
Aku tak tahu kalau cerita ini akan semakin rumit. Kemunculan Anthony, Papa biologis Iza, membuat hati kami menjadi was-was. Meski dia tidak berhak sama sekali dengan Iza, tapi bukan berarti dia tak boleh memiliki Iza. Pikiranku pun menjadi tak tenang. khawatir apabila dia akan diam-diam mengambil Izza. Aku juga tidak mau kehilangan Iza, apapun yang terjadi.
Persoalan Mbak Sheza yang belum bisa menerimaku belum selesai, kini bertambah lagi satu masalah yang tak bisa aku abaikan begitu saja.
"Mas nanti jemput iza-nya jangan sampai telat ya. Aku takut kenapa-kenapa ... atau ... biar nanti aku yang jemput Iza. Gimana?"
Rasa khawatir ini telah membuat dia tak bisa mengendalikan perasaannya untuk segera mengungkapkannya, meski saat ini mereka masih di meja makan dan bersama-sama Iza pula.
Najib sampai membulatkan bola mata, memandangnya dengan terbengong-bengong. Dia pun segera berhenti mengunyah makanan, menelannya dengan segera.
Dia segera mengambil air putih yang ada di sebelahnya, dan meneguknya berlahan, agar lega dan tak ada sisa makanan yang menghalangi jalan udara saat dirinya harus menyahuti perkataan Aina yang seperti ingin segera ditanggapi.
"Iya, Mamanya Iza. Selama ini juga nggak pernah telat jemput Iza."
"Tapi yang jemput pak Parman. Hari ini harus Mas sendiri. Aku nggak mau kalau mas nyuruh Pak Parman. Kalau Mas tak bisa, biar Aku jemput sendiri."
Kenapa istriku hari ini ...
Ini benar-benar di luar kebiasaan. Biasanya dia sangat tenang dalam menghadapi persoalan. Tapi kali ini tidak. Sejak bangun tidur sudah sibuk soal Iza. Sambil membantu diriku mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, tak lupa pula dia menerangkan jadwal yang harus aku lakukan sehari ini bersama Iza. Ini kapan bikinnya, kok sedemikian detil. Mendengarnya saja, membuat kepalaku pusing
Kalau begini, Aku menyesal telah bercerita soal Iza kepadanya.
"Mama tenang ya ... ingat putrimu tak hanya Iza. Yang ada di perutmu itu juga perlu dijaga."
"Iya ... ya, Mas. aku tahu. Tapi Mas juga tak boleh lengah jaga Iza ..." Ternyata masih ada buntutnya yang tertinggal. Semoga tidak panjang-panjang amat. Tak tega juga membiarkannya bicara sendiri sedangkan aku masih sibuk dengan sarapanku.
"Ok." ungkapku begitu berhenti bicara. Tak usah dijawab panjang-panjang. Agar kalau dia ingin balik ngomongnya juga tidak panjang-panjang. Dan lebih penting ini ....
Najib segera mengambil susu bumil dan memberikannya pada Aina.
"Minumlah, keburu dingin." Kalau tidak dihentikan, bakalan berlanjut terus, bisa-bisa kita nanti akan kesiangan.
Aina mengambil minuman itu dengan sedikit cemberut dan menatapku dengan wajah sedikit bersungut.
"Beneran lho, Mas."
"Iya, Sayang."
Sabaaaarrr ... sedang berhadapan dengan bumil.
Tak hanya diriku yang dibuat 'surprise' pagi ini, Iza pun tak luput dari sasarannya.
"Iza juga gitu ya, Nak. Jangan mau diajak sama orang asing. Jangan mau diberi sesuatu, siapa tahu itu berbahaya. Jangan tinggalkan sekolah kalau tidak sama Papa atau mama. Jangan nakal, Jangan. bermain jauh-jauh. Jangan ...."
Sepertinya istriku kali ini lupa pada siapa dia berkata. Panjang sekali ngomongnya atau lebih cocok kalau aku sebut ceramahnya. Apalagi dengan menggunakan kalimat yang awalannya "jangan." Kira-kira Iza mengerti apa tidak ya ....
__ADS_1
Sepertinya tidak. Dia menatap Mama Aina dengan melongo dan bingung. Hanya satu kalimat yang terucap.
"Pa, mama kenapa?"
"Tak tahu, Kak. Mungkin itu kata-kata adik yang ada di dalam perut mama."
"Oooooo ..." jawabnya sambil mengangguk lalu melanjutkan makannya yang tinggal beberapa suap saja tanpa peduli Mama Aina ngomong apa.
"Iza mengerti, kan?"
"Mengerti Ma."
Aku yakin Iza tak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan istriku. Tapi itu merupakan jawaban yang bagus untuk melegakan hati mama Aina, agar menghentikan keriuhan di meja makan. Dan kita bisa sarapan dengan tenang.
Alhamdulillah, suasana sudah konduksif dan kita bisa menikmati hidangan sampai selesai hingga apa yang ada di atas piring tak tersisa lagi.
Dan akhirnya kita bisa berpamitan. Lega ... itu mungkin yang aku dan Iza rasakan.
"Sudah, Ma. Jangan khawatir, Papa akan selalu menjaga Iza."
"Benar lho, Mas."
"Percaya lah, Yang."
"Iza Sudah Salim Mama?"
Dia menurut, segera menghampiri mama Aina dengan tersenyum.
"Iza pergi dulu, Ma."
"Ya. Ingat pesan mama, Sayang."
"Ya, Ma. Assalamualaikum wr.wb."
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barokatuh.
Dia cium pucuk kepala dan juga dua pipi Iza sebelum melepaskannya pergi dengan wajah yang tak baik-baik saja.
"Aku juga pergi, Yang. Jangan banyak pikiran, insyaallah aku akan jaga Iza. Doakan saja dari rumah."
"Ya, Mas." kecupan kecil dalam durasi yang lebih Lama sedikit dari biasanya, Najib berikan pada Aina agar dia lebih tenang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."
__ADS_1
Aina menatap kepergian mereka sampai keluar pintu apartemennya, dan menghilang dari pandangan. Baru kemudian dia melanjutkan aktivitas rumah sebagaimana biasa.
Namun rasa was-was kembali datang saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Apa Mas Najib sudah menjemputnya, atau belum. Bukankah sudah waktunya pulang.
Beberapa kali menekan tombol telepon, namun tak diangkatnya juga. Jangan-jangan Mas Najib lupa? Dia pun menjadi gelisah. Mau tak mau dia menelepon sopir yang biasa menjemput Iza.
"Assalamualaikum, Pak Parman?"
"Waalaikum salam. Ada apa, Bu?"
"Pak Parman sekarang di mana?"
"Di jalan. Mau jemput neng Iza."
"Sama Bapak?"
"Ngapunten Bu. Bapak ada tamu, sepertinya penting nggak bisa ditinggal, makanya saya yang disuruh jemput."
Mas Najib. Gitu dech ... Sudah dibilang suruh menjemput Iza, tetap saja pak Parman yang disuruh.
"Pak Parman bisa mampir. Aku mau ikut jemput Iza."
Sesaat tak ada jawaban, namun telepon masih menyala.
"Saya ijin Bapak dulu, Non. Saya khawatir Ibu kenapa-kenapa kalau ibu ikut, saya. nanti saya juga yang kena marah Bapak."
"Sudah dech, Pak. Ini soal Iza. Pasti Bapak ijinkan, hanya sekedar jemput saja, kok."
"Baiklah, Bu."
Parman pun tak bisa menolak keinginan Aina. Dia sekedar supir saja, suruh begini jalankan, suruh begitu jalankan. Jangan banyak tanya. Prinsip dia sebagi supir, jangan kepo terhadap urusan majikan. Bisa-bisa susah sendiri nantinya.
Parman segera membelokkan mobilnya dengan segera ke arah apartemen. Tiba di tempat parkir, dia sudah melihat sang majikan tengah mondar-mandir di depan pintu apartemen. Belum sampai dirinya mematikan mesin mobil, terlihat sang majikan sudah datang menghampirinya.
"Pak, kok lama banget sih, sampainya?" wajahnya tampak kesal. Lalu segera
membuka pintu dengan cepat. Dan duduk di kursi belakang dengan sikap yang sama.
Hah ... perasaan speedometer di mobil tadi di kisaran 100 kurang-kurang dikit lah, maklum jalan sedang sepi. Tapi mengapa masih dikatakan lambat, sama nyonya muda ini. Sepertinya nyonya muda ini yang terlalu cepat mempersiapkan diri. Hehehe ....
Hadapi kemarahan dengan senyuman.
"Maaf, Non."
"Ya sudah. Ayo jalan."
__ADS_1