
"Aku minta sama kamu, tinggalkan wanita itu!"
Najib menunduk, tak berani menatap mata orang yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya.
Untuk sejenak suasana sangat-sangat tegang. Sampai akhirnya Arya kembali membuka suara dengan sedikit lebih rendah, namun penuh penekanan.
"Sakit hati Papa, kamu duakan Sheza. Putri yang selama ini papa jaga, kamu bikin hatinya terluka. Apa Papa salah memilihmu saat itu, agar bisa menggantikan Papa untuk menjaga Sheza?"
"Ah, mungkin Papa terlalu tinggi berharap padamu, memaksa kamu untuk menerima semua kekurangan Sheza yang jelas-jelas menyakitkan?" imbuhnya
Najib tak sedikitpun berani mengangkat kepalanya, apalagi menatap wajah Arya. Dari suara dan kata-katanya saja, dia sudah bisa merasakan bagaimana terlukanya hati papanya.
"Maafkan Najib, Pa." sambil menunduk.
Arya mengambil nafas dalam-dalam, agar tensinya tidak semakin meninggi. Gara-gara mereka, kepalanya pusing tujuh keliling. Sheza yang bandelnya ampun-ampun, dan Najib yang keras kepala tak terkira, sedikit arogan dan sok-sokan.
Ingin rasanya, ia menghajar Najib habis-habisan sampai terkapar mencium tanah. Namun sayang tubuhnya telah renta. bukan dia yang bisa merobohkan anak itu, tetapi ia khawatir yang terjadi malah sebaliknya. dia yang akan terjungkal dan encoknya akan kambuh.
(sabar ya kek...💪😁)
"Papa sadar Sheza bukan wanita sempurna, bukan istri yang baik dan bukan ibu yang baik. dia masih sangat egois, masih ingin merasakan kebebasan dan ingin meniti karirnya. Kalau menurutmu keinginan Sheza itu salah, tak begini cara kamu mendidiknya, "
"Najib salah, Pa ... maafkan Najib." ucapnya dengan penuh penyesalan.
Meski begitu Arya tidak percaya begitu saja
"Maaf!... maafmu itu sudah tak berlaku lagi, tahu! Karena kamu sudah menyakiti dua wanita sekaligus!" ucap Arya dengan nada geram.
"Kamu itu ada-ada saja, Hanya karena kamu nggak suka dengan sikap istrimu, malah kamu pindah rumah. Jangan Salahkan Sheza juga kalau dia memilih pergi saat itu. Dia butuh ketenangan bukan tekanan."
Tak bisa menghajarnya dengan kekerasan, kali ini Arya menghajarnya dengan kata-kata.
"Sebenarnya kamu tak salah, Kamu menuntut dia untuk menjadi istri dan ibu yang baik bagi kamu dan Iza. Sama sekali tidak salah, dan itu wajar. Hanya sayang caramu yang benar-benar salah ... Papa tak habis pikir, mengapa kamu sampai ambil cara ini, mengambil wanita lain sebagai tandingan."
"Papa merasa, kamu hanya perlu komunikasi dan bersabar menghadapi kekurangan Sheza. Aku yakin ia akan berubah kalau dia merasa nyaman dan logis dalam pemikirannya. dan sudah saatnya."
__ADS_1
Arya mencoba untuk tidak berat sebelah dalam memandang perkara mereka, agar segera mendapatkan titik temu permasalahan ini.
"kamu sendiri tahu kalau adikmu itu mengalami trauma yang dalam masalah cinta. tapi bukan berarti dia tidak akan pernah berubah. dia hanya perlu merenung sejenak dan mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialaminya. Namun itu perlu waktu, Najib ... anakku ...." panggilnya dengan penuh kebapakan.
"Kamu sudah lihat sendiri kan perubahannya?" tanyanya dengan penuh penekanan dan irama sangat lambat, ia ingin Najib konsentrasi dengan apa yang dikatakannya.
"Iya, Pa. Najib juga merasakan, adik sudah berubah. Sekarang sangat menyayangi Iza dan bahkan mau belajar masak demi Iza." jawabnya dengan polos, eh... maksudnya dengan bodohnya. Asal jawab meski tidak nyambung- nyambung amat dan terdengar kekanak-kanakan.
Akhir-akhir ini otaknya sering konslet. Apa karena sudah penuh dengan masalah, ya? ... atau gara-gara punya istri dua dan bermasalah.
Arya geleng-geleng kepala. Meskipun tidak ada yang salah dengan jawabannya, tetapi bukan itu yang dimaksud.
Najiiib ... Najiiib....
Rasanya dua tanduk syaithonirrojiiim di kepalanya sudah ingin keluar, melihat anak mantunya yang keras kepala dan agak sulit dinasehati ini. Tangannya sudah ingin sekali menjitak kepala anak itu. Untung saja ia telah menyetok kesabaran berlebih, demi terurainya masalah ini dengan baik.
Susah kali menjadi orang tua. Mau mengusap dada, kok ya macam mak-mak. Malu ah!
Astaghfirullah al adzim ... (balik lagi ke laptop)
"Sekarang Papa tanya, harus kamu jawab dengan jujur dari hati kamu yang paling dalam." kali ini Arya menampilkan wajah yang benar-benar serius.
Terus terang, dadanya berdebar-debar dan bertanya-tanya, gerangan apa yang akan terlontar dari bibir Arya.
"Sebenarnya kamu masih cinta sama Sheza atau tidak?"
Najib tersentak, tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu yang seolah-olah menyudutkan perasaannya.
"Mengapa Papa bertanya seperti itu? ... sampai saat ini aku masih menyayangi Sheza, Pa."
"Sebagai?" tanya Arya lebih spesifik.
"Maksud Papa?"
Tak seperti biasanya, Najib akan lekas tanggap dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak kali ini, rupanya Najib agak loading menangkap pertanyaannya.
__ADS_1
Eh, salah. Mungkin juga karena kehati-hatiannya, khawatir salah tangkap dengan apa yang dimaksud olehnya.
(Sabar Arya ... sabar ... Allah menyukai orang-orang yang sabar)
"Sebagai adik atau sebagai istri?"
Najib menunduk. sepertinya masih bingung akan menjawab apa.
Mungkinkah ini saatnya,k dia mengungkapkan apa yang selama ini dirasakan, agar apa yang menjadi bebannya saat ini terurai.
Dia menghembuskan nafas secara perlahan-lahan, sebelum mengungkapkan isi hatinya.
"Sampai saat ini perasaan Najib tetap sama, dan tak pernah berubah. Najib sangat sayang sama adik. Tapi Najib sadar, sulit untuk memalingkan hati adik dari laki-laki itu, sehingga pernikahan kami jadi terasa hambar."
Arya manggut-manggut. Mungkinkah ini pokok masalahnya.
"Lalu kamu lari ke Aina?"
"Maafkan Najib, Pa. Najib putus asa."
"Kau ini ... ternyata tak lebih brengsek dari Antony, ya! Sengaja mempermainkan putriku. sekarang ditambah lagi kamu juga mempermainkan Aina ... Papa merasa gagal mendidik kamu. bisa-bisanya kamu mempermainkan dua wanita sekaligus. Sekarang lepaskan saja Sheza!"
"Papa ...."
"Kalau gitu lepaskan Aina!"
"Papa, itu tak mungkin!"
"Kenapa tak mungkin. Bukankah Aina hanya pelarianmu saja. Jangan katakan kalau kamu jatuh cinta padanya."
"Papa, Aina mengandung anak Najib."
"Papa hanya punya satu pilihan buat kamu, Pilih Aina atau Sheza? ... Dan ingat! ... Bila kamu memilih Aina, lupakan Papa yang sudah menjagamu selama ini."
Arya segera bangkit, meninggalkan Najib yang wajahnya masih menegang dan mulai frustasi.
__ADS_1
Sepeninggal Arya, Najib masih terpaku di sana untuk beberapa saat, sebelum melangkah menuju ke kamar Iza. Dia membuka pintu pelan-pelan.Terlihat Sheza yang tertidur sambil memeluk Iza. Rupanya ia ketiduran saat mengantarkannya ke alam mimpi putrinya. Dia pun menutupnya kembali, lalu melangkah menuju kamar Sheza.
Dia menuju kamar mandi, membuka dan berwudhu, sebelum membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk. Sesekali matanya menengok ke arah pintu, siapa tahu Sheza masih datang. Dia ingin berbincang-bincang sejenak. Namun sayang, setelah sekian lama menanti, tak juga muncul. Sampai dia sudah tak bisa lagi menahan kantuk yang makin menyerangnya, dan tertidur.