
“Den Ayu mau ke mana?”
“Mau ke apartemen Kak Najib, mau melabrak wanita itu!” jawabnya kesal.
Astaghfirullah al adzim ... Gumamnya lirih mengiringi langkah Sheza yang pergi dengan membawa amarah. parasnya yang ayu hilang. Yang tampak kini wajah merah padam dan kaku.
Tapi sayang, Sheza harus kecewa. Dia tak menemui seorang pun di sana. Dengan terpaksa dia kembali ke mobilnya dengan tangan hampa.
Brak ... Pintu mobil itu pun tak lepas dari amarahnya.
🌟
“Sayang, sedang apa?” Najib yang baru saja selesai meeting tampak ceria menghampiri Aina yang tengah asyik coret-coret di atas kertas putih, duduk manis di kursi kebesarannya. Dia begitu serius, sehingga tak menyadari kalau dirinya masuk.
Orang yang dipanggilnya itu pun mengangkat kepala sejenak.
“Eh, Maaf Mas!” Dia segera beranjak dari kursi kebesaran Najib, dengan membawa kertas dan juga pensil di tangannya.
“Nggak apa-apa, tetap saja di situ.”
Namun Aina tetap meninggalkan meja Najib, menuju meja sofa yang ada di depannya. Dan kembali asyik dengan kertas dan pensilnya. Mengabaikan kehadiran dirinya.
Najib segera berjalan menghampirinya. Dan melihat apa yang baru saja yang Aina kerjakan.
“Bagus sekali desain bajunya.”
“Aku pingin bikin untuk Iza dan kita.”
Kita ... Mimpi apa semalam. Istri kecilnya sudah bisa menyebut kata ‘Kita’, setelah sekian lama bersama.
Ada senyum bahagia dari bibir Najib menyaksikan wanita yang kini sudah mengisi relung hatinya dengan bunga cinta yang indah, setelah sekian lama kering dalam penantian yang tak kunjung terjawab. Meskipun selama ini dia tak bosan untuk membangun harapan lewat doa ataupun laku yang nyata, namun semua seolah sia-sia tak berarti apa-apa. Bahkan yang dia dapatkan rasa sakit yang semakin perih. Hati boleh merintih namun bibir tak pernah sanggup mengatakan sebuah keputusan.
Salahkah bila saat ini membiarkan dirinya larut dalam hamparan menenangkan, yang membuatnya terlupa akan luka laranya yang sudah hampir membuat hatinya berkarat.
Najib semakin mendekat lalu menyentil hidungnya. Ingin sekali mengusili wanita yang ada di sampingnya. Jangankan konsentrasinya buyar. Yang ada, dia mendapatkan decakan kesal.
“Mas ini mengganggu saja, sih!” Dia mengibaskan tangannya tanpa menoleh pada wajah yang kini terlihat senyum-senyum menatapnya dengan mesra. Ingin sekali dia memberikan kecupannya, saking gemesnya.
Baru juga akan melakukannya, Aina sudah bersorak gembira.
“Yesss ... Selesai sudah. Bagaimana mana, Mas?”
“Aku belum bisa menilai kalau belum jadi baju.”
“Berarti Mas harus bawa mesin jahitku ke sini.”
“Boleh.”
Aina segera membereskan kertas-kertas dan semua peralatan yang membuat dirinya sedikit heboh.
__ADS_1
“Mas, sudah selesai?”
“Belum. Kangen kamu.”
Seketika membuat Aina cemberut. Rayuan lagi, sebel!
“Ya sudah. Nanti aku masuk di ruang rapat aja, biar Mas nggak kangen-kangen melulu” Meski cemberut, namun Aina tetap mengambilkan minuman untuk suaminya, yang sudah disediakan oleh salah seorang OB dari atas mejanya.
“Terima kasih, Sayang.”
“Bukan begitu. Ini sedang nunggu seorang investor, Dia masih dalam perjalanan.”
Dia menyeruput kopi susu yang sudah hampir dingin itu.
“Masih lama.”
“Sepertinya, tak tahulah. Kalau sampai jam 11 aku belum selesai ... Sayang bisa jemput Iza, kan? Biar diantar sama Parman.”
“Bisa, kenapa tidak? Kalau gitu aku pulang sekarang saja. Sekalian bikin masakan untuk makan siang kita nanti.”
“Eeee ... Sepertinya tak perlu. Kita nanti mau makan siang di luar.”
Belum selesai mereka mengobrol, Indah mengetuk pintu.
“ Maaf pak, Mr. Pheza sudah datang.”
“Persilahkan dia masuk!”
Indah berlalu pergi.
Aina pun segera berpamitan.
“Assalamualaikum ...” ucapnya sambil mencium tangan suaminya dan segera berlalu dari hadapan Najib setelah mendapat kecupan kecil di pucuk kepalanya.
Tak lama kemudian ada dua orang yang berdiri di tengah-tengah pintu ruangannya. Dia benar-benar terkejut dengan lelaki yang ada di samping Mr. Pheza, rekan bisnisnya. Di sana tengah berdiri seorang lelaki yang tak mungkin dia lupa, meskipun sudah lima tahun berlalu.
Antony ... Pria yang sudah berhasil merebut Sheza dari sisinya dan meninggalkannya begitu saja.
Dia mencoba bersikap seprofesional mungkin terhadap mereka, meskipun ada gemuruh yang membakar dadanya saat ini. Ini urusan bisnis bukan urusan pribadi.
“Silakan Mr. Pheza dan anda ....”
“Dia asistenku, Antony.”
“Maaf Mr. Antony.”
Antony terlihat gugup karena perhatiannya masih tertuju pada wanita berjilbab yang baru saja melewati dirinya. Yang membuat Najib benar-benar geram, hingga tak sadar jari-jarinya mengepal.
“Bisa kita mulai pembicaraan ini?” Tak ingin dirinya larut dalam amarah dan kecemburuan, dia segera membuka pertemuan itu.
__ADS_1
🌟
Sheza melajukan mobilnya menuju ke taman kota, ingin menenangkan diri. Dia duduk di bangku, di bawah pohon beringin yang ada di tengah-tengah taman.
“Mama ... “
Suara seorang gadis kecil yang tengah berlari menghampiri seorang wanita yang sedang ngerumpi ria bersama teman-temannya.
Sheza benar-benar marah menyaksikan itu semua. Ingin sekali dirinya menghampiri wanita itu, dan menegurnya langsung. Tak sepantasnya dia memperlakukan putrinya seperti itu.
Bukannya meraih anak kecil itu, dia malah mengibaskan tangannya tepat mengenai dada gadis itu. Seketika dia terjatuh dengan mengeluarkan tangisan yang keras. Untungnya datang gadis yang berpakaian layaknya seorang baby sister menghampirinya.
Sheza pun mengurungkan niatnya
“Lis, kenapa kamu tinggalkan anak ini. Mengganggu saja.”
Wanita itu segera meraihnya dan membawanya pergi dari hadapan mereka.
Sheza meneteskan air mata. Kembali dia ingat Iza, putrinya. Yang dulu sering dia perlakukan sama seperti itu.
Dia beranjak dari tempat duduknya, menuju mobil. Ingin menjenguk putrinya kembali di sekolah. Dan kalau bisa membawanya pulang.
🌟
“Paman. Kita ke apartemen dulu, ya ...” Aina menghempaskan tubuhnya di kursi belakang supir. Dan memasang sabuk pengaman di tubuhnya.
“Baik, Nyonya.”
Berlahan-lahan, dia membawa kendaraan bosnya meninggalkan pelataran kantor menuju apartemen.
Ada sesuatu yang ingin Aina kerjakan. Membuat kue yang sudah Iza request sejak tadi malam. Gara-gara tadi pagi ikut mengantar, sampai sekarang belum sempat dia buat. Agar-agar art susu coklat seperti yang sudah dilihatnya di amplikasi merah.
Tak sampai satu jam, Aina sudah kembali ke tempat parkir. Dimana Parman sudah menunggunya dengan setia.
“Ayo, Paman. Semoga Iza belum keluar.”
🌟
“Mama ...” Iza berlari menghampiri Aina yang sudah menantinya di bawah pohon jambu air.
“Mana Papa, Ma? Kok nggak sama-sama.”
“Papa bisnis sama bapak-bapak bule. Nggak bisa jemput. Sudah yuk, sekarang kita samperin papa.”
“Oke. Tapi mama nggak lupa pudingnya kan?”
“Bereslah soal itu. Masih di kulkas, agar sedikit keras, biar enak makannya.”
“Siiiplah.”
__ADS_1
Iza menggandeng Aina dengan bahagia hingga sampai di mobil mereka.
Saat mereka akan membuka pintu mobil, seorang wanita yang berparas cantik keluar dari mobil Xenia datang menghampirinya.