
Aina ....
Entah akan dibawa ke mana arah mahligai cinta ini. Masihkah kita akan tetap bersama ataukah berpisah, aku tak tahu.
Menyesal pada saat sekarang, sudah amat terlambat. Aku bukan orang yang kuat untuk bisa memisahkan antara Mas Najib dengan mbak Sheza.
Namun aku tak bisa memungkiri kalau saat ini aku sangat membutuhkan Mas Najib di sisiku. Untuk melewati kehamilanku yang penuh dengan resiko ini.
Aku begitu bahagia, dia selalu ada ruangan ini menemaniku. Namun aku akan lebih bahagia jika Mbak Sheza menemaninya, menatapku dengan senyum, akan kehadiran buah cinta kami di tengah-tengah keluarga ini. Ah, impossible ...
Menerima hubungan kami saja masih sulit, apalagi menerima kehadiran buah cinta kami.
"Mas, bukankah hari ini waktumu ke Mbak Sheza?" Aku mencoba untuk menekan rasa cemburuku yang kini mulai memudar. Bukan karena tak ada lagi cinta, tapi aku sadar bahwa Mbak Sheza bukan wanita yang harus aku cemburui.
Mas Najib tampak tersentak. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak. Lalu menyandarkan punggungnya di sofa, sambil menghirup nafas dan membuangnya dengan berlahan.
"Sheza telah merelakan waktunya untukmu saat ini."
Sungguh aku ingin tertawa mendengar alasannya. Jelas sesuatu yang tidak mungkin.
"Oh, ya?" Aku menatapnya dengan penuh selidik, mencoba mencari kebenaran pada wajahnya yang terlihat lelah. Lagi-lagi terlihat bahwa masih ada sesuatu yang ingin dia sembunyikan dariku.
"Aku seolah-olah bermimpi mendengar ini, Mas? Tapi mimpi yang buruk."
"Maksudmu?"
"Apapun yang terjadi, jangan lepaskan Mbak Sheza. Dia wanita yang baik, Mas."
Dia diam dan berpikir lalu mengusap wajahnya dengan segera.
"Ya." Jawabnya singkat.
Apakah jawabannya membuatku cemburu atau sakit hati, aku tak tahu. Yang jelas jawaban itu membuat diriku lega.
Lalu dia pun menutup laptopnya, Datang menghampiriku. Mengambil kursi, duduk tepat di samping tempat tidurku.
Sesaat kemudian aku merasakan sentuhan tangannya yang lembut, jiwaku pun menghangat.
"Mas yang memulainya, Mas juga yang harus menyelesaikannya. Aku tak mau kehadiranku di sisimu akan membuat kalian berpisah."
"Jangan berpikir macam-macam. Nanti ngaruh ke baby kita."
"Baiklah, tapi nggak ada masalah dengan mbak Sheza, kan?"
"Tidak ada." Sambil menghembuskan nafas dengan kasar. Tak ada senyum yang biasa terukir di bibirnya, meski saat ini sedang bersamaku. Membuat diriku semakin yakin kalau Mas Najib menyembunyikan sesuatu.
Tapi aku tak ingin mengusiknya. Biarlah dia memilih sendiri waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Ajaklah mamamu tidur, my baby!" Bisiknya lembut di atas perutku, membuatku geli.
"Iya, Pa." Jawabku mewakili dia yang kini sepertinya bergerak senang di dalam sana.
Dia segera beranjak dari tempat duduknya, kembali ke sofa. Melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Sementara diriku mencari posisi ternyaman untuk berbaring.
Sepertinya miring adalah pilihan yang tepat. Bisa menatap wajah suami dengan lekat, sebelum kesadaran ini menghilang, masuk ke alam mimpi.
🌟
Najib ....
Biasanya saat Papa Arya datang, dia akan sedikit bahagia. Karena bisa menikmati kebersamaan yang sebenarnya. Keluarga kecil yang utuh. Ada Sheza, Iza dan dirinya.
Meskipun bagi Sheza itu sebuah sandiwara, tapi tidak bagi dirinya. Dia akan menikmati keadaan itu dengan sebaik-baiknya, sambil berharap suatu saat mereka menjadi keluarga yang bahagia.
Namun tidak kali ini, kedatangan papa Arya justru menghalang-halangi mereka untuk bersama.
Ada terbesit penyesalan, mengapa Sheza sadar saat dirinya sudah jatuh cinta lagi. Sehingga hubungan mereka menjadi rumit.
Mau melepas, masih sayang. Boleh dibilang sangat sayang.
Tak dilepas, jadi pikiran.
Sheza masih belum begitu move on dari masa lalunya. Dan dia belum bisa menerima Aina. Ditambah lagi, sekarang papa Arya ikut campur juga.
Satu lagi yang sulit untuk dia akui, tentang kesalahannya sendiri. Namun selalu ditepisnya dengan alasan sudah terlanjur.
Terlanjur mencintai Aina.
Rasa kangen tentu saja ada. Bahkan saat ini berhasil mengobrak-abrik jiwanya. Senyum Aina yang begitu lembut dan menggoda, tak mampu mengalihkan rasa rindunya. Apalagi dengan putri semata wayangnya, Iza.
Terakhir dia bertemu di malam itu, setelah itu tidak lagi.
Najib memilih cepat-cepat hengkang, pergi menjauh. Khawatir bila tak dituruti, papa Arya semakin menjadi. Belum lagi kalau Iza melihatnya, bisa-bisa dia menjadi sedih, bingung dan takut.
Lebih baik cari aman sajalah, meski harus memendam rindu.
Saat ini yang bisa ditemui hanya Sheza. Semoga dia bisa diajak makan siang bersama kali ini.
"Dik, ada waktu. Kita makan siang, yok!" Ajaknya melalui sambungan telepon.
"Ok."
Hatinya langsung bersorak gembira, Setidaknya melalui Sheza, dia bisa menanyakan kabar Iza, agar kerinduannya sedikit terobati. Syukur-syukur bisa mempertemukan mereka.
"Siap-siaplah. Aku jemput sekarang."
"Ya, Aku tunggu."
Dia segera membereskan pekerjaannya. Lalu keluar, menghampiri meja sekretaris.
"Din, Aku mau keluar. Mungkin agak lama. Kalau ada apa-apa sekiranya nggak terlalu penting kamu handle dulu ya."
"Baik, Pak."
_
__ADS_1
_
Tiba di kantor istrinya, dia segera menuju lift khusus, agar segera sampai di lantai 5, tempat Sheza berada.
Tak perlu mengetuk pintu, dia langsung saja masuk dan menghampiri Sheza yang masih asyik dengan berkas-berkas di depannya.
"Assalamualaikum, Dik." Ucapannya sangat pelan. Tepat di telinga Sheza.
"Kakak, ngagetin aja. Wa'alaikum salam."
Dia menengok pada pria yang kini berdiri di belakangnya, dengan tangan memegang kursi yang didudukinya.
"Sebentar, Kak. Ini tinggal dikit."
"Ok." Tanpa beranjak dari posisinya, membuat Sheza risih.
"Kakak tunggu di sofa itu saja, deh!"
"Aku sudah laper, Dik. Tinggalkan saja itu, nanti dilanjut lagi."
Permintaan yang sulit ditolak.
"Baiklah." Dia segera merapikan semua, namun saat akan memasukkan berkas ke dalam almari, dia berhenti.
"Tapi habis makan siang, bantu aku periksa semua ini, ya ..."
Najib mengerutkan dahi. Permintaan yang tidak biasa. Berprasangka baik sajalah, sama istri sendiri.
Meski suami istri, kita profesional. Tak ikut campur dengan perusahaan masing-masing. Kecuali perusahaan keluarga yang kita kelola bersama. Warisan dari bapak Arya untuk cucu tercinta, Iza.
"Tumben, nggak takut kalau kakak akan mengetahui rahasia perusahaanmu."
"Aku percaya kakak."
"Ok. Tapi dengan satu syarat. Kita ajak Iza makan bersama."
Sheza tersenyum lebar. Sudah menduga akan ada udang dibalik rempeyek.
"Aku kira karena merindukanku. Ternyata hanya jadi alat doang untuk bisa ketemu Iza."
"Mau merindukan mamanya, takut akan kecewa." Sambil melirik Sheza, melihat reaksinya bagaimana.
Sheza diam seketika. Melanjutkan beres-beres meja dengan wajah menunduk.
Najib merasa bersalah, tak sepantasnya dia mengatakan itu.
"Maaf Dek, aku hanya bercanda."
"Kakak benar, aku wanita yang tak pantas dirindukan."
"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku."
"Yah, aku mengerti maksud Kakak. Beri aku waktu, Memikirkan lagi apa yang pernah kita bicarakan. Termasuk bagaimana perhatian kakak pada Aina." Sambil membuang nafas dengan kasar.
__ADS_1
Najib tersentak. Tak mengira bahwa kata-katanya akan menyentuhnya sedemikan dalam.
Ah, mengapa semua jadi begini. Sesal Najib kemudian.