimana ....


"Assalamualaikum ..." Sheza langsung masuk, menemui putrinya yang tengah asyik bermain bersama papa Arya.


"Wa alaikum salam. Mama." Ucap Iza dengan senyum ceria tanpa dipaksakan.


Tanpa ragu, dia menghampiri Sheza . Keduanya bertos ria dengan mengepalkan tangan. Ditutup dengan kecupan pipi, dahi dan pucuk kepala.


Untuk yang satu itu, dia harus membiasakan diri. Hal yang tak pernah dia lakukan, harus dilakukan. Agar hati putrinya kembali ia miliki.


Tak ada lagi ketakutan yang biasa tampak saat ia bersamanya seperti waktu-waktu dulu, ketika belum menyadari betapa berartinya Iza bagi dirinya. Apa ini karena didikan Aina?


Aina lagi ... Aina lagi. Bisa stress pikiranku kalau setiap sesuatu yang terjadi pasti terhubung dengan yang namanya Aina. Menyebalkan ....


"Hai Sayang, mama mau ajak kamu makan di luar. Gimana?"


"Beneran, Ma. Boleh, boleh." Jawab Iza senang.


"Ijin sama Kakek dulu."


Dengan senang hati, Iza menghampiri kakeknya.


"Kakek aku mau makan siang sama mama di luar."


Arya mengerutkan dahi. Tak biasanya Sheza mengajak Iza makan siang di luar. Ada apa ini?


Dia benar-benar curiga. Jangan-jangan ....


"Kakek boleh ikut, nggak?"


"Eeeee ..." Iza menengok mamanya.


"Maaf, Pa. Aku pingin ajak Iza jalan-jalan juga. Menghilangkan traumanya. Aku khawatir papa nanti kecapekan kalau ikut."


Sekedar menghindar dari alasan yang sebenarnya. Kalau sampai papa Arya tahu, bisa berabe.


"Ya, bolehlah. Tapi hati-hati, jaga putrimu baik-baik."


Syukur Alhamdulillah, papa Arya mengijinkan, tidak bertanya macam-macam.


"Baik, Pa."


"Makasih, Kek."


"Assalamualaikum."


"Wa alaikum salam."


Keduanya melangkah dengan tenang meninggalkan Arya yang masih penasaran.


Beberapa saat kemudian, Arya pun ikut keluar, melihat keduanya berjalan ke mobil yang sudah mulai dihidupkan mesinnya. Begitu keduanya masuk, mobil itu segera berlalu, menghilang dari halamannya.

__ADS_1


Oooooohhhhh ....


SHEZAAA ... NAJIIIIB ... BERANI-BERANINYA KALIAN MEMPERMAINKAN ORANG TUA ....


__ADS_2