Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Pergi Bersama


__ADS_3

Hubungan ini sudah tidak sehat. Dirinya tersakiti, mungkin demikian juga dengan Sheza. Mas Najib juga tak bisa memberikan ketegasan. Terbukti dia tak datang di malam ini, dengan alasan papa Arya memintanya untuk tinggal.


Oh, betapa bodoh dirinya, memilih untuk terluka. Mas Najib akan selalu lebih condong pada Sheza dan Arya, Bukan pada dirinya, meskipun dia kini mengandung anaknya.


Apa yang mesti diperjuangkan, sudah semestinya kalau berakhir. Sekarang lebih baik, tak perlu menunggu baby ini lahir.


Aina segera merapikan bajunya, meski dengan tertatih-tatih. Sebentar lagi, orang yang ditunggunya datang.


_


_


_


"Gimana, sudah siap?"


"0k."


"Aku membantumu hanya sampai melahirkan. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, apalagi anakmu. Dan jangan sangkutkan diriku dengan permasalahan kalian."


"Makasih Anya."


Aina bersyukur, dalam keadaan seperti ini ada orang yang menolongnya. Teman semasa SMP dulu.


Namun sayang Aina tak tahu, kalau Anya saudara Sheza, meski tidak dekat. Bahkan kalau ketemu seperti kucing dan tikus, tapi saling menyayangi.


"Aina ... Aina." Gumamnya lirih.


"Apa!" Suara Aina sedikit meninggi.


"Ternyata kamu bisa lari juga dari suamimu."


"Bukan lari, tapi mencoba realistis."


"Benarkah?"


"Entahlah."


Anya tertawa kecil dengan keraguan yang mulai menyerang Aina.


"Belum terlambat, kalau kamu mengurungkan niatmu."


Aina diam saja, tak bereaksi apa-apa.


"Ya sudah, ayo. Keburu ketinggalan pesawat."


Tak ada sedikitpun keinginan Anya membawa Aina. Cuman ingin kasih pelajaran Najib saja, agar dia bisa sedikit bisa menghargai wanita.


Dengan dibantu beberapa perawat, Anya ingin membawa pergi Aina ke rumah sakit miliknya yang lebih lengkap, jauh dari tempatnya kini Aina berada.


Baru beberapa langkah, mereka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Najib muncul, langsung menghadang mereka.


"Anya, Apa yang kamu lakukan?"


Bukannya ketakutan, Anya bahkan tersenyum bahagia. Dia mengangkat bahunya sambil menatap Aina yang duduk dengan wajah sendu di atas kursi roda.


"Aku tinggal dulu, selesaikan masalah kalian."


Anya segera berlalu, meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Najib segera menghampiri Aina dan berlutut di depannya.


"Sayang, kamu ada apa?" Sambil memegang tangannya.


Tak ada jawaban, bahkan dia mengalihkan pandangan. Tampak buliran-buliran bening keluar dari sudut matanya.


"Kalau kamu ada beban, katakan. Jangan kau simpan sendiri."


"Pergilah, Mas! Mbak Sheza pasti marah kalau kamu di sini. Dan papa Arya juga."


Najib menggambil nafas berat, lalu berdiri. Dia segera membawa kursi roda itu kembali ke kamar.


"Kamu pergi gara-gara mereka, atau karena aku yang tak bisa adil sama kamu, Dik."


Aina menggelengkan kepala dengan air mata makin deras. Sesekali tangannya mengusap buliran-buliran bening itu.


"Bukan karena siapa-siapa. Aku hanya ingin tenang. Aku juga sudah terima dengan keadaanku ini. Cuman, rasanya aku nggak mampu kalau terus-terus begini, Mas."


Najib semakin sesak mendengarnya. Keputusan untuk menduakan mereka benar-benar salah. Aina benar-benar terluka meski dia berusaha untuk bersabar


"Lalu, maumu apa, Dik?"


"Biarkan aku pergi," isaknya.


Najib memandang sedih pada wanita yang ada di hadapannya. Dia amat menyesal telah menyeret Aina dalam kehidupan rumah tangganya dengan Sheza.


"Maafkan Mas, Dik. Selama denganku hidupmu tertekan," batinnya menangis pilu.


Dia pun segera memeluk istrinya dengan erat, dan membiarkan Aina menangis sepuasnya.


"Baiklah, kita pergi."


"Kita pergi sama-sama."


Najib segera mendorong kembali kursi rodanya, keluar dari tempat Aina selam ini dirawat. Dia membawa Aina ke tempat parkir. Di sana sudah menunggu Anya dan beberapa petugas kesehatan.


"Kita ke mana, Mas?"


"Pergi jauh dari kota ini."


Aina memandang tak percaya.


"Bagaimana dengan mbak Sheza dan Iza?"


"Jangan pikirkan mereka. Sudah saatnya aku memikirkan tentang kita. Ok."


Aina mengangguk pasrah. Aina bisa merasakan kalau Najib menyimpan kesedihan mendalam. Ia tak berani lagi bertanya. Dan membiarkan tubuhnya diangkat dan membaringkannya ke atas ranjang beroda, yang membawanya ke dalam ambulans.


Di sana sudah menunggu Anya dan menyambutnya dengan gembira.


"Syukurlah kamu datang tepat waktu. Kalau nggak, mungkin kamu tak akan pernah bertemu selamanya."


"Jangan menakut-nakuti ku, Anya." raut wajah Najib semakin sendu.


"Aku tak menakut-nakuti. Aku lihat data terakhirnya, cukup mengkhawatirkan."


Najib bernafas panjang, tak mau menanggapinya lagi. Dia duduk di samping Aina dan mengusap kepalanya dengan lembut sampai terpejam.


Ada sesal yang mendalam ketika melihat wajah istrinya terlihat lelah.

__ADS_1


"Aku harap kamu bisa memaafkan Mas yang selalu bikin kamu bersedih dan menderita. Tak sepantasnya kalau aku selalu menuntut kamu untuk selalu bersabar dan menerima keadaanku yang menduakanmu, sampai engkau benar-benar lelah. Aku sungguh melihat kesabaranmu yang tiada banding, tapi ada saatnya kamu jenuh dengan kesabaranmu sendiri, dan bodohnya diriku yang tak menyadari itu. Maafkan aku ya..., Aku janji tak akan meninggalkanmu lagi," batinnya berbisik lirih sambil terus mengusap Aina sampai benar-benar pulas.


"Kamu meninggalkan Sheza?" tanya Anya tiba-tiba, membuat kesadarannya kembali bahwa mereka tidak sendiri di ambulance itu.


Najib pun mengangguk.


🌟


Flash back


Najib tidak menyangka kalau Arya akan cepat berubah. Saat dia menjemput Sheza, Arya masih meneriakinya dengan jelas. Tapi saat ia mengantarkan Sheza dan Iza malam itu, tampak senyum sumringah di bibirnya, bahkan menyuruhnya untuk menginap.


"Malam ini bisa temenin Papa ngobrol?"


Najib melihat kesempatan untuk memperbaiki hubungannya yang akhir-akhir menegang, Najib pun mengangguk.


"Baik, Pa."


Niat hati ingin menemani Aina, segera dia urungkan. Dia hanya mengirim chat pada Aina untuk memberi tahunya kalau dirinya tak bisa pulang malam ini.


Dia lega saat mendapat balasan dari Aina bahwa dia tidak keberatan dengan ketidakhadirannya malam ini di sampingnya.


Setelah malam bersama, mereka pun bercengkrama di ruang keluarga, menemani Iza bermain.


"Kakek, aku boleh tengok mama Aina?" celetuk Iza tiba-tiba."


Bukannya menjawab, Arya malah mengeratkan giginya sambil menatapnya dengan tajam.


Najib segera menghampiri Iza, dan berkata dengan lembut.


"Mama Aina di rumah sakit, Sayang. Anak kecil tidak masuk ke sana." jawab Najib hati-hati, khawatir Arya semakin marah.


Sesuai dengan perkiraan, muka Arya semakin mengeras dan merah, menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.


"Jangan sebut nama wanita itu di rumahku!" suaranya meninggi membuat Iza ketakutan.


"Kakek kenapa?" cicitnya ketakutan.


Najib segera mendekati Iza.


"Kakek tidak kenapa-napa. Kakek hanya ingin Iza cepat tidur. Ok."


Najib pun menuntun Iza, mengantarnya ke kamar.


"Najib, sini kau!"


Najib segera menghentikan langkahnya. Untung di sana ada Sheza.


"Sama Mama ya ... Papa dipanggil kakek tuh!"


Iza pun mengangguk dan menghampiri Sheza yang juga ingin beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo, Sayang. Mama temani tidur!" ajak Sheza kemudian.


Untung saja Iza langsung menurut dan mengikuti langkah mamanya menuju kamarnya.


Najib segera menemui Arya dan duduk di depannya dengan dipisahkan sebuah meja kecil diantara mereka.


"Aku minta sama kamu, tinggalkan wanita itu!"

__ADS_1


Najib menunduk,


__ADS_2