
Dia anak yang manis. Jangan salahkan apabila dirinya akan selalu rindu bila tidak ada Iza di sisinya.
Aina segera merentangkan tangan. Namun siapa sangka kalau dia akan menghentikan langkahnya begitu berada tetap di depannya. Iza tidak dak segera masuk ke dalam pelukannya. Wajahnya berubah menjadi cemberut, lalu berkata dengan setengah merajuk.
“Mama jahat. Masa nggak nolongin aku waktu di sekolah tadi.”
Sontak membuat aina tertawa. Dia pun meraih tubuh mungil yang menggemaskan itu ke dalam dekapannya. Memberikan pelukan hangat dan juga kecupan kecil di pucuk kepalanya dan juga di kedua pipinya yang tembem seperti bakpao itu.
“Maafin mama, Sayang. Mama juga takut sama mama Sheza.”
Matanya tampak membulat, memandang Aina dengan sorot tak percaya. Bagaimana mungkin Mama Aina bisa takut pada mama Sheza, pikirannya.
“Ih Mama, nggak asyik deh. Lalu nanti yang nolongin Iza kalau nggak ada Papa, siapa?”
“Bukan gitu Sayang. Kurasa Mama Sheza juga kangen sama kamu dan juga ingin bersamamu. Mama Sheza juga mama Iza, kan?”
Iza masih tetap merajuk. Dia belum bisa menerima bila Aina melepaskan begitu saja pada Mama Sheza. Dia ingin menjauh, dan mencari sandaran sendiri. Dan mama Aina pilihannya. Tapi mengapa mama Aina bisa berpikir untuk mengembalikan pada mama Sheza. Untuk saat ini, terus terang dirinya tak mau.
Tapi bagi Aina mau bagaimana lagi, karena tak mungkin mencegah Sheza untuk membawa putrinya. Toh yang paling berhak atas Iza adalah Sheza. Cuma Aina menyayangkan cara Sheza saat ingin mengajak Iza. Mengapa harus dengan pemaksaan.
“Sudah Jangan dipikirkan. Nanti Papa akan bilang ke mama Sheza, agar tidak maksa-maksa lagi kalau mau sama Iza.”
Najib bisa merasakan kegelisahan putrinya dan juga Aina. Beberapa kali dia mengambil nafas panjang. Untuk sekedar mengurai yang dirasakan saat ini.
Najib menyadari benar, sampai saat ini, Sheza belum bisa menjadi ibu yang baik buat putrinya. Sehingga dirinya masih berat melepas Iza bersama Sheza, kecuali kalau dia sendiri turun tangan untuk menemani Iza menemui mamanya. Tapi dia juga menyadari, kadang dia jarang punya waktu untuk itu.
“Papa yakin Iza putri yang baik dan berani. Nanti kita temui mama sama-sama, ya...” Bagaimanapun, sejahat-jahatnya seorang ibu pasti dia akan rindu pada putrinya juga.
“Benarkah? Kalau sama papa, Iza mau.”
“Dan untuk mama, Kenapa mesti takut kalau kita benar. Kalau kita takut, otomatis orang akan mudah menguasai kita. Dan Papa merasa Mama Sheza bukan orang yang perlu ditakuti. Oke ... Bilang baik-baik nanti Iza akan datang ke rumah Mama bersama Papa. Bagaimana?”
__ADS_1
Aina mengangkat bahunya, antara jawaban iya dan tidak. Dia benar-benar tak yakin. Seandainya boleh memilih, dia lebih baik menghindar dari pad bertemu dengan Sheza. Berat rasanya, bila harus bertatapan langsung dengannya, apalagi kalau harus bersitegang, pasti ... em ... aa ... el ... aa ... es ... alias malas.
“Bukan ide yang buruk. Kurasa perlu dicoba.” Jawab Aina kemudian. Daripada harus memperpanjang persoalan. Toh, bukan yang penting untuk dibahas sekarang. Meskipun sedikit menguras emosi, setidaknya Iza sudah bisa bersama mereka lagi. Lalu mereka masuk ke dalam mobil. Berlahan-lahan meninggalkan pelataran rumah Sheza.
Sekilas Najib melihat bayangan Sheza yang masuk ke dalam rumah dengan langkah lunglai dan kecewa. Batinnya pun bergumam lirih, “Maafkan aku Sheza. Tak ada keinginanku untuk menyakitimu. Semoga peristiwa ini bisa menyadarkanmu kalau selama ini putrimu terluka.”
#
Setelah tahu kenyataan bahwa dirinya bukan wanita satu-satunya dalam kehidupan Najib, kini hari-hari Aina terasa berbeda. Dia tak dapat menyembunyikan kalau dirinya terluka. Jika kemarin dia memilih pergi, sungguh dia menyadari kalau tak ada yang mesti diperjuangkan. Karena menjadi orang ketiga, bukan keinginannnya dan cita-citanya. Sungguh jika saat ini seolah-olah dirinya memilih untuk bertahan, bukan karena apa-apa. Hanya belum merasa pas saja untuk mengambil sebuah keputusan. Jika menuruti egonya, mungkin dia akan segera memaksa suaminya untuk segera memutusakan antara dirinya atau Sheza. Tapi Dia wanita, Sheza juga wanita, memiliki rasa yang sama. Dan sama-sama istri sah pula. Dan tentu punya keinginan yang sama. Sama-sama tak ingin gagal dalam membina mahligai cinta.
Mampukah dirinya mempertahan cinta suami. Karena Najib juga mengapa tak mengizinkan dirinya mengalah dan pergi. Ini itu teramat menyakitkan. Ingin rasanya dirinya menangis, namun semua itu ditahannya, disimpannya dengan rapat dalam batinnya saja. Atau diungkapnya pada malam yang pekat, saat manusia masih terlelap. Sekaligus memohon agar diberi kekuatan untuk dapat menjalani ini semua.
Ya Tuhan, jika berpisah adalah jalan akhirnya, biarkanlah rasa ini dalam ampunan-Mu jua. Bila bersama adalah jalan yang tak bisa ku hindari dalam mencapai keridhoan-Mu, karena sudah tertulis dalam kitab-Mu, ijinkanlah hati ini bertasbih menyebut namanya dalam doaku padaMu.
“Apa kamu masih ingin pulang?” Najib mencoba memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka, setelah sekian lama mereka diam semenjak menjemput Iza.
“Tentu, Mas. Kalau mas ijinkan. Aku kangen sama bapak ibu.”
“Aku juga. Sabar ya. Akhir pekan, kita ke sana.”
“Iza?”
“Sayang nggak keberatan tho kalau kita bawa ikut serta.”
“Tak apa. Tapi, apa mbak Sheza nggak mencarinya. Dan belum tentu mbak Sheza mengizinkan.”
“Aku nggak tahu. Tapi yang pasti dia akan senang ikut kita.” Dia berhenti membaca buku. Lalu dia turun, membantu Aina menata kembali bajunya ke dalam lemari.
“Aku senang kalau sayang tak menyebut nama itu saat kita berdua.” Dia berbisik lembut di telinga yang membuat Aina tertawa seketika. Seharusnya dirinya yang meminta itu pada Najib, tapi kenapa saat ini justru suaminya lah yang berkata seperti itu. Aina menoleh pada Najib yang tampak meliriknya sekilas. Ingin sekali Aina menggodanya dengan berkata, “Mengapa Mas tak ceraikan saja mbak Sheza kalau memang sudah tak menginginkannya. Daripada hidup sama-sama tersiksa.”
Tapi cepat-cepat mulutnya dia tutup rapat, takut kelepasan. Perkataan seperti itu sangat tidak pantas. Walau pun dalam hati kecilnya kadang kala berbisik demikian. Yah, Aina akui bahwa dirinya masih sangat lemah untuk bisa menerima semua ini dengan rela. Maafkan diriku Tuhan ....
__ADS_1
“Sudah, Mas. Tidurlah dulu. Mas pasti belum istirahat sejak siang tadi. Belum besok harus kerja lagi.”
“Iya, sih. Tapi mana bisa tidur, kalau yang biasa nemeni Mas, masih sibuk gitu,”
Aina hanya tertawa kecil, tak mau menanggapi perkataan Najib. Dia masih tetap memasukkan baju-baju ke almari. Tanggung , hanya tinggal satu tumpukan saja. Habis itu sudah beres semua. Rasanya tak nyaman bila tidur masih menyisakan pekerjaaan yang tinggal seuprit itu. Biarlah kali ini agak bandel dikit. Hitung-hitung sebagai balasan hari ini karena sudah bikin hatinya kecewa yang teramat sangat.
Najib yang memang sudah sangat lelah dan juga sudah mengantuk, akhirnya meninggalkan Aina dengan kesibukannya. Dia berbaring dengan tenang di kasur yang empuk. Sesaat kemudian matanya sudah terkatup rapat. Hanya terdengar tarikan nafasnya yang lembut kini mulai keluar dari hidungnya. Tubuhnya sudah menyerah pasrah pada nyanyian malam hingga terbuai dalam mimpi. Tak lama kemudian Aina pun menyusul. Dia merebahkan dirinya, meletakkan kepenatan asa dan rasa yang seharian ini mendera jiwanya. Matanya masih saja sulit diajak kompromi. Sekian lama tak mau terpejam. Ada beban yang tak bisa dia singkirkan, meski badan tengah membutuhkan istirahat.
Jika boleh berharap semoga ini hanya sebuah mimpi. Ah, sudahlah ....
Bismika Allahumma ahya wa bismika amut.
Jari-jari ini tak berhenti berhitung mengiringi hati yang bertasbih, hingga mata ini terpejam dalam damai.
#
Malam tak selamanya gelap dan tak berwarna. Terkadang menyimpan keindahan tersendiri bila mata batin terbuka. Melihat bulan, melihat bintang menghias angkasa tak terasa akan membuat kita tersenyum juga. Meski cahaya teramat kecil dan terletak jauh di angkasa tak bisa menghalangi diri kita untuk sekedar menikmatinya dengan rasa syukur.
Saat ini memang dirinya sedang terluka, namun melihat senyum Iza, rasa sakit itu seakan ikut menguap.
Ya ... anak-anak. Begitu tahu kalau kita akan berlibur, meski hanya sekedar pulang kampung, dia sudah sangat bahagia.
Dia tampak antusias, ceria dan bersemangat. Bahkan saat bangun, sudah tidak pakai drama lagi. Sekali sentuh, sudah beranjak dari tempat tidurnya.
“Ma, kita berangkat sekarang?”
__ADS_1