Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
pergi selamanya


__ADS_3

“Papa, Aina di mana?”


Wajahnya pucat seketika saat memandang ranjang yang telah kosong.


“Di ruang operasi.”


Meskipun sejak awal dia sudah diberi oleh dokter tentang kemungkinan itu, namun tetap saja membuatnya sangat gelisah.


“Iza sama kakek dulu, ya. Papa mau tengok mama sebentar”


“Apa adikku akan lahir, Papa.” Matanya berbinar, senyum tipis menghias bibir mungilnya. Najib tak bisa berucap apapun. Dia segera menurunkan Iza dan melangkah dengan tergesa-gesa, pergi dari ruangan.


“Kakek. Adikku akan lahir, kan?” Tanyanya dengan bingung. Arya tersenyum dan meraih Iza dalam dekapannya, memeluknya dengan erat serta memberi kecupan kecil di pucuk kepalanya, agar gadis kecil itu lebih tenang.


“Kita doakan agar adik lahir dengan selamat.” Arya membawa pergi meninggalkan ruangan itu dengan hati gundah. Tak dapat dipungkiri, bahwa dirinya juga gelisah. Jika sampai terjadi sesuatu pada Aina, dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Dia ingin pergi menuju taman kecil, untuk menghibur diri. Namun baru beberapa langkah, Iza menghentikannya.


“Kakek, aku ingin lihat adikku.”


“Kita doakan adik lahir selamat di sana, ya?”


“No...no...aku ingin menunggu di sana.” Jari mungilnya menunjuk ke mana Najib melangkah.


Meskipun berat, dia pun menuruti permintaan cucu tersayangnya, namun terlebih Setelah mengambil nafas panjang dan menghembuskannya berlahan, dia berbalik arah ke mana Najib pergi. Bibirnya tak pernah berhenti untuk melafalkan ayat-ayat dan doa, berharap Aina melewati proses persalinannya ini dengan selamat.


“Papa. Aku takut” Sheza berhambur memeluknya. Menangis di bahunya.


“Kita doakan, semoga semua selamat.”


Dari jauh Najib berjalan ke arah mereka dengan wajah sendu.


“Papa pulang saja. Kasihan Iza dan Sheza. Mereka lelah.”


“Bagaimana keadaan istrimu?”


“Sedang ditangani. Doakan dari rumah saja, Pa.”


Memang itu yang diinginkan Arya. Dia lelah juga, selain itu nanti Sore hari, harus pergi ke Australia.


“Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu, ya?”


Dia menggangguk. Dia tak sengaja mengabaikan keberadaan Sheza yang ada di samping Arya. Bukan karena marah atau apa. Tetapi hanya ingin menghindar dari perasaan yang sedang campur aduk saat ini.


Dia menguatkan hati, bahwa cerita bersama Sheza adalah cerita masa lalu, meski hati masih berperang soal itu.


“Tapi aku pingin lihat adik, Pa?”


Senyum tipis pun merekah di bibir Najib. Jika melihat Sheza, dia akan berusaha untuk kuat, tapi kalau melihat bidadari kecilnya itu, hati ini langsung luluh.


“Iza boleh lihat kalau adik bayi sudah keluar dari perut mama Aina Sekarang Iza pulang dulu, ya. Nanti papa kabari kalau sudah lahir.” Dengan sedikit rayuan, akhirnya Iza menurut juga.


Najib menatap dari jauh kepergian mereka. Dia baru beranjak, ketika bayang-bayang ketiga orang tersebut menghilang di ujung lorong rumah sakit.


🌹

__ADS_1


Tak ada yang bisa dilakukan Najib, selain berdoa menunggu dengan sabar kehadiran malaikat kecil yang selama ini telah dinantikan, setelah ia mengarungi samudra kehidupan baik saat bersama Sheza dan akhirnya kini pada Aina pilihannya.


Meskipun waktu kini telah beranjak senja, namun tak juga pintu kamar operasi itu terbuka. Rasanya putus asa mulai menjalar dalam diri Najib, adakah terjadi sesuatu pada mereka. Hanya doa yang bisa dia alunkan, semoga mereka baik-baik saja.


Dia sudah sanggup lagi untuk membayangkan sesuatu yang buruk menimpa pada malaikat kecil dan bidadari yang telah hadir dengan segenap ketulusan hatinya.


Ada rasa sesal, mengapa dia bertemu ketika ada cinta yang dicoba dia kubur. Cinta kecilnya dan cinta harapannya. Namun ternyata semua sia-sia, karena dia tahu kalau ada seseorang dalam hati Sheza. Padahal dia yang selalu ada di sampingnya dan selalu ada untuknya.


Denting jam yang ada di musholla dalam kompleks rumah sakit, tempat dirinya bermunajat, selama penantian menunggu detik-detik kehadiran malaikat kecilnya, sudah menunjukkan angka dua belas. Dia pun segera beranjak dari tempat sujud, melangkah menuju tempat dimana operasi itu sedang berlangsung.


Alangkah kecewa hatinya, melihat pintu itu masih tertutup rapat, dengan nyala lampu yang terpancar. Berapa lama kah, dirinya akan menunggu.


Ah, mungkin Tuhan tengah menguji dirinya untuk sesuatu yang sangat istimewa, sesuatu yang sangat diharapkannya selama ini. Tak ada yang bisa dilakukan selain menunggunya dengan sabar. Dia pun menghempaskan tubuhnya di kursi yang kini telah kosong.


Sunyi, sepi, seorang diri sambil berharap pintu itu segera terbuka. Hingga tak terasa penantian itu sampai 1 jam lamanya. Oh, Tuhan... Mungkinkah ini bertanda bahwa diriku telah Engkau uji dengan kesabaran. Apa diri akan lulus dengan tidak berputus asa, selalu bermunajat, berharap semua akan baik-baik saja, atau kah sebaliknya.


Najib pun kembali lagi ke Musholla, melanjutkan sesuatu yang sesaat lalu terjeda.


Mata ini masih tetap memincing, meski sangat lelah. Hanya butiran-butiran bening dari langit yang mampu manahan tubuh ini tetap segar, agar mampu melanjutkan penantian.


Tepat jam 3, sesaat setelah dia kembali dari Musholla, pintu kamar operasi terbuka.


“Keluarga ibu Aina?” panggil seorang suster.


Hati ini ingin bersorak gembira, saat mendengar panggilan untuknya. Akhirnya, penantiannya berakhir sudah.


“Saya, Suster.”


“Alhamdullah, putra bapak lahir dengan selamat, silahkan untuk diazani.”


Najib tak kuasa untuk meluapkan kegembiraan dari lubuk hatinya. Dia pun tersungkur saat itu juga dan bersujud. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang baru saja diterimanya Untuk beberapa saat, ia larut dalam rasa sujudnya, baru kemudian dia mengikuti suster itu menuju ruangan khusus.


“Mana istri saya?” keinginan yang kuat untuk menjumpai Aina melupakan tujuan utamanya. Dia ingin mengucapkan selamat pada seseorang yang telah berkurban sangat besar untuk dirinya, sebelum menyambut kedatangan sang buah hati dengan alunan azan.


“lstri Bapak masih dalam penanganan intensif.”


“Lalu mana putra saya?”


Belum sampai suster itu balik badan, seorang suster yang lain keluar dari bilik di depan mereka. Di tangannya ada bayi yang masih merah dalam keadaan menangis keras.


“Apakah ini putraku ?” tanyanya dengan penuh antusias.


“Iya benar. Silakan diazani, Bapak!”


Najib segera meraih bayi mungil yang sepintas lalu wajahnya mirip dengan dirinya. Dia sangat gembira. Berlahan lahan di alunkannya azan di telinga kanan putranya itu, membuat tangisnya berhenti seketika. Setelah selesai dia diam sejenak lalu memutar bayi mungil itu, sehingga telinga kirinya berada di depan mulutnya. Tak lama kemudian dialunkannya iqomah dengan lembut.


Tak bosan dirinya memandangi wajah tampan dari seorang bayi mungil yang masih merah itu. Memang tak banyak kata yang keluar dari bibirnya, tapi tatapannya yang bercahaya serta senyumnya yang merekah, menandakan bahwa ada rasa yang membuncah yang ingin dia coba ceritakan pada dunia. Mungkinkah ini yang dinamakan bahwa dirinya telah jatuh cinta lagi pada sesosok bayi mungil yang ada dalam buaiannya.


“Terima kasih Tuhan.” bisiknya dalam hati.


“maaf, pak. Putra bapak akan kami bawa. Dia masih memerlukan perawatan intensif.”


“Baiklah, suster.”


Dengan berat hati dia melepas bayi mungil itu. Tapi apa mau dikata, mereka yang lebih mampu dan mengerti tentang perawatan bayi yang baru lahir.

__ADS_1


“Bisa disatukan dengan ibunya, Sus?”


“Sepertinya tidak bisa,Pak. Ibu juga memerlukan perawatan intensif.”


“Boleh aku menjenguknya?”


Suster itu diam seribu bahasa, dia menatap Najib dengan wajah datar. Sulit mengartikan apa yang sedang dia sembunyikan saat ini. Tapi untuk mengoreknya lebih lanjut, Najib tidak punya keberanian.


“Sebentar lagi Ibu akan saya bawa ke ruang edelweis, silakan Bapak tunggu di sana?”


“Baiklah.”


Sementara seorang suster membawa pergi putranya, Najib melangkah keluar dari ruangan itu diantar oleh suster yang lain. Dia segera menuju ruangan yang ditunjukkan oleh suster tadi. Untuk menuju ke sana dia harus berputar, mengelilingi ruangan itu.


Tak memerlukan waktu lama untuk menemukan ruangan yang dimaksud.


Hati siapa yang tidak terenyuh saat melihat sang istri tak berdaya di pembaringan, masih dengan mata terpejam. Aina belum sadarkan diri saat ia masuk.


“Apa dengan istri saya, Dok?”


“Ibu habis mengalami pendarahan hebat. Jika nanti ada apa-apa, tolong segera hubungi kami.” Pesan dokter kepada Najib sebelum meninggalkan ruangan. Najib pun mengangguk pasrah.


Tak berapa lama, Aina membuka mata.


“Dik, Alhamdulillah kamu sudah sadar.”


“Bagaimana putra kita.”


“Alhamdulillah, dia selamat. Terima kasih, kamu sudah memberi malaikat kecil untukku.”


“Mas, aku lelah. Aku mau tidur.”


“Tidurlah. Aku akan menjagamu.”


Sesaat kemudian, mata Aina terpejam kembali. Hanya hembusan nafas terdengar lirih dari hidungnya.


Dari kompleks rumah sakit terdengar suara azan subuh berkumandang. Najib pun segera melakukan sholat di ruangan itu juga. Setelah berdoa, dia mendapati Aina masih tertidur pulas. Dia pun melanjutkan dengan tilawah Al-Quran di samping Aina. Entah mengapa, rasa kantuk pun menghinggapinya, tanpa ia sadari..


Secara samar dia melihat sesosok bayangan putih masuk menghampirinya dengan mendekap seorang bayi yang sudah dia kenal.


“Aina, benarkah itu kamu. Kamu sudah bisa berjalan?”


“Ya, Mas. Ini aku. Aku titip putra kita ya....”


“Kamu mau kemana?”


Bayangan itu tidak menjawab. Najib hanya melihat seulas senyuman yang teramat manis dari bibir istrinya. Lama-lama bayangan itu pun menghilang....


“Aina....” Najib memanggil, namun bayangan itu tetap pergi.


Lalu, dia terbangun. Dan sangat terkejut saat melihat monitor itu Sudak tidak menunjukkan detak jantung istrinya lagi......


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un ....


Hiks...hiks... hiks....

__ADS_1


__ADS_2