
“Mungkin ada yang harus diselesaikan, Pa.”
Najib mencari-cari alasan, agar Arya tidak semakin kecewa pada Sheza, putri satu-satunya itu. Meskipun dalam hati dia pun marah dengan sikap istrinya, tapi dia masih mempunyai rasa kasihan pada Sheza jangan sampai mendapat kemarahan orang tuanya juga.
“Pergi? Anak lagi sakit. Alasan saja!” Arya geleng-geleng kepala. Dia tak hanya jengkel, tetapi juga kesal dan sedih campur aduk jadi satu. Hingga tak tahu lagi apa yang mesti dikatakan untuk meluapkan kekesalannya pada putri satu-satunya itu.
“Tidak apa-apa, Pa. Dia mungkin masih ingin bebas berkarir. Najib tak keberatan kok." Najib mencoba menghibur, meskipun dirinya pun tak rela dengan yang dilakukan Sheza.
“Maafkan Papa, Nak. Kamu yang sabar ya.”
“Insya Allah, Pa. Najib akan berusaha sabar."
Sabar ... mungkin kata-kata itu yang perlu dipertanyakan di hatinya saat ini. Apakah masih ada atau tidak.
“Memangnya ada apa dengan rumah Sheza sampai kamu membeli apartemen baru?”
“Itu milik Sheza, Pa. Najib merasa nggak enak. Dan juga, biar dekat dengan kantor dan pingin mandiri. Kan Najib sudah berkeluarga, Jadi Najib harus bertanggungjawab terhadap keluarga Najib sendiri. Hanya saja sampai saat ini Sheza belum mau Najib ajak tinggal bersama.”
Ya gimana mau enak dan nyaman, kalau selama ini dia merasa tidak dihargai Sheza dalam segala hal. Mungkin karena merasa semua itu miliknya, jadi semaunya sendiri. Semoga dengan mereka tinggal di rumah yang dimiliki, Sheza akan lebih menghargainya. Harapannya sih begitu.
Sayang, semua tidak sesuai rencana. Dengan Najib punya apartemen sendiri dan tinggal di sana, membuat Sheza merasa bebas. Dia semakin menjadi-jadi dan semaunya sendiri. Bahkan Iza menjadi korban.
“Milik Sheza, itu kan milik Papa. Berarti milikmu juga.”
“Tidak, Pa. Najib lebih nyaman tinggal di apartemen Najib sendiri.”
“Ya sudah kalau gitu. Sabar ya ... sama Sheza. Dia masih perlu bimbingan.”
Sabar lagi ....
Akankah dirinya akan bisa bersabar menghadapi Sheza yang setiap saat mengabaikannya. Rasanya diri ini sudah tak kuat lagi. Tapi untuk mengatakan pada Papa Arya, tak tega.
Tak ada lagi kata-kata yang tersimpan. Semua sudah hilang bila berhadapan dengan orang tua yang sangat dihormati dan disayanginya. Melebihi cintanya pada Sheza, putrinya.
Karena bagaimanapun orang tua Sheza banyak berjasa pada dirinya. Dia yang telah mengasuh dirinya sejak ayah ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Termasuk menjaga harta bendanya. Arya tak mengambil sedikit pun dari hartanya. Bahkan dia mendapat bimbingan secara langsung oleh Arya agar bisa menjalankan perusahaan-perusahaan yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya. Dia kembalikan semua hartanya ketika dirinya memang sudah siap untuk mengelolanya.
Mereka berjalan dalam diam, tak ada kata-kata yang keluar hingga sampai di tempat parkir.
“Najib, nanti kalau Sheza kembali tolong suruh telepon. Beberapa kali aku hubungi nggak diangkat. Atau mungkin nomornya sudah ganti?”
__ADS_1
“Tidak, Pa. Nomornya masih tetap sama. Insyaallah nanti Najib sampaikan.”
“Papa nggak mampir ke apartemen Najib?”
“Kapan-kapan saja Nak. Papa mau ke Jogja.”
“Ya, Pa. Semoga selamat sampai tujuan.”
“Aamiin.”
“Kakek hadiahku mana?” Iza yang sedari tadi diam, kini teringat sesuatu yang biasa dia perolah pada saat kakeknya datang.
“Oh iya hampir saja kakek lupa. Hadiahmu ada di rumah.”
“Asyiiiik ... Terima kasih, Kek.” Tampak senyumnya merekah dan wajahnya terlihat bersinar cerah.
“Ya sudah kakek pergi dulu. Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam ....”
Najib menghantarkannya hingga masuk ke dalam mobil. Yang dikemudikan oleh pengawalnya. Tak berapa lama, Dia pergi menghilang dari area tersebut.
Dia segera mengambil tempat duduk di samping Aina. Dia membiarkan Iza untuk duduk sendiri di samping sopirnya.
“Ayo Man, jalan!”
“Baik, Den.”
Sesekali dia melirik pada Aina yang masih tanpa serius membaca buku yang ada di tangannya. Seolah-olah tak terusik dengan kehadirannya.
Sunyi tanpa suara, terasa aneh juga. Bersama istri dengan pikiran masing-masing. Seperti orang yang sedang bertengkar saja.
“Maafkan Aku. Kamu harus menunggu.” Najib mencoba untuk membuka percakapan di antara mereka.
“Tak apa,” jawab Aina setengah sendu. Matanya tak beralih sedikit pun dari buku. Ingin dirinya menatap Najib karena dia merasa ada sesuatu yang kini masih disembunyikan Najib darinya. Benar-benar membuatnya kesal.
Tak dapat dimungkiri bahwa dirinya tengah memikirkan semua kejadian yang dialaminya sejak datang ke kota ini. Satu bisa ditepisnya datang lagi yang lain yang tak bisa dimengertinya.
Oke lah, dia bisa menerima kalau Iza adalah seorang anak yang telah dianggap menjadi anaknya sendiri. Lalu bagaimana dengan Sheza. Dan sekarang Arya, kakek Iza. Sepertinya lelaki itu tak asing bagi suaminya. Terlihat sekali keakraban keduanya pada saat berbincang-bincang.
__ADS_1
“Mas, kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari Aku, kan?”
Rasa hati ingin berterus terang, tapi melihat wajahnya yang polos tanpa dosa seakan dirinya tak rela kalau terluka. Biarlah semua ini disimpannya dulu. Entahlah ... ini baik atau buruk, yang pasti inilah yang terbaik keputusan yang bisa dia ambil saat ini.
“Ya, aku memang menyembunyikan sesuatu. Apa kamu mau tahu?”
“Ya. Aku sangat ingin tahu. Semoga bukan hal yang membuat diriku sakit hati,” kata Aina terus terang.
“Aku nggak tahu kalau ini akan membuat dirimu sakit hati atau tidak.”
“Katakan saja, Mas.” Bibir bisa mengatakan itu, tapi hatinya seakan teriris pilu. Hingga tanpa sadar dia menggenggam bajunya erat.
“Aku bisikan saja ya?”
Najib mendekatkan mulutnya di telinga Aina dan menutupnya dengan telapak tangan. Dia melirik ke kanan dan kiri sebelum berbisik lirih,
“Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu.”
“MAS!”
“Hus, jangan teriak! ini rahasia kita,” ucap Najib dengan senyum kemenangan.
Untung saja Iza sudah tertidur pulas di bangku depan sama dengan Suparman yang sedang konsentrasi dalam menjalankan mobil ini.
Siapa yang tak kesal, sudah serius sekali mendengarkan, ternyata hanya gombalan belaka. Sungguh tega. Jangan salahkan diriku bila dua genggaman tangan yang lembut ini akan menyerangnya bertubi-tubi ke pahanya.
“Ini hukuman buat lelaki yang suka membual.” Ucapnya dengan kesal disertai dengan rona pipinya yang seperti tomat.
Sesekali dia mencebikkan bibirnya. Eeeegghhr ... Mengapa dirinya bisa diperdaya. Gemes rasanya ....
Satu cubitan kecil dia berikan di paha Najib dengan senyum sempurna tanpa memperlihatkan gigi-giginya yang sekarang terdengar bergemeletak.
“Auuu ... Sakiiiiittt.” Najib segera mengusap pahanya yang mungkin sudah memerah. Sayangnya tidak terlihat. Cuma masih terasa panas.
Aina segera mengambil bukunya kembali, mencoba untuk membacanya dengan penuh konsentrasi. Namun tak dapat dilakukan karena pikirannya kali ini sudah melayang kemana-mana.
Sedangkan Najib memperhatikannya dengan senyum kemenangan.
Istri kecilku yang lucu.
__ADS_1